Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juni 2014

Jalan Qhapaq Nan Pencapaian Unik Bidang Teknik



PARA ahli sejarah mengatakan jalan di pengunungan Andes untuk jaga pasokan ke Machu Picchu.*


DOHA, (PRLM).- Sistem jaringan jalan yang dibangun oleh Kerajaan Inca diakui sebagai situs Warisan Dunia oleh Badan PBB yang mengurusi bidang Budaya Unesco.

Jalur jalan Qhapaq Nan menembus ke enam negara di Amerika Selatan.

Kerajaan Inca membangun di daerah yang memiliki kondisi beragam, menghubungkan masyarakat yang tinggal di pengunungan Andes ke lembah yang subur, hutan hujan dan gurun.

Unesco menjelaskan sistem tersebut merupakan keajaiban dalam bidang teknik yang harus diperbaiki dan dirawat.

Penetapan sistem jaringan jalan Kerajaan Inca diputuskan oleh Komite Warisan Dunia Unesco dalam pertemuan di Doha, yang membahas daftar 40 situs budaya dan alam.

Sistem jaringan jalan di pengunungan Andes, dibangun lebih dari ratusan tahun yang lalu dan digunakan oleh Spanyol ketika mereka tiba di Amerika Selatan pada abad ke 16. Lebih banyak digunakan untuk perdagangan dan pertahanan.

Jalur jalan tersebut memiliki panjang 30.000 km, dari Colombia sampai bagian utara Argentina, dan selatan Cile, melalui Peru, Ekuador dan Bolivia.

Sejumlah bagian jalan masih tampak terawat, tetapi sebagian besar rute telah hancur sejak Kerajaan Inca kalah.

"Kami belum menlihat seluruh jalan karena banyak bagian yang tertutup oleh tumbuhan," jelas Fernando Astete, kepala arkeologi di situs Machu Picchu kepada kantor berita AFP.

Rute tersebut menghubungkan ibukota Inca, Cusco, ke wilayah terjauh kerajaan tersebut.

"Dilihat dari skala dan kiulitas jalan Qhapaq Nan, merupakan pencapaian yang unik di bidang teknik, yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam teknologi," seperti disampaikan pernyataan Unesco.

Unesco mengatakan pemberian status sebagai Warisan Dunia, akan membuat situs tersebut mendapat bantuan dana untuk melakukan perbaikan.(bbc/A-147)***

Kamis, 27 Maret 2014

Temuan Septic Tank Abad ke-14 Berkondisi Baik (Berbau)

Terbuat dari Tiga Tong Kayu




TOILET berumur 700 tahun atau dari abad ke-14 yang kondisi toilet kayu itu diungkapkan masih baik, alias tetap berbau, meski sudah berumur tujuh abad.*
 
 
ODENSE, (PRLM).- Meski bukan temuan arkeologis yang menawan, toilet berumur 700 tahun atau dari abad ke-14 membuat para ahli senang. Kondisi toilet kayu itu diungkapkan masih baik, alias tetap berbau, meski sudah berumur tujuh abad.

Toilet itu ditemukan di taman Vilhelm Werners, kota Odense di Pulau Funen, Denmark.
Toilet itu terbuat dari tiga tong kayu yang ditumpuk menjadi seperti septic tank. Tong itu diperkuat dengan tali dan tanah liat, sementara di bagian dasar ada pipa.

Temuan itu membuat para ahli bisa mengetahui apa yang dikonsumsi masyarakat 700 tahun silam. (A-88/dailymail)***

Selasa, 19 November 2013

Kerangka Bocah Beri Petunjuk Kebudayaan Romawi



Berusia Sekitar 1.600 Tahun

BBC.CO.UK/"PRLM"

PETI terbuat dari timah ditemukan di lapangan terbuka.*


LONDON, (PRLM).- Sisa-sisa kerangka bocah Romawi berusia sekitar 1.600 tahun yang ditemukan di Inggris, "kemungkinan perempuan", demikian kata arkeolog.

Peti mati itu ditemukan di sebuah tanah terbuka di wilayah Witherley, Leicestershire bagian barat, pada Oktober lalu.

Arkeolog dari Warwickshire saat ini sedang mempelajari dua gelang yang ditemukan di dalam peti, yang menurut mereka, "menunjukkan bahwa gelang itu milik anak perempuan". Mereka juga berupaya meneliti "sisa-sisa kerangka" yang bakal memakan waktu sekitar lima bulan.

Stuart Palmer, arkeolog Warwickshire, mengatakan: "Kami akan berlaku hati-hati dalam menyaring sisa-sisa kerangka selama beberapa pekan ke depan untuk kemudian analisa lebih rinci."

"Nantinya kami akan mengambil salah-satu sisa-sisa kerangkanya untuk memastikan berapa usia bocah ini saat dimakamkan," ujarnya.

Para arkeolog meyakni bahwa kerangka dalam peti mati ini, yang panjangnya 0,9 meter, adalah bocah dari keluarga kaya bangsa Romawi dan merupakan contoh awal dari pemakaman Kristen.

Arkeolog Stuart Palmer menggambarkan peti mati dan kerangka bocah di dalamanya sebagai temuan yang "sangat penting."

Para ilmuwan mengatakan, mereka berharap temuan kerangka bocah berusia sekitar 1.600 tahun yang tersimpan di dalam peti timah itu dapat mengungkap lebih dalam tentang kebudayaan bangsa Romawi yang saat itu menduduki tanah Inggris.(bbc/A-147)***

Kamis, 03 Oktober 2013

Situs Gunung Padang Diperkirakan Memiliki Gua




ADE BAYU INDRA/"PRLM"




Rabu, 11 September 2013

86 Situs Purbakala di Kab Bandung Belum Diteliti

Oleh: Dani R Nugraha
Bandung raya - Selasa, 10 September 2013 | 22:44 WIB
 
ilustrasi - inilah.com
 
 INILAH.COM, Bandung - Di Kabupaten Bandung, sedikitnya terdapat 86 situs kepurbakalaan yang tersebar di 29 kecamatan. Namun dari sekian banyak situs kepurbakalaan ini, belum ada yang melakukan penelitian ilmiah maupun pemugaran.

Kepala Bidang Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung, Dedi Sutardi mengatakan, minimnya anggaran menjadi salah satu kendala untuk melakukan penelitian ilmiah. Karena untuk melakukan penelitian yang melibatkan berbagai ahli seperti sejarah, arkeologi dan lain sebagainya itu, memerlukan anggaran yang tidak sedikit.

"Diperlukan anggaran yang besar sekali. Dan harus diakui anggaran kami masih sedikit, per tahun dibawah Rp500 juta. Kalau diberi anggaran Rp10 miliar, kami sanggup menyerapnya. Karena memang banyak hal yang harus di kerjakan," ujar Dedi Sutardi, Selasa (10/9).

Menurut Dedi, ke-86 situs purbakala yang dilakukan penelitian diantaranya situs candi Bojongmenje di Rancaekek. "Beberapa waktu lalu saja, cuma dua minggu habis dana kurang lebih Rp300 juta. Kalau mau selesai semua hingga dibangun kembali, biayanya sangat besar. Kami perkirakan untuk pembebasan lahan saja bisa mencapai Rp3 miliar lebih," ujarnya.

Sehingga, kata Dedi, sejauh ini pihaknya hanya baru sebatas melakukan penelusuran dan inventarisir. Pihaknya belum masuk ke dalam tahap penelitian yang bisa menelan biaya cukup besar.

Dari 86 situs yang ada, paling banyak ditemukan di Kecamatan Paseh dengan lebih dari 10 titik situs purbakala. Karena, berdasarkan penelusuran pihaknya, di kecamatan tersebut pernah berdiri kerajaan Saung Galah.

"Bentuk situs di Paseh itu ada makam, situs batu dan bukit Karang Gantungan. Dimana bukit Karang Gantungan itu dipercaya sebagai tempat berlatih perang prajurit Majapahit. Dan memang di beberapa daerah lainnya pun situs yang kami temukan tidak jauh berbeda dengan yang di Paseh," terangnya.

Selain langkah penelusuran, pihaknya kini memberikan insentif bagi juru pelihara (Jupel/kuncen) yang selama ini mau merawat berbagai situs peninggalan leluhur tersebut. Pemberian insentif ini, telah dilakukan sejak 2012 lalu kepada 60 orang Jupel yakni Rp. 100 ribu per bulan. Sedangkan pada 2013 ini, pihaknya menambah besaran insentif menjadi Rp. 150 ribu per bulan dan diberikan kepada 108 orang Jupel.[ang]

Sabtu, 20 April 2013

Ikan Indonesia Bantu Pecahkan Teka-teki Evolusi

Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Jumat, 19 April 2013 | 12:23 WIB


 
Laurent Ballesta
Coelacanth


KOMPAS.COM — Ikan coelacanth adalah ikan purba yang pernah ditemukan di perairan Sulawesi, Indonesia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ikan ini berevolusi sangat lambat, yang membantu ilmuwan menguraikan proses evolusi hewan darat.

Dalam evolusi, dipercaya bahwa hewan-hewan darat berevolusi dari lautan. Kaki pada hewan darat berkembang dari adaptasi hewan laut yang perlahan bermigrasi ke darat. Evolusi menciptakan hewan yang disebut tetrapoda, mempunyai empat alat kaki atau alat gerak.

Dalam publikasi di jurnal Nature, Kamis (18/4/2013), ilmuwan menyatakan keberhasilan mengurai gen ikan coelacanth. Genom coelacanth menyimpan tiga miliar "pesan" kode DNA, yang membuatnya seukuran dengan manusia.

"Kami menemukan bahwa secara umum gen coelacanth berevolusi lebih lambat dari seluruh jenis ikan dan hewan bertulang belakang di daratan," kata Jessica Alfoeldi, ilmuwan dari Broad Institute, Massachusetts Institute of Technology, seperti dikutip AFP, Rabu (17/4/2013).

National Geographic
, Kamis, memberitakan bahwa coelacanth hidup di tempat yang relatif tak mengalami perubahan dalam jutaan tahun terakhir. Hal itulah yang menbuat evolusi coelacanth lambat.

Coelacanth hidup di kedalaman 700 meter di bawah permukaan laut. Ukuran hewan ini bisa mencapai 2 meter. Hewan ini sebelumnya diduga telah punah 65-70 juta tahun lalu hingga akhirnya ditemukan lagi di Afrika pada tahun 1938 dan Indonesia pada tahun 2000-an. Kini, ditemukan 300-an coelacanth yang tersebar di beberapa wilayah.

Salah satu yang fakta tentang coelacanth yang menarik perhatian adalah sirip yang berbentuk lobus. Ada spekulasi bahwa coelacanth adalah salah satu ikan yang punya alat gerak pendek dan gemuk yang kemudian membantu hewan-hewan laut bermigrasi ke darat.

Studi terbaru menemukan bahwa kerabat terdekat coelacanth adalah ikan air tawar yang ditemukan di Australia dan Afrika, disebut lungfish. Sementara fosil coelacanth tertua yang berhasil diidentifikasi sendiri berumur 375 juta tahun.

Menurut ilmuwan, coelacanth membantu memecahkan misteri evolusi hewan darat. Dari studi genetik coelacanth, bisa dilihat gen yang punah dan muncul dalam evolusi hewan darat. Evolusi dari laut ke darat bukan hal mudah. Perubahan harus terjadi, seperti kekebalan tubuh serta kemampuan untuk mendeteksi molekul di udara.

Editor : yunan

Rabu, 17 April 2013

Pelabuhan Tertua Ditemukan di Mesir





KAIRO, (PRLM).- Para arkeolog telah berhasil menemukan apa yang dianggap sebagai pelabuhan tertua di dunia. Pelabuhan ini, ditemukan di pantai Laut Merah, diyakini berusia 4.500 tahun, saat Firaun Khufu, Dinasti Keempat berkuasa.

Tim percaya ini salah satu pelabuhan komersial yang paling penting dari Mesir kuno, dan akan digunakan untuk pelabuhan ekspor tembaga dan mineral lainnya dari Semenanjung Sinai. Selain itu, ditemukan pula potongan-potongan papirus kuno, yang berisi rincian menarik tentang kehidupan sehari-hari orang Mesir kuno.

Pemerintah Mesir telah mengkonfirmasi bahwa para arkeolog telah menemukan berbagai dermaga, serta koleksi jangkar batu berukir, seperti dilaporkan NBC.

Pelabuhan, yang dibangun di atas pantai Laut Merah di daerah al-Wadi Jarf, 112 km sebelah selatan dari Suez, ditemukan oleh tim dari Institut Prancis untuk Studi Arkeologi.
Pelabuhan ini dianggap 1.000 tahun lebih tua daripada struktur pelabuhan lain di dunia.

Tim juga menemukan koleksi 40 papirus yang menggambarkan kehidupan sehari-hari orang Mesir kuno selama 27 tahun pemerintahan Firaun Khufu. Khufu meninggal sekitar 2566 SM. Lembaran kuno ini mencakup rincian pengaturan untuk mendapatkan roti dan bir kepada para pekerja menuju keluar dari pelabuhan.

Menurut Menteri Barang Antik Mesir, Mohamed Ibrahim, ini adalah papirus tertua yang pernah ditemukan di Mesir. Salah satu papirus kuno menceritakan kegiatan pejabat bernama Merrer, yang terlibat dalam pembangunan Piramida Agung Giza, makam Khufu.

"Dia terutama melaporkan tentang perjalanannya ke tambang batu kapur Turah untuk mengambil bongkahan batu untuk membangun piramida. (Aya/A-147)***

Selasa, 16 April 2013

Koin Bertuliskan "Tidak Ada Tuhan Selain Allah" Dilelang




DINAR emas bersejarah dari tahun 690 M ini dicetak di Damaskus oleh dinasti Umayyah.*
 
 
LONDON, (PRLM).- Koin pertama yang yang bertuliskan "Tidak ada Tuhan selain Allah" ditawarkan ratusan ribu poundsterling dalam sebuah lelang.

Dinar emas bersejarah dari tahun 690 M ini dicetak di Damaskus oleh dinasti Umayyah, kerajaan Arab pertama, yang membentang dari Spanyol di barat hingga ke India di timur pada puncak kejayaannya.

Koin, yang beratnya 0,15 ons dan sedikit lebih besar dari koin 5 penny ini, muncul sebanyak 56 dinar emas yang berusia antara 690 - 750 M, diharapkan terjual seharga 500.000 poundsterling dalam lelang bulan depan.

Andre Di Clement, kepala koin Islam di pusat lelang Baldwin, London, mengatakan: "Apa yang membuat koin ini begitu penting adalah bahwa mereka berasal dari kerajaan Arab pertama."

"Di bawah Umayyah dunia Islam menyebar dari India ke Spanyol. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah menghapuskan koin daerah taklukkan dan memperkenalkan sistem koin sendiri," ujarnya, seperti dikutip Daily Mail.

"Koin-koin ini, dan koin seperti ini, akan digunakan untuk membiayai pembangunan kerajaan Umayyah. Setiap tahun koin baru dibuat. Pada saat itu mereka jauh lebih maju di dunia. Ini adalah koin Islam yang paling dicari, koin-koin ini diperkenalkan pada periode ekspansi," tambahnya. (Aya/A-147)***

Rabu, 10 April 2013

PSDAP Cianjur, "Perlu Pembuktian dan Studi Lanjut Soal Kabar Emas"

Situs Gunung Padang



SITUS Megalitikum Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur yang dibanjiri pengunjung. Bagi sejumlah masyarakat Cianjur meyakini ada kandungan emas di Gunung Padang. Namun, peneliti melakukan penelitian hanya ingin mengetahui misteri peradaban dari situs bersejarah tersebut.*


CIANJUR, (PRLM).- Maraknya kabar terdapat kandungan emas di Situs Megalitikum Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur menyusul situs bersejarah tersebut menjadi obyek penelitian masih dipertanyakan. Pasalnya, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur hingga belum bisa memastikan sinyalemen adanya potensi kandungan emas di Gunung Padang.

Kepala Seksi Data Potensi Pertambangan dan Sumber Daya Energi Dinas PSDAP Kabupaten Cianjur, Haris Firmansyah saat ditemui "PRLM", Selasa (9/4/13) di kantornya Jalan Adi Sucipta, CIanjur mengatakan pihaknya belum bisa memastikan ada atau tidaknya kandungan emas di situs megalitikum Gunung Padang, meskipun memang lokasinya berdekatan dengan tambang emas Gunung Rosa.

"Itu baru kabar saja. Belum ada pembuktian yang jelas, karena hingga saat ini Dinas PSDAP tidak pernah melakukan upaya eksplorasi (penelitian) menyangkut kandungan emas di situs tersebut," tuturnya.

Jika dilihat dari lokasinya, kata Haris, memang berdekatan dengan tambang emas Gunung Rosa. Tapi tidak otomatis juga situs Gunung Padang mengandung emas. "Perlu adanya upaya eksplorasi dan studi lebih lanjut untuk mengetahuinya," katanya.

Lebih Lanjut Haris mengatakan secara teknis, lokasi-lokasi yang disinyalir mengandung emas itu biasanya berpola urat. Artinya, antara satu lokasi dengan lokasi lainnya berada dalam satu jalur.

"Kami belum melihat adanya pola urat antara tambang emas Gunung Rosa dan situs Gunung Padang. Tapi nanti akan kami coba konfirmasi ke pihak PT CKP (Cikondang Kencana Prima), selaku pemegang KP (kuasa penambangan) tambang emas Gunung Rosa untuk melihat detail pemetaan eksplorasi wilayah yang mengandung emas," tuturya. (A-186/A_88)***

Jumat, 05 April 2013

Tim Peneliti Minta Pemkab Bebaskan Lahan Zona Inti Gunung Padang

Jumat, 05/04/2013 - 07:58 

WILUJENG KHARISMA/"PRLM"

SITUS Megalitikum Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur yang masih diteliti oleh Tim Arkeologi Mandiri.*


CIANJUR, (PRLM).- Tim Arkelogi Penelitian Gunung Padang meminta dukungan Pemkab Cianjur untuk segera melakukan pembebasan lahan seluas 15 hektare yang berada di zona inti Situs Gunung Padang untuk keperluan penelitian secara utuh.

