Senin, 09 September 2013

Bongkar Pendidikan Tinggi Kita

Jumat, 30 Agustus 2013 | 10:05 WIB
 

Ilustrasi | Shutterstock

Oleh: Terry Mart

Tulisan Hendra Gunawan (Kompas, 19/8) sangat menarik dan patut disimak semua insan yang terlibat dalam kegiatan pendidikan tinggi.

Hendra mengupas fakta kerdilnya perguruan tinggi (PT) kita dibandingkan dengan PT di negara jiran sekalipun; jangan dulu dibandingkan dengan PT di negara maju. Rayap-rayap kecil di bawah tanah yang sulit terlihat telah menggerogoti akar PT kita sehingga sulit tumbuh meski sudah dirawat dengan perhatian penuh dan penanganan khusus.

Beberapa PT kita sudah berusia lebih dari 50 tahun, tetapi pertumbuhan mutunya tak normal. Karena PT bukanlah pohon yang sembarang dapat ditebang dibuang begitu saja, satu-satunya jalan, ya, membongkarnya.

Jelas dari paparan Hendra, solusi harus radikal, sampai ke akar. Jika tidak, program insentif, hibah, akreditasi, dan sertifikasi tak akan pernah menumbuhkan pohon PT kita sebagaimana pohon di negara tetangga atau di negara maju. Hendra memaparkan delapan masalah. Saya hanya membahas tiga yang urgen: sistem, kualitas dosen, dan dana yang bermuara pada riset di PT.

Benar bahwa semuanya berawal dari sistem perguruan tinggi kita yang kurang/tidak berbasis merit. Sistem perekrutan dosen, sistem penilaian kinerja, hingga sistem kepangkatan kita terlalu manusiawi: beberapa dosen PTN masih tetap menikmati gaji meski hanya datang ke kampus satu-dua kali seminggu. Tak perlu mati-matian riset, asal ada satu-dua di antara berkas yang diajukan terindeks Scopus, seorang dosen dapat menjadi profesor. Di negara maju betapa sulit memperoleh posisi profesor di PT sana.

Mental amtenar

Ada benarnya bahwa kualitas dosen kita rendah karena sistem perekrutan dosen kita tak pernah diperbaiki sejak tempo dulu. Kualitas dosen PTN seharusnya lebih tinggi dari yang lain, tetapi mental amtenar sudah menjelma menjadi salah satu rayap tadi. Meski mengamini ihwal ini, saya masih yakin bahwa cukup banyak dosen kita berkualitas mumpuni untuk bersaing di dunia internasional. Buktinya, banyak dosen kita yang menamatkan S-3 di PT papan atas negara maju dengan hasil riset yang bahkan mencengangkan koleganya di sana. Sayangnya, pembusukan akademis selama puluhan tahun di Tanah Air telah menurunkan kualitas kebanyakan mereka hingga hampir mencapai titik nadir.

Cerita tentang dana riset PT membosankan, tetapi tetap mengherankan mengapa hingga kini pemerintah tak berambisi berinvestasi besar-besaran di PT? Mestinya pemerintah berani karena, jika tidak, PT kita akan makin jauh ketinggalan dari PT di Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam (”Antara Langit dan Bumi”, Kompas 24 November 2011).

Pemerintah harus berupaya memberi otonomi seluas-luasnya kepada PTN meski bagi sekelompok orang di republik ini, otonomi sudah masuk barang haram karena diterjemahkan dengan kamus yang tak tepat. Sebenarnya tanpa otonomi, PTN akan terus dibebani para amtenar yang menuntut lebih banyak hak dibandingkan dengan menunaikan kewajiban. Dengan otonomi, PTN ditantang membuat sendiri sistem yang sehat, berbasis merit yang dituntut Hendra, yang tidak mengizinkan hidupnya rayap-rayap tadi.

PTN, misalnya, dapat langsung menghukum dosen yang malas atau memberi jabatan profesor untuk yang berprestasi tanpa harus menunggu izin pemerintah. Sistem berbasis merit ini rasanya sulit diciptakan secara nasional karena disparitas mutu PT di Tanah Air yang sangat lebar.

Harus diakui bahwa bukan hanya PTS yang melakukan bisnis pendidikan. PTN pun turut mengais rezeki. Meski bisnis ini halal selama tidak menzalimi orang, kegiatan ini harus dikurangi agar PT mulai berorientasi kepada riset. Tingginya kegiatan pendidikan di PTN yang terlihat dengan tingginya aktivitas para dosen, baik dalam kelas maupun dalam pembuatan perangkat pendidikan, jelas mengindikasikan kelalaian pada riset. Jumlah mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang berimbang merupakan syarat mutlak perbaikan kualitas PT, asalkan program pascasarjana tersebut berbasis riset.

Tidak ada pilihan lain, kecuali dosen yang direkrut adalah lulusan terbaik yang ada. Dosen yang direkrut haruslah berjenjang S-3 sehingga dapat langsung masuk ke dunia riset di kelompoknya. Apabila masih S-1 atau S-2, kemungkinan yang bersangkutan pindah bidang sewaktu studi S-3 sehingga menyulitkan pengembangan kelompok riset yang sudah ada.

Dosen yang periset

Perekrutan harus langsung melibatkan departemen bahkan kelompok riset karena hanya mereka yang lebih tahu bidang dan dengan kualifikasi apa seorang pelamar bisa diterima. Harus ditekankan, seorang dosen adalah juga periset sehingga pelamar yang tak berbakat riset hanya akan merepotkan PT di belakang hari. Jadi, perekrutan melalui sistem pegawai negeri seperti yang berlaku saat ini jelas tak tepat. Di sini otonomi PTN mutlak perlu.

Profesor yang sebenarnya adalah profesor paripurna yang sudah didefinisikan dalam UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen (Pasal 49 Ayat 3 dan 4). Meski memiliki ribuan kum, profesor yang ada saat ini belum tentu profesor sebenarnya dan mungkin harus direposisi ke jabatan profesor asosiasi atau madya.

Untuk mendapatkan jabatan paripurna, profesor harus dinilai ulang atau harus melakukan penelitian lebih giat lagi untuk memenuhi tuntutan ayat 3 yang mensyaratkan pengakuan internasional sehingga posisinya jelas setara dengan posisi profesor di negara maju dan dampaknya jelas signifikan dalam menaikkan kualitas PT.

Profesor adalah jabatan, bukan hadiah atau gelar. Yang berhak mendapat jabatan itu ialah mereka yang mampu mengemban tugas jabatan. Pikiran bahwa profesor adalah hak bagi mereka yang telah memiliki sejumlah kum tertentu jelas akan terus mengerdilkan PT.

Pada akhirnya rekomendasi di atas tak dapat dijalankan jika tak ada komitmen pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam dunia riset PT. Riset di PT butuh dana sangat besar. Tak semua menghasilkan produk hilir yang langsung dinikmati masyarakat.

Memanggil lulusan terbaik jadi dosen tak mudah jika insentif dan fasilitas yang ditawarkan tak menarik. Namun, dengan PDB lebih dari Rp 1.500 triliun rasanya tak mustahil mewujudkan hal ini. Lagi pula, apa mungkin kita dapat memancing ikan paus dengan umpan ikan teri seperti yang selama ini kita lakukan?


Terry Mart, Pengajar Fisika FMIPA UI
Sumber : KOMPAS CETAK
Editor : Caroline Damanik

Sabtu, 07 September 2013

Gunung Terbesar di Bumi Ditemukan di Samudra Pasifik

PenulisYunanto Wiji Utomo, Jumat, 6 September 2013 | 11:59 WIB



citra 3D Tamu Massif | William Sager

KOMPAS.com — Ada gunung api terbesar di Bumi yang tersembunyi di Samudra Pasifik. Para geolog memublikasikan penemuan tersebut di jurnal Nature Geoscience, Kamis (5/9/2013).

Disebut "Tamu Massif", ukuran gunung berapi tersebut mengalahkan gunung yang selama ini dianggap terbesar di Bumi, Mauna Loa di Hawaii. Ukuran Tamu Massif juga hanya 25 persen lebih kecil dari Olympus Mons di Mars, gunung terbesar di Tata Surya.

"Kami berpikir gunung berapi sekelas ini belum pernah disadari sebelumnya," kata William Sager, geolog dari University of Houston, pimpinan penelitian ini.

Tamu Massif berukuran lebar 650 kilometer, tetapi hanya punya tinggi 4 kilometer. "Kemiringannya rendah. Jika Anda berdiri di gunung ini, Anda tak akan kesulitan untuk mengatakan ke mana jalan turun gunung," kata Sager.

Gunung ini bererupsi beberapa juta tahun sekali dalam masa Cretaceous, sekitar 144 juta tahun lalu. Kini, gunung itu telah mati.

Gunung raksasa ini ditemukan lewat penelitian selama beberapa tahun sejak Sager mengajar di Texas A&M University. Sager dan tim menganalisis data sampel batuan, melakukan pengeboran, serta survei seismik yang dilakukan dengan bantuan kapal penelitian yang dilengkapi fasilitas pendukungnya.

Pengolahan data kemudian mengonfirmasi adanya kaldera, hal yang sama seperti yang dilihat di Mauna Loa di Hawaii, menunjukkan terdapatnya sebuah gunung.

Penemuan ini merombak pemahaman tentang Tamu Massif. Sebelumnya, Tamu Massif hanya dianggap sebagai bagian dari dataran tinggi laut bernama Shatsky Ride di Samudra Pasifik sebelah timur Jepang. Dengan penemuan ini, Tamu Massif dianggap sebagai gunung api yang berdiri sendiri.

Sager mengungkapkan, dengan penemuan ini, maka siapa pun yang ingin menjelaskan tentang dataran tinggi laut dan gunung laut harus memenuhi syarat tertentu.

"Mereka harus bisa menjelaskan pembentukan gunung api ini di satu titik tertentu dan bagaimana mengirimkan magmanya dalam waktu cepat," ungkap Sager seperti dikutip oleh Livescience, Kamis kemarin.

Walau kini dianggap terbesar, rekor Tamu Massif mungkin akan segera terkalahkan. Survei dataran tinggi laut di kemudian hari kemungkinan akan menemukan gunung yang lebih besar.

Dataran tinggi laut terbesar di Bumi berada di Samudra pasifik yang berdekatan dengan ekuator, disebut Ontong Java Plateau. Dengan ukuran tersebut, wilayah itu kemungkinan juga menyimpan gunung api yang lebih besar.

Berbeda seperti Krakatau dan Mauna Loa yang muncul ke permukaan, Tamu Massif mungkin selamanya tersembunyi di lautan.

Nama gunung yang volumenya mencapai 600 juta kilometer kubik ini diambil dari singkatan nama Texas A&M University, tempat Sager mengajar selama 29 tahun sebelum pindah ke University of Houston pada tahun ini.
Editor : Yunanto Wiji Utomo

Rabu, 04 September 2013

Varibike, Sepeda yang Dikayuh dengan Kaki dan Tangan



VARIBIKE/"PRLM"

VARIBIKE ini dilengkapi dengan satu set engkol sehingga pengendara bisa mengubah tangannya mengayuh agar lebih mudah dan lebih cepat saat bersepeda.*

ULM, (PRLM).- Seorang perancang asal Jerman muncul dengan penemuan unik dengan menciptakan sepeda pertama di dunia yang dikayuh dengan kaki dan tangan.

Sepeda unik yang disebut Varibike ini tampak seperti sepeda biasa, dengan pedal kaki tradisional, tetapi juga dilengkapi dengan satu set engkol sehingga pengendara bisa mengubah tangannya mengayuh agar lebih mudah dan lebih cepat saat bersepeda.

Sepeda aluminium seberat 15 kg ini hasil rancangan Martin Kraiss (43) dari Ulm, Jerman dan dihargai 4.000 poundsterling.

Varibike memungkinkan pengendara menggunakan seluruh tubuhnya untuk memacu sepeda dan orang di balik penemuan ini yakin sepeda baru ini akan lebih kencang dari sepeda biasa.

"Bersepeda selalu ditekankan pada satu sisi hanya datang dari kekuatan kaki. Sementara tubuh bagian atas yang statis, tidak mendapatkan latihan dan benar-benar diabaikan," kata Kraiss.

"Tujuan kami adalah untuk menciptakan sepeda yang digerakkan oleh seluruh tubuh yang bahkan lebih cepat daripada sepeda konvensional," tambahnya seperti dilaporkan Daily Mail, Selasa (3/9/2013). (Aya/A-107)***

Conclusive CAV, Angkung yang Bercerita






BANDUNG, (PRLM).- Percaya diri dan optimis mempersembahkan yang terbaik untuk kesenian tradisi, itulah pesan pertunjukkan yang disampaikan "Concert of Angklung Symphony and Festive" Corps Angklung V (Conclusive CAV) yang digelar di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jln. Peta 209 Bandung.

Pentas simponi angklung ini dikemas dalam satu rangkaian cerita tentang perjalanan seseorang dari Negeri Harapan menuju Negeri Impian. Sebuah perjalanan yang notabene menyiratkan semangat, percaya diri, dan optimisme bahwa apapun -- termasuk angklung sebagai kesenian tradisi -- apabila dikemas dan disuguhkan dengan optimal akan mendapat sanjungan dan menjadi kembanggaan.

Cerita ini dituturkan dalam rangkaian lagu-lagu dengan para pengisi acara tidak hanya Corps Angklung V (CAV), tetapi juga Arumba SMPN 22, Gitar 5, dan Vocal Group 5. Konduktor CAV pada pentas ini dipercayakan kepada Nisrina Ulfa Amanda dan Adinda Laksmi Devi yang memimpin lebih kurang 50 pemain angklung. Dengan setiap pemain memainkan 2-4 alat musik angklung.




Pentas dibuka dengan suguhan Vocal Group 5 dengan lagu andalannya "Lalajo Wayang". Dilanjutkan dengan Medley "Badminton" dan "He's Pirate". Kelima gadis yang tergabung dalam VG 5 ini dengan manis menuntaskan lagunya yang bersyair unik dan satire dengan vocal suara lembut.

Pentas beralih pada suguhan Arumba SMPN 44 dengan lagu yang juga lembut "Sway". Dilanjut "Peuyeum Bandung". Komposisi riang lagu ini seakan-akan menjadi awal tonggak perjalanan mereka menuju Negeri Impian.

Panggung berlanjut pada suguhan Gitar 5 dengan lagu-lagu andalannya "Tresure" dan "Praha Cinta". Pada bagian ini, muncul juga suguhan ballet "Swan Lake" yang lembut.

CAV tampil untuk "Medlay Magical", "What Makes You Beautiful", "Cintaku", "Jai-Ho", dan "Pesta. Semua lagu-lagu ini diarransemen dalam nada symphony sehingga terkadang terasa asing di pendengaran. Lompatan-lompatan nada yang biasanya diekspresikan lewat tuts-tuts piano, pada pentas ini digantikan oleh suara dari kibasan gerak angklung. Alhasil, sangat asing tetapi menarik.

Seperti saat balerina hadir membawakan "Swan Lake". Komposisi nada yang biasanya dimainkan oleh alat-alat orskestra symphony, pada kesempatan ini justru angklung yang mengiringinya. Inilah keunikan dari pentas "Consclusive" CAV. Walaupun masih terasa kurang serempak dalam memainkannya. Termasuk gerak yang terbatas karena sempitnya area panggung.

CAV atau Corps Angkung V adalah salah satu ekstras kulikuler di SMA Negeri 5 Bandung. CAV didirikan pada 16 Juni 1985 oleh para pecinta seni angklung. Dalam perjalanannya, CAV telah meraup banyak prestasi dan dua kali pentas di Singapore. Yakni pada ajang "CAV Road to Singapore" (2009) dan "Singapore Youth Festival" (2012).

Tiga prestasi terakhir yang pernah diraih CAV antara lain, Juara 3 FPA XII ITB (2009), Juara 2 FPA XIII ITB (2011), dan Juara Harapan 1 LMAP UPI (2012). Konser yang pernah digarapnya antara lain, "Memorabilia Harmony and Charity" (2008), "Musical Flightventure" (2010), dan Konser Angklung Padaeng 111 "All The World Dance" (2012).

Selain konser dalam dan luar negeri, CAV juga sering mengisi acara di Istana Negara dan mengiringi beberapa artis terkenal. Pada konser "Conclusive" ini, CAV seraya ingin menggarisbawahi kembali bahwa sikap percaya diri dan optimis tidak datang dari orang lain tetapi dari diri sendiri.

Demikian pula, sikap percaya diri dan optimis CAV dalam melestarikan seni angklung. Dengan CAV konsisten menggelar konser-konser rutinnya dan mengadakan kolaborasi dengan berbagai jenis kesenian lain seperti Gitar D dan Vocal Group 5, menunjukkan bahwa CAV akan terus eksis mengemban amanah melestarikan angklung. Selamat!  (A-148/A-147)***

Senin, 02 September 2013

Kerusakan Cikapundung Cermin Perilaku





BANDUNG, (PRLM).- Kerusakan ekosistem Sungai Cikapundung adalah cermin dari perilaku masyarakat yang tak peduli terhadap kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, informasi terkait pentingnnya kelestarian Sungai Cikapundung melalui pendidikan masyarakat berbasis lingkungan perlu dilakukan.

Demikian disampaikan Gian Ergiansyah selaku Kepala Sakola Cikapundung saat ditemui di Kawasan Curug Dago, Minggu (1/9/2013). Keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan Sungai Cikapundung membuat Gian beserta sejumlah mahasiswa Antropologi Unpad dan kampus lain mendirikan komunitas belajar masyarakat dengan nama Sakola Cikapundung.

Gian menuturkan, Sakola Cikapundung menjadi lubang informasi serta sarana pembelajaran masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung untuk tetap menjaga sungai tersebut terbebas dari pencemaran.

"Sakola Cikapundung didirikan sejak awal 2013. Sakola Cikapundung digelar di ruang terbuka bagi masyarakat di sekitar sungai Cikapung dengan memanfaatkan alam sebagai media pembelajarannya,"ujar Gian. Saat ini, tuturnya, Sakola Cikapundung melakukan kegiatan mengajar bagi anak-anak di Rw 08 Kelurahan Ciumbuleuit, kecamatan Cidadap yang berdekatan dengan Curug Dago. "Kegiatan dilakukan pada Sabtu dan Minggu dan diikuti seratus anak-anak,"ucapnya.

Sedangkan tenaga pengajar berasal dari para mahasiswa. "Anak-anak diajari bahasa Inggris melalui pengenalan terhadap berbagai jenis tumbuhan dan serta sungai dalam bahasa itu,"uja Gian. Kegiatan belajar pun jauh dari kesan formal karena berlangsung di alam terbuka. Selain belajar, kegiatan di alam terbuka juga dilakukan oleh Sakola Cikapundung dengan bermain sepak bola.

"Titik awalnya memang dari anak-anak, selanjutnya kita akan mengajari ibu-ibu untuk membuat kerajinan dari sampah. Ini dibuat untuk menciptakan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan,"kata Gian. Rencananya, Sakola Cikapundung akan disebar ke sejumlah daerah lain yang berada di sekitar Sungai Cikapundung. (A-201/A-26)***

Jumat, 30 Agustus 2013

Melbourne Kota Paling Layak Huni



MELBOURNE di Australia terpilih sebagai kota paling layak huni dalam tiga tahun terakhir.*


MELBOURNE, (PRLM).- Kota Melbourne di Australia terpilih sebagai kota paling layak huni pada 2013, menurut kajian yang dilakukan Economist Intelligence Unit (EIU).
Bagi ibukota negara bagian Victoria tersebut, ini adalah untuk kali ketiga berturut-turut merebut gelar kota paling layak huni di dunia.

EIU memakai sejumlah kriteria untuk menyusun daftar tahunannya, di antaranya tingkat kejahatan dan faktor keamanan, akses dan kualitas kesehatan, kebudayaan dan lingkungan, kualitas pendidikan, dan prasarana.

Unit kajian yang berada di satu grup dengan majalah ekonomi The Economist ini mengatakan kota-kota yang masuk sepuluh besar biasanya adalah kota-kota ukuran menengah di negara-negara maju dengan kepadatan penduduk rendah.

Urutan kedua ditempati Wina di Austria, disusul tiga kota di Kanada, Vancouver, Toronto, dan Calgary, masing-masing di posisi tiga, empat, dan lima.

Dua kota berikutnya di nomor enam dan tujuh adalah Adelaide dan Sydney. Ibukota Finlandia Helsinki, Perth, dan Auckland di Selandia Baru melengkapi 10 kota paling layak huni untuk 2013.

Di daftar sepuluh besar, Australia tampil dominan dengan memasukkan empat kota, sementara Kanada menempel ketat dengan tiga kota.

Sementara di papan bawah, dari 140 kota di seluruh dunia yang disurvei EIU, yang masuk dalam kategori tidak layak huni antara lain adalah Teheran, Tripoli, Port Moresby, Dhaka, dan Damaskus.(bbc/A-147)***

Endang Mengejutkan dengan Menyanyi Keroncong


PENAMPILAN Endang Caturwati memukau penonton.*

BANDUNG, (PRLM).- Kemeriahan pergelaran Kesenian Angklung “Galindeng Dapuran Awi” Program Aktivasi Taman Budaya 2013 tidak hanya menampilkan kesenian tradisional. Selain menampilkan penyanyi Pop Sunda Rita Tila, juga tampil Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Prof. Endang Caturwati.

Penampilan Prof. Endang Caturwati melantunkan “Bandung Selatan” dalam irama keroncong mendapat applause dari penonton. “Tampilnya Prof. Endang (Caturwati) menyanyi merupakan peristiwa sangat langka dan mungkin baru pertamakali ini, karena selama ini beliau dikenal sebagai penari,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs. Nunung Sobari, M.M.

Meski hanya tampil membawakan satu lagu diiringi permainan Angklung Toel, penampilan Prof. Endang Caturwati mengundang banyak komentar. Selain dari Kadisparbud Jabar, komentar serupa juga ditujukan aktor kawakan Rachmat Hidayat dan sesepuh wanita Sunda yang juga anggota Komisi X DPR RI, Ibu Popong Otje Djundjunan, serta Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif , Prof. Dr. HM Ahman Sya, dan Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik, Juju Masunah, juga sejumlah penonton yang menyaksikan pegelaran Kesenian Angklung “Galindeng Dapuran Awi” hingga akhir. (A-87/A-147)***

Kehidupan di Bumi Mungkin "Berasal dari Mars"

Ada Bukti Pembentukan Molekul

 
SULIT untuk hidup di Mars saat ini, tapi miliaran tahun lalu kondisinya mungkin berbeda.* 


FLORