Senin, 07 Juli 2008

Teknologi Informasi

Teman Manusia Berteknologi Tinggi

KOMPAS/RENE L PATTIRADJAWANE / Kompas Images 

Senin, 7 Juli 2008 | 03:00 WIB 

Rene L Pattiradjawane

Sejak lama umat manusia memimpikan untuk menciptakan diri sendiri, memanfaatkan kemajuan teknologi yang tersedia untuk berbagai tujuan menjalankan kehidupan ini. Ciptaan diri sendiri ini disebut sebagai robot, diilhami dan diawali sebagai sebuah mimpi, diejawantahkan sebagai fiksi ilmiah, dan akhirnya diciptakan untuk berbagai keperluan.

Sebenarnya, pengertian robot adalah mesin yang dirancang untuk menjalankan satu atau beberapa tugas secara berulang-ulang dengan kecepatan dan ketepatan yang tinggi. Sebuah robot bisa dikendalikan oleh manusia, bahkan dari jarak jauh sekalipun.

Sebagian besar robot dikendalikan oleh komputer dan terbagi atas dua kategori, robot dalam jenis otonom yang bekerja secara mandiri sebagai kesatuan sistem lengkap dengan komputer yang disebut sebagai pengendali. Kategori lain adalah robot dalam kategori serangga, mulai dari jumlah dua buah sampai ribuan di bawah supervisi tunggal.

Disebut serangga karena sistem robot yang yang bekerja ini mirip koloni serangga, seperti semut, di mana masing-masing individu bekerja secara sederhana, tetapi sebagai kesatuan koloni menjadi kumpulan canggih melaksanakan berbagai tugas dan pekerjaan.

Kata robot pertama kali digunakan pada karya drama ciptaan orang Ceko, Karel Capek, pada tahun 1920 berjudul R.U.R: Rossum’s Universal Robots. Dalam drama ini, robot-robot ini menggulingkan penciptanya, manusia. Dalam bahasa Ceko, kata ”robota” berarti kerja paksa, sama dengan robot yang tidak perlu istirahat dalam melakukan pekerjaannya.

Honda ASIMO
Di dunia sekarang ini, tak bisa dimungkiri, Jepang menjadi pusat kelahiran berbagai ragam robot, mulai dari Doraemon sebagai tayangan serial teve anak-anak sampai robot ASIMO buatan Honda Motor Co Ltd. Sebuah robot ASIMO (Advance in Innovative Mobility), robot humanoid yang mirip manusia, pekan ini hadir di Jakarta untuk memeriahkan Indonesia Motor Show 2008.

Ketika ASIMO yang termasuk generasi kedua diperkenalkan kepada Kompas di PT Honda Prospect Motor pekan lalu, ASIMO dengan tinggi 130 cm dan berat 54 kg ini sungguh impresif dan ”menyeramkan”. Menyeramkan karena ASIMO yang terbaru ini dalam berbagai gerak-geriknya sudah menyerupai manusia kecil.

Disaksikan juga oleh Jonfis Fandy, Marketing & After Sales Service Director PT Honda Prospect Motor, ASIMO generasi kedua yang dikembangkan tahun 2005 ini memiliki berbagai keluwesan yang menyerupai manusia. Gerak-gerik robot ASIMO yang dikendalikan teknisi Honda asal Thailand berlangsung sangat mulus, tidak kaku, tanpa bunyi, dan memiliki semua anatomi gerak manusia umumnya.

Dikendalikan perangkat nirkabel (foto kanan bawah), ASIMO generasi kedua mampu berlari dengan kecepatan optimal 6 km per jam dan 5 km per jam berlari melingkar dengan sumbu radius 2,5 meter. ASIMO terbuat dari bahan plastik khusus dan menggunakan batere litium ukuran besar di punggungnya yang mampu mengoperasikannya selama satu jam.

Seluruh bagian anatomi ASIMO bisa bergerak, kaki menendang bola, telapak kaki berputar-putar, dan keseluruhan badan robot humanoid luwes bergoyang mengikuti irama musik atau melakukan gerakan senam. Kehadiran ASIMO generasi kedua, generasi pertama diciptakan tahun 2000 dengan kecepatan berjalan 1,6 km per jam, menunjukkan kepiawaian teknologi yang mampu dikembangkan Honda yang tidak hanya menjadi produsen otomotif.

Puluhan Kawat Keluar dari Perut Bu Noor (1)


Tribun Kaltim / Muhammad Khaidir
Puluhan kawat menjuntai di perut Bu Noor


NOORSYAIDAH terus menahan sakit dari penyakit aneh yang dideritanya. Di perut dan dada perempuan berusia 40 tahun ini bermunculan puluhan batang kawat sepanjang sekitar 20 cm.


"Mungkin Allah SWT ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa dengan kekuasan-Nya apapun bisa saja terjadi dan sayalah orang yang dipilih untuk memperlihatkan kekuasan-Nya itu. Maka itu saya harus menjalaninya dengan tabah," kata Noor dengan pasrah.

Saat ditemui di kediaman saudara perempuannya di Jalan Merdeka III, Samarinda Ilir, Noor terpaksa harus berjalan membungkuk agar kawat-kawat di perutnya itu tidak mengenai baju kaos berwarna merah yang dikenakannya. 

Bahkan, Noor pun hanya bisa duduk di pinggir kursi dan tetap membungkuk karena sedikit saja dia bergerak, kawat di tubuhnya itu akan menyentuh kain bajunya dan nyeri akan dirasakannya.

"Ini karena ada Mas (wartawan Tribun Kaltim) saja saya pakai baju, biasanya saya tidak pakai baju karena terus terang saja kawat-kawat ini kalau menyentuh barang apa saja rasanya sangat sakit sekali," ujarnya sembari menyingkapkan bajunya dan memperlihatkan kawat-kawat yang tumbuh di bagian perutnya itu.  

Guru aktif TK Al-Quran di Sangatta, Kutai Timur, ini menceritakan, penyakit yang dideritanya itu dialami sejak tahun 1991. Tanpa sebab musabab kawat-kawat itu tiba-tiba saja bermunculan di perutnya dan bagian dadanya. Padahal, saat itu dia sedang menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sospol Universitas Mulawarman Samarinda. 

"Tapi, kalau dulu hanya sekitar seminggu kawat-kawat itu berjatuhan sendiri dan hilang. Nanti sekitar sebulan kemudian bermunculan lagi. Nah, sekarang ini sudah sekitar enam bulan lebih, kawat-kawat di perut saya ini tidak ada yang jatuh atau hilang. Jadi, sungguh menderita sekali," katanya.

Segala upaya pengobatan, mulai dari medis, alternatif, hingga mendatangi orang pintar sudah dilakukannya. Namun, penyakit tersebut tetap tak sembuh. Operasi mungkin sudah puluhan kali dialaminya, tetap saja kawat-kawat itu setelah dicabut dengan cara medis tak mau hilang dari dirinya.

"Semua orang bilang bahwa penyakit saya ini terkena santet atau semacamnya, tapi berani jujur bahwa saya ini tak pernah punya musuh atau menyakiti orang lain. Makanya, dokter atau orang pintar yang mengobati penyakit saya ini juga bingung untuk menyembuhkannya," ujarnya.

Saat ini, untuk menghilangkan perasaan sakit atau stres akibat penyakit yang dialaminya itu tak kunjung sembuh, Noor mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan sosial, misalnya mengajar. "Tapi, kalau malam sudah datang, ya terpaksa harus terpikir, kenapa saya mengalami nasib seperti ini. Mudah-mudahan saja suatu saat ada hikmahnya buat saya, amin," katanya penuh harap. (muh khaidir/bersambung)


Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Extravaganza Dapat Peringatan Terakhir


DOK. TRANS TV
Salah satu adegan Extravaganza.


JAKARTA, SENIN - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melayangkan surat teguran kedua kepada penanggungjawab acara Extravaganza yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional. Ini adalah surat teguran terakhir. Tayangan Extravaganza terancam dihentikan.


"Jika tidak segera diperbaiki, maka kami meminta tayangan ini dihentikan," ujar Nina Armando, anggota panelis saat memaparkan hasil evaluasi terhadap program-program televisi periode 1 hingga 13 Mei 2008 yang dikeluarkan KPI di Gedung Bapeten, Jakarta, Senin (7/7).

Hadir pada saat pemaparan hasil evaluasi tersebut yakni para tim panelis yang beranggotakan Pakar Komunikasi Dedi N Hidayat, Pakar Komunikasi Nina Armando, Pemerhati Anak dan Gender Razaini Taher, dan Yayasan Pengembangan Media Anak Bobby Guntarto.

Hasil evaluasi tim panelis, tayangan acara komedi itu mengandung muatan vulgar, melecehkan kaum perempuan, dan menyiratkan seks. "Walaupun komedi, tapi secara konotasi mengarah ke seks," ujar Nina. 

Saat pemaparan, Tim Panelis juga menampilkan adegan-adegan dalam program Extravaganza. yang dianggap bermasalah. Salah satu contohnya yakni saat Exravaganza menghadirkan bintang tamu grup band Ungu. Adegan tersebut memperlihatkan penampilan dan gerak-gerak Aming, salah satu pemainnya, yang dinilai terlalu vilgar dan melecehkan kaum perempuan saat mengenakan pakaian ala perempuan.

Selain mempersoalkan isi tayangan, KPI juga mempersoalkan jam penayangan acara tersebut. Acara yang ditayangkan pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB memungkinkan anak-anak turut menyaksikan adegan yang dianggap 'tidak wajar' tersebut.

SMS

Jumat, 04 Juli 2008

Jabar Sabet Emas Catur Cepat

Laporan wartawan Kompas Lis Dhaniati

kompas/aswin rizal harahap
Irene Kharisma Sukandar


SAMARINDA, JUMAT- Jawa Barat merebut emas pertama dalam Pekan Olahraga Nasional XVII/2008 di Kalimantan Timur. Tak tanggung-tanggung, Jabar langsung merebut dua emas pada nomor catur cepat yang digelar di Tarakan.

Dua emas itu itu diraih dari nomor perorangan putra-putri, yakni oleh GM Susanto Megaranto dan WIM Irene Kharisma Sukandar. Bertanding dengan sistem Swiss sembilan babak yang berakhir Jumat (4/7) siang, Susanto mengumpulkan 8,5 poin. Pecatur asal Indramayu ini hanya sekali tertahan remis, yakni pada babak delapan oleh Joko Santoso (Jawa Tengah).

Pecatur tuan rumah Irwanto Sadikin meraih medali perak dengan 7,5 poin. Sedangkan Danny Juswanto (DKI Jakarta) mengumpulkan 6,5 poin dan mendapatkan medali perunggu.

Di bagian putri, Irine mendapatkan emas dengan perolehan 7,5 poin. Di babak kedua, Irene sempat kalah oleh pecatur tuan rumah Dewi AA Citra. Irene juga ditahan remis oleh Dewi Anggraeni (Kaltim) di babak terakhir.

Gagal meraih emas, Dewi harus puas dengan medali perak setelah mengumpulkan tujuh poin. Sedangkan medali perunggu diraih oleh Evi Lindiawati (DKI Jakarta) dengan 6,5 poin.

Humas PB Percasi Kristianus Liem dari Tarakan mengatakan, pengalungan medali akan dilakukan setelah pembukaan PON Sabtu (5/7). "Semula medali akan diserahkan hari ini. Namun, ternyata ada telepon dari PB PON yang menyatakan medali baru boleh dikalungkan setelah pembukaan," kata Kristianus.

Kemungkinan besar medali catur cepat perorangan ini akan langsung diserahkan bersama medali emas catur cepat beregu. Sebab, nomor catur cepat beregu sudah mulai digelar Jumat selepas siang ini.

Jafar, Berharap Rezeki dari Tetesan Air Aren


INGGRIED DWIWEDHASWARY
Jafar, penjual es aren yang menjajakan dagangannya dengan berkeliling Jakarta.


INGGRIED DWIWEDHASWARY
Jafar menuang es air aren.

PANASNYA terik matahari siang, tak membuat langkah Jafar (30) surut. Apalagi, dilihatnya ratusan orang tengah melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Bagi Jafar, di tengah teriknya panas, ratusan orang itu menjanjikan rezeki lebih baginya. 


Jafar adalah seorang penjual es aren. Es, yang mungkin jarang kita temui. Tak seperti es doger, es campur ataupun es dawet yang bisa dijumpai di banyak tempat. Modal Jafar hanyalah air aren yang ditempatkannya pada dua batang lodhong (bambu besar). Selain itu, ada dua batang bambu lainnya, untuk menempatkan gelas. Empat batang bambu itu, disatukannya dengan sebuah batang bambu yang berukuran kecil. Membawanya? Dipanggul! 

Tak lelahkah Jafar memanggulnya? "Namanya cari rezeki, ya enggak boleh lelah. Kalo panas gini, capek juga sih. Batangnya aja udah berat. Apalagi kalau ada isinya, tambah berat lagi," kata Jafar.

Air Aren, cerita Jafar, hasil dari pengolahan buah Aren. "Itu loh, dari pohon kolang-kaling. Ngolah-nya gimana, saya juga enggak tahu. Saya tiap hari ngambil di pembuatnya di Rangkas Bitung. Kebetulan, saya juga tinggal di daerah itu," ujarnya.

Setiap hari, Jafar membeli air aren dengan modal Rp 30 ribu rupiah. Satu gelas es aren ia jual dengan Rp 2000. Keputusan Jafar memilih berjualan di Jakarta, karena menurutnya di ibu kota jarang dijumpai penjual es aren. 

"Banyak yang penasaran, kalau saya bawa-bawa ini. Seperti Mbak jugakan? Haha...Ya lumayan rezekinya. Orang nanya, jual apa Bang. Saya bilang es aren, jadi pada mau ngerasain," ujar mantan buruh pabrik ini.

Dalam sehari, Jafar bisa menjual hampir 30 gelas es aren. Baginya penghasilan yang didapatnya cukup untuk membiayai hidup kedua orangtuanya. "Enggak seberapa, tapi enggak apa-apalah. Masih bisa bantu orang tua. Tapi kalau buat nikah, saya belum berani dengan penghasilan segini. Kerja di pabrik dulu lumayan dapetnya (gaji), tapi di-PHK. Biarlah, sekarang gini yang penting halal," katanya sambil tersenyum.

Biasanya, pukul 4 pagi Jafar sudah meninggalkan Rangkas Bitung, menggunakan KRL menuju ke Stasiun Tanah Abang. Dari Tanah Abang, ia pun berjalan menyusuri Jakarta, berharap kucuran rezeki dari tetesan air aren yang dipanggulnya. 

Penasaran? Semoga Anda menemukannya di belantara Jakarta. "Saya muternya kemana-mana. Enggak tentu. Kadang di Blok M, kadang di Senayan, tapi kalo ada aksi saya pasti nguber, banyak yang beli," ujar Jafar.

ING 
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Deyantono Berpromosi Bareng Truk Sampah


M Clara Wresti

Membangun usaha bukanlah hal yang mudah, apalagi membangun usaha di negeri orang. Deyantono Candra (32) berhasil membangun usaha di Taipei sejak tahun 2000. Caranya sederhana, hanya berpromosi bareng dengan truk sampah yang berkeliling kota.

Laki-laki kelahiran Surabaya, 4 Desember 1976, ini bercerita, sebenarnya usaha dia berdagang barang-barang produksi Indonesia di Taipei jauh dari cita-cita semula. Awalnya dia ingin berbisnis di bidang pertanian. Dia merintis usaha ini karena tidak rela antre sekian lama hanya untuk membeli sebungkus mi instan di toko yang menjual barang-barang dari Indonesia yang berlokasi di kota Taoyuan, sekitar satu jam perjalanan dari kota Taipei, Taiwan.

”Dulu, ketika saya kuliah bahasa Mandarin di Taipei, satu-satunya pelipur kangen adalah makan mi instan. Sayang, ketika itu sekitar tahun 1999, hanya ada satu toko Indonesia di Taoyuan. Akibatnya, orang-orang Indonesia setiap hari Minggu berbondong-bondong berbelanja di toko ini. Bisa dibayangkan panjangnya antrean di toko kecil itu,” kata laki-laki yang biasa disapa Dede ini mengenang.

Antrean di toko yang menjual produk Indonesia itu tentu saja panjang sebab saat itu ada sekitar 30.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Taiwan. Ini belum termasuk para mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri ini.

Melihat antusiasme orang Indonesia akan barang-barang dari Indonesia dan kesulitan mereka mendapatkan barang-barang tersebut, Dede lalu terpikir untuk membuka usaha yang sama. Dia lalu bekerja sama dengan seorang temannya, yang asli Taiwan.

Namun, Dede sadar, tidak mudah membalikkan pikiran orang. Semua TKI di Taipei berpendapat, toko di Taoyuan adalah satu-satunya toko produk Indonesia dan mungkin yang terlengkap. Jika dia membuka toko Indonesia di Taipei, belum tentu didatangi konsumen karena TKI sudah terbiasa pergi ke Taoyuan.

Untuk mengatasi kendala itu, Dede harus bisa mendapatkan tempat yang paling strategis buat tokonya. Dia lalu memilih sebuah toko yang berada dekat dengan Stasiun Utama Taipei.

”Saya cegat dulu orang-orang yang mau naik kereta api ke Taoyuan agar mereka mau melihat toko saya,” ujar Dede yang membuka toko pada tahun 2000.

Ke luar rumah

Agar lebih diketahui banyak orang, Dede pun menyebarkan pengumuman mengenai tokonya itu. Cara dia menyebarkan selebaran itu unik. Dede mengikuti truk sampah yang setiap malam berkeliling mengambil sampah dari berbagai penjuru kota.

Apa hubungan sampah dengan toko Indonesia?

Katanya, membuang sampah adalah salah satu kesempatan bagi para pekerja Indonesia ke luar rumah. Ketika itulah mereka bertemu dengan teman atau tetangga. Ada juga TKI yang memakai kesempatan membuang sampah untuk menelepon atau membeli keperluan pribadi di toko yang beroperasi 24 jam.

Cara yang ditempuh Dede itu ternyata tak keliru. Tidak memakan waktu lama, toko Indo Jaya miliknya sudah ramai dikunjungi orang Indonesia yang tinggal di Taiwan.

”Antreannya juga sama panjangnya dengan antrean di toko yang ada di Taoyuan. Begitu banyaknya orang yang membeli hingga setiap minggu saya harus memesan barang lagi dari Indonesia,” kenangnya.

Dari pengalamannya selama ini, menurut Dede, memasukkan barang ke Taiwan relatif tidak sulit. Barang dari Indonesia itu memang harus melewati jalur pemeriksaan yang ketat. Namun, Dede tidak perlu mengeluarkan uang pelicin atau biaya tambahan sepeser pun sehingga tidak membuat biaya usahanya membengkak.

Produk Indonesia yang dijual Dede sangat beragam. Mulai dari mi instan, sambal botol, camilan, sambal pecel, bumbu siap masak, kecap, kosmetik, kartu telepon murah, hingga kaset musik dan VCD atau DVD film.

Berkembang

Banyaknya pembeli ini membuat usaha Dede yang berawal dengan modal Rp 100 juta itu berjalan lancar. Dalam waktu satu tahun, ia berhasil membuka satu toko lagi. Kali ini dia berkongsi dengan seorang teman asal Indonesia. Toko keduanya itu dia buka dekat Masjid Agung Taipei.

