Rabu, 07 September 2011

KompasTV Mulai Dinikmati

Televisi
Buyung Wijaya Kusuma | Robert Adhi Ksp | Rabu, 31 Agustus 2011 | 20:07 WIB

 KompasTV
Kompas TV, Inspirasi Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Program-program KompasTV kini hadir di layar televisi nasional melalui kerja sama dengan saluran berjaringan di beberapa wilayah Indonesia, mulai Selasa (30/8/2011).

Pemirsa di Tanah Air sudah bisa menikmati konten KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya, bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv (23 UHF) Makassar, dan dewatatv (23 UHF) Bali.

Direktur Pelaksana KompasTV Bimo Setiawan di Jakarta mengatakan, pada Jumat, 9 September 2011, KompasTV akan resmi mengudara. Ini ditandai dengan peluncuran KompasTV di Jakarta Convention Center, Jakarta.

”Tanggal 9 September menjadi tanda kehadiran kali pertama kerja sama KompasTV dengan lembaga penyiaran daerah,” kata Bimo. Sejauh ini, berbagai persiapan untuk peluncuran KompasTV terus dilakukan.

Bimo mengatakan, mulai 30 Agustus 2011 hingga 8 September 2011, KompasTV sedang melakukan simulasi operasi on-air, simulasi operasi teknik, dan simulasi untuk fungsi lainnya. ”Kami akan mengudara secara penuh pada 9 September,” kata Bimo.

Sejauh ini, menurut Bimo, KompasTV sudah menjalin kerja sama dengan sembilan lembaga penyiaran daerah. ”Permintaan kerja sama terus mengalir,” katanya. Komposisi siaran terbagi dalam 70 persen nasional dan 30 persen lokal.

Adapun komposisi program KompasTV adalah 60 persen berita dan inspiring knowledge serta 40 persen hiburan (entertainment). Daftar program-program yang sudah siap tayang dapat dilihat di situs web http://www.kompas.tv.


Kebiasaan Makan Buruk Berawal Sejak Remaja

K32-11 | Dini | Rabu, 7 September 2011 | 09:03 WIB

SHUTTERSTOCK
Setengah dari remaja wanita memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti tidak makan seharian.

KOMPAS.com - Tantangan orangtua di masa kini sepertinya semakin panjang saja. Tidak hanya harus pintar-pintar berkomunikasi dengan anak-anak remajanya agar terhindar dari seks bebas, narkoba, ataupun kebiasaan merokok, mereka juga perlu banyak memberi edukasi pada remaja seputar pentingnya memiliki pola makan yang sehat.

Studi terakhir di Amerika Serikat memperlihatkan setengah dari remaja wanita memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat. Misalnya, tidak makan seharian, makan hanya sedikit, menggunakan makanan pengganti (makanan cair atau minuman pengganti makanan), dan melewatkan sedikitnya satu kali waktu makan. Selain itu, mereka juga merokok dengan tujuan memertahankan berat badan. Pada remaja pria, persentasenya lebih rendah, yaitu satu banding tiga. Pola makan dan kebiasaan buruk ini, menurut ahli, akan terus berlanjut hingga mereka dewasa nanti.

Yang mengagetkan, para peneliti juga menemukan bahwa sekitar 8-20 persen remaja wanita menggunakan cara-cara ekstrem untuk mencapai berat badan ideal. Antara lain dengan minum pil diet, dengan sengaja memuntahkan makanannya, hingga menggunakan obat pencahar -semua kebiasaan ini juga akan dibawa terus hingga sepuluh tahun ke depan, ketika mereka dewasa.

"Dengan semakin besarnya kekhawatiran akan masalah obesitas, penting bagi para orangtua untuk memberitahu anak-anak remajanya bahwa diet yang tidak sehat dan gangguan pola makan seperti ini bisa berakibat buruk bagi kesehatan," kata peneliti Dianne Neumark-Sztainer, PhD, MPH, RD, profesor dari School of Public Health, University of Minnesota.

"Para remaja yang peduli akan berat badan mereka perlu diberikan dukungan untuk mengadopsi kebiasaan makan yang baik serta aktivitas fisik yang positif. Bila ini dapat dilakukan dalam jangka panjang, mereka akan terhindar dari berbagai tindakan berbahaya," tambahnya lagi.

Sumber: MedicineNet

Senin, 05 September 2011

Mars Punya Danau Berisi Air

Planet Merah
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 5 September 2011 | 15:23 WIB


Kawah Eberswalde di Mars (lingkaran di kanan) dahulu diduga sebagai danau yang berisi air. Di sebelah kiri adalah Kawah Holden yang lebih besar.

KOMPAS.com - Satelit yang mengorbit Mars menangkap citra kawah unik di planet merah itu. Ilmuwan meyakini, kawah tersebut di masa lalu pernah berisi air dan menjadi bukti bahwa Mars punya danau berisi air. Penemuan langka itu ditandai oleh adanya citra delta di kawah tersebut, dimana air mengalir dan mengendapkan sedimen dalam bentuk kipas yang khas.

Kawah tempat delta berada dinamai kawah EbersWalde. Kawah selebar 65 km itu saat ini kering, namun ilmuwan percaya bahwa kawah itu sebelumnya basah alias berair. Penemuan ini dilakukan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) dengan Mars Express, satelit yang mengorbit Mars sejak tahun 2003. Ilmuwan mengkomunikasikan hasil penemuan ini Jumat (2/9/2011) lalu.

Dalam citra tersebut, terlihat bahwa kawah memiliki bentuk seperti lingkaran. Pada gambar di atas, tampak kawah berada di sebelah kanan gambar. Kawah tersebut terbentuk lewat proses tabrakan asteroid yang terjadi 3,7 miliar tahun yang lalu. Demikian pendapat ilmuwan seperti yang diuraikan di Space.com dalam publikasi Jumat lalu.

Pada bagian atas gambar, tampak bahwa ada lingkaran yang lebih besar di sebelah kiri. Lingkaran itu adalah citra kawah Holden yang terbentuk setelah Eberswalde, juga akibat tumbukan dengan benda angkasa. Pemebentukan kawah Holden berakibat pada "terkuburnya" struktur kawah Eberswalde. Untungnya, struktur delta yang menjadi penanda pernah adanya aliran air masih bisa dilihat.

Ilmuwan menguraikan, delta itu memiliki luas 115 km persegi. Di bagian sekitar delta, terdapat guratan-guratan yang menandakan saluran dimana air mengalir. Adanya kawah, delta dan saluran tempat air mengalir menjadi salah satu pendukung teori bahwa Mars di masa lalu pernah memiliki air dalam bentuk cair dan mengalir bak sungai di Bumi.

Penelitian lanjut kini masih dilakukan. Kawah Holden dan Eberswalde sendiri nantinya akan menjadi lokasi pendaratan wahana antariksa NASA di Mars, Curiosity, yang akan diluncurkan November 2011 nanti.
Sumber :
SPACE.COM

Situ Lengkong Panjalu Diserbu Wisatawan Lebaran

Minggu, 04/09/2011 - 19:07


NURHANDOKO/"PRLM"
MEMASUKI H+4 lebaran, wisatawan memadati Situ Lengkong Panjalu, Kabupaten Ciamis, Minggu (4/9). Selain menikmati keindahan alam, mereka juga dapat mengelilingi Nusa Gede dengan naik perahu pesiar...

CIAMIS, (PRLM).- Memasuki H+4 lebaran kawasan wisata di Tatar Galuh Ciamis masih diserbu wisatawan. Selain kawasan pantai andalan Jawa Barat yaitu Pantai Pangandaran, objek wisata lain yang juga menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan saat lebaran adalah Situ (Danau) Lengkong atau Situ Panjalu di wilayah Ciamis utara.

Ribuan wisatawan dari berbagai wilayah, Minggu (4/9) memadati kawasan Situ Lengkong yang memiliki luas 76,2 hektar. Dibandingkan daerah lain, seperti Bandung, Jakarta, maupun luar Pulau Jawa seperti Lampung, wisatawan dari Provinsi Jawa Timur masih mendominasi. Selain menikmatai pemandangan alam yang masih asri, sebagian di antara mereka sengaja melakukan wisata minat khusus yaitu berziarah.

"Setiap penumpang yang saya tanya selalu mengaku dari Jawa Timur, boleh dikata 90 persen dari wilayah tersebut. Mereka tidak hanya pesiar saja tetapi yang uatam melakukan ziarah. Har ini (Minggu (4/9) pengunjung sangat banyak, bahkan paling banyak dibandingkan hari sebelumnya," tutur Yaya (35) yang berprofesi sebagai penarik perahu persiar di Situ Lengkong.

Umumnya wisatawan dari Jawa Timur lanjut dia, banyak menghabiskan waktu dengan naik perahu mengitari Nusa Gede (sebuah pulau yang ada di tengah Situ Panjalu), serta melakukan ziarah di makam putra Raja Panjalu, Prabu Borosngora. Selain itu mereka juga dapat menikmati pemandangan alam, ribuan kalong atau kalelawar berukuran besar yang banyak bergelantungan di pohon besar yang terdapat di tengah pulau.

Banyaknya wisatawan tidak pelak membuat pemilik atau pengelola perahu persiar mendapatkan banyak rezeki. Untuk mengantar wisatawan keliling pulau serta antar jemput menuju lokasi dermaga sekitar makam di Nusa Gede dikenakan dikenakan ongkos Rp 120.000 per perahu . Dia mengungkapkan pada masa libur lebaran ini setiap perahu rata-rata bisa menghasilkan uang sewa sebesar Rp 1 juta - Rp 1,5 juta.

"Yah rezeki setahun sekali. Dibandingkan hari biasa, tentunya sangat jauh, hanya sekitar Rp 50.000 per hari. Selain lebaran, keramaian juga terjai saat peringatan isra'mikraj. Kalau hari biasa kadang dapat penumpang, tetapi lebih sering tidak ada wisatawan naik perahu," ungkapnya.

Salah seorang wisatawan, Sugiono (53) warga Tuban, Jawa Timur mengaku sudah tiga kali melakukan wisata ziarah ke Situ Panjalu. Pada masa lebaran ini, dia datang bersama dengan rombongan yang diangkut dengan tiga bus. Selain Situ Panjalu, kawasan lain yang dikunjungi adalah Situs Karangkamulyan di Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari tempat tersebut.

Dia mengungkapkan, selain tujuan utama ziarah, pulangnya juga membawa oleh-oleh khas panjalu berupa ikan mujair lokal Situ Panjalu, selain itu membawa air yang diambil dari sekitar Nusa Gede. Air dari tempat tersebut dipercaya sebagai air zam-zam. "Berdasar cerita yang saya terima air Situ Lengkong itu pada awalnya adalah air zamzam. Peminatnya ke Situ Lengkong juga semakin banyak, tahun lalu hanya dua bus, sekarang tiga bus," ungkapnya.

Keberadaan Situ Lengkong memang menarik bagi sebagian warga Jawa Timur, selain menyimpan nilai kesejarahan perjuangan Islam pada masa lampau, juga adanya lontaran dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang juga mengaku sebagai keturunan Panjalu.

Sementara itu adanya kepercayaan air Situ Lengkong sebagai air zam-zam itu bermula dari sekitar abar ketujuh. Bermula ketika Kerajaan Panjalu yang merupakan kerajaan Hindu diperintah oleh Prabu Sang Hyang Cakradewa. Dia berharap putra mahkotanya yang bernama Borosngora menimba ilmu yang ampuh dan sempurna. Dalam perjalanan menuntut ilmu, Borosngora memerdalam ilmu sampai ke tanah Suci Mekah.

Selama di Mekah, ia mendalami agama Islam. Setelah tuntas menimba ilmu, Borosngora kembali pulang sembari membawa air zam-zam. Air tersebut kemudian ditumpahkan di sebuah lembah yang bernama Lembah Pasir Jambu. Anehnya air yang ditumpahkan tersebut semakin bertambah banyak hingga pada akhirnya terbentuk sebuah situ, yang kemudian bernama Situ Lengkong atau dikenal sebagai Situ Panjalu. (A-101/das)***

Minggu, 04 September 2011

Si Buruk Rupa yang Ampuh

HERBAL: Mengkudu


DADANG SUTARJAN/"PRLM"
MENGKUDU atau pace merupakan tumbuhan yang banyak menyimpan kandungan zat aktif yang berguna untuk mengobati berbagai penyakit.*

PRLM -- FISIKNYA memang tak menarik. Pohon dan rantingnya ceking seakan begitu berat menyangga daun-daunnya yang lebar. Pun dengan buahnya, bundar berkerut, bentol-bentol seperti borok, dan berbau busuk menyengat. Meski begitu, ternyata mengkudu (Morinda citrifolia) menyimpan kandungan zat aktif yang berguna untuk mengobati berbagai penyakit.

