Sabtu, 07 Januari 2012

Puluhan Wisatawan Belanda Belajar Bikin Kue Ali


Puluhan wisatawan asal Belanda berkunjung ke Kampung Wisata Cikaret Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor. - inilah.com/Dian Prima

Oleh: Dian Prima
Jabar - Selasa, 3 Januari 2012 | 20:18 WIB


INILAH.COM, Bogor - Puluhan wisatawan asal Belanda berkunjung ke Kampung Wisata Cikaret Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor. Kedatangan wisatawan Belanda tersebut diterima Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Kota Bogor Bagus Karyanegara.

Dalam kunjungannya, rombongan wisatawan mancanegara tersebut melihat secara dekat proses pembuatan sandal. Selain itu mengunjungi pengrajin kue ali atau yang lebih dikenal dengan nama kue cincin. Kue ini merupakan salah satu makanan khas Bogor.

Selain itu, wisatawan asal Negeri Kincir Angin tersebut juga mengunjungi proses pembuatan wayang golek sekaligus menikmati secara langsung pertunjukan wayang golek dengan durasi 10 menit. Setelah itu mereka meninjau produksi boneka poty yang terbuat dari sabut kelapa.

Selanjutnya, rombongan melanjutkan perjalanan untuk melihat kegiatan masyarakat Kelurahan Cikaret yakni kegiatan Posyandu. Di sana mereka melihat alat-alat yang berkaitan dengan kesehatan dan buku-buku serta permainan anak-anak.

Perjalanan rombongan dilanjutkan dengan melihat tempat penampungan air yang didistribusikan ke rumah-rumah warga. Tur wisatawan dari Belanda berakhir di Sanggar Kompepar yang lokasinya sangat strategis, karena bisa melihat pemandangan Gunung Salak dan persawahan .

Pada kesempatan tersebut Ketua HPI Kota Bogor Bagus Karyanegara memberikan cinderamata berupa gantungan kunci. Bagus mengatakan, pihaknya telah mencatat pada 2012 sudah banyak terdaftar rombongan wisatawan lainnya yang akan berkunjung kembali ke Kampung Wisata Cikaret.

“Para wisatawan Belanda selama melakukan kunjungan di Kampung wisata Cikaret merasa terkesan. Mereka pun siap membantu mempromosikan Kampung Wisata Cikaret Kota Bogor di negaranya,“ jelas Bagus, Selasa (3/1/2012).[jul]

Tahu Bunkeng Perintis Tahu Sumedang

| I Made Asdhiana | Kamis, 21 April 2011 | 09:29 WIB


YUDI/WWW.DOYANMAKAN.COM
Tahu Bunkeng di Sumedang.




KOMPAS.com - Dalam perjalanan dari Cirebon menuju Bandung, kami melewati kota Sumedang. Memasuki kota ini pasti akan melihat tahu Sumedang dimana-mana, dari cuma penjaja kaki lima sampai rumah makan. Pastinya anda mengetahui tentang kelezatan Tahu Sumedang, tahu berwara coklat dan berasa sedikit asin itu memang sangat terkenal bahkan menjadi ikon dari kota asalnya, Sumedang. Aromanya pun sangat khas. Bisa dimakan langsung begitu saja atau mau dikombinasikan dengan lontong juga boleh-boleh saja.

Ke Sumedang kali ini kami mampir ke Tahu Bunkeng yang sangat legendaris itu, perintis tahu Sumedang sejak tahun 1917. Sudah hampir seabad ya, hebat euy. Awalnya ini dirintis oleh seorang imigran China bernama Ong Kino, beliau membuat tahu yang kemudian mendapat tanggapan yang bagus di masyarakat hingga laris manis terjual tahunya. Dan selanjutnya di teruskan ke anaknya yang bernama Boen Keng, kemudian berlanjut terus ke anaknya yang bernama Ukim. Nah sekarang di pegang oleh salah satu anak dari Bapak Ukim, yang bernama Bapak Suriadi. Jadi sudah generasi keempat yang menangani Tahu Bunkeng ini.



YUDI/WWW.DOYANMAKAN.COM
Lontong, cocok dinikmati bersama tahu bunkeng.


Dan di Sumedang juga sudah ada 4 tempat yang menjual Tahu Bunkeng. Pusatnya berada di Jalan 11 April nomor 53, Sumedang. Dan ada satu outlet yang berada di Bandung. Tahu Bunkeng ini sampai sekarang masih dibuat sendiri, supaya terjaga kualitasnya. Disini sangat laris sekali, dalam sekejap tumpukan tahu yang sudah matang pun habis terjual. Banyak sekali orang luar kota yang melewati Sumedang mampir disini hanya untuk membeli tahunya, contohnya ya seperti saya ini.


YUDI/WWW.DOYANMAKAN.COM
Tahu Bunkeng di Sumedang.


Tahu yang aromanya khas, sedikit asin, lembut isinya, dan agak renyah kulit tahunya. Enaknya memang disantap dalam keadaan panas, dengan cabe rawit, atau sambal kecap cabai rawit juga enak. Nah yang khas di Bunkeng selain tahunya adalah sambalnya. Enak banget untuk dicocol dengan tahunya. Yummyy... raos pisan euy.

Cobain deh teman-teman, makan tahu Bunkeng yang asli Sumedang. Rasanya memang berbeda dengan tahu sumedang yang ada di Jakarta. Dalam hitungan menit saya sudah menghabiskan 10 buah tahu he-he... Saya memang doyan banget makan tahu sumedang. Top deh Tahu Bunkeng. Selamat mencoba teman-teman. (Ita)

Sumber : www.doyanmakan.com

SUS Gedebage, Mimpi Kota Bandung Selama 20 Tahun


Wali Kota Bandung Dada Rosada mengaku bangga dengan dipastikannya penyelesaian Stadion Utama Sepak Bola (SUS) Gedebage pada Oktober 2012. - inilah.com/Syamsuddin Nasoetion


Oleh: Ahmad Sayuti AK
Jabar - Jumat, 6 Januari 2012 | 08:30 WIB


INILAH.COM, Bandung - Wali Kota Bandung Dada Rosada mengaku bangga dengan dipastikannya penyelesaian Stadion Utama Sepak Bola (SUS) Gedebage pada Oktober 2012. Stadion bertaraf internasional dengan fasilitas yang wah ini merupakan mimpi selama 20 tahun yang baru terealisasi.

”Ini merupakan mimpi yang baru menjadi kenyataan selama 20 tahun. Kota Bandung sendiri sudah mencanangkan mempunyai stadion sepak bola yang representatif sejak 1992,” bebernya, Kamis (5/1/2012).

Untuk menyelesaikan keseluruhan pembangunan stadion, kata Dada, Dibutuhkan anggaran sebesar Rp623 miliar. Semua itu bisa terselesaikan pada 2013 dan diharapkan dilanjutkan oleh wali kota yang akan datang.

Saat ini, pengerjaan stadion yang bakal menjadi home base Persib Bandung itu sudah 43%. Pada Oktober 2012, stadion bertaraf internasional ini ditargetkan sudah rampung dan bisa menggelar pertandingan siang maupun malam.[jul]

1 Juta Wisman Ditarget Kunjungi Jabar Tahun Ini



Badan Promosi Pariwisata Jabar menargetkan sekitar 1 juta wisatawan mancanegara mengunjungi Jabar pada 2012 ini. - inilah.com/Syamsuddin Nasoetion


Oleh: Dadi Haryadi
Jabar - Minggu, 1 Januari 2012 | 15:43 WIB


INILAH.COM, Bandung - Badan Promosi Pariwisata Jabar menargetkan sekitar 1 juta wisatawan mancanegara mengunjungi Jabar pada 2012 ini.

Ketua Badan Pomosi Pariwisata Jabar Cecep Rukmana mengatakan pihaknya melihat sejauh ini potensi Jabar belum terpromosikan dengan optimal sehingga tingkat kunjungan wisatawan mancanegara tersendat.

"Jabar punya potensi yang sangat besar. Idealnya, jumlah wisman yang datang ke Jabar dapat mencapai 1 juta orang. Itu menjadi target kami pada 2012," kata Cecep.

Untuk mencapai target itu, lanjutnya, BPP Jabar akan memaksimalkan potensi yang dimiliki Jabar yang didukung dengan pembenahan infrastruktur pariwisata.

Cecep mencontohkan, kondisi kapasitas Bandara Husein Sastranegara yang dinilainya kurang memadai. Secara tidak langsung, sambungnya, kondisi itu membuat wisatawan, khususnya asal mancanegara, kurang nyaman. "Terlebih, akses serta sarana transportasinya pun kurang layak," tuturnya.

Selain itu, lanjut Cecep, kondisi lalu lintas, khususnya di Kota Bandung, yang semakin macet harus segera dibenahi.[jul]

Tahu Sumedang, Lezat berkat Air Tampomas

| Eko Hendrawan Sofyan | Sabtu, 7 Januari 2012 | 06:46 WIB



Kompas/Rony Ariyanto Nugroho


Cornelius Helmy


”Ngeunah ieu kadaharan teh. Mun dijual pasti payu (Makanan ini enak. Kalau dijual pasti laku).” Itulah ucapan Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriatmadja saat pertama kali mencicipi tahu goreng buatan Ong Kino tahun 1917.

Puluhan tahun kemudian tahu sumedang menjadi jenis makanan tradisional yang terkenal sekaligus menjadi penyambung hidup masyarakat Sumedang, Jawa Barat.

Bupati Sumedang (1883-1919) itu adalah pemimpin paling dicintai rakyat yang ilmu agamanya terkenal kuat. Keteladanan itu juga membuat masyarakat yakin, setiap perkataan sang bupati pasti terkabul. ”Saciduh metu, saucap nyata” (sekali meludah berhasil, sekali mengucap jadi kenyataan), kalimat kiasannya dalam bahasa Sunda.

Salah satu tuahnya turun pada usaha pembuatan tahu di Kabupaten Sumedang. Ia juga dijuluki ”Pangeran Mekkah” karena wafat saat menunaikan ibadah haji di Mekkah pada usia 70 tahun. Ia juga merupakan bupati pendiri sekolah pertanian pertama di Indonesia tahun 1941 dan Bank Prijaji pada 1901.

Suatu hari, dalam perjalanan menuju tempat peristirahatannya di Situraja, Sumedang, Soeriatmadja mencicipi tahu buatan Ong Kino yang dijual di depan rumahnya di pinggir Jalan Tegal Kalong, Sumedang (kini menjadi Jalan 11 April), sekitar tahun 1917. ”Petuah” itu pun meluncur dari mulutnya.

Hingga 95 tahun kemudian, doa bupati ke-20 Sumedang itu terbukti langgeng. Diiringi etos kerja tekun dan telaten ala masyarakat Tionghoa, usaha tahu pun berkembang. Tenaga pribumi diajak ikut serta sehingga ilmu tahu tersebar luas. Kini, keahlian membuat tahu menjadi bekal hidup banyak warga Sumedang.

Dengan kerenyahan, tekstur khas, dan melibatkan ribuan orang Sumedang, tahu menjadi produk khas. Asal berukuran 3 cm x 3 cm atau 2,5 cm x 3 cm, berwarna coklat muda, kulit berintik, renyah, dan gurih, di seluruh Indonesia biasanya dinamai tahu sumedang. Padahal, tidak semua penjual atau cara pembuatannya dilakukan orang Sumedang.

”Cur cor”

Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran Nina Herlina Lubis mengatakan, pasca-penghapusan larangan tinggal, sekitar tahun 1856, banyak orang Tionghoa mulai masuk Priangan Timur, termasuk Sumedang. Berdasarkan sensus tahun 1930, jumlah orang Tionghoa di Sumedang 905 jiwa. Bandingkan dengan orang Eropa yang berjumlah 258 jiwa.

Celah bisnis dikembangkan perantau Tionghoa, Ong Kino, yang tiba di Sumedang awal abad ke-20. Awalnya, istri Ong Kino membuat tahu guna menuntaskan kegemaran makan suaminya. Perlahan, enaknya tahu mulai dikenal masyarakat Sumedang dan dijual di depan rumahnya. Warga Tionghoa lainnya juga ikut menjual tahu menggunakan merek Palasari dan Ojolali.

Berada di kaki Gunung Tampomas, Sumedang tidak pernah kekurangan air tanah. Air terus mengalir. Cur cor, kalau kata orang Sunda. Kualitas air Sumedang sangat cocok untuk membuat tahu. Sama seperti kebanyakan daerah penghasil tahu di China Selatan, air di Sumedang berkalsium, membuat tahu kenyal tanpa pengawet.

Selain anugerah alam, pengelolaan bahan dan cara masak khas Tionghoa juga menjadi kunci selanjutnya. Pemilik Toko Bungkeng, Suryadi, mencontohkan cara membuat tahu jadi padat berisi. Ia mengatakan, awal menggoreng adalah proses penting. Minyak harus benar-benar panas sebelum tahu dimasukkan.

Cara khusus lain juga dilakukan untuk menghasilkan tahu berkulit berintik. Ia mengatakan, tahu harus dimasukkan dalam keadaan basah. Dulu, untuk menambah kenikmatan, tahu digoreng menggunakan minyak kacang tanah. Akan tetapi, sekarang minyak kacang tanah berkualitas sulit didapatkan.

”Nyaris tidak ada rahasia. Selebihnya hanya kedelai yang digiling. Hasil gilingan dikukus menjadi tahu dan dimasukkan ke air garam. Setelah itu tinggal digoreng,” katanya.

Kebersihan alat dan kontrol gilingan kedelai juga tak kalah penting. Pemilik perusahaan tahu Mirasa Sindang Sari, Hernawan Safari, mengatakan, kebersihan alat penting karena sisa kedelai bisa membuat seluruh adonan baru menjadi asam. ”Mencicipi contoh adonan setiap hari juga harus dilakukan untuk menjaga kualitas dan rasa,” katanya.

Setia

Hujan belum juga berhenti mengguyur Sumedang, akhir pekan pada pengujung tahun 2011, saat sekitar 200 tahu di Toko Bungkeng habis terjual dalam waktu seperempat jam. Pembelinya mayoritas warga Sumedang yang sepertinya ingin melewatkan sisa hari yang dingin itu sembari makan tahu ditemani segelas teh manis panas.

Darso (56), warga Cipasang, Cibugel, Sumedang, mengatakan hanya membeli tahu buatan asli Sumedang sejak 20 tahun lalu. Kekenyalan dan kerenyahan tahu menjadi pemikatnya. Tahu juga tidak mudah asam dalam satu-dua hari. ”Tahu yang baru selesai digiling dan langsung digoreng adalah yang paling nikmat. Saat hujan, kenikmatannya lebih terasa,” katanya.

Dedi (57), pelayan di Toko Bungkeng, mengatakan, saat musim libur panjang, 10.000 tahu seharga Rp 400 per tahu terjual per hari. Pembelinya mengular di depan toko dari pagi hingga sore. Wisatawan luar negeri dari Singapura dan Malaysia pun ada di antara mereka.

”Kami harus membuat nomor antrean. Bisa sampai seribu nomor per hari,” kata Dedi. Di pinggiran jalan Bandung-Sumedang, Unjang (38) merasakan hal serupa. Saat musim libur, pedagang ini bisa menjual hingga 2.000 tahu per hari. Jumlah itu jauh lebih besar ketimbang produksi pada hari biasa yang sekitar 500 tahu per hari.
Sumber : Kompas Cetak

Rabu, 04 Januari 2012

Ini Alasannya RSBI tak Ada yang Jadi Sekolah Internasional

Selasa, 03 Januari 2012 22:30 WIB

Suasana sekolah RSBI/ilustrasi


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menegaskan belum ada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang layak naik status menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Sekolah yang gencar mendapatkan kritikan dari masyarakat tersebut dinilai memiliki kekurangan di berbagai sisi.

"Semua belum layak. Ada yang lemah dari sisi komposisi, ada yang lemah dari sisi kompetensi gurunya, maupun lemah dari sisi kurikulumnya," ujar Dirjen Pendidikan Dasar, Suyanto, kepada wartawan, Selasa (3/1).

Suyanto menegaskan bahwa standar RSBI sesuai dengan semangat pemerintah adalah memiliki guru dengan kualifikasi minimal S2. Akan tetapi sejauh ini banyak yang belum memenuhi standar tersebut.

Pemerintah, kata Suyanto, sangat berhati-hati untuk meningkatkan status RSBI menjadi SBI. "Kita ingin hati-hati dalam menuju SBI. Pemerintah menginginkan SBI yang hebat dan benar-benar jelas. Maka dari itu, sekarang ini sifatnya rintisan dulu," ujarnya.

Meskipun demikian, kata Suyanto, belum terpenuhinya standar tersebut tidak lantas membuat RSBI harus ditutup. "Justru (RSBI) ini harus terus didukung," katanya.

Ditanya RSBI menyebabkan kasta dalam pendidikan, Suyanto mengakuinya. Meskipun demikian kasta tersebut haruslah dari sisi akademik. "Hidup kan memang ada kastanya. Di perusahaan saja ada kastanya. Namun jika dinilai diskriminasi apanya? Wong anak miskin juga boleh sekolah di situ (RSBI)," kata Suyanto.

Menanggapi kritikan masyarakat selama ini, Suyanto menjelaskan sorotan tersebut diakibatkan tingginya biaya masuk RSBI. Soal itu ia juga menampik kalau RSBI mahal terdapat di seluruh Indonesia. "Itu yang mahal tidak di seluruh Indonesia, tetapi hanya di Jakarta saja. Yang gratis sebenarnya juga banyak seperti di Surabaya, Nunukan, Sulawesi Selatan," katanya. Suyanto menyatakan sudah ada Perda yang mengatur bahwa yang miskin mesti diakomodasi RSBI sebesar 20 persen.

Terakhir, gugatan terhadap RSBI dilayangkan Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) ke MK. KAKP menilai penyelenggaraan sekolah ini bertentangan dengan sila kelima Pancasila karena sekolah milik pemerintah tersebut tidak dapat diakses oleh seluruh warga negara terutama dari murid keluarga miskin.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: fernan rahadi





Jokowi Gunakan Mobil Esemka, Kata SBY: Silakan...

Rabu, 04 Januari 2012 13:24 WIB

Walikota Solo Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lingkungan kepresidenan mengapresiasi tindakan walikota Solo, Joko Widodo atau Jokowi untuk menggunakan mobil Esemka rakitan SMK Surakarta. Juru Bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha mengatakan presiden sudah mendengar adanya kreasi dan inovasi yang positif dari masyarakat di Jawa Tengah. “Dengan berhasil dirakitnya mobil nasional ini patut diapresiasi,” katanya saat ditemui, Rabu (4/1).

Ia pun mempersilakan jika walikota Solo itu tetap menggunakan mobil tersebut sebagai mobil dinasnya. Begitu pula jika ada pejabat lain yang ingin meniru tindakan Jokowi. “Presiden tidak melarang mobil tersebut untuk digunakan sebagai mobil dinas,” katanya.

Lalu apakah presiden akan menggunakannya juga? Julian menyatakan belum sempat menanyakan itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tindakan Jokowi untuk mengganti mobil dinas merek Camry dengan mobil Kiat Esemka terus mendapatkan dukungan. Mobil tersebut dipesan dari SMK 2 Surakarta yang dianggap tak kalah canggih.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Esthi Maharani

Wah...Berita Kasus Sandal Jepit Nongol di Washington Post

Rabu, 04 Januari 2012 13:51 WIB


Washington Post
Foto pengumpulan sandal yang dimuat di Washington Post


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Di sela berita soal mulai panasnya politik Amerika Serikat menjelang pemilihan presiden, menyeruak berita yang 'menyegarkan', kasus pencurian sandal jepit di Indonesia. Dalam tulisannya, media sohor AS ini mengangkat sandal jepit yang mereka tulis sebagai 'simbol baru untuk frustrasi mereka akan keadilan'.

"Ini gila," kata Titis Anissa, seorang guru sekolah menengah di ibukota, Jakarta, yang dikutip sebagai narasumber dalam tulisan itu. Ia mencatat bahwa pejabat pemerintah yang jelas-jelas bersalah menjarah kas negara masih dibiarkan 'melenggang' jalan-jalan ke luar negeri. "Ini seorang anak, muda miskin mengambil sepasang sandal seharga $ 3? Cukup sudah!"

Media ini menuliskan kronologi pencurian sandal jepit yang dilakukan AAL sepulang dari sekolah di Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, pada November lalu. Ia kemudian diinterogasi dan dipukuli oleh tiga petugas, dan dihadapkan pada hukuman hingga lima tahun penjara jika terbukti bersalah, hukuman yang sama yang diberikan kepada banyak teroris, pengedar narkoba, dan pemerkosa.

Pada bagian lain tulisan itu, media ini menyoroti perubahan politik Indonesia pasca-Suharto. Berbagai perubahan dilakukan, tulisnya, tetapi sistem peradilan tetap menjadi titik lemah.
Redaktur: Siwi Tri Puji B