Maka, bisa dibayangkan, dalam waktu sebentar saja toko ini pun sudah diketahui seluruh warga Indonesia yang berada di Taipei.

”Setiap hari Jumat dan Minggu ada pengajian di masjid. Jemaah yang datang ke masjid selalu mampir ke toko untuk makan atau membeli barang keperluan lain. Pembeli di sini tak hanya orang Indonesia, tetapi juga orang dari Timur Tengah dan Afrika. Mereka tahu, makanan di sini halal karena dijual untuk orang Indonesia yang sebagian besar Muslim,” kata Dede.

Sukses membuka toko itu tidak membuat Dede puas. Dia melihat peluang lain. Masih ada kebutuhan bagi TKI di Taiwan yang belum terpuaskan, yakni bisa saling berkomunikasi dan berbagi cerita.

Pada Oktober 2006 Dede menerbitkan majalah bernama Intai, khusus bagi TKI di Taiwan. Majalah ini pun langsung diterima pembaca. Banyak TKI yang berasal dari agen yang sama, akhirnya bisa saling bertemu kembali setelah membaca Intai.

Biasanya mereka tidak saling tahu, di mana teman dari agen yang sama itu ditempatkan. Lewat majalah tersebut mereka bisa berbagi pengalaman, foto, dan informasi mengenai kegiatan TKI atau warga Indonesia di Taiwan.

Majalah yang terbit satu bulan sekali ini semula hanya beroplah 1.000 eksemplar dan dibagikan gratis. Setelah 1,5 tahun berjalan, oplah Intai menjadi 7.500 eksemplar dan dijual dengan harga 40 NT (sekitar Rp 12.000) per eksemplar. Halamannya juga bertambah secara signifikan, dari semula 16 halaman menjadi 84 halaman berwarna. Padahal, Dede sebenarnya tidak punya pengalaman menerbitkan majalah. Pengalaman dia dalam dunia tulis-menulis hanyalah menjadi staf redaksi saat masih duduk di bangku SMA dan kuliah.

”Saya memang suka menulis. Novel saya berjudul Aku Terjebak di Taipei City telah terjual 2.000 kopi.”

Kesuksesan dalam bisnis toko produk Indonesia dan penerbitan ini, di sisi lain juga menjadi kendala buat Dede. Pria asal Surabaya ini mengaku sampai sekarang dia selalu rindu pulang ke kampung halamannya di Kepanjen, Surabaya, Jawa Timur.

Dulu, sebelum usahanya besar, dia pasti pulang ke Indonesia setiap dua bulan sekali. Sekarang dia tidak bisa lagi sering pulang karena harus mengurus usaha dan majalah Intai pun harus terbit teratur. Kemungkinan pulang pun semakin kecil sejak istrinya, Evy Susanty (24), hamil.

”Setiap kali pulang ke Surabaya, saya merasa seperti disegarkan kembali. Saya memang merasa terjebak di Taipei City he-he-he,” kata Dede mengutip judul novelnya.

Everything You Want to Buy ke Indonesia Ajalah

KETIKLAH Great Singapore Sale (GSS) 2008 di Google. Lalu, pilihlah opsi pencarian hanya untuk halaman berbahasa Indonesia. Anda akan mendapatkan, hajatan tahunan yang digelar Negeri Singa itu terpublikasikan sangat luas di berbagai media di tanah air. Tahun ini adalah tahun ke-15 penyelenggaraan GSS. Banyak orang Indonesia penghobi belanja menantikan musim potongan harga ini digelar. Jauh-jauh hari sudah diberitahukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, musim diskon di Singapura digelar mulai 23 Mei kemarin hingga 20 Juli 2008.

Tidak heran kemudian menjelang keberangkatan saya ke Singapura beberapa waktu lalu beberapa kawan berpesan agar saya tidak melewatkan musim belanja di sana. Beberapa kawan berseloroh minta dibawakan sekarung kemeja. Ah, populer nian hajatan belanja yang diselenggarakan negeri jiran kita. 

Singapura memang dikenal sebagai surga belanja. Puluhan pusat perbelanjaan yang berjejer satu sama lain di sepanjang Orchard Road dan sekitarnya tidak pernah sepi pengunjung. Soal belanja di Singapura sampai-sampai ada ungkapan dalam Singlish (Singapore English), “Everything you see must buy lah…” 

Rasanya sulit membayangkan jika eksistensi mal-mal di sana bisa bertahan hanya dengan mengandalkan jumlah penduduk Singapura yang jumlahnya hanya sekitar 4 juta orang. Itulah Singapura, jumlah wisatawan yang datang ke sana lebih dari dua kali lipat jumlah penduduk aslinya. 

Menurut data Singapore Tourism Board (STB) sepanjang 2007, sektor pariwisata mampu membukukan pemasukan 13,8 miliar dolar Singapura atau sekitar Rp 82,8 triliun. Ini memecahkan rekor pendapatan negara dari sektor pariwisata. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang ke Singapura tahun 2007 mencapai 10,3 juta orang, meningkat 5,4 persen dari jumlah wisman tahun 2006. Nah, wisman asal Indonesia adalah yang terbesar dengan jumlah 1.956.00 orang. Posisi kedua sampai kelima berturut-turut diduduki China, Australia, India, dan Malaysia.


Singapura memang jeli mengemas aktivitas shopping di negara yang luasnya kurang lebih sama dengan Jakarta itu. Bagi masyarakat modern urusan wisata atau liburan memang tidak lagi hanya dihabiskan di tempat-tempat wisata alam. Saat ini pusat perbelanjaan pun menjadi tempat liburan alternatif. Selama belasan tahun kawasan mal di Singapura menjadi tempat wisata bagi pelancong mancanegara. Karena itulah STB mengemas aktivitas belanja ini secara khusus.

Aura GSS memang sudah terasa bahkan ketika saya masih di tanah air. Beberapa media ibu kota memuat iklan besar-besar tentang acara ini. Di bandara Changi, Singapura, selepas pemeriksaan imigrasi Anda pasti akan menemukan sebuah outlet kecil menempel pada dinding yang bertahun-tahun ada di sana. Di situ Anda bisa mengambil secara cuma-cuma berbagai macam brosur panduan mengunjungi Singapura. Di antara berbagai macam brosur itu tentu saja ada brosur khusus yang menerangkan tentang GSS. 

Di dalam kamar hotel, diantara tumpukan buku menu yang tergeletak di atas meja, terselip pula sebuah majalah yang isinya mengupas habis aneka program GSS. Di dalamnya terpapar berbagai macam informasi potongan diskon yang digelar restoran anu, toko itu, bahkan aneka produk fesyen hingga elektronik berharga khusus terpajang di situ. Wah, komplet deh. Saya seperti ditodong untuk tidak melupakan aktivitas belanja selama berada di negeri ini. 

Begitulah, menjelang tengah malam, usai menyelesaikan rangkaian aktivitas kantor, bersama beberapa teman saya mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Little India. Mustafa Center namanya. Tidak jauh, sekitar 10 menit perjalanan dengan taksi dari hotel tempat saya menginap di kawasan Marina. 

Anda yang kerap mengunjungi Singapura pasti mafhum, pusat perbelanjaan ini adalah tempat yang wajib dikunjungi para pelancong selain Orchard Road. Mustafa Center adalah satu-satunya pusat perbelanjaan di Singapura yang buka 24 jam. Berada di dalam toko kita tidak merasa bahwa ini hampir tengah malam. Toko penuh orang lalulalang berbelanja. Orang Indonesia yang mudah dikenali karena percakapan mereka banyak dijumpai di berbagai sudut toko ini. 

KOMPAS.COM/HERU MARGIANTO
Mustafa Center di Kawasan Little India, buka 24 jam.


Ini semacam toko serba ada yang secara fisik memang besar. Mustafa Center seperti gudang besar. Anda dapat membeli aneka barang mulai dari makanan, alat olahraga, stationary, perlengkapan rumah tangga, pakaian, perhiasan, sampai aksesoris mobil. Lebih dari semua itu, yang lebih penting, tempat ini tersohor murahnya. 

Murah? Eits, jangan keburu tergoda. Jika Anda mengharapkan belanja di sini lebih murah dibanding Indonesia, sebaiknya bayangan itu harus buru-buru dihapus. Dibanding barang-barang bermerek di mal-mal mewah Orchard Road, tentu saja barang-barang di sini lebih murah. 

Di Mustafa, sebuah payung kecil bermotif “batik” ala seragam yang dikenakan pramugari Singapore Airlines dijual seharga 10 dolar singapura (sekitar Rp 67 ribu). Baru beberapa minggu lalu saya membeli sebuah payung yang sama kecilnya di Matahari seharga Rp 30 ribu. Berbagai macam kaos bertulis Singapore yang biasa dibeli para pelancong sebagai oleh-oleh untuk kerabat mereka harganya beragam, mulai dari 9 hingga 16 dolar Singapura (sekitar Rp 60 hingga 100 ribu). Ah, soal kaos ini saya teringat Dagadu Yogya yang harganya juga tidak jauh di kisaran itu. Di ITC Jakarta kaos seharga itu bertebaran di mana-mana. Di Ramayana malah ada yang lebih murah, Rp 19 ribu per potong.

Lewat tengah malam kami kembali ke Hotel. Di dalam taksi saya terbayang gedung-gedung ITC di Indonesia. Rasanya, apa yang saya lihat di Mustafa Center ada juga di tanah air. Yang tidak ada tentu saja kaos-kaos dan pernak-pernik bertuliskan Singapore dan bergambar kepala Singa.
***

KOMPAS.COM/HERU MARGIANTO
Suasana Orchard Road di Musim Great Singapore Sale 2008.

Esok harinya, saya tidak ingin melepaskan kesempatan mengunjungi surga para sophaholic di negeri ini, Orchard Road. Aura diskon dalam rangka GSS pastinya lebih bergema di tempat itu. Bayangan saya tidak keliru. Ribuan toko yang berada di dalam sedikitnya 41 pusat perbelanjaan yang berderet sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer di Jalan Orchard serempak memasang poster berwarna merah dan putih bertuliskan aneka angka potongan harga. Mulai dari 5 persen hingga 70 persen. Di sejumlah counter Mango, wanita-wanita cantik yang hanya mengenakan tanktop berseliweran memilih-milih pakaian. Seorang teman berbisik, “Inilah gaya belanja di Singapura. Cukup pakai tanktop, supaya nggak ribet waktu mau nyoba baju.”

Kaos-kaos merk Mango didiskon 50 persen. Harganya jadi sekitar Rp 100an ribu. Kaos polo Bosini juga potong harga jadi 20 dolar Singapura. Kalau dikurs dengan hitungan 1 dolar Singapura sama dengan Rp 6.700 maka kaos Bosini itu harganya Rp 134 ribu. Hmm...pikir saya, bukankah kita juga bisa menemukan barang dengan harga yang kurang lebih sama di Jakarta Great Sale yang digelar satu bulan penuh dalam rangka Ulang Tahun Jakarta? Kristian, teman saya, urung membeli sepatu yang ditaksirnya. Karena, jika dirupiahkan harga sepatu itu sekitar Rp 900an ribu. “Kemarin aku liat di Jakarta juga sekitar segitu sih,” katanya.

Saya teringat majalah panduan belanja yang tergeletak di atas meja di kamar hotel saya. Di dalamnya ada promo kamera digital Fuji seri F5ZD dibandrol diskon 50 persen jadi 199 dolar Singapura (sekitar Rp 1,3 juta) dari harga semula 399 dolar Singapura (sekitar Rp 2,6 juta). Iseng-iseng saya membandingkannya dengan harga di negeri sendiri. Alamak, di salah satu situs toko online Indonesia, kamera itu harganya hanya Rp 1,4 juta, tanpa embel-embel diskon.

Tapi toh ada yang bahagia juga mendapatkan harga lebih murah. Riyana, teman saya yang lain, sumringah menenteng dua kantong plastik. Satu berisi dua pasang sepatu merk Novo dan Aldo, satu lagi tiga buah tas merk Mango 

“Ini murah banget,” katanya sambil menunjukkan dua kantong plastik belanjannya. “Tas Mango di Jakarta harganya Rp 400an ribu. Ini aku dapet 25 dolar aja (Rp 167.500). Makanya aku borong tiga…hehehe…”

Riyana sangat paham harga. Matanya berbinar. “Ini sepatu Novo, di Jakarta Rp 200an ribu lah. Di sini aku dapet 10 dolar saja (sekitar Rp 67 ribu). Kalo satunya lagi sepatu Aldo 40 dolar saja (Rp 268 ribu). Di Jakarta kan bisa Rp 500an ribu gitu loh.”

Memasuki mal-mal di Orchard Road sampai kaki gempor saya seperti melihat wajah mal-mal di Jakarta. Saya seperti berada di Senayan City, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Pacific Place. Tampilan poster potongan harganyapun persis, tulisan berwarna merah dengan latar belakang putih, atau sebaliknya. Orchard Road seperti Jakarta dalam dimensi yang lain. 

Letih keluar masuk mal, saya berisitirahat di sebuah taman kecil di jalur pedestrian yang teduh. Nah, yang satu ini memang tidak bisa didapatkan di Jakarta. Kalau bicara tempat belanja, mal-mal di Jakarta tak kalah dengan mal-mal di Singapura, baik desain interior maupun barang-barang yang dijajakan. Tapi, Jakarta tidak punya trotoar lebar bebas polusi yang memanjakan pejalan kaki. Tidak ada taman-taman kecil dengan bangku tempat kita beristirahat kala capek. 

Di taman itu saya berjumpa dengan Lily, ibu dua anak asal Surabaya yang tengah berlibur bersama keluarganya. Seorang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar merengek minta dibelikan mainan Spiderman yang bisa menempel di dinding. Tiga orang pedagang pinggir jalan di dekat taman itu berteriak-teriak menawarkan mainan Spiderman berukuran 10 sentimeter. 

“Kalau harganya satu dolar ibu beliin. Masak mainan kayak gitu aja harganya empat dolar. Di Pratama Rp 1000 dapet tiga,” ujar Lily ketus sambil menyebut satu pusat keramaian di Surabaya.

“Heran, orang Indonesia kok banyak yang gila belanja di sini. Wong barang-barangnya aja mahal selangit. Wis toh, gak ono sing murah neng kene, luwih murah Indonesia. Wani dicekik leherku. (Sudahlah, tidak ada yang murah di sini, lebih murah di Indonesia. Berani dicekik leherku),” Lily menjawab sengit ketika saya bertanya apakah dia ikut borong-memborong di Great Singapore Sale 2008.

“Everything you want to buy ke Indonesia ajalah,” sambung Lily. Aha, dia sudah pandai bicara Singlish.

