Kamis, 11 November 2010

Ribuan Kera Merapi Menyeberang ke Merbabu

Kamis, 11 November 2010 10:28 WIB

 

Boyolali (ANTARA News) - Ribuan satwa jenis kera di lereng Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali, diduga banyak pindah menyeberang ke lereng Gunung Merbabu, karena kehabisan makanan akibat bencana letusan Merapi.

Parto (80) warga Dusun Blumbangsari, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng, Kamis menjelaskan, gerombolan satwa kera lereng Merapi sering terlihat menyeberangi jalan ke arah lereng Merbabu.

Menurut Parto, gerombolan kera Merapi berwarna kecoklatan tersebut, berpindah ke lereng Merbabu diduga kehabisan makan akibat dampak debu vulkanik. Kera-kera itu kemungkinan juga karena kepanasan akibat suhu Merapi yang sering menyemburkan awan panas hingga saat ini.

"Kera-kera itu pindah ke lereng Merbabu terlihat sejak sepekan terakhir ini. Kera itu menyeberangi jalan utama jalur Selo-Magelang sudah masuk lereng Merbabu yang masih tersedia makan hewan itu," ucap Parto mengungkapkan.

Slamet Sutanto (40) seorang perangkat Desa Jrakah, Selo, menjelaskan, kera-kera itu banyak berkeliaran pinggiran sepanjang jalan Selo-Magelang. Satwa itu, juga banyak yang menyeberangi jalan ke lereng Merbabu.

Menurut Slamet, tanaman sayur dan buah-buahan di kanan kiri jalan yang masih ada sudah ludes dihabiskan kera-kera itu. Tanaman itu seluruhnya rusak, selain akibat dampak abu vulkanik, dan juga satwa kera itu.

Warga yang kembali pulang menengok rumahnya dari pengungsian, kadang dikagetkan banyaknya kera bergelantungan di atas gubuk tengah ladang dan di pohon-pohon yang terkena abu vulkanik.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTN-GM) Boyolali, Dulhadi, membenarkan banyak kera Merapi yang pindah habitat (eksodus) karena kehabisan stok makanan.

Menurut dia, hewan kera tersebut bisa juga eksodus akibat suhu di lereng Merapi masih panas, sehingga mereka secara bergerombol mencari daerah yang lebih dingin suhunya.

Kendati demikian, pihaknya akan segera melakukan koordinasi untuk mengatasi kera eksodus tersebut dengan cara menggiring kembali ke habitatnya.

Menurut dia, kera menyeberang ke lereng Merbabu sebetulnya tidak menjadi masalah, karena persediaan makanan di daerah itu masih banyak.

Namun, kata dia, yang menjadi masalah habibat kera Merapi dan Merbabu berbeda. Karena, setiap segerombolan kera memiliki kelompok sendiri. Jika kera Merapi menyerbu ke lereng Merbabu, dapat terjadi perkelahian antara kedua kelompok tersebut.

"Kera yang menang akan menguasai daerah itu," ujarnya mengungkapkan.

(ANT/A024)

COPYRIGHT © 2010

Bahasa Daerah Papua Jadi Mata Pelajaran

Kamis, 11 November 2010 | 03:26 WIB


 www.TPGImages

JAYAPURA, KOMPAS.com--Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu mengatakan, dalam rangka perlindungan budaya Papua, maka ke depan, maka mata pelajaran bahasa daerah akan dimasukkan kurikulum  di sekolah-sekolah.

"Keberadaan bahasa daerah di Papua mulai ditinggalkan dan tidak diketahui generasi saat ini," ujar Barnabas Suebu, ketika membawa materi pada kegiatan seminar mengenai budaya Papua, di Jayapura, Rabu.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Papua bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, UNDP Indonesia, dan UNESCO.

Acara yang berlangsung di Sasana Krida, Jayapura itu berlangsung sejak tanggal 8 dan akan berakhir pada Kamis (11/11). "Anak saya saja yang paling bungsu belum bisa bicara bahasa daerah, sedangkan kalau anak pertama mungkin bisa tetapi tidak terlalu banyak," kata Bas, sapaan Gubernur Papua ini.

Ia mengakui, dengan adanya kegiatan budaya akan lebih mendorong pemerintah dan masyarakat untuk lebih menghargai budaya Papua. "Termasuk upaya melestarikan bahasa daerah, dengan memasukannya pada kurikulum pengajaran di sekolah-sekolah," katanya.

Dia mengucapkan terima kasih atas kunjungan dari wakil beberapa negara-negara yang mengambil bagian dalam acara ini. "Secara tidak langsung keanekaragaman budaya Papua yang terdiri atas lebih dari 250 suku ini, dapat terkenal di manca negara," katanya.

Informasi yang diterima ANTARA, budaya Papua, juga meliputi bagian barat seluruh pulau Nugini, yang terdiri atas Provinsi Papua dan Papua Barat, Indonesia, dengan sekitar 250 kelompok etnis dan bahasa, di mana kelompok masing-masing memiliki karakteristik sendiri, tradisi dan kekhususan.

Suebu berharap setiap peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan dapat memberikan masukan pula demi kelangsungan kelestarian budaya Papua di mata dunia. "Pentingnya budaya, karena dengan budaya kita dituntun semakin maju dalam cara berpikir dan bertindak," katanya tandasnnya.
ANT
Sumber :
Penulis: Jodhi Yudono   |   Editor: Jodhi Yudono

Peristiwa Bojongkokosan

Perang Besar yang Terlupakan

PERTEMPURAN heroik Bojongkokosan seperti ada dan tiada. Padahal pertempuran di sepanjang lintasan Bogor-Sukabumi itu, tidak kalah hebat dengan pertempuran di Surabaya, 10 November 1945 yang selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Oleh karena itu, tidak heran bila sesepuh Tentara Siliwangi sempat menumpahkan rasa sesal. Peristiwa Bojongkokosan yang berlangsung 9 Desember 1945 belum dicatatkan dalam sejarah nasional. Padahal, perang itu sejajar dengan peristiwa 10 November di Surabaya.

Saat memperingati pertempuran Bojongkokosan tiga tahun lalu, almarhum Brigadir Jendral (Purn.) H. Herman Sarens Soediro sempat kecewa. Peristiwa itu kurang direspons Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kabupaten dan Kota Sukabumi.

Ketika itu, Herman selaku Ketua Dewan Pembina Forum Komunikasi Keluarga Besar Siliwangi hanya terpaku saat memperingati detik-detik peritiwa Bojongkokosan di halaman Tugu Juang Siliwangi, Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Hanya sekitar puluhan veteran berusia sepuh yang hadir. Padahal jauh-jauh hari, mereka melayangkan undangan ke sejumlah instansi pemerintahan untuk peringatan pertempuran heroik itu.

"Kualat bila generasi muda melupakan pertempuran Bojongkokosan. Dalam peritiwa itu, puluhan pejuang dan ratusan rakyat mengorbankan jiwa raga untuk mempertahankan negara. Di tanah ini ada sejarah yang tidak bisa dilupakan," kata almarhum Herman Sarens kepada "PR" dua tahun lalu.

Rasa sesal pejuang dan eksponen 45 tidaklah berlebihan. Peristiwa itu dilupakan banyak orang. Padahal sudah ditetapkan sebagai Hari Juang Siliwangi. Peristiwa itu ada rangkaian dengan Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946.

Hingga sekarang, dalam sejarah nasional maupun mata pelajaran muatan lokal, peristiwa Bojongkokosan sama sekali tidak tertulis. Padahal itu merupakan insiden peperangan kedua setelah pertempuran 10 November di Surabaya .

Pada persitiwa itu, 73 pejuang gugur. Selama dua jam, para pehlawan gagah berani itu menyergap konvoi militer Inggris yang dikawal beberapa tank jenis Stuart. Konvoi dihadang pasukan Tentara Keamanan Rakyat dan rakyat Sukabumi. Tercatat, 50 orang pasukan sekutu (Inggris) meregang nyawa, 100 lainnya terluka, dan 30 tentara hilang.

Tidak hanya merengut nyawa pejuang, perang Bojongkokosan juga menewaskan dan melukai ratusan rakyat sipil. Ratusan rumah hancur setelah Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force) melakukan serangan balasan. Sekutu mengebom beberapa desa di Kompa, Parungkuda, dan Cibadak hingga luluhlantak dan rata dengan tanah.
**

Peristiwa heroik itu berawal dari berita yang diterima para pejuang Sukabumi di Pos Cigombong. Ada serombongan truk konvoi sekutu menuju Sukabumi. Mendengar berita itu, Kompi III pimpinan Kapten Murad dan laskar rakyat Sukabumi segera menduduki tempat pertahanan di pinggir (tebing) utara dan selatan jalan di Bojongkokosan.

Barisan pejuang yang terlibat dalam peristiwa Bojongkokosan diperkuat senjata rampasan dari tentara Jepang. Selain penghadangan laju kendaraan pasukan Sekutu dilakukan pasukan TKR, laskar rakyat seperti Barisan Banteng pimpinan Haji Toha, Hisbullah pimpinan Haji Akbar dan Pesindo spontan ikut bergabung.

Selepas salat Ashar, konvoi tentara sekutu datang dari arah Bogor. Mereka diperkuat dengan puluhan tank, panser wagon, dan truk berisi ribuan pasukan Gurkha. Konvoi itu masuk garis pertahanan TKR. Saat mendekati tebing Bojongkokosan, pejuang dan rakyat melepaskan tembakan. Pasukan TKR dan laskar rakyat melakukan penyerangan secara sporadis.

Menyadari ada serangan, pasukan sekutu bersenjatakan peralatan perang modern melakukan pembalasan. Mereka membombadir pertahanan pejuang dengan tank baja dan senapan mesin. Balasan serangan sekutu membuat pertahanan pejuang menjadi sasaran lesatan peluru dan mortir.

Para pejuang berhasil lolos setelah beberapa jam melakukan penyergapan. Mereka meloloskan diri dari serangan balasan setelah hujan deras disertai kabut mengguyur kawasan itu.

Melihat pejuang berhasil lolos, pasukan sekutu marah dan menyerang dengan membabi buta. Karena tidak terima, pejuang dan laskar rakyat kembali melakukan penyerangan terhadap konvoi tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda.

Pertempuran kembali terjadi di sepanjang jalan Bojongkokosan hingga perbatasan Cianjur seperti Ungkrak, Selakopi, Cikukulu, Situawi, Ciseureuh hingga Degung. Perang juga meluas hingga lintasan Ngaweng, Cimahpardi, Pasekon, Sukaraja, hingga Gekbrong di perbatasan Sukabumi-Cianjur.

Tentara sekutu yang dalam perjalanan ke Bandung itu dibuat gentar. Akhirnya komandan sekutu mengajak berunding dengan pemimpin TKR dan pemerintah setempat. Diwakili Komadan Resimen III, Letnan Kolonel (Letkol) Edi Sukardi, akhirnya disetujuilah usulan gencatan senjata.

Hanya saja, gencatan senjata hanya berlangsung sehari. Tentara sekutu melakukan tindakan tidak terpuji. Tepat 10 Desember 1945, tentara sekutu kembali membombardir Kecamatan Cibadak. Pengeboman itu tercatat dalam majalah Belanda Fighting Cocks karangan Kolonel Doulton. Serangan pesawat-pesawat tempur itu bahkan tercatat sebagai yang terbesar sepanjang Perang Dunia II. Sekutu melakukan pengeboman udara setelah mengetahui puluhan tetaranya tewas di tangan pejuang dan rakyat. (Ahmad Rayadie/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163611

Rabu, 10 November 2010

Apakah Kubah Lava Merapi Itu?

Laporan wartawan KOMPAS.com Tjatur Wiharyo
Rabu, 10 November 2010 | 14:03 WIB
 
 
AFP Photo
Lava pijar terlihat di puncak Merapi.
 
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Magma dengan berat jenis dan kekentalan tinggi bila keluar ke permukaan akan mengalami pendinginan yang kemudian mengendap serta menumpuk dalam kawah membentuk gundukan kubah lava. Jika kubah lava berkembang melebihi limit spesifik yang berkaitan dengan kekuatan, ketebalan, dan kemiringan lereng dan oleh adanya gaya gravitasi, maka kubah akan runtuh menghasilkan awan panas guguran.

Kubah lava berperan penting dalam proses erupsi, yang merupakan ciri khas Merapi, yaitu adanya pertumbuhan dan penghancuran kubah lava. Kubah lava dapat diamati secara visual. Parameter yang penting untuk dipantau secara umum adalah morfologi, volume, dan lokasi topografis tumbuhnya kubah.

Sebelum teknik fotografi ditemukan, analisis pengamatan kubah dilakukan melalui sketsa tangan. Setelah kamera fotografi dengan film ditemukan dan berkembang, peranan sketsa perlahan tergeser.

Pada zaman sekarang, perkembangan teknologi fotografi digital sangat membantu proses analisis pengamatan kubah secara lebih akurat. Foto satelit, yang berbiaya sangat mahal, kadangkala sangat diperlukan sebagai pembanding dari foto yang diambil dari permukaan bumi.

Informasi dasar Merapi
Lokasi Geografis: Pulau Jawa, Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tipe: Stratovolcano Dimensi (perkiraan): Garis tengah 28 km, area 300-400 km2, volume 150 km3 Titik tertinggi (WGS-84): Puncak Garuda 2987 meter, koordinat 7"32'25.39S 110"26'49.02"E

Konteks Geodinamika: Konvergensi lempeng Indo-australia dengan lempeng benua Asia.
Petrologi: magma tipe basaltik-andesitik. Dinamika erupsi: leleran lava, pembentukan kubah, terjadi awan panas, dan sesekali bersifat eksplosif.

(Sumber: Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian/ BPPTK Yogyakarta).
 

Islam di Indonesia

SINDIKASI

 
Oleh Alfred Stepan & Jeremy Menchik
Profesor ilmu politik di Columbia University dan Direktur Center for the Study of Democracy, Toleration, and Religion. Jeremy Menchik, kandidat Ph.D. dari University of Wisconsin-Madison, menghabiskan dua tahun terakhir mempelajari Islam dan politik di Indonesia.

Kunjungan "Barry Obama" --julukan yang diberikan orang Indonesia untuk presiden Amerika Serikat sekarang yang semasa kanak-kanaknya pernah tinggal di sana-- ke Jakarta bertujuan untuk merayakan prestasi negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Dua belas tahun sejak transisi menuju demokrasi, Indonesia secara rutin mengadakan pemilihan umum tingkat daerah dan nasional, mengembangkan pasar bebas, dan memperkuat budaya toleransi terhadap minoritas Kristen, Hindu, Budha, dan keturunan Cina.

Dari sepuluh anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), hanya Indonesia yang mendapat peringkat "bebas" dari Freedom House (organisasi nirlaba yang berpusat di Washington, D.C.). Filipina yang sebagian besar penduduknya Katolik, demikian pula Thailand (Buddha), dan Singapura, jauh tertinggal dari Indonesia dalam hal pemenuhan hak-hak demokratis yang mendasar bagi rakyat mereka. Oleh karena itu, para pembuat kebijakan di Amerika Serikat menjadikan Indonesia sebagai model bagi dunia Muslim. Akan tetapi, apa pelajaran yang bisa ditarik dari demokrasi Indonesia?

Pelajaran yang paling penting adalah organisasi-organisasi Islam dapat menjadi tulang punggung masyarakat sipil yang toleran. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), dua organisasi Islam dengan massa lebih dari 30 juta dan 40 juta anggota, masing-masing, mengoperasikan lebih dari 10.000 sekolah dan ratusan rumah sakit, menjalankan organisasi pemuda, dan mendukung gerakan perempuan. Keduanya memiliki hubungan dengan partai politik, yang secara konsisten menyuarakan demokrasi dan menentang pendirian negara agama.

Memang, Syafi`i Ma`arif, mantan Ketua Muhammadiyah, telah menyatakan pendapatnya tentang pluralisme. Abdurrahman Wahid, mantan ketua NU, selama puluhan tahun menganjurkan penghormatan terhadap pluralisme agama, dan memobilisasi oposisi demokratis terhadap Presiden Soeharto. Intelektual Islam ketiga, Nurcholish Madjid, yang dikenal dengan "desakralisasi" politik pada 1970-an, menganjurkan demokrasi multi-partai pada1990-an, dan secara pribadi mendesak Soeharto untuk mundur pada 1998.

Indonesia juga menunjukkan bagaimana Islam dapat memberikan dukungan untuk hak-hak perempuan. Di antara komunitas aktivis di Jakarta, organisasi yang paling sukses adalah yang mendapat dukungan dari sayap organisasi perempuan Muhammadiyah dan NU: Muslimat, Fatayat, dan Aisyiyah. Mantan Ketua Umum Fatayat, Maria Ulfah Anshor, membuat argumentasi yang cantik berdasarkan kepada fikih mengenai akses perempuan untuk hak-hak reproduksi. Berkat kerja sama antara negara dan ulama-ulama Islam yang membentang selama 40 tahun, Indonesia menjadi negara dengan program keluarga berencana paling sukses di dunia berkembang.
Ironisnya, AS justru melakukan pembatasan upaya para aktivis pembela hak perempuan di Indonesia sama banyaknya dengan upaya mendukung mereka. Mantan Presiden George W. Bush membatasi pendanaan untuk program-program kesehatan yang menggunakan kondom atau bentuk lain dari kontrasepsi. Dampaknya, organisasi-organisasi yang menerima pendanaan dari US Agency for International Development tidak dapat memublikasikan materi untuk promosi seks aman dan keluarga berencana.

Kebijakan ini terjadi dan sering kontraproduktif. Dalam satu kasus absurd, sekelompok feminis Muslim yang menulis buku mempromosikan hak-hak perempuan harus memublikasikan pekerjaan mereka secara sembunyi-sembunyi, karena buku itu berisi argumentasi untuk hak-hak reproduksi perempuan dan sebagian kecil dari dana kelompok itu berasal dari yayasan yang menerima uang dari USAID.

Fakta bahwa organisasi Islam telah memperhatikan perempuan juga membantu menjelaskan keberhasilan politik perempuan di Indonesia. Parlemen terdiri atas delapan belas persen perempuan (persentasenya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan di Konggres AS). Bahkan, Megawati Sukarnoputri, perempuan, adalah presiden keempat negara itu. Organisasi terkemuka seperti Aisyiyah, Fatayat, dan Muslimat, telah mengoreksi pandangan luas bahwa syariah menghambat perempuan. 

Agama telah menembus hampir setiap relung aspek kehidupan di Indonesia, termasuk politik. Akan tetapi, partai politik yang berlandaskan kepada agama mengalami kekalahan dalam pemilu secara berturut-turut sejak 1955 hingga 2009. Partai-partai yang masih berlandaskan agama sebagian besar telah hilang atau mengubah platform mereka. Daripada mendirikan negara agama, partai-partai itu telah dipaksa oleh suara pemilih untuk mengubah kebijakan mereka untuk pluralisme Indonesia.

Mungkin cara terbaik untuk memahami Muslim bukan dengan mencoba untuk mentransplantasi lembaga-lembaga dari Indonesia ke Timur Tengah, atau memberikan bantuan untuk kelompok moderat di AS, tetapi cukup mendengarkan dengan lebih peka suara-suara Islam di Indonesia.

Namun, hal itu sulit untuk dilakukan. Hampir tidak ada tulisan dari para intelektual yang penting bagi demokratisasi dan hak-hak perempuan di Indonesia -- misalnya, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Syafi`i Ma`arif, Siti Musdah Mulia, dan Maria Ulfah Ansor-- diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sayangnya lagi, tidak ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.***

Copyright: Project Syndicate, 2010.
www.project-syndicate.org

 

Dulu "Mamnu", Sekarang "Tafaddol"


SALAH seorang jemaah haji dari Timur Tengah mencari posisi saat hendak memotret Kabah di Masjidil Haram Mekah, beberapa waktu lalu.* WAKHUDIN/"PR"

Memotret Kabah dulu mamnu (terlarang), bahkan haram. Sekarang, memotret Kabah tafaddol (silakan). Tentu dengan syarat tidak boleh mengganggu ketertiban dan kekhusyukan orang-orang yang beribadah di sana. 

Tentu juga tidak boleh berpose terlalu lama. Apalagi pada saat musim haji seperti sekarang yang membuat masjid penuh sesak. Yang penting, jepret, jepret, secepat mungkin, sekadar menghasilkan gambar seseorang berlatarbelakang Kabah, Makam Ibrahim, Hijir Ismail, Safa, Marwa, Sumur Zamam, dan tempat istimewa lainnya di dalam Masjidilharam.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang amat mustahil dapat terjadi lima atau sepuluh tahun lalu. Ketika itu, kamera tak boleh dibawa masuk ke masjid, baik Masjidilharam maupun Nabawi. Pemeriksaan terhadap barang bawaan para jemaah di pintu masuk amat ketat. 

Jika ditemukan kamera, telefon seluler (walaupun tidak dilengkapi kamera), dan alat elektronik lain, petugas askar (polisi masjid) langsung melakukan penyitaan. Apakah nanti barang-barang itu akan dapat kembali utuh kepada pemilik masing-masing, entahlah. Yang jelas, orang hanya akan berkata, salah sendiri membawa barang-barang semacam itu ketika akan melakukan ibadah.

Larangan memotret berlaku tidak hanya di dalam masjid, tetapi juga di mana saja. Yang melarang bukan hanya askar atau baladiyah (satpol PP), masyarakat biasa pun suka ikut-ikutan. Fatwa tasywir (gambar, potret) haram berlaku menyeluruh. 

Seorang rekan wartawan sekitar tahun 1990-an memotret Masjid Quba, Madinah. Kebetulan di depan masjid tersebut ada nenek-nenek pedagang memakai abaya hitam dengan penutup wajah. Nenek itu segera bangkit memarahi pemotret. Mengacung-acungkan gulungan sajadah siap dipukulkan. Untunglah, rekan tadi cukup gesit menyelamatkan diri di tengah umpatan nenek-nenek yang terus berteriak "haram haram".

Sekarang tidak lagi ada teriakan tasywir haram. Tidak ada lagi bentakan askar menyatakan alatut tyaswir mamnu. Kamera terlarang. Istilah alatut tasywir juga sekarang jarang lagi diucapkan, telah diganti dengan kamera. Istilah foto lebih sering terdengar daripada tasywir. 

Mungkin karena seketat apa pun aturan, sulit membendung kemajuan teknologi, termasuk dalam bidang potret-memotret, sehingga terjadilah perubahan elastis. Namun pada batas-batas tertentu, tetap berlaku larangan-larangan agar tidak mengganggu kepentingan umum di tengah kegiatan ibadah.

Beruntunglah generasi para hujjaj masa kini yang bebas leluasa berfoto di tempat-tempat sakral yang dulu amat tabu diabadikan dalam gambar, kecuali mendapat izin khusus penguasa. Semoga tidak menjadi ria.

Rekan-rekan wartawan muda juga tentu tak usah repot-repot lagi melarikan diri dari kejaran nenek-nenek yang tak mau dirinya terekspose bersama Masjid Quba, seperti dialami para seniornya dua puluh tahunan lalu. Memotret di Tanah Suci sekarang tafaddol, tidak mamnu, apalagi haram.****

H.Usep Romli H.M., Aziziyah Shamaliyah, Mekah.

Peneliti Setuju Indonesia Awal Peradaban

Kamis, 28 Oktober 2010 | 22:57 WIB


Tribun Pekanbaru/Melvinas Priananda
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com--Dalam seminar "Indonesia Awal Peradaban Dunia?" yang yang menghadirkan Stephen Oppenheimer, ahli genetika Oxford University,  hari ini (28/10/10), hadir pula Hagi Yulia Sugeha Ph.D, staf peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Ia mengungkapkan dukungannya terhadap teori tersebut.

"Saya setuju dengan pendapat Prof Stephen," katanya dalam sesi tanya jawab seminar dan wawancara dengan kompas.com. Lulusan Tokyo University ini juga mengungkapkan bahwa Indonesia bukan hanya awal peradaban tetapi juga awal berkembangnya banyak spesies hewan dan tumbuhan.

Hagi menyebut risetnya tentang ikan sudat, jenis ikan yang berbentuk seperti belut, hidup di laut namun bereproduksi dan bertelur di darat. "Dalam riset saya, ikan sudat Indonesia berada dalam tingkat filogeni tertinggi. Ini membuktikan bahwa ikan sudat Indonesia adalah moyang dari ikan sudat di dunia. Ikan sudat lain adalah ikan-ikan sudat Indonesia yang bermigrasi,"ungkapnya.

Selain penelitiannya sendiri, ia juga menyebut penelitian lain yang mengarah pada banyaknya spesies yang berasal dari Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa gajah yang selama ini tersebar di dunia berasal dari Borneo dan ayam-ayam yang berkembang juga berasal dari wilayah Indonesia.

Ia mengungkapkan, "Saya memang tidak secara spesifik mempelajari tentang genetika manusia. Tapi dari riset-riset saya, saya juga sependapat bahwa Indonesia adalah awal segalanya."

Hagi telah melakukan penelitiannya tentang ikan sudat sejak beberapa tahun yang lalu. Ia menemukan bahwa 10 dari 20 jenis ikan sudat yang ada di dunia terdapat dari Indonesia. Ia menyimpulkan bahwa ikan sudat Indonesia adalah moyang dari ikan sudat dunia setelah melakukan analisis DNA mitokondria (DNA yang berasal dari bagian sel yang bertugas memproduksi energi).
Penulis: Yunanto Wiji Utomo   |   Editor: Jodhi Yudono

Adipura atau "Adi Pura-pura"

Penataan Lingkungan Perkotaan

 
Adipura selama ini menjadi parameter utama bagi pemerintah untuk mengukur sejauh mana pemerintah daerah/kota menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui pengelolaan dan penataan lingkungan perkotaan. Celakanya, Adipura yang polanya seperti lomba penataan kebersihan antar kota/daerah, ditangkap secara keliru oleh pengelola kota, yakni pemerintah kota/daerah. Penerjemahan mereka terhadap semangat Adipura, lebih pada logika yang praktis. Akibatnya terjadi pergeseran paradigma. Adipura lebih dianggap sebagai prestise, bukan prestasi. Jangan heran bila muncul plesetan kalau Adipura menjadi "Adi Pura-pura". Penataan dan pengelolaan lingkungan perkotaan yang bersifat kosmetik, jangka pendek, dan pragmatis menjadi titik berat di daerah. Apa saja dilakukan, hanya sekadar bisa meraih prestise, yakni mendapatkan Piala atau Penghargaan Adipura. Konsentrasi kepada prestasi sesungguhnya, yakni menjadikan kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan sebagai budaya, justru dikesampingkan. Fenomena di atas terjadi secara nasional, tak terkecuali di Jawa Barat. Untuk mengungkap hal itu, wartawan Pikiran Rakyat Amaliya dan Lia Marlia, dibantu Undang Sudradjat dan Marsis Santoso, menelusuri soal kekeliruan paradigma tersebut ke sejumlah daerah dengan berbagai kriteria terkait keberadaan Adipura. Kabupaten Cianjur, Kota dan Kabupaten Bekasi, Indramayu, Majalengka, dan Garut dipilih sebagai percontohan untuk mengungkap fenomena di seputar Adipura. Berikut sajiannya.
.
SEBAGAI negara berkembang di dunia ketiga, Indonesia mengalami dualisme kepentingan. Di satu sisi, negara berpenduduk lebih dari dua ratus juta jiwa ini harus menjaga eksistensi di era globalisasi. Di sisi lain, banyak masalah dasar peradaban manusia yang masih belum terselesaikan.

Salah satunya perilaku hidup bersih dan sehat. Bagi sebagian warga Indonesia, kebersihan lingkungan belum menjadi prioritas hidup. Sebab ada hal lebih penting yang harus mereka utamakan, yakni masalah perut. Perilaku buruk terhadap lingkungan ini bukan hanya menyangkut kondisi ekonomi seseorang saja. Masih banyak orang-orang bermobil mewah atau pengendara motor yang melemparkan botol air mineral atau bungkus permen begitu saja ke jalanan.

Inilah salah satu yang menjadi alasan pemerintah mencetuskan penghargaan lingkungan Anugerah Adipura pada 1986 kepada kota/kabupaten. Anugerah itu terhenti pada 1998. Namun kembali diberikan pada 2002. Hingga saat ini, Adipura menjadi motivator terbesar untuk menggenjot kebersihan kota.
Dalam perkembangannya, Adipura menjadi penghargaan lingkungan bergengsi bagi seluruh kabupaten/kota. Bagi pemerintah daerah, Adipura merupakan kebanggaan sekaligus pembuktian komitmen mereka terhadap lingkungan.
Adipura diberikan kepada kota/kabupaten yang sukses dalam pengelolaan kebersihan lingkungan dan penataan kota serta memenuhi kriteria pemerintah. Untuk kota yang sukses dalam menata kebersihan kota tetapi belum memenuhi kriteria akan diberi piagam Adipura (Best Effort).
"Kita tidak bisa menilai diri sendiri. Oleh karena itu, bagus kalau ada perlombaan. Dengan Adipura ada yang mendorong untuk menata kota," ujar Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh seusai rapat koordinasi Adipura, Selasa (3/11).
**
Euforia kemenangan Piala Adipura lambat laun menggeser posisi Adipura dari penjaga motivator lingkungan menjadi alat pendongkrak prestise pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Cianjur misalnya, menggelar rapat koordinasi dua kali dalam seminggu untuk memantau perkembangan persiapan penilaian Adipura. Pemerintah Kota Cimahi menerjunkan tim patroli kebersihan. Bergerak tiap hari ke kecamatan-kecamatan. Pemerintah Kabupaten Garut membuat Kajian Lingkungan Strategis dengan menggaet Universitas Padjadjaran.

Pemerintah daerah juga terkesan obral anggaran untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang mendukung penilaian Adipura. Menurut Kepala Dinas Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung A. Rekotomo, jumlah anggaran yang disediakan untuk mendukung penilaian Adipura mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala BPLH Kabupaten Garut Kuswendi mengaku mengajukan anggaran Rp 400 juta untuk persiapan Adipura pada 2011. 

Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar juga menyebutkan angka lebih dari Rp 1 miliar untuk membiayai kegiatan-kegiatan terkait penilaian Adipura. Hal yang sama juga dilakukan di Kota Cimahi dan Bekasi, Kabupaten Indramayu, Majalengka, Garut dan hampir seluruh daerah di Jawa Barat.

Daerah-daerah sibuk melancarkan aksi-aksi "pembungkusan" titik-titik pantau untuk mengatrol nilai. Karena sifatnya sekadar "pembungkusan", sesudah ada penilaian, celakanya, masih banyak penataan dan kebersihan yang tidak lagi dilanjutkan. Kesannya, ditata sebatas saat ada penilaian. Setelah itu, ditinggalkan dan ditanggalkan kembali.

Oleh karena itu, bukan hal yang aneh jika setelah penilaian Adipura, lapak dan gerobak pedagang kaki lima kembali menguasai trotoar serta badan jalan. Tong sampah dan pot bunga yang dipasang di tempat publik menghilang entah ke mana. Atau mesin-mesin pengomposan di tempat pembuangan akhir (TPA) kembali memasuki masa hibernasi. Semua itu baru digiatkan kembali menjelang jadwal penilaian Adipura di tahun berikutnya.

"Itulah mengapa kami menolak saat diajak menjadi tim penilai. Karena programnya tidak berkelanjutan," ujar Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat Muhammad Hendarsyah. Menurut dia, lingkungan masih dijadikan sebatas objek untuk tujuan-tujuan politis, terutama prestise pemerintah daerah.

"Adipura masih sebatas kosmetik. Pragmatis dan jangka pendek. Piala Adipura justru menjadi tujuan, bukan sarana bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam menerapkan pola perilaku hidup bersih dan sehat. Posisinya terbalik," tuturnya.
**

Yusep Somantri dari lembaga swadaya masyarakat Amerta, Kabupaten Cianjur menilai, dalam praktiknya masih terdapat celah yang memungkinkan adanya manipulasi. "Jadwal penilaian sudah ditentukan bulan-bulannya. Oleh karena itu, pentaaan baru dimaksimalkan menjelang jadwal penilaian," katanya.

Memang, hampir seluruh pemerintah daerah mengaku tidak tahu jadwal kedatangan tim penilai Adipura. Tim penilai datang dan pergi sekehendak mereka. 

Tidak jarang, tim penilai kembali ke titik pantau dalam rentang waktu dua atau tiga hari. Hanya saja, pemerintah daerah itu bisa mengira-ngira sendiri kedatangan tim berdasar pengalaman tahun sebelumnya. 

Pemerintah daerah umumnya sudah mengetahui kalau tim penilai biasanya turun ke daerah seminggu setelah rapat koordinasi di Kantor BPLHD Jawa Barat. Pada saat itulah, persiapan di sejumlah titik pantau dilakukan. Bocoran jadwal rapat koordinasi itu menjadi hal penting. "Tim penilai biasanya turun tak lama setelah rapat di BPLHD Jawa Barat," tutur Kepala Dinas Penyehatan Lingkungan dan Kebersihan (DPLK) Kota Cimahi Suryani. 

Terlepas dari hal tadi, keberadaan Penghargaan Adipura sedikit banyak telah berhasil mendongkrak komitmen pemerintah daerah terhadap kebersihan lingkungan. Hanya yang perlu menjadi catatan, pergeseran penghargaan lingkungan menjadi sekadar prestise semestinya disikapi pemerintah pusat dan masyarakat. 

Memang ada hal baru terkait kriteria penilaian Adipura di tahun 2011 mendatang. Mulai tahun depan, Kementerian Lingkungan Hidup menambahkan partisipasi masyarakat dalam kriteria penilaian. Ini dimaksud untuk mengurangi manipulasi pemerintah daerah yang acap menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan Piala Adipura. Selain pemerintah, kepedulian masyarakatnya terhadap perilaku hidup bersih dan sehat juga masuk penilaian. Oleh karena itu, penghargaan Piala Adipura terhadap daerah menjadi lebih substansial, bukan sekadar akal-akalan, atau Adipura sekadar lelucon menjadi "Adi Pura-pura".***

 http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163215