Hal tersebut diperlukan untuk menindaklanjuti beberapa temuan pada lapisan-lapisan berupa bangunan yang terkubur beberapa meter dibawah permukaan tanah, yang diindikasikan berusia 4.500 SM.

"Pemerintah Kabupaten Cianjur dalam jangka waktu yang tidak lama diharapkan dapat membebaskan lahan seluas 15 hektare yang merupakan zona inti situs ini", kata Ketua Tim Arekologi Penelitian Mandiri Gunung Padang, Ali Akbar kepada "PRLM", Kamis (4/4/13).

Ali menuturkan setelah hampir tiga bulan sejak Januari-Maret 2013 Tim Terpadu Riset Mandiri melakukan penelitian lanjutandi Gunung Padang melalui alat-alat geofisika, foto satelit, serta pengambilan data interferometric synthetic aperture radar (IFSAR), tim harus memasuki fase penelitian selanjutnya.

Fase selanjutnya adalah dilakukan survei arkeologi, ekskavasi lokal di beberapa titik lapisan gunung telah selesai dilakukan. Pasalnya, tim berhasil mengidentifikasi bangunan purbakala seluas 15 hektare, sehingga diperlukan pembebasan lahan seluas itu untuk segera diteliti," tuturnya.

Lokasinya, kata Ali berada di sebelah timur situs. Tim menemukan beberapa bagian dari bangunan yang lebih tua di lereng timur, yakni berusia 4.500 SM. Bangunan ini berusia lebih tua, namun memiliki teknologi yang lebih canggih yakni menggunakan perekat atau semen purba.

"Keperluan pembebasan lahan nantinya untuk meneliti lebih lanjut temuan dari bangunan ini. Setidaknya kami membutuhkan lahan seluas 3000 meter persegi di sebelah lereng timur situs untuk melakukan penelitian fase lanjutan dari penelitian pertama yang sudah mendapat kesimpulan bahkan disampaikan ke beberapa pihak," ucapnya.

Ali menuturkan pada akhir April atau awal Mei 2013 akan melakukan pembersihan semak belukar dan tanah tipis yang menutupi bangunan seluas 15 hektar bersama dengan masyarakat setempat dan siapapun sukarelawan yang akan terlibat bersama TNI dan Polri di bawah arahan tim arkeologi dan tim arsitektur. (A-186/A-88)***

Sabtu, 21 Juli 2012

Kuil Kuno Maya Ditemukan di Guatemala

Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Jumat, 20 Juli 2012 | 18:08 WIB

 AFP 
 Edwin Roman,arkeolog dari University of Austin, bersama dekorasi dinding yang menunjukkan "Matahari Malam" dalam temuan terbaru di situs Zotz di Guatemala.  


GUATEMALA CITY, KOMPAS.com - Arkeolog menemukan kuil kuno Maya yang berusia 1.600 tahun yang diduga merupakan tempat pemujaan kepada Matahari. Kuil itu ditemukan di situs arkeologi El Zotz, 550 km utara Guatemala City.

"Matahari merupakan unsur penting dalam kebudayaan maya. Matahari adalah sesuatu yang terbit setiap hari, menyinari setiap sudut dan celah, seperti halnya kekuasaan raja," kata Stephen Houston, profesor Brwon University yang terlibat penelitian.

"Bangunan ini adalah salah satu yang merayakan hubungan erat antara raja dan kekuatan yang paling kuat dan dominan di semesta," imbuh Houston yang bersama rekannya telah mempelajari situs El Zotz sejak tahun 2006 lalu.

Arkeolog mengatakan, kuil yang ditemukan sengaja dibangun untuk menghormati seorang tokoh pemimpin yang dikubur di bawah Diablo Pyramid, gubernur dan pendiri dinasti El Zotz pertama, bernama Pa'Chan atau langit yang diperkaya.

Penanggalan karbon yang dilakukan mengungkap, kuil Maya yang ditemukan berasal dari masa 350 - 400 Masehi. Peradaban maya menyebar ke Meksiko, Guatemala, Honduras, El Salvador, dan Belize. Diperkirakan, puncak peradaban maya adalah antara tahun 250 - 900 Masehi.

Kuil yang ditemukan dihiasi dekorasi berbentuk topeng dari bahan semen, setinggi 1,5 meter, yang masing-masing menggambarkan fase Matahari bergerak dari timur ke barat. Dekorasi lain adalah plesteran dari semen yang oleh tim peneliti dikatakan sangat mengagumkan.

Thomas Garrison, arkeolog University of Southern California yang juga terlibat penemuan dalam konferensi pers pada Rabu (18/7/2012) di Guatemala City mengatakan bahwa lebih dari setengah bagian kuil masih harus diekskavasi.

"Kuil mungkin memiliki 14 topeng pada dekorasi dinding bagian atas, tapi hanya 8 dianataranya yang sudah didokumentasikan sejauh ini," kata Edwin Roman, arkeolog dari University of Austin seperti dikutip AFP, Rabu kemarin.

Sumber :AFP
Editor :Tri Wahono

Senin, 02 Juli 2012

Menunggu Kepastian dari Gunung Padang


Tuntas pekerjaan tahap awal Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan dari sejumlah instansi. - inilah.com/Benny Bastiandy 


Oleh:
Jabar - Sabtu, 30 Juni 2012 | 09:00 WIB 
 
INILAH.COM, Bandung - Tuntas pekerjaan tahap awal Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Hasil penelitian para pakar yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan dari sejumlah instansi itu pun sudah secara resmi diumumkan.

Gunung Padang yang terletak di Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur adalah sebuah situs megalitikum berbentuk punden berundak atau piramida, yang dibuat manusia sekitar 4.700 tahun Sebelum Masehi.

Ini bisa dibilang sebagai ihwal paling hot bagi masyarakat Jawa Barat pada semester pertama tahun ini, setelah heboh piramida Gunung Sadahurip di Kabupaten Garut. Bayangkan, bangunan punden berundak Gunung Padang diyakini 10 kali lebih luas dari Candi Borobudur, dan luas kompleks situsnya sendiri lebih dari 75 hektare. Dan, jika benar, situs peradaban megalitikum tersebut bisa dibilang yang terbesar di Asia Tenggara.

Keyakinan itu muncul setelah struktur di bagian timur situs tersebut dibuka dan ditemukan 20 terasering yang memanjang hingga 200 meter lebih melingkar ke bagian utara. Semuanya tersusun dengan rapi. Kondisi struktur di bagian selatan dan barat telah berantakan, diduga akibat bencana besar di masa lalu, dan sebagian tertimbun longsoran tanah. Namun masih ada sisa bangunan berupa bagian teras kecil. Di setiap sudut ada tangga menuju bagian puncak, dengan mata air di setiap gerbangnya.

Para peneliti sepakat arsitektur situs megalitikum Gunung Padang sudah sangat maju, setara dengan piramida Michu-Pichu di Peru, Amerika Selatan. Hasil survei dengan metode geolistrik, georadar, dan geomagnet serta pengeboran menunjukkan ada geometri konstruksi bangunan di bawah situs Gunung Padang. Ada ruangan-ruangan yang luas di dalam perut Gunung Padang. Bahkan lantai salah satu ruangan berlapis pasir halus dan seragam, mengindikasikan ruang tersebut digunakan untuk menyimpan sesuatu.

Setelah melakukan penelitian intensif selama 1,5 bulan, Tim Terpadu menyimpulkan situs Gunung Padang adalah mahakarya arsitektur dari zaman prasejarah Nusantara dan bukan peninggalan sebuah masyarakat purba yang primitif. Menurut tim periset bidang teknik sipil dari Kementrian Riset dan Teknologi, pembangunan piramida Gunung Padang itu melibatkan sekitar 2.000 orang dan berlangsung selama lima tahun.

Pertanyaannya, mungkinkah Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, yang terpencil itu pernah dihuni sekelompok manusia dengan peradaban yang jauh lebih maju daripada bangsa Mesir Kuno? Ilmu pengetahuan memang tidak menafikan kemungkinan-kemungkinan dan untuk itulah penelitian dilakukan.

Berdasarkan paparan pakar genetik dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford, Inggris, Prof Stephen Oppenheimer, dalam bukunya Eden In the East, Indonesia adalah bagian dari satu kawasan tempat lahirnya peradaban maju homosapiens. Banjir hebat pada akhir Zaman Es yang menenggelamkan benua Asia Tenggara menyebabkan penyebaran populasi manusia dan tumbuh suburnya berbagai budaya neolitikum di China, India, Mesopotamia, Mesir, dan Mediterania Timur. Menurut Oppenheimer, orang-orang Polinesia bukan berasal dari China, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara, dan budaya menanam padi bermula dari Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun silam.

Namun, seperti biasa, tidak semua orang percaya pada hasil sebuah penelitian. Seperti halnya Gunung Sadahurip, sejumlah pakar -- yang belum melakukan penelitian mendalam – yakin Gunung Padang bukanlah sebuah piramida, melainkan gunung berapi purba biasa.
Bagi masyarakat Jabar, persoalannya bukan yakin atau tidak yakin. Alam menyimpan begitu banyak rahasia yang harus diungkap. Dan, alam juga meninggalkan banyak jejak yang harus ditelusuri. Oleh karena itu ekskavasi Gunung Padang harus dilanjutkan.[ang]

*Tulisan Fokus InilahKoran, Sabtu (30/6/2012)
 

Senin, 25 Juni 2012

Luas Gunung Padang 10 Kali Borobudur

Ditemukan 20 terasering yang tersusun memanjang rapi.

 Minggu, 24 Juni 2012, 06:43                                                                        Denny Armandhanu, Permadi (Sukabumi)

 

 Sketsa imajiner Gunung Padang 

 
VIVANews - Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang, meyakini situs megalitik ini 10 kali lipat lebih luas dari Candi Borobudur. Hal ini disampaikan oleh arkeolog Ali Akbar kepada VIVAnews, Sabtu 23 Juni 2012, setelah struktur Gunung Padang wilayah timur berhasil terbuka.

“Dari sebelah timur ini kita menemukan 20 lebih terasering yang menjadi bagain dari konstruksi Gunung Padang saat ini. Terasering ini cukup tersusun rapi, diperkirakan terus memanjang hingga 200 meter lebih dari konstruksi punden berundak," kata Ali.

"Hingga saat ini kita sudah mencapai jarak seratus meter keberadaan terasering di bagian timur hingga utara secara melingkar. Ini 10 kali lebih luas dari Borobudur,” lanjutnya lagi.

Untuk struktur di bagian selatan, tim mendapatkan kesulitan. Kondisi teras-teras ditemukan sudah berantakan, diduga akibat bencana besar di masa lalu. Hal ini membuat konstruksinya longsor dan hancur. Namun tim masih menemukan struktur berupa teras-teras kecil yang tersisa.

Untuk eskavasi di bagian barat, tim terkendala tumpukan tanah akibat longsor dari bukit yang ada di sebelahnya. Di sisi ini tumpukan tanah diperkirakan jauh lebih tebal dibandingkan wilayah timur dan selatan, sehingga tim hanya menyusuri struktur dari permukaan saja.

“Dari setiap sudut ini kita menemukan beberapa tangga yang diduga jalan untuk masuk ke puncak punden berundak yang diperkuat oleh adanya mata air di setiap gerbangnya. Namun bukti adanya pintu masuk ke dalam perut situs ini nampak dari bagian timur," dia menjelaskan.

Berbagai langkah dan metode terus dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil arkeolog di sekitar kawasan Gunung Padang. Namun riset ini difokuskan di wilayah timur. “Kita terus berkoordinasi dengan tim geologi. Hasil pemindaian menjadi acuan utama eskavasi arkeologi untuk menemukan misteri ruang dan pencarian jalan masuknya,” ujarnya.

 

 

 

 

Ini Para Ahli Ekskavasi Gunung Padang

Dari latar geologi, arkeologi, antropologi, astronomi sampai filologi

 Para ahli mengambil sampel Gunung Padang Cianjur (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

 

 VIVAnews - Temuan bangunan berbentuk piramida di situs Gunung Padang Cianjur Jawa Barat oleh Tim Bencana Katastropik Purba telah ditindaklanjuti dengan dibentuknya Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Dan dalam beberapa bulan terakhir, Tim Terpadu telah menemukan beberapa fakta seperti adanya ruangan dan timbunan logam di bawah Situs Gunung Padang Cianjur.

Tim Terpadu ini terdiri dari ahli dari berbagai lintas ilmu, mulai dari arkeologi, astronomi, sampai budaya. Prof. Dr. Zaidan Nawawi, M.Si. (Ketua Forum Guru Besar Kebijakan Publik), salah satu anggota dewan pengarah pada Tim Terpadu, mengatakan, jika riset ini berhasil membuktikan ada bangunan di bawah situs, maka untuk pertama kali dalam sejarah para ahli indonesia geolog, arkeolog, kompleksitas, arsitek, teknik konstruksi, filolog (bahasa), astronom, sejarawan, sosiolog, budaya dan cabang ilmu lain, mampu bersinergi dan menghasilkan riset terpadu kelas dunia.
 Tim ini bukan saja memberikan sumbangsih kepada dunia, satu sejarah baru, artefak baru, bukti baru tentang peradaban dunia yang begitu hebat dan tua, tapi tim ini juga memberikan sejarah baru untuk Indonesia. "Para peneliti lintas ilmu dan intitusi mampu bersinergi hingga menghasilkan sesuatu yang spektakuler, seperti yang mereka temukan di Situs Gunung Padang,” kata Zaidan dalam siaran pers yang dikirim Tim Katastropik Purba, Jumat 22 Juni 2012.

Selain Zaidan, di Dewan Pengarah Tim Terpadu terdapat antara lain Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Soemantri (Rektor Universitas Indonesia), Prof Dr. Hasan Jafar (Guru Besar Universitas Indonesia), Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak (Ahli Paleolitik), Dr. Soeroso, M.P., M.Hum. (Arkeolog senior),  Acil “Bimbo” Darmawan Hardjakusumah (budayawan) dan Andi Arief (Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial & Bencana Alam).

Tim Terpadu ini diisi oleh ilmuwan beken seperti Dr. Danny Hilman Natawidjadja (Geotek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Dr. Andang Bachtiar (Geolog dan Dewan Penasihat  Ikatan Ahli Geologi Indonesia), Dr (Phil) Lily Tjahjandary (Manajer Penelitian & Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia), Dr. Ali Akbar, S.S., M.Hum. (Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia), Dr. Wahyu Triyoso (Seismologi Institut Teknologi Bandung), Dr. Undang A. Darsa, M.Hum. (Filolog), Dr. Pon Purajatnika (Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat), Dr. Andri Hernandi, (Ahli Petrografi), Hokky Situngkir (Ilmuwan Kompleksitas dari Bandung Fe Institute) dan para peneliti lainya.

Zaidan juga mengatakan bahwa dalam beberapa kali perjalanan di luar negeri sewaktu memberikan seminar, dia seringkali ditanya oleh pihak luar, seperti lembaga riset di Eropa dan kementerian di Malaysia, apakah membutuhkan bantuan seperti dana atau tenaga ahli.
“Saya kira, seperti yang pernah dirilis oleh Pak Andi Arief, periset Indonesia masih mampu. Jadi biarlah mereka (peneliti) merampungkan tugas mereka. Soal tawaran bantuan dari pihak luar negeri, kita cukup menyampaikan berterima kasih saja atas maksud baik mereka,” kata Zaidan. (umi)
 

 

Kamis, 29 Desember 2011

Situs Raja Brawijaya ditemukan di Malang

Senin, 26 Desember 2011 19:55 WIB | 2216 Views


Situs purbakala serupa di di Desa Teluk Buyung, Kecamatan Pakisjaya, kabupaten Karang, Jawa Barat, inilah yang ditemukan di Malang. Situs arkeologi di Malang, Jawa Timur, itu diduga menjadi salah satu situs penting peninggalan Raja Brawijaya. (FOTO ANTARA/Agus Bebeng)



Malang (ANTARA News) - Situs yang diduga peninggalan Raja Brawijaya pada masa Kerajaan Majapahit ditemukan warga di Dusun Sumberayu, Desa Pamotan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Koordinator Purbakala wilayah Malang Raya dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, Hariyoto, Senin mengatakan, situs itu ditemukan warga pada Jumat (23/12), namun baru dilaporkan pada hari ini, sehingga pihaknya langsung meninjau lokasi penemuan.

"Sesuai penelusuran kita, dugaan sementara situs ini merupakan tempat semedi Patih Nambi di era Raja Brawijaya Kerajaan Majapahit, sebab prajurit Majapahit saat perjalanan pulang di wilayah Lumajang membuatkan tempat semedi untuk Patih Nambi," kata Hariyoto kepada wartawan.

Ia mengatakan, posisi penemuan situ berada di atas lahan ditanami ubi milik warga desa, dengan panjang situs 8 x 8 meter, dengan ukuran batu bata panjangnya 40 centimeter, tinggi 40 centimeter serta lebar 25 centimeter.

"Kondisi sebagian batu bata sudah rusak, karena terkena pacul warga yang sedang membuka lahan untuk bertani," paparnya.

Hariyoto mengaku pihaknya terus mendalami penemuan situs itu dengan menerjunkan tim arkeolog untuk menggalinya, sebab dengan upaya penggalian akan diketahui secara pasti sejarah situs yang baru ditemukan itu.

"Situs ini, mungkin juga berkaitan dengan situs yang telah ada sebelumnya di wilayah perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Kabupaten Malang, seperti Candi Jawar," ujarnya.

Hariyoto menjelaskan, Candi Jawar merupakan salah satu jejak peninggalan Patih Nambi di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, sehingga penemuan situs baru tersebut dimungkinkan ada kaitannya dengan Candi Jawar karena lokasinya yang tidak seberapa jauh.

Menanggapi penemuan situs, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, Ratna Nurhayati mengaku belum mendapatkan laporan terkait temuan itu.

Meski demkikan, pihaknya mendukung jika situs tersebut dijadikan salah satu benda purbakala atau cagar budaya purbakala yang dilindungi.

"Hingga hari ini belum ada laporan yang masuk, namun apabila penemuan situs itu dijadikan cagar budaya untuk dilindungi maka saya akan mendukungnya," katanya. (ANT-162)

Editor: Suryanto



COPYRIGHT © 2011

Rabu, 28 Desember 2011

Gelang Purba 9.500 Tahun Sehalus Lensa Teleskop

Yunanto Wiji Utomo | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 23 Desember 2011 | 15:49 WIB



CNRS
Gelang purba berusia 9500 tahun berbahan kaca vulkanik.


ISTANBUL, KOMPAS.com — Sebuah gelang purba berusia 9.500 tahun pernah ditemukan di Asikli Höyük, Turki, pada tahun 1995. Gelang tersebut dibuat dalam masa kebudayaan neolitik dari bahan kaca vulkanik atau biasa disebut obsidian.

Peneliti dari Institut Français d'Etudes Anatoliennes di Istanbul dan Laboratoire de Tribologie et de Dynamiques des Systèmes mempelajari gelang tersebut serta melihat permukaan dan struktur topografi mikronya.

Hasil penelitian menunjukkan, gelang yang berukuran 10 sentimeter itu dibuat dan diasah dengan teknik yang sangat maju. Menurut para ilmuwan, teknik asahan gelang tersebut menyamai teknik asahan lensa teleskop saat ini.

Gelang purba dari zaman 7500 SM itu merupakan salah satu contoh tertua benda yang terbuat dari kaca vulkanik. Kerajinan kaca vulkanik memuncak pada milenium ke-6 SM atau ke-7 SM. Selain berupa gelang, kerajinan juga berupa cermin dan vas.

Studi ini dipublikasikan di Journal of Arachaelogical Science yang terbit pada Desember 2011. Masyarakat neolitik, kadang juga disebut masyarakat Zaman Batu Baru, memang dikenal sebagai petani yang juga berkemampuan membuat kerajinan.
Sumber : Daily Mail

Rabu, 10 November 2010

Peneliti Setuju Indonesia Awal Peradaban

Kamis, 28 Oktober 2010 | 22:57 WIB


Tribun Pekanbaru/Melvinas Priananda
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com--Dalam seminar "Indonesia Awal Peradaban Dunia?" yang yang menghadirkan Stephen Oppenheimer, ahli genetika Oxford University,  hari ini (28/10/10), hadir pula Hagi Yulia Sugeha Ph.D, staf peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Ia mengungkapkan dukungannya terhadap teori tersebut.

"Saya setuju dengan pendapat Prof Stephen," katanya dalam sesi tanya jawab seminar dan wawancara dengan kompas.com. Lulusan Tokyo University ini juga mengungkapkan bahwa Indonesia bukan hanya awal peradaban tetapi juga awal berkembangnya banyak spesies hewan dan tumbuhan.

Hagi menyebut risetnya tentang ikan sudat, jenis ikan yang berbentuk seperti belut, hidup di laut namun bereproduksi dan bertelur di darat. "Dalam riset saya, ikan sudat Indonesia berada dalam tingkat filogeni tertinggi. Ini membuktikan bahwa ikan sudat Indonesia adalah moyang dari ikan sudat di dunia. Ikan sudat lain adalah ikan-ikan sudat Indonesia yang bermigrasi,"ungkapnya.

Selain penelitiannya sendiri, ia juga menyebut penelitian lain yang mengarah pada banyaknya spesies yang berasal dari Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa gajah yang selama ini tersebar di dunia berasal dari Borneo dan ayam-ayam yang berkembang juga berasal dari wilayah Indonesia.

Ia mengungkapkan, "Saya memang tidak secara spesifik mempelajari tentang genetika manusia. Tapi dari riset-riset saya, saya juga sependapat bahwa Indonesia adalah awal segalanya."

Hagi telah melakukan penelitiannya tentang ikan sudat sejak beberapa tahun yang lalu. Ia menemukan bahwa 10 dari 20 jenis ikan sudat yang ada di dunia terdapat dari Indonesia. Ia menyimpulkan bahwa ikan sudat Indonesia adalah moyang dari ikan sudat dunia setelah melakukan analisis DNA mitokondria (DNA yang berasal dari bagian sel yang bertugas memproduksi energi).
Penulis: Yunanto Wiji Utomo   |   Editor: Jodhi Yudono

Kamis, 13 November 2008

Piramid Baru Ditemukan di Mesir


Egyptian Supreme Council of Antiquities
Setelah ribuan tahun terkubur di bawah pasir, piramid yang merupakan makam Ratu Shesheshet ditemukan di kawasan Saqqara, Mesir.


KAIRO, RABU - Sebuah piramid baru yang diperkirakan berusia 4300 tahun ditemukan dalam penggalian di gurun pasir Mesir. Piramid tersebut diduga makam Ratu Sesheshet, ibunda Raja Firaun Teti yang merupakan peletak dinasti keenam Mesir. 


"Ini mungkin piramid sekunder paling lengkap yang ditemukan di Saqqara," ujar Zahi Hawass, Kepala Dewan Purbakala Mesir (SCA). Temuan tersebut merupakan piramod ketiga yang ditemukan di sekitar piramid utama Teti dan piramid kedua yang ditemukan di Saqqara sepanjang tahun ini.

Para arkeolog menemukan reruntuhan piramid tersebut di bawah pasir pada kedlama 7 meter. Mereka berhasil mengidentifikasi struktur pondasinya dan mengukur bahwa kemiringan sudut dinding penutupnya sebesar 51 derajat. Dengan perkiraan tersebut, para arkeolog Mesir dapat memperkirakan bahwa tinggi piramid sekitar 14 meter. Sementara luas pondasinya sekitar 22 meter persegi.

Kawasan tempat ditemukannya piramid tersebut belum pernah digali sebelumnya. Para arkeolog yang telah melakukan penggalian di kawasan tersebut selama 20 tahun tidak menyangka daerah yang dikira hanya hamparan pasir ternyata merupakan kuburan sebuah piramid.

Meski demikian, para pencuri sepertinya sudah lebih dulu mengatahui keberadaan piramid tersebut. Sebab, saat ditemukan, sudah ada lubang yang mungkin dibuat para pencuri untuk masuk ke ruang makam Ratu Sesheshet untuk menguras hartanya.

WAH 
Sumber : National Geographic News

Kamis, 11 September 2008

Temuan Arkeologi Pasangan Saxon


Penemuan arkeologi berharga di Ramsgate, Kent,Inggris memperlihatkan ''pasangan'' terbaring berjajar dalam tanah dengan satu tangan memeluk yang lain, namun penemuan tersebut masih meninggalkan misteri terpendam 1000 tahun lalu.


Pertama, ilmuwan mengira jika pasangan tersebut ialah lelaki dengan istri yang mati bersama, namun penelitian lebih lanjut menyatakan jika dua orang tersebut kemungkinan ialah dua lelaki yang saling berpegangan, bisa jadi prajurit yang mati bersama dan dikubur di dalam tanah. 

Penguburan tak biasa itu diperkirakan berasal dari periode Saxon antara 410 M dan 1066 M. Saat ini tes forensik sedang dilakukan untuk menentukan jenis kelamin pasangan tersebut dan kapan tepatnya mereka terkubur.

Adrian Gollop, kepala proyek di Badan Arkeologi Cantebury, yang memimpin penggalian, seperti yang dilansir oleh Telegraph.co.uk, berkata "Ini salah satu penemuan yang cukup jarang,"

"Tubuh yang kanan, sangat jelas adalah pria. Tinggi mereka tidak biasa, keduanya lebih dari 6 kaki (lebih dar 180 cm) . Sementara yang kanan memiliki tanda-tanda wanita tapi ia juga terlihat seperti tengkorak lelaki," papar Adrian

"Sampai kami memeriksa tulang-tulang tersebut, kami tidak bisa memastikan 100 persen," kata Adrian lagi. Tengkorak temuan itu kini dilingkari oleh parit. Awalnya Adrian dan ilmuwan yang tergabung mengira mereka berasal dari Jaman Besi, namun kini mereka berpikir keduanya berada lebih ke masa depan- yaitu periode Saxon. 

Periode Saxon ialah periode dimana Bangsa Saxon yang asli Jerman, bermigrasi dan menginvasi pulau Great Britain, bersama Angles, Jutes, Frisian dan Frank, setelah runtuhnya dominasi kekuasaan Roma di Barat sekitar abad 449 M. Sebab itulah, ras kolektif Jerman terdiri dari Saxon, Angles, dan Jutes yang tinggal di Pulau Great Britain kemudian dinamakan Anglo-Saxon.

"Ketika awal kita cenderung melihat dua tengkorak tersebut sebagai pasangan, kini kita berpikir mereka mungkin terkubur sebagai saudara. Mereka mati bersama dan dikubur bersama," kata Adrian."Tidak ada artefak terkubur bersama mereka yang dapat memberikan petunjuk. Ini benar-benar misteri," imbuh Adrian

Tes terhadap tulang tersebut memang belum dilakukan namun mereka berharap jika pemeriksaan forensik dapat memberi petunjuk lebih, siapa kedua pasangan tersebut. Selain dua pasang tengkorak tersebut, para arkeolog juga telah menemukan makam dan artefak dengan rentang yang diperkirakan berasal dari Jaman Perunggu Awal (antara 2700 SM dan 1500 SM) dan jaman Pertengahan di lokasi seluas 90 acre tersebut. "Ini benar-benar penemuan arkeologi yang luar biasa," kata Adrian./it

Kamis, 07 Agustus 2008

Bayi Keluarga Tutankhamun Diuji DNA


Egyptian Supreme Council of Antiquities 
Salah satu dari dua mummi bayi yang ditemukan dalam makam Firaun Tutankhamun.


CAIRO, KAMIS - Para ilmuwan Mesir sedang melakukan tes DNA terhadap mayat bayi-bayi yang lahir dalam keadaan mati dari makam Firaun Tutankhamun guna mengidentifikasi ibu dan nenek mereka, yang bisa jadi adalah Ratu Nefertiti.

Arkeolog Inggris, Howard Carter, menemukan mumi bayi-bayi itu saat ia membongkar makam Tutankhamun tahun 1922. Para arkeolog menduga mereka adalah anak-anak dari Firaun muda itu, tapi ibu mereka belum diidentifikasi.

Banyak peneliti yakin ibu mereka adalah Ankhesenamun, satu-satunya istri raja muda itu yang diketahui. Ankhesenamun adalah putri Nefertiti yang terkenal karena kekuasaan dan kecantikan.

"Untuk pertama kalinya kita akan bisa mengidentifikasi keluarga Raja Tut," ujar Zahi Hawass, pimpinan Dewan Tinggi Purbakala Mesir. "Dan ini bisa membawa kita pada penemuan mumi Nefertiti."

Tutankhamun yang lahir tahun 1341 sebelum Masehi wafat kurang dari satu dekade setelah dinobatkan sebagai raja pada usia delapan atau sembilan tahun.

Nefertiti memiliki enam putri hasil pernikahannya dengan Firaun Akhenaten, penguasa yang meninggalkan dewa-dewa tradisional untuk memeluk satu Tuhan selama pemerintahannya tahun 1350 hingga 1334 sebelum Masehi. Namun, mumi ratu itu tidak pernah diidentifikasikan.

Uji DNA dan CT-scan yang dilakukan di Universitas Cairo akan selesai Desember mendatang. Ini adalah bagian dari usaha Mesir untuk mengidentifikasi semua mumi kerajaan dengan DNA dan CT-scan. Tutankhamun adalah salah satu mumi pertama yang dipelajari dengan teknologi tersebut pada tahun 2005.

WSN 
Sumber : BBC