Heru Margianto

Kamis, 03 Juli 2008

27.019 Calon Mahasiswa Tes SNMPTN di Bandung

Berjalan Lancar, tidak Ada Hambatan Berarti


SEJUMLAH peserta dengan teliti mengerjakan soal Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di GKU ITB Jln. Ganeca No. 10 Kota Bandung, Rabu (2/7). Hari pertama SNMPTN diikuti peserta sebanyak 27.019 orang. SNMPTN berlangsung hingga Kamis (3/7).* USEP USMAN NASRULLOH


BANDUNG, (PR).-
Sebanyak 27.019 peserta ikuti ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2008 di Panlok Bandung, Rabu (2/7). Lokasi ujian tersebar di 12 rayon dan 88 sektor Kota Bandung.

Berdasarkan pengamatan "PR", pelaksanaan tes SNMPTN hari pertama, berlangsung lancar. Belum ada indikasi perjokian ataupun kecurangan lainnya yang terjadi.

"Untuk hari pertama belum ada laporan kecurangan. Penggeledahan tetap dilakukan, tapi hanya kepada peserta yang dianggap mencurigakan. Misalnya, yang pakai kerudung, jaket, atau tangan panjang," kata Sekretaris Eksekutif SNMPTN Panlok Bandung Asep Gana Suganda, Rabu (2/7) di sekretariat SNMPTN Panlok Bandung, Jln. Ganeca Bandung.

Hanya, kata Asep, beberapa peserta SNMPTN kelompok IPS masih menganggap tes untuk kelompok IPS hanya dilaksanakan selama satu hari, yakni Kamis (3/7). Padahal, tes untuk semua kelompok dilakukan dua hari, sedangkan pada hari kedua, kelompok IPS memulai tes pada pukul 11.00 WIB.

"Ini yang kita khawatirkan dari awal dan ternyata betul. Di SMAN 6 saja ada enam orang yang seperti itu. Padahal, dari awal kami sudah mengingatkan untuk melihat jadwal pada buku panduan karena memang ada kesalahan jadwal di kartu peserta," ujarnya.

Selain itu, kata Asep, di lokasi ujian ITB, ada satu ruang ujian yang ternyata dibubarkan sebelum waktu ujian habis, yakni pada pukul 10.00 WIB. Padahal, semestinya, peserta baru diperbolehkan keluar ruang ujian pada pukul 10.30 WIB.

"Mudah-mudahan tidak ada peserta yang komplain karena belum menyelesaikan semua soalnya. Padahal, di naskah tercantum dengan jelas jadwalnya. Saya kira ini kesalahan pengawas," ungkapnya.

Sementara itu, sebanyak 9 peserta tunanetra mengikuti tes SNMPTN di Gedung Labtek V ITB. Salah satu peserta, Ahmad Basir (21), mengaku cukup lega karena tidak ada larangan kepada pendamping untuk membacakan soal. "Tahun lalu kan tidak boleh, tapi ternyata sekarang enggak masalah," katanya.

Meski tidak menemui banyak kesulitan, namun Ahmad tetap berharap adanya soal braille bagi peserta tunanetra. Sebab, untuk soal-soal tertentu, seperti matematika, peserta tunanetra memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan soal. "Paling kita hanya berimajinasi karena tidak bisa ngitung coret-coret, seperti peserta normal," tuturnya.

PSB tidak terganggu 
Sementara itu, pelaksanaan SNMPTN yang berbarengan dengan jadwal penerimaan siswa baru nyatanya tidak saling menghambat, seperti yang terjadi di SMAN 2, SMAN 6, SMAN 20, dan SMPN 28 Bandung. Lokasi PSB dipusatkan di ruangan yang letaknya berjauhan dengan ruangan kelas.

Seperti di SMAN 2 Bandung, pusat PSB dilaksanakan di aula. "PSB terpusat di aula saja, orang tua yang mendaftarkan anaknya akan langsung menuju kemari tanpa harus melewati ruang kelas yang digunakan sebagai tempat tes," kata anggota panitia PSB SMAN 2 Bandung Dadang Darma Susila.

Hal yang yang sama juga terjadi di SMAN 6 Bandung. Meskipun beberapa guru yang bertugas sebagai anggota panitia PSB harus juga mengawas pelaksanaan SNMPTN, tetapi tidak menghambat penerimaan pendaftar. Lagi pula hingga hari ketiga kemarin, pendaftar masih minim. 

Wakasek Humas SMAN 20 Bandung Agus Hamdan, setiap tahun sekolahnya selalu dijadikan lokasi SNMPTN karena SNMPTN selalu bersamaan dengan PSB, jadi sudah biasa. 

"Kami memusatkan PSB di pendopo SMAN 20, para peserta SNMPTN tidak perlu melewati pendopo untuk masuk ruangan tes. Jadi, keduanya berjalan lancar," kata Agus. 

Rencananya, hasil kelulusan SNMPTN ini akan diumumkan 1 Agustus mendatang melalui media cetak dan website www.snmptn.or.id. (A-157/CA-184/ CA-187)***