Tumbuhan yang di Pasundan disebut cangkudu dan di Tanah Jawa disebut pace, ini termasuk jenis kopi-kopian dan merupakan tumbuhan asli Indonesia. Dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Khasiat buah mengkudu yang membuatnya sangat populer adalah kemampuan zat aktif alkaloid proxeroninnya dalam menghambat dan mengatasi perkembangan sel kanker.

Buah mengkudu juga terbukti mampu melancarkan kinerja kelenjar-kelenjar di dalam tubuh, mampu meningkatkan proses penyerapan zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh dan membantu menghambat perkembangan tumor atau kanker, serta mampu mempercepat penyembuhan jaringan kulit yang rusak terbakar atau luka.

Khasiat lain yang telah terbukti secara empiris, di antaranya buah mengkudu cukup mujarab untuk mengatasi hipertensi, diabetes mellitus, kolesterol, memperbaiki kinerja ginjal, mengurangi gejala alergi. Di samping itu, kandungan adaptogini yang ada di dalamnya membuat buah ini bisa dikonsumsi secara rutin untuk menyegarkan badan.

Jus buah mengkudu efektif untuk menyembuhkan kanker, gangguan pencernaan, diabetes mellitus, depresi, stress, darah tinggi, dan mampu meningkatkan daya seksual. Buah mengkudu banyak mengandung protein. Sari buah mengkudu berkhasiat merangsang sistem kekebalan tubuh, mengatur fungsi sel jaringan tubuh yang rusak dan sekaligus memberi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Berikut beberapa ramuan buah mengkudu untuk pengobatan:

Hipertensi: siapkan satu buah mengkudu yang sudah masak di pohon dan satu sendok makan madu. Buah mengkudu diperas untuk diambil airnya., kemudian dioplos dengan madu sampai merata dan disaring. Diminum dan diulangi dua hari sekali.

Diabetes mellitus: siapkan dua buah mengkudu yang sudah masak di pohon dan satu potong gula batu. Buah mengkudu diperas untuk diambil airnya, kemudian kedua bahan tersebut dioplos sampai merata dan disaring. Diminum dan diulangi dua hari sekali.

Demam, masuk angin, influenza: siapkan satu buah mengkudu dan satu rimpang lengkuas. Kedua bahan tersebut direbus dengan dua gelas air sampai mendidih hingga tinggal satu gelas, kemudian disaring. Diminum dua kali sehari, pagi dan sore.

Batuk: siapkan satu buah mengkudu dan setengah genggam daun poo (bujanggut). Kedua bahan tersebut direbus dengan dua gelas air sampai mendidih hingga tinggal satu gelas. Kemudian disaring, diminum dua kali sehari, pagi dan sore.

Sakit perut: 2-3 lembar daun mengkudu ditumbuk halus. Ditambah garam dan diseduh dengan air panas. Setelah dingin disaring dan diminum.

Menghilangkan sisik pada kulit: siapkan buah mengkudu yang sudah masak di pohon. Bagian kulit yang bersisik digosok dengan buah mengkudu tersebut sampai merata dan dibiarkan selama 5-10 menit, kemudian dibersihkan dengan kain bersih yang dibasahi dengan air hangat. (Ki Suta)***

Mangle

 Majalah Sunda

 Sejarah Singkat Mangle Panglipur

Manglé dalam bahasa Sunda berarti untaian bunga melati penghias sanggul perempuan, yang konon makin lama makin harum baunya. Dalam Kamus Umum Basa Sunda (1967), Manglé dapat diartikan sebagai berikut:
Mangle, 1. untaian kekembangan, daun pandan meunang nyisik jste. Sok dipake ku awewe, dina gelung gede sarta seungit.
 
Lazimnya, Manglé digunakan pada upacara-upacara pernikahan sebagai penghias rambut mempelai wanita dan penghias keris pria. Bagi orang Sunda, Manglé berarti kesesuaian atau keindahan yang sakral. Oleh karena itu, tak salah bila nama Manglé dipilih, dan diharapkan oleh pendiri majalah ini, kelak akan seindah dan seharum namanya. 

Manglé terbit pertama kali pada tanggal 21 Oktober 1957 di Bogor dengan oplag 500 eksemplar. Namun edisi perdananya sendiri baru diedarkan tanggal 21 Nopember 1957, itupun dibagikan secara gratis. Tanggal 21 Nopember itulah yang kemudian ditetapkan sebagai titimangsa (hari kelahiran) Mangle. Di usianya yang ke-49, Mangle mampu bertahan hingga kini dengan oplag 4000 eksemplar. 

Sebagaimana pers Sunda lainnya, kelahiran Mangle pada mulanya berawal dari kepedulian sejumlah orang terhadap budaya Sunda. Mereka adalah: Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Saleh Danasasmita, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, ALi Basyah dan Abdullah Romli. Keinginan Mangle untuk melestarikan kebudayaan daerah tersebut sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah tentang kebudayaan nasional, yaitu untuk melestarikan, membina dan mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka kebudayaan nasional. 

Majalah Mangle edisi pertama yang diberi nama Sekar Mangle tersebut penampilannya masih begitu sederhana. Untuk sampul muka, warna yang digunakan hanyalah hitam putih dan terlihat buram. Frekuensinya pun hanyalah 1 bulan sekali. Tebal majalah hanya 20 halaman, dengan ilustrasi yang terkesan asal-asalan. Hal ini disebabkan foto yang digunakan sebagai ilustrasi tersebut foto yang ada di percetakan, sehingga tidak berhubungan dengan isi berita. Bentuk dan isi majalah juga masih belum mantap. Naskah yang kebetulan ada, itulah yang dikirim ke percetakan "Dewi Sartika" di Bogor. 

Pada bulan Desember 1962, Mangle pindah ke Bandung dengan alamat kantor Jl. Buahbatu No. 43 Bandung. Ada beberapa alasan yang menjadi bahan pertimbangan kepindahan tersebut. Bandung adalah pusat pemerintahan dan budaya Jawa Barat, mempunyai nilai-nilai historis dan kultural, dan tentu saja lebih memberi kemungkinan terhadap semakin meluasnya daerah pemasaran Mangle. Pilihan ini terbukti tepat. Tiga tahun semenjak kepindahannya, Mangle mampu terbit dua kali dalam sebulan dengan oplag yang 140 kali lipat edisi awal, yakni 70.000 eksemplar per edisi. Dan terbitannya pun Mangle terbit 2 kali dalam sebulan. 

Pada tahun 1971 kantor Mangle pindah ke alamat Jl. Lodaya No. 19-21 Bandung, dengan status milik sendiri, sehingga tidak ada kekhawatiran lagi untuk selalu pindah-pindah. 

Satu hal yang patut dicatat, sejak kami beralamat di kantor sekarang, Mangle terbit sebagai majalah mingguan. Setiap hari Kamis dengan setia Mangle keluar dari percetakan dengan berbagai hidangan untuk memenuhi selera pembacanya.

Pada awalnya Mangle dicetak dengan sistem letter-press, dengan tempat percetakan berpindah-pindah. Dengan alasan utama untuk memuaskan kehendak pembacanya dan sejak tahun 1973 Mangle dicetak dengan offset di Percetakan Ekonomi. Makin hari makin terasa, bahwa mutu sebuah majalah tidak hanya ditentukan oleh isi, namun juga oleh perwajahan dan tata letaknya. Ais Pangampih (pengasuh) Mangle menyadari akal hal ini, apalagi jika dikaitkan dengan persaingan terhadap majalah lain yang tampil lebih baik.
Itulah yang diidam-idamkan. Dan Alhamdulillah, sejak bulan Oktober 1980 keseluruhan majalah Mangle dicetak dengan mesin milik sendiri. Hal ini menjadi leluasa untuk memudahkan mekanisme kerjanya. 

Sesuai dengan perkembangan perekonomian di Indonesia yang terkena krisis monteter, maka pada tahun 1998-an Mangle pun ikut terkena dampaknya. Hal ini, ditambah dengan perubahan infra struktur pemerintahan. Diantara dampak sangat menonjol adalah penurunan oplag. Hal ini karena dinas penerangan dan dinas-dinas lainnya, secara serentak mengundurkan diri untuk tidak berlangganan lagi. Penurunan tersebut juga berakibat pada kalkulasi manajemen keuangan, dimana spekulasi tidak bisa dilakukan pada kondisi situasi yang tidak menentu. Oleh karena itu, sejak itu hingga sekarang Oplag Mangle berkisar 4000 eksempelar per-edisi dalam satu minggu, dengan perhitungan titik impas antara pemasukan dan pengeluaran serta efesiensinya bisa diatasi. 

Adapun visi MANGLE adalah: MANGLE jadi kebanggaan (kareueus) urang Sunda satungtung hirup (saumur hidup). Sedangkan misinya, meliputi: 1. Ingin menjaga, memelihara basa, sastra dan filosofi Ki Sunda. 2. Menjadi media komunikasi orang-orang Sunda sampai akhir jaman. 3. Menjaga dan melestarikan budaya Sunda dengan berbagai kalangan etnis lainnya. 4. Profit orientied yang seimbang, antara rasa memiliki terhadap Sunda dengan tarah hidup pada masanya. 

Profil Majalah Mangle
Spesifikasi teknis majalah Mangle adalah sebagai berikut :
Ukuran Majalah: 21 cm x 29 cm
Tebal: 74 halaman
Jenis kertas cover : Art paper 100 gram, isi hitan putih kertas koran, 4 halaman warna kertas HVS.
Luas Cetak: 25 cm x 19 cm dengan 3 (tiga) kolom
Typography: MCS Photo type setting
Sistem Cetak: Offset
Type huruf: English, Univers, Souvenirs, Korina, Oracle Helios
Penjilidan: Jahit punggung dengan kawat
Frekuensi terbit: Mingguan, terbit tiap hari Kamis 

Kebijakan Materi
Untuk menentukan materi atau isi rubrikasi Majalah Mangle, ditentukan melalui rapat redaksi dengan tetap konsisten mempunyai nilai hiburan, dan mengetengahkan aspek-aspek budaya Sunda, khususnya di Jawa Barat. Disamping itu mengemas juga masalah-masalah nasional dan internasional yang tetap terfokus kepada masalah kebudayaan. 

Prioritas Penyajian
Secara teori, prioritas penyajian di Mangle dapat dibagi dalam hitungan sebagai berikut :
Hiburan dan Human Interest: 55%
Budaya dan Sejarah: 20%
Agama dan Pendidikan: 20%
Informatif News, dan sebagainya: 5% 

Rubrikasi Majalah Mangle
  • Tamu/Profil, Rubrik untuk mengenalkan tokoh-tokoh
  • Nyingraykeun Lalangse Aheng, memuat tulisan-tulisan yang dianggap masyarakat mempunyai nilai magis, pengobatan tradisional yang selamanya tidak menghilangkan nilai-nilai agama.
  • Lawang Saketeng, Rubrik pembuka dari redaksi.
  • Katurug Katutuh, Memuat tulisan-tulisan kejadian masyarakat yang jatuh tertimpa tangga.
  • Koropak, Rubrik yang memuat surat pembaca.
  • Munara Cahaya, Rubrik yang memuat tulisan, baik dari luar maupun dari dalam tentang bahasan Agama Islam.
  • Implik-implik, Memuat tulisan-tulisan kebiasaan, hiburan atau sisi lain yang unik dari masyarakat.
  • Kingkilaban, memuat sekilas berita atau info, gosif yang menarik dari para tokoh, artis, budayawan Sunda.
  • Carita Pondok (Carpon), memuat tulisan-tulisan dari luar karya-karya cerita pondok.
  • Carita Nyambung, memuat tulisan cerita yang bersambung.
  • Cartibag (Carita Tilu Bagian), Memuat tulisan cerita dalam tiga bagian tapi dalam tulisan yang tidak bersambung.
  • Kolom, Memuat karya-karya atau artikel yang mempunyai pandangan lebih kritis, tajam dan ilmiah.
  • Mangle Alit, Rubrik yang di dalamnya memuat tulisan anak-anak sampai usia SMP.
  • Mangle Rumaja, Rubrik yang didalamnya memuat tulisan kaum remaja sampai mahasiswa S-1.
  • Katumbiri, Rubrik yang memuat tulisan-tulisan berita daerah atau berita lainnya, baik masalah kemasayarakat, budaya maupun yang lainnya.
  • Bale Bandung, Memuat tulisan kritis tentang budaya Sunda
  • Sajak, Bentuk puisi sunda modern
  • Dangding, Bentuk puisi sunda gaya lama
  • Bahasan, Uraian mengenai permasalahan secara ob-yektif. Tulisan ini berbentuk artikel mencakup masalah-masalah ekonomi, lingkungan, kebudayaan, pendidikan dan masalah lainnya.
  • Nyusur Galur Mapay Raratan, Memuat tulisan - tulisan tentang sejarah-sejarah yang ada hubungan dengan budaya Sunda.
  • Barakatak, Keistimewaan rubrik ini adalah selalu menampilkan humor yang memancing tawa pembaca, serta dikemas dalam bentuk tulisan yang pendek. Yang masuk dalam rubrik ini : Hahaha, Pengalaman Para Mitra, dan Cerita Lucu.
  • Lempa Lempi Lempong, Rubrik yang memuat tulisan tanya jawab kritis tapi humoris.
  • Tarucing Cakra, Rubrik teka-teki
Untuk melihat para pelanggan suka atau tidak suka MANGLE selalu mengadakan angket. Dan berdasarkan angket tersebut, berikut ini urutan rubrik-rubrik yang paling disukai sekali dan tidak disukai sekali. 

Pemarasan dan Distribusi
Pemasaran Mangle dilakukan melalui agen dan eceran. Dengan prosentase 99% melalui agen 1% eceran dengan lokasi di alun-alun Bandung. Dan ada yang menarik, bahwa sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia, Mangle justru lebih banyak beredar di Jakarta dan di luar Jawa. Distribusi Mangle untuk Jakarta sebelum krisis moneter maksimal 20% dari oplag setiap penerbitannya. Sedangkan di beberapa pelosok yang ada di beberapa wilayah di Jawa Barat, peredaran Mangle terhambat karena minimnya transfortasi, serta sedikitnya jumlah agen di kota lain. 

Susunan Karyawan
  • Pupuhu (Direksi): Drs. Oedjang Daradjatoen M
  • Girang Rumpaka (Pimpinan Redaksi): Drs. Oedjang Daradjatoen M
  • Penasehat Usaha : H. Teddy Kharsai, MBA
  • Wakil Rumpaka I : Drs. Karno Kartadibrata
  • Wakil Rumpaka II: Duduh Durahman
  • Sekretaris Rumpaka: Rudi H. Tarmidzi, S.Ag.
  • Penata Laksana: Ayi Sundana
  • Panangkes (Redaktur Pelaksana): Hana Rohana
  • Sidang Rumpaka : Drs. Ensa Wiarna, Narti, S.Pd., Drs. Enjang Muhaemin
  • Koordinator Koresponden: Unay Sunardi
  • Bagian Iklan & Pemasaran: Dedi Asmarahadi
  • Ilustrator: Agus Mulyana
  • Layout & Desain: Eep Nandang R, Bahrudin, Cucu
  • Keuangan: Endi Supardi, Dicky, Eno Herno
  • Personalia: Ai Nawangsih
  • Dokumentasi: Ai Suryati
  • Produksi : Hambali
  • Sirkulasi : Dikdik, SE
 
Keterangan Umum
Nama Majalah: Majalah Mingguan Basa Sunda Mangle
Motto : Sukaning Indriya Gapuraning Rahayu (kegembiraan dan kesenangan indera merupakan gerbang menuju kebahagiaan)
Visi: Melestarikan Sastra, Basa dan Budaya Sunda sampai akhir jaman.
Penerbit : PT. Mangle Panglipur
Alamat : Jl. Lodaya No. 19-21 Bandung 40262
Telepon/Fax. : 022.7303438 Fax. 7309720
E-Mail: rumpaka@majalah-mangle.com & cs@majalah-mangle.com
SIUPP: 034/SK/Menpen/SIUPP/CI/1986 tanggal 11 Februari 1986 

Copyright © Majalah Mangle Online. Bandung. 2011
http://majalah-mangle.com/tepas/profil.html


 

Senin, 29 Agustus 2011

Kentalnya Bubur Ayam Mang Oyo

Kuliner Bandung
Ni Luh Made Pertiwi F | Josephus Primus | Sabtu, 27 Agustus 2011 | 19:25 WIB


YUDI/WWW.DOYANMAKAN.COM
bubur ayam mang oyo

KOMPAS.com - Menu pilihan santap pagi biasanya sangat bervariasi. Tetapi menu bubur adalah salah satu yang paling cocok menurut kami. Nah, mumpung berwisata di kota kembang Bandung, kami langsung ke satu tempat penjual bubur ayam yang sudah sangat terkenal. Namanya Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea, Anda pernah dengar?

Menurut informasi yang kami dapatkan, awalnya Bubur Ayam Mang Oyo berada di Jalan H Wasyid depan RS Sartika Asih, dekat Sekolah PGII. Lalu alamat sekarang ada di Jl. Taman Sari 118/56, Bandung. Saat ini Bubur Ayam Mang Oyo sudah lebih mudah dicari di Bandung, karena tersebar di beberapa titik di Bandung. Wah, sampai buka cabang di Yogyakarta lho. Hebat euy!

Nah, di Bubur Ayam Mang Oyo ada yang istimewa dan unik lho. Bubur ayam disajikan di piring plastik lalu kita miringkan, bahkan kita balik buburnya nempel dan tidak jatuh. Memang buburnya cukup kental dan lebih mengenyangkan dibanding bubur lain. Ini menjadi daya tarik tersendiri di tempat ini. Bahkan, keunikan itu sering didemokan oleh para pelayan Bubur Ayam Mang Oyo. Memang informasi ini juga sudah menyebar dari beberapa tahun yang lalu.

Tentang beras yang digunakan di Bubur Ayam Mang Oyo, ternyata beras dari hasil sawah pribadi yang berada di Majalengka. Beliau memiliki sawah seluas 2 hektar. Bila beras bukan dari Majalengka, konon katanya bubur akan menjadi lebih encer.

Bubur Ayam Mang Oyo sudah ada sejak kira-kira 1978. Saat itu, memang sedang ada program dari pemerintah, “memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat”. Dari situ Mang Oyo mempunyai ide untuk berjualan bubur ayam, karena biasa orang yang habis berolah raga pagi, sangat cocok untuk menyantap bubur.

Nah, saatnya mencoba bubur ayam di Mang Oyo ini, buburnya memang kental dan lebih padat. Lalu untuk pelengkapnya, di sini juga dibuat unik dengan singkatan seperti atel untuk ayam telur, acak untuk ayam cakwe, serta apel untuk ati ampela he-he... Kreatif banget ya.

Tentunya enak, kita cocok banget sama Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea. Kami pesan bubur ayam komplet (ati ampela plus telor). Hidangan itu disajikan sangat menarik, bubur dengan topping potongan ati ampela ditambah satu butir telur rebus yang sudah dipotong jadi dua, lalu diberi suwiran ayam dan cakwe. Sementara, kerupuk, kacang, dan daun seledri disajikan di tempat terpisah. Mantap banget deh bubur ayam Mang Oyo ini.

Ini juga salah satu kuliner di Bandung yang harus Anda coba ya. Apalagi untuk sarapan pagi cocok banget. (Yudi)
Sumber : www.doyanmakan.com


Jakarta-Bandung Hanya 80 Menit

Penulis: Haryo Damardono | | Marcus Suprihadi | | Senin, 29 Agustus 2011 | 10:46 WIB


Kompas/RWN
Suasana ruas tol Palimanan -Kanci, Cirebon, Minggu (28/8/2011) lancar, setelah terjadi antrean panjang pada malam hingga dinihari.

BANDUNG, KOMPAS.com- Jalur mudik Jakartra-Bandung, Senin (29/8/2011) pagi ini dalam kondisi sepi. Kompas hanya membutuhkan waktu 1 jam 20 menit (80 menit) dari Jalan Radio Dalam Jakarta Selatan menuju kawasan Pasteur, Bandung.

Berangkat dari Radio Dalam pukul 8.30 dan tiba di Pasteur pukul 9.50, rata-rata kecepatan sekitar 120 kilometer per jam. Di tanjakan tol Purwakarta-Padalarang-Pasteur kecepatan bahkan rata-ratanya 100 kilometer per jam.

Umumnya, lalu lintas di tol didominasi oleh kendaraan pribadi. Sangat sedikit bus yang melintas. Sementara itu, truk yang melintas hanyalah pengangkut bahan pokok, atau tangki premium.

Perjalanan hari Senin ini sebenarnya bisa lebih lancar bila mobil-mobil pemudik mau menggunakan lajur kiri dan tidak bertahan di lajur kanan. Sebab, hal itu menghambat kelancaran lalu lintas dan memaksa kendaraan lain harus menyalip dari lajur kiri setelah frustrasi memaksa mobil-mobil itu untuk menyingkir ke lajur kiri.

Beberapa mobil pemudik bahkan sebenarnya cenderung membahayakan dengan bawaan yang terlampau banyak di atap mobil. Juga dengan kaca-kaca mobil yang malah ditutup kain batik, sehingga mempersempit pandangan ke jalan raya.