Selasa, 09 April 2013

Sukses Pendidikan Bukan pada Kurikulum, melainkan Guru

Penulis : Riana Afifah | Selasa, 9 April 2013 | 14:24 WIB



 Eklektisisme Kurikulum 2013 


JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan kurikulum yang sedang digarap oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini terus mendapat sorotan dari berbagai pihak. Bahkan perubahan kurikulum ini pun diragukan dapat mengubah kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini.

Guru SD Insan Kamil, Nunung Siti Nurjanah mengatakan bahwa dirinya setuju kurikulum perlu diubah. Namun, perubahan tersebut harus memiliki landasan kuat dan tidak asal cepat siap saja. Pasalnya, ia menilai keberhasilan pendidikan bukan hanya sebatas masalah kurikulum saja.

"Hal ini sudah sering diungkapkan. Kondisi pendidikan tak akan berubah karena keberhasilan pendidikan bukan hanya masalah kurikulum tapi guru," kata Nunung saat diskusi tentang Kurikulum 2013 di Graha CIMN Niaga, Jakarta, Selasa (9/4/2013).

"Kenapa pemerintah fokus pada kurikulumnya saja? Kenapa tidak mendorong gurunya mengembangkan diri," imbuh Nunung.

Menurutnya, perubahan kurikulum yang didesain sedemikian rupa ini akan sia-sia apabila mindset guru tidak diubah dan guru tidak didorong untuk mengembangkan diri serta mengasah kreativitas.

"Sekarang kurikulum ini dikatakan bertujuan agar anak kreatif tapi kalau gurunya yang tidak kreatif, bisa jalan enggak?" ujar Nunung.

Kemudian, ia menyoroti beberapa perilaku guru yang justru tidak suka dengan anak yang aktif dan banyak bertanya. Padahal, salah satu komponen penilaian pada kurikulum baru ini adalah aktif di kelas dan aktif bertanya tentang pokok bahasan yang sedang diajarkan.

"Ini akan sulit jika guru tidak dilatih intensif. Bukan hanya materi tapi juga sikap dalam mengajar. Sekarang ini kalau ada anak yang agak aktif di kelas langsung dibilang hiperaktif, kalau banyak nanya dibilang cerewet padahal orang pinter lahir dari yang seperti itu," jelas Nunung.

Ia juga berharap agar guru tak sekadar dilatih, dipantau dan diberi panduan saja. Namun, harus ada momen tersendiri di mana guru diingatkan peran utamanya dalam mengajar, membimbing dan mendidik serta terus memperkaya ilmu yang dimilikinya.

"Sekarang kebanyakan guru hanya datang, ngajar, pulang dan sibuk urusan sendiri. Lupa ilmu itu berkembang. Akibatnya guru hanya itu-itu saja yang diberikan dan murid juga tidak berkembang," ungkap Nunung.

Editor : Ana Shofiana Syatiri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar