Kamis, 20 Oktober 2011

Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?

| Egidius Patnistik | Kamis, 20 Oktober 2011 | 09:53 WIB



AP
Yue Yue, bocah dua tahun dari Provinsi Guandong, China, yang terlindas mobil dua kali dalam waktu kurang dari lima menit dan diabaikan oleh 18 pelintas ketika ia sekarat di jalanan sudah stabil.


BEIJING, KOMPAS.com - Gambar video tentang seorang bocah China yang ditabrak lari dan dibiarkan sekarat oleh 18 pelintas di pasar yang sibuk di kota Foshan, Provinsi Guandong, Kamis (13/10/2011), memunculkan pertanyaan. Ada apa dengan masyarakat negara itu. Benarkah mereka telah jadi apatis, tak peduli dengan sesamanya yang sedang celaka. Kalau benar, mengapa?

Video yang diambil dari rekaman kamera pemantau dan diposting di YouTube serta situs sejenis di China, Youku, memperlihatkan, seorang pengemudi van menabrak bocah dua tahun itu, yang bernama Yue Yue. Van itu hanya berhenti sejenak tetapi kemudian melaju lagi. Adegan selanjutnya sulit dipercaya! Selama tujuh menit tercatat 18 orang melintas dan melihat bocah itu terkapar-sekarat dalam kubangan darah tetapi tak seorang pun yang berhenti untuk menolongnya. Dalam selang waktu itu, Yue Yue justru dilindas lagi oleh sebuah truk. Seorang perempuan pemulung, Chen Xianmei (58 tahun), orang ke 19 yang melintas. Baru dia yang tergerak hatinya. Chen memindahkan bocah itu sebelum ibunya sendiri datang dan menggendongnya.

Sikap apatis para pelintas itu memicu kecaman dan debat emosional tentang kondisi moralitas masyarakat China yang tengah berkembang pesat secara ekonomi. Sejumlah pengguna media sosial di China telah menyuarakan bahwa ketidakpedulian warga atas gadis cilik itu sebagai tanda sebuah masyarakat yang moralnya memburuk.

Di Sina Weibo, situs microblogging China yang mirip Twitter, kisah itu terus menjadi topik utama. Pada saat bersamaan di situs itu muncul kampanye online bertopik "stop apatisme". Seorang pengguna Sina Weibo menyebut kejadian itu "memalukan orang-orang China". Pengguna lain, Xiaozhong001 menulis, "Sesungguhnya, ada apa dengan masyarakat kita? Saya melihat kejadian ini dan hati saya jadi beku." Microblogger lain yang menyebut dirinya Patton Yu menulis, "Bangsa macam apa ini?" "Masyarakat ini sakit parah," komentar microblogger lain. "Bahkan kucing dan anjing pun tidak seharusnya diperlakukan tanpa perasaan seperti itu."

Insiden itu pun menjadi berita media-media arus utama dunia, dengan pertanyaan mendasar, apakah apatisme jadi trend umum di China. Jika ya, mengapa? New York Times dalam sebuah artikel di situsnya yang terbit Rabu yang mengulas peristiwa itu, memuat prolog tentang sebuah peristiwa lain yang terjadi Jumat, sehari setelah drama tagis di pasar Fosham itu.

Pada peristiwa Jumat itu, seorang perempuan yang tampaknya ingin bunuh diri melompat ke danau di Hangzhou, sebuah kota di barat daya Shanghai. Ketika perempuan itu tampaknya mulai tenggelam, seorang perempuan, yang secara luas dilaporkan sebagai turis Amerika, langsung menanggalkan mantelnya. Perempuan itu terjun juga ke air, lalu berenang ke arah orang yang mau bunuh diri. Secara tangkas si penolong menarik perempuan itu ke tepi danau. Kemudian, ketika melihat perempuan itu selamat, si penolong pergi tanpa memberitahukan namanya.

Dua kejadian itu tentu tak dapat dikatakan mewakili moralitas dari dua bangsa itu. Namun ribuan microblogger di China telah menggunakan dua kejadian itu, yang satu memperlihatkan sifat tak berperasaan dan yang lain menunjukkan heroisme, sebagai bahan bakar dalam perdebatan memilukan atas apakah masyarakat China tidak berbelas kasih dan, jika benar demikian, mengapa. Topik itu jadi perbincangan nasional dan semakin umum. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya di negara yang media cetak dan media penyiarannya sebagian besar tetap dikendalikan Partai Komunis yang lebih tertarik dalam mengarahkan opini publik daripada merefleksikan suasana bangsa.

Seorang microblogger berkata tentang penyelamatan di Hangzhou. "Kemarin Obama minum bir dengan pekerja konstruksi yang kehilangan pekerjaan. Hari ini, saya membaca sebuah cerita tentang seorang turis Amerika yang melompat ke dalam air untuk menyelamatkan seseorang. Saya akhirnya menyadari mengapa Amerika menjadi negara yang kuat dan akan terus menjadi yang terkuat."

Booming ekonomi China dan kesenjangan yang menganga antara yang kaya dan miskin telah membuat perubahan nilai-nilai sosial menjadi topik perdebatan. Sejumlah orang meratapi bahwa materialisme telah menggantikan moral. Materialisme dinilai telah menjadikan orang-orang China bak mayat berjalan, tak punya spirit untuk berbelas kasih. Konsep ying yang, yang mengutamakan kesimbangan, dalam konteksnya ini berarti antara yang material dan yang spiritual, yang menjadi prinsip dasar filsafat China seakan hilang tak berbekas.

Namun sejumlah orang menduga, sistem hukum negara itu mungkin telah menghalangi munculnya orang Samaria yang murah hati, yang mau membantu mereka yang mengalami kecelakaan. Media Kanada, Toronto Star, dalam situsnya, Rabu, menulis bahwa di Ontario, dan sejumlah tempat lain di dunia, ada undang-undang tentang orang Samaria yang murah hati yang melindungi orang yang tidak profesional secara medis yang melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan di tempat kejadian. Di banyak negara Eropa, seperti Perancis dan Jerman, UU tentang Orang Samaria yang Murah Hati malah mengharuskan warga yang ada di lokasi untuk melakukan tindakan penyelamatan.

Nah di China, tidak ada UU semacam itu, kata Pitman Potter, seorang profesor hukum di University of British Columbia. Ketiadaan UU semacam itu, kata Potter menghalangi orang untuk membantu.

Cerita tentang orang Samaria yang murah hati berasal dari Kitab Suci Kristen. Nabi Isa mengisahkan, ada seorang yang tengah bepergian, yang mungkin orang Yahudi tapi mungkin juga bukan. Orang itu dipukuli, dirampok dan dibiarkan sekarat di tengah jalan. Dua orang Yahudi, termasuk seorang imam, melintas tetapi mereka mengabaikan orang yang sekarat itu. Lalu orang Samaria lewat. Orang Samaria dan Yahudi sering berselisih. Namun orang Samaria itulah yang justru menolang si korban, yang mungkin saja seorang Yahudi.

Di China, kata Potter, yang terjadi sebaliknya. "Orang telah digugat oleh keluarga orang yang terluka atau diminta bertanggung jawab oleh pihak berwenang. Maka, terlibat dalam hal seperti itu (menjadi orang Samaria yang murah hati) merupakan sesuatu yang orang hindari."

Tahun 2006, seorang pria Nanjing yang mendampingi seorang perempuan tua ke rumah sakit setelah perempuan itu mengalami patah kaki justru diperintahkan untuk membayar 40 persen tagihan rumah sakit perempuan itu. Alasannya? Tidak bisa dipercaya bahwa pria itu rela pergi sejauh itu demi membantu perempuan tersebut jika ia sama sekali tidak bertanggung jawab atas kecelakaan dan cedera yang dialami perempuan itu.

"Alasan pengadilan adalah, jika Anda tidak melakukannya, mengapa Anda harus membawa mereka ke rumah sakit? Tidak ada orang waras yang akan membawa mereka (ke rumah sakit)," kata Donald Clarke, seorang profesor hukum di George Washington University yang punya sebuah blog tentang hukum di China seperti dikutip Toronto Star.

Sejumlah sumber China juga menduga, sopir van itu membiarkan bocah itu tewas karena kompensasi untuk kematian seringkali lebih ringan daripada untuk sebuah cedera jangka panjang. Untuk yang terakhir itu, kompensasinya mungkin termasuk biaya medis dan kompensasi pendapatan atas hilangnya kesempatan kerja selama bertahun-tahun.

"Jika dia (gadis itu) tewas, saya mungkin hanya membayar sekitar 20.000 yuan (3.180 dollar AS)," kata sopir van yang menabrak Yue Yue kepada China Daily sebelum dia menyerahkan diri kepada polisi. "Tapi jika dia cedera, itu mungkin membebani saya hingga ratusan ribu yuan."

China memperkenalkan asuransi wajib untuk mobil lima tahun lalu. Namun sebuah artikel di Hong Kong South China Morning Post pada awal tahun ini mengatakan, banyak pengemudi yang mengabaikan ketentuan itu.

Menurut Potter, pertangungan asuransi pribadi juga jarang. Itu berarti akan bijaksana secara finansial bagi pengemudi untuk melarikan diri dari kecelakaan.

Minggu, 16 Oktober 2011

Unik : "Superhero" Phoenix Jones Justru Ditangkap Polisi




MSNBC/"PRLM"


SEATTLE, (PRLM).- Superhero yang biasanya membantu polisi mencegah kejahatan hingga menangkap pelaku kejahatan, tidak berlaku bagi superhero asal Seattle, AS. Seorang pemuda, Jones (23) yang menamai dirinya superhero Phoenix justru diborgol polisi karena menyerang orang lain menggunakan semprotan lada.
Jones sengaja mengenakan kostum dan topeng seperti Batman, hanya berbeda pada logo dan warna garis. Phoenix digambarkan sebagai sosok misterius, mengenakan topng hitam dengan siluet garis kuning, dan kostum yang menggambarkan tonjolan otot lengan dan badan. "Phoenix ada di jalanan untuk membasmi kejahatan," ujar Jones.

Namun jurubicara kepolisian Seattle, Mark Jamieson mengatakan, bukan karena berdandan dengan kostum superhero bisa bertindak semaunya atau di atas garis hukum. "Kamu tidak boleh menyemprotkan bubuk lada ke orang hanya karena kamu pikir mereka sedang berkelahi," tegas Mark.
Dalam statusnya di Facebook, Jones menorehkan tulisan, dirinya tidak akan menyakiti orang lain jika orang itu tidak mengancam hak asasi manusia.

Saat berpratroli Phoenix alias Jones ditemani mitranya, bukan Robin, namun "Ghost", lalu juru kamera Ryan McNamee, dan penulis Tea Krulos, yang membuat buku tentangkehidupan nyata sang superhero.

Kepada msnbc.com Krulos menuturkan, kejadian sebenarnya adalah enam atau tujuh orang memukuli dua orang lain. SAtu korban yang jatuh dikeroyok. Lalu datang sang pahlawan Phoenix untuk membebaskan kedua orang yang menjadi bulan-bulanan pengeroyok. (A-88)***

Perpustakaan Masih Dianggap Kurang Penting




USEP USMAN NASRULLOH/"PRLM"
SEJUMLAH pelajar dan warga membaca koleksi buku dari perpustakaan keliling dalam rangkaian Roadshow Perputakaan Nasional dengan tema "Gerakan Nasional Indonesia Membaca" di Jln. Al Fathu, Kecamatan...


SOREANG, (PRLM).- Keberadaan perpustakaan masih dianggap kurang penting sehingga kurang diurus malah dibiarkan apa adanya. Padahal, perpustakaan bisa berperan besar untuk mendidik masyarakat agar lebih cerdas dan berwawasan luas.
"Jumlah penduduk Kab. Bandung sebesar 3,2 juta orang atau terbesar kedua di Jawa Barat. Kalau kita tak bisa mengelola SDM yang besar ini akan berdampak buruk untuk pembangunan," kata Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, dalam roadshow gemar membaca di depan Perpustakaan Kab. Bandung, Minggu (16/10).
Untuk pengembangan perpustakaan, kata Dadang, harus didukung dengan manusia yang baik, jaringan, maupun dukungan anggaran. "Perpustakaan desa masih harus dibenahi karena keterbatasan manusia pengelolanya," katanya.
Sedangkan Kepala Perpustakaan Nasional, Dra. Hj. Sri Sularsih mengatakan, perpustakaan merupakan sarana belajar sepanjang hayat. "Membaca merupakan hal mudah karena bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Apalagi perpustakaan tidak memungut bidaya kepada pengunjungnya," katanya.
Namun, perpustakaan juga harus melakukan inovasi atau terobosan sehingga bisa menarik masyarakat. "Roadshow gemar membaca merupakan salah satu terobosan agar masyarakat berbudaya membaca. Kita harapkan masyarakat menjadi cerdas dan bermental baik serta sukses di kemudian hari," katanya.(A-71/A-147)***

Sabtu, 15 Oktober 2011

Pasanggiri Kawih Sunda Jawa Barat 2011

Kawih Sunda Masih Digemari
Jumat, 14/10/2011 - 21:46


RETNO HY/"PRLM"
ACARA "Pasanggiri Kawih Sunda Jawa Barat 2011" di gedung Lokantara Budaya RRI Bandung, Jalan Diponegoro Bandung, Jumat (14/10).*

BANDUNG, (PRLM).- “Pasanggiri Kawih Sunda Jawa Barat 2011” menjadi bukti kalau kesenian kawih Sunda masih diminati oleh generasi muda. Meski baru diselenggarakan untuk pertamakalinya oleh Pangauban Kawih Sunda Jawa Barat, jumlah peserta mencapai 176 orang.

Sejak munculnya gagasan diselenggarakannya Pasanggiri Kawih Sunda Jawa Barat pada Maret lalu bersama Almarhumah Euis Komariah, menurut Eka Gandara, ada rasa pesimis kalau jumlah peserta akan mencapai diatas seratus orang.

“Waktu itu almarhumah (Euis Komariah) mengatakan paling banter pesertanya hanya mencapai empat puluh orang, nyatanya bias mencapai seratus tujuh puluh lebih,” ujar Eka Gandara, selaku Ketua Penyelenggara Pasanggiri Kawih Sunda Jawa Barat 2011 yang juga Dewan Pembina Pangauban Kawih Sunda Jawa Barat, di sela-sela “Pasanggiri Kawih Sunda Jawa Barat 2011”, Jumat (14/10), di gedung Lokantara Budaya RRI Bandung, Jalan Diponegoro Bandung.

Dikatakan Eka, “Pasanggiri Kawih Sunda Jawa Barat 2011” diikuti 176 peserta dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat, dengan dibagi dua katagori, remaja dan dewasa. Peserta remaja puteri sebanyak 63 orang, putera 33 orang, untuk katagori dewasa, peserta puteri 40 orang dan putera 38 orang.

Sedangkan lagu wajib yang harus dibawakan untuk remaja dan dewasa puteri, “Naon Lepatna” dan “Sariap Layung di Gunung”. Sementara untuk putera, kawih “Puspita” dan “Salam Manis”.

“Ternyata Kawih Sunda masih digemari oleh anak-anak muda. Buktinya, pasanggiri saat ini diikuti lebih dari seratus peserta, kini tinggal langkah konkret dari pemerintah sebagai fasilitator,” ujar Eka. (A-87/das)***

Rabu, 12 Oktober 2011

Wow, Ada 10 Taman Wisata Alam di NTB

| kadek | Rabu, 12 Oktober 2011 | 14:03 WIB


KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Pulau Satonda yang menghadap Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (24/6/2011). Pulau gunung api seluas 2.600 hektare ini dijadikan taman wisata laut yang memiliki danau air asin di tengah pulau. Diperkirakan danau terbentuk akibat letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami hingga menerjang kaldera Gunung Satonda pada tahun 1815.

MATARAM, KOMPAS.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat terus berupaya mengembangkan 10 taman wisata yang dikelolanya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

"Pengembangan taman wisata juga mengacu kepada visi dan misi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menargetkan satu juta wisatawan melalui program ’Visit Lombok-Sumbawa 2012’," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB Tri Prasetyo, di Mataram, Rabu (12/10/2011).

Ia menyebutkan 10 taman wisata yang berada di bawah pengelolaan BKSDA NTB yakni taman wisata alam Kerandangan, taman wisata alam Suranadi, taman wisata Pelangan, dan Bangko-Bangko di Sekotong. Keempat taman wisata alam itu berada di Kabupaten Lombok Barat.

Kemudian di Kabupaten Lombok Tengah, kata dia, ada taman wisata Gunung Tunak dan taman wisata Tanjung Tampa. Lokasinya berada di sekitar kawasan pantai Lombok Tengah bagian selatan yang sudah dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata oleh pemerintah pusat.

"Seluruh taman wisata alam di Pulau Lombok, NTB, tersebut bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua dari Kota Mataram ibu kota Provinsi NTB," ujarnya.

Prasetyo menambahkan, lima taman wisata lainnya yang berada di sejumlah kabupaten di Pulau Sumbawa adalah taman wisata alam Danau Rawa Taliwang di Kabupaten Sumbawa Barat, taman wisata alam Pulau Moyo dan Semongkat di Kabupaten Sumbawa, taman wisata alam Madapangga dan Pulau Satonda di Kabupaten Dompu.

Para wisatawan yang ingin menuju taman wisata alam di Pulau Sumbawa itu harus melalui perjalanan darat dari Kota Mataram menuju Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur, selanjutnya menggunakan kapal laut menuju pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat.

Setelah sampai di pelabuhan Poto Tano, kata dia, wisatawan kembali melanjutkan perjalanan dengan menggunakan darat agar bisa sampai ke taman wisata alam yang menjadi tujuannya.

"Namun, untuk menuju pulau Moyo di Kabupaten Sumbawa Besar dan Pulau Satonda di Kabupaten Dompu, wisatawan harus menyewa perahu di sejumlah pelabuhan tradisional," katanya.

Ia mengatakan, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke seluruh taman wisata alam tersebut dengan melakukan pembenahan dari sisi fasilitas pendukung seperti tempat peristirahatan yang layak agar pengunjung dapat menikmati keindahan panorama alam dengan yaman.

Selain itu, kata dia, tingkat keamanan dan kondusivitas daerah juga menjadi faktor pendukung yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan.

"Kami bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTB dan kabupaten/kota terus berkoordinasi dalam rangka memberikan penyuluhan kepada masyarakat di sekitar lokasi taman wisata alam agar ikut mendukung upaya peningkatan kunjungan wisatawan dengan cara menjaga kondusifitas daerah," ujarnya.

Menurut dia, dengan berkembangnya wisata di NTB, yang akan menerima dampak positif ekonomi bukan hanya pemerintah, melainkan juga masyarakat.
Sumber : ANT

Pameran Kriya Awi “Awi Goes to Mall” Menarik Perhatian Pengunjung

Selasa, 11/10/2011 - 17:34


RETNO HY/"PRLM"
KEPALA Seksi Perlindungan Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Dra. Nita Julianita, menerangkan kepada pengunjung tentang nama dan fungsi alat yang dipamerkan di pameran Kriya Awi “Awi Goes to...

BANDUNG,(PRLM).- Hari pertama penyelenggaraan pameran Kriya Awi “Awi Goes to Mall” yang menampilkan tujuh puluh lebih koleksi Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, di lantai satu Bandung Indah Plaza Jalan Merdeka mengundang perhatian. Berbagai benda koleksi dari bambu berusia puluhan bahkan ratusan tahun yang dipamerkan tidak hanya dilihat, tetapi juga dipegang dan dimainkan.

“Ini benar-benar sangat luar biasa dan merupakan terobosan sangat bagus yang dilakukan museum (Sri Baduga). Kalau disimpan terus di museum dan tidak dipamerkan seperti ini, saya yang sudah berusia enam puluh benar-benar sudah lupa akan alat-alat yang dulu sering digunakan kakek nenek dan ayah ibu,” ujar Hadi Sucipto (63) warga Jalan Tubagus Ismail yang mengaku sudah lupa nama perkakas ataupun alat-alat rumah tangga dan perdagangan yang dipamerkan.

Bukan hanya Hadi Sucipto, sejumlah pengunjung juga mengalami hal yang sama. Semisal alat-alat perdagangan, sudung, naya, buleng, cireng, sumbul dan lainnya. “Kami benar-benar tidak menyangka kalau apresiasi dari pengunjung BIP ini begitu tinggi hingga mereka bertahan berjam-jam untuk bertanya semua barang yang dipamerkan. Mereka kembali mengingat-ingat dan mencoba mengenang akan masa lalu saat peralatan dari bambu masih menjadi alat bantu sebelum adanya alat-alat dari plastik,” ungkap Kepala Seksi Perlindungan Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Dra. Nita Julianita, kepada PRLM disela-sela kegiatan.

Dikatakan Nita, pameran Kriya Awi “Awi Goes to Mall” yang akan berlangsung hingga Minggu (16/10) mendatang selain menampilkan koleksi museum (Sri Baduga)dari bambu, juga menggelar aneka seni tradisi. Kesenian-kesenian yang ditampilkan untuk menghibur pengunjung diantaranya, kesenian kecapi suling, tembang Sunda Cianjuran, Celempungan, angklung dan lainnya. (A-87/kur)***

Rencana Iran Terbongkar, AS Terbitkan Peringatan

| Egidius Patnistik | Rabu, 12 Oktober 2011 | 12:35 WIB


Daily Mail
Iran, menurut pihak AS, berencana menyerang kantor kedutaan Israel di Washington, seperti yang tampak dalam gambar ini.

WASHINGTON, KOMPAS.com — Amerika Serikat menerbitkan peringatan teror kepada warga dan diplomat internasionalnya, Selasa (11/10/2011) malam, setelah menyatakan sukses menggagalkan rencana Iran untuk membunuh Duta Besar Arab Saudi untuk Washington.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, dugaan rencana itu mungkin mengindikasikan sebuah fokus yang lebih agresif Pemerintah Iran pada aktivitas teroris terhadap para diplomat dari negara-negara tertentu, termasuk kemungkinan serangan terhadap Amerika Serikat. "Warga AS yang tinggal dan bepergian ke luar negeri harus memantau Peringatan Departemen Luar Negeri dan informasi wisata lainnya ketika membuat keputusan mengenai rencana perjalanan dan kegiatan mereka selagi di luar negeri," kata peringatan tersebut.

Para pejabat AS sebelumnya mengatakan, para petugas penegak hukum telah membongkar persekongkolan mengerikan yang direncanakan para petinggi Pemerintah Iran. Para elite di Pasukan Quds berupaya untuk memperoleh bahan peledak dari sebuah geng narkoba Meksiko.

Iran membantah tuduhan itu. Negara itu mengatakan tuduhan tersebut sebagai sebuah "plot jahat". Bantahan itu disampaikan dalam sebuah pengaduan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di situ pula Teheran menuduh Amerika Serikat dan Israel telah merancang dan melakukan pembunuhan terhadap sejumlah ilmuwan nuklir Iran.

Saling tuduh ini semakin memperburuk keretakan antara Washington dan Teheran. Hubungan kedua negara selama terganggu terkait dengan program nuklir Iran dan dukungan negara itu terhadap kelompok militan anti-Israel di Timur Tengah.
Sumber : AFP

Liburan ala Backpacker untuk Mengenal Indonesia

Sabtu, 01/10/2011 - 03:21


LINA NURSANTY/"PRLM"
PANORAMA Gunung Krakatau di Perairan Selat Sunda, Sabtu (23/9). Gunung Krakatau menjadi destinasi pariwisata lokal yang kian diminati para pendaki dan turis mancanegara. *


PRLM - JUMAT (22/9) pekan lalu, Edo (26) tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya di sebuah kantor di Bandung. Aneka macam baju dan peralatan naik gunung terkemas rapi dalam tas ransel warna hitam yang ia simpan di kolong meja kerja. Tatkala jam kerja berakhir, bersama lima orang rekannya, Edo segera bergegas ke Terminal Leuwipanjang dan bertolak ke Pelabuhan Merak, Provinsi Banten menggunakan bus umum.

Di Merak, puluhan rekannya sesama backpacker sudah menunggu untuk bersama-sama menyeberangi Selat Sunda menuju Pelabuhan Bakauhuni menggunakan kapal laut. “Kami mau ke Gunung Krakatau,” ujarnya.

Bagi karyawan kantoran seperti Edo, perjalanan wisata murah di akhir pekan dengan gaya ala backpacker adalah sungguh menyenangkan. Selain murah, waktu yang dihabiskan tidak terlalu lama sehingga tidak menyita jatah cuti tahunan dari kantornya yang hanya diberikan tak lebih dari dua minggu per tahunnya. Tak ketinggalan, perjalanan seperti itu dapat mengakomodasi jiwa mudanya yang masih haus dengan agenda petualangan.

Di Merak, Edo segera berbaur dengan berbagai rekan yang baru dikenalnya pada saat itu. Mereka yang umumnya berusia muda kemudian saling berkenalan dan mengungkapkan jati diri seperlunya.

Salah satu peserta, Nia (32) adalah juga karyawan swasta yang bekerja di daerah industri Bekasi. Nia mengaku bergabung karena tahu dari teman. Sementara, yang lainnya ada yang mengaku tahu dari situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

Dengan merogoh uang sebesar Rp 395.000, Edo dan Nia sudah dapat menikmati perjalanan selama tiga hari dua malam ke Gunung Krakatau dan pulau-pulau sekitarnya. Selain naik gunung, agenda perjalanan yaitu menginap di Pulau Sebesi dan snorkeling (berenang menggunakan alat pelindung pengindra di dalam air laut sehingga dapat menikmati indahnya panorama terumbu karang dan ikan-ikan) di beberapa pulau lainnya.

Harga tersebut sudah termasuk ongkos kapal laut Merak-Bakauheuni, sewa penginapan sederhana di Pulau Sebesi, retribusi pendakian gunung dan cagar alam, sewa kapal motor nelayan, makan minum selama perjalanan, dan sewa alat snorkeling.

Aneka jurus menekan biaya perjalanan adalah ciri khas kaum backpacker. Segala macam cara dilakukan dari mulai berburu tiket murah, penginapan termurah, tempat makan murah, dan sebagainya yang diusahakan diatur dengan biaya terendah.

Umumnya, mereka melakukan perjalanan seorang diri karena di situlah letaknya seni perjalanan ala backpacker. Namun, tak selamanya perjalanan solo seperti itu berlangsung lancar dan memuaskan.

Misalnya, Edo harus merogoh uang Rp 3,5 juta untuk sewa kapal motor sederhana nelayan untuk berlayar ke Gunung Krakatau dan pulau-pulau lainnya di Selat Sunda jika ia melakukan perjalanan solo. Jika dilakukan bersama-sama, Edo dapat berbagi biaya sewa dengan teman-teman sesama backpacker lainnya untuk sewa kapal.

Koordinator perjalanan, Wahyu Fritz mengatakan bahwa perjalanan kali itu ke Gunung Krakatau cukup mendapat respon yang antusias dari para backpacker. Sebab, perjalanan tergolong komplit dari mulai naik gunung, snorkeling di laut, hingga santai di pantai. “Pesertanya sekarang tergolong kebanyakan, ada 44 orang. Biasanya kami batasi 25 orang saja,” ujarnya.

Sehari-hari, Fritz adalah karyawan bank swasta di Jakarta. Ia bersama isterinya, Frily, kerap menyelenggarakan perjalanan bersama ke pulau-pulau terpencil yang menarik bagi para petualang muda. “Pada dasarnya saya dan istri memang senang jalan-jalan, kemudian banyak teman yang meminta dikoordinir perjalanan, awalnya teman-teman yang sudah kenal saja, tapi kemudian sekarang meluas dari mulut ke mulut,” ujar Fritz yang sedang mengagendakan perjalanan berikutnya ke Pulau Belitung.

Menurut Yudi, pengelola komunitas Wisata Gaya, perjalanan ke pulau-pulau kecil dan terpencil Indonesia semakin ramai pada dua dan tiga tahun terakhir. Ia sendiri memulai aktivitasnya sebagai penyelenggara perjalanan sejak tiga tahun lalu ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu.

Awalnya, masyarakat luas hanya mengenal beberapa pulau saja di area Kepulauan Seribu yang menarik dikunjungi seperti Pulau Bidadari. Namun, pengelolaannya cenderung diperuntukkan bagi kelas atas karena tergolong mahal. Maklum, hanya hotel dan cottage mewah yang dibangun di pulau-pulau tersebut. Sementara, pulau-pulau lainnya yang dihuni penduduk tidak dapat menikmati cipratan rezeki dari sektor pariwisata.

Namun, setelah makin banyak pengunjung ke Pulau Tidung, membuat sektor pariwisata di pulau tersebut mulai menggeliat. Kuncinya, akses informasi, promosi, dan transportasi dibuat mudah dan terjangkau. Buktinya, sekarang Pulau Tidung dan beberapa pulau lainnya di gugusan Kepulauan Seribu menjadi semakin populer sebagai destinasi wisata lokal.

Baik Yudi maupun Fritz mengaku semakin mengagumi keindahan alam Indonesia sejak menekuni hobi perjalanan ke pulau-pulau kecil. Sayang, hal itu belum banyak diketahui orang Indonesia sendiri karena minimnya informasi, promosi, dan sulitnya akses transportasi.

Indonesia sebagai sebuah negeri dengan ribuan gugusan pulau sesungguhnya memang menawarkan pesona alam yang indah. Bagi sebagian besar anak-anak muda di kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang terbiasa dengan kehidupan di darat, kadang kenyataan Indonesia sebagai negara kepulauan itu belum bisa dipahami kecuali jika sudah melakukan perjalanan ke pulau-pulau itu.

Oleh karena itu, kehadiran komunitas backpacker seperti ini turut membantu membuka akses promosi melakukan perjalanan ke pulau-pulau kecil di tanah air. (Lina Nursanty/”PRLM”/A-88)***