Rabu, 31 Desember 2008

Rp 500 Miliar untuk Pipa Baru

Rehabilitasi Instalasi Besar-besaran Dilakukan 30 Tahun Lalu

PETUGAS Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung dibantu warga berusaha mengevakuasi mobil yang terperosok akibat pecahnya pipa PDAM di Jln. L.L.R.E. Martadinata, Kota Bandung, Rabu (24/12) lalu. Pipa milik PDAM kebanyakan sudah berusia puluhan tahun. Untuk mengganti instalasi pipa yang lama, dibutuhkan dana hingga Rp 500 miliar.* M. GELORA SAPTA/"PR"

Pecahnya pipa induk PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota Bandung di Jln. L.L.R.E. Martadinata, Rabu (24/12) menjadi hadiah istimewa hari jadi ke-34 PDAM yang diperingati pada hari yang sama. Instalasi pipa yang mengalirkan air baku dari Pangalengan Kab. Bandung ke Jln. Badak Singa Kota Bandung sepanjang 32 km tersebut, secara mengejutkan, pecah. 

Kejadian tersebut membuat lapisan aspal terangkat, badan jalan ambles, dan terjadi semburan air. Tekanan air diperkirakan mencapai 5 bar, atau setinggi 50 meter jika ditembakkan secara horizontal. Tanah retak, sebuah mobil terperosok.

Usut punya usut, pipa jenis duckteel (bentuk besi coran) buatan Prancis tersebut dipasang pada 1959. Pipa tersebut diperkirakan bisa mencapai umur 50 tahun. Dengan demikian, perkiraan tersebut hanya meleset satu tahun.

Pipa milik PDAM kebanyakan memang sudah berusia puluhan tahun. Untuk mengganti seluruh instalasi pipa yang lama dibutuhkan dana hingga Rp 500 miliar. "Tidak ada sparepart-nya di sini. Kita punya cadangan sebanyak 20 batang. Jadi, itu dulu yang dipakai," kata Dirut PDAM Kota Bandung Jaja Soetardja saat ditemui di Jln. Braga Kota Bandung, Selasa (30/12). Satu batang bernilai Rp 20 juta.

Pipa yang tertanam di dalam tanah, menurut Jaja, membuat perawatan yang bisa dilakukan terbatas pada pengendalian volume dan tekanan air yang masuk tidak terlalu besar. Selain itu, juga diusahakan perawatan pipa agar tidak dipenuhi oleh angin yang bisa menambah tekanan di dalamnya.

Menurut Direktur Air Bersih PDAM Kota Bandung Tardan Setiawan, panjang keseluruhan pipa yang terpasang di Kota Bandung saat ini mencapai 2.000 km. Instalasi terbaru dipasang pada 1990. "Yang baru kebanyakan pipa-pipa ukuran kecil, bukan pipa induk," katanya saat ditemui di ruang kerjanya di Jln. Badak Singa Kota Bandung.

**

Rehabilitasi besar-besaran terhadap instalasi pipa terakhir dilakukan hampir 30 tahun lalu. Oleh karena itu, kondisi pipa saat ini sudah banyak berubah dan menurun secara kualitas. Lebih dari separuh dari keseluruhan pipa berada persis di bawah badan jalan. 

"Dulu, saat dibangun, pipa-pipa itu bisa jadi ada di pinggir jalan. Sekarang, karena pelebaran atau peninggian badan jalan, pipa berada persis di bawah badan jalan. Keadaan ini membuat pipa berisiko pecah karena ada beban dari jalan yang dilalui banyak kendaraan," ujar Tardan.

PDAM sebenarnya telah memiliki pemikiran untuk mengganti pipa-pipa lama yang telah rusak, termasuk pipa induk yang berukuran besar dan berada di bawah badan jalan. Teknik penggantian pipa yang mungkin dilakukan adalah dengan memasukkan pipa pengganti yang berdiameter lebih kecil. "Tidak mungkin kita membongkar jalan untuk memperbaiki pipa-pipa tersebut," katanya. 

PDAM sendiri tahun depan menargetkan perbaikan jalur pipa distribusi sepanjang 40 km di empat wilayah layanan, yaitu Bandung timur, tengah, selatan, barat, dan utara. Perbaikan lebih ditujukan untuk penurunan tingkat kehilangan air yang masih cukup tinggi, hampir 50%. 

Menurut catatan "PR", dalam kurun dua tahun terakhir, setidaknya tiga kali pipa transmisi air baku PDAM Kota Bandung pecah. Pertama kali terjadi di Desa Jagabaya, Kec. Banjaran, Kab. Bandung, 9 Oktober 2006. Selanjutnya pada 13 September 2008, di Jln. Raya Banjaran, tepatnya di Kp. Jambatan, Kel. Andir, Kec. Baleendah, Kab. Bandung, meledak. Terakhir, kejadian di Jln L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung itu. 

**

Menurut pengamat dari Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran Bandung Chay Asdak, berbagai peristiwa tersebut menunjukkan kurangnya fungsi monitoring dan evaluasi. PDAM seharusnya melakukan monitoring dan evaluasi. "Hasil monitoring tersebut menjadi dasar untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Dengan demikian, semua gejala yang ditemukan dapat disiapkan langkah antisipatifnya."

Hasil monitoring tersebut akan mampu mendeteksi pipa mana saja yang sudah masuk masa kritis dan harus segera diganti. Pendataan secara detail juga akan mempermudah dilakukannya monitoring. "Sering kali sudah dimonitor, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Sehingga baru bertindak kalau sudah ada kejadian," katanya.

Pendataan juga harus diperbarui terus seiring perubahan lingkungan. Misalnya, kondisi jalan dan penurunan tanah yang berubah harus terus didata karena memengaruhi posisi instalasi pipa. Rusaknya instalasi pipa sering kali tidak hanya disebabkan umurnya yang sudah tua, tetapi juga semakin beratnya tekanan jalan. "Kapasitas jalan yang tidak terkontrol dengan baik tentu akan membahayakan," ujar Chay.

Menurut dia, pengawasan secara detail tidak hanya berguna untuk mendeteksi kondisi pipa. Berbagai kebocoran yang terjadi selama transmisi air juga akan diketahui secara detail. "Sudah menjadi kewajiban PDAM untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Kebocoran itu seharusnya menjadi tugas utama yang harus diselesaikan," katanya.

Apabila monitoring dan evaluasi tidak dilanjutkan dengan langkah antisipatif maka kejadian pecahnya pipa akan terus berulang. "Tinggal menunggu saja terjadi di waktu dan tempat yang lain," ujarnya. (Ag. Tri Joko Her Riadi/Catur Ratna Wulandari/"PR")***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar