Rabu, 31 Desember 2008

Vila Isola, Jejak Pengasingan di Masa Kolonial


Tya Eka Yulianti - detikBandung



 
Bandung - Berbeda dengan gedung rektorat perguruan tinggi lainnya di Bandung, Gedung Rektorat Universitasi Pendidikan Indonesia (UPI) yang berada di Jalan Setiabudi, cukup unik. Tak hanya dari bentuknya, namanya pun cukup mengundang rasa penasaran. Vila Isola, terpahat jelas di salah satu bagian bangunan.

Vila Isola merupakan salah satu karya dari arsitektur terkenal C.P. Wolff Schoemaker. Proses pembuatan vila ini termasuk cepat, hanya memakan waktu 8 bulan. Dimulai pada Agustus 1933 dan selesai pada April 1934.

Kata Isola pada Vila Isola diambil dari kata Isolo yang berarti terpencil. D.W Berreti pemilik vila menginginkan dibuatkan vila yang jauh dari keramaian. Terlihat dari falsafah Berreti saat membangun vila ini yang berbunyi 'M Isolo E Vivo' yang berarti 'saya mengasingkan diri dan bertahan hidup dalam kesendirian'.

Walaupun terpencil, Vila Isola merupakan bangunan yang tercanggih di jamannya. Dengan memadukan unsur modernitas dan tradisional, karya C.P. Wolff Schoemaker ini mendapatkan banyak pujian. Bahkan salah satu arsitektur terkenal pada saat itu JP Coen mengatakan bahwa Vila Isola adalah salah satu mahkota dunia. Vila Isola adalah bangunan tercanggih pada jamannya dan masih terlihat kemegahannya sampai saat ini.

Unsur modern dilihat dari gaya art deco yang memang sedang berkembang di Eropa. Sedangkan unsur tradisional dilihat dari penggunaan kosmik Jawa, yang menggunakan sumbu pintu selatan dan utara.

Vila Isola pada awalnya memang dibuat untuk rumah tinggal untuk D.W. Berreti dan keluarganya. Sayangnya, D.W Berreti hanya sempat menempati Vila Isola setahun karena meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat.

Beberapa tahun setelah kematian D.W Berreti, Vila Isola pun dibeli oleh Hotel Savoy Homan dan menjadi bagian dari hotel tersebut. Pada masa penjajahan Jepang, vila ini juga sempat menjadi tempat menginap para tentara Jepang sebelum menjelang diselenggarakannya perjanjian Kalijati.

Tentara Indonesia kemudian berhasil merebut Vila Isola. Semenjak itulah nama Vila Isola berubah menjadi Bumi Siliwangi yang mengandung arti rumah pribumi. Saat itu keadaan Vila Isola atau Bumi Siliwangi berupa puing-puing bangunan yang telah hancur di beberapa bagian.

Pada tahun 1954 Vila Isola pun dibeli pemerintah Indonesia seharga Rp 1.500.000. Vila Isola atau Bumi Siliwangi itu pun kemudian dijadikan gedung Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). PTPG ini merupakan cikal bakal dari IKIP atau UPI Bandung saat ini.

Semenjak tahun 1954 Vila Isola menjadi kantor rektorat dan juga ruang kelas sekaligus. Tahun 1963 PTPG pun berubah menjadi IKIP Bandung. Sampai saat ini Rektor, Pembantu Rektor dan Sekretariat Universitas masih menempati Vila Isola.

Koordinator Public Relation Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Andika Dutha Bachari, mengakui memang banyak versi cerita yang ada di masyarakat seputar Vila Isola. Baik segi sejarah, filosofi, bangunan, ataupun misteri dibalik Vila Isola. "Coba saja search di google, pasti ada banyak cerita," kata Andika.

UPI merasa bangga dan beruntung memiliki salah satu karya heritage yang begitu terkenal. "Kita dititipi warisan dunia yang begitu berharga, walaupun biaya pengurusannya memang tidak sedikit," kata Andika.

UPI berencana akan merevitalisasi kawasan Vila Isola sebagai bagian dari kampus UPI. Isola Heritage akan jadi kawasan cagar budaya yang dapat dinikmati seluruh kalangan sebagai bagian dari wisata pendidikan. "Tapi bangunan Vila isola tidak akan diubah sedikitpun karena yang dipugar hanya taman dan daerah sekitarnya," kata Andika.

Lebih lanjut Andika menuturkan, masih ada karya C.P. Wolff Schoemaker selain Vila Isola di kawasan Kampus UPI, yaitu 12 rumah yang berada di sebelah barat Vila Isola.

"Dalam revitalisasi nanti rencananya 12 rumah tersebut akan dijadikan questhouse yang dapat disewakan untuk siapa saja yang akan menginap. Dan pendapatan dari situ dapat dialokasikan untuk perawatan Vila Isola itu sendiri," katanya.

Dengan konsep bact to original alias mengembalikan Vila Isola ke fungsi awal, UPI telah melakukan berbagai upaya seperti membentuk tim perencanaan dan pengumpulan data. Hal tersebut dilakukan agar hasil akhir Isola Heritage ini tidak akan mengecewakan. Revitalisasi ini akan dibuat sesuai dengan bentuk dan fungsi Vila Isola dari catatan sejarah dan dokumen yang ada, untuk itu perlu dikonsultasikan dengan berbagai pihak supaya tidak salah kaprah.

"UPI tidak akan bertindak gegabah, dengan senang hati kami terbuka untuk semua saran dan kritik yang diberikan seputar Vila Isola," kata Andika.

"Kami tidak merasa Vila Isola itu milik UPI saja tapi juga milik warga Bandung, Indonesia juga," sambungnya.

1 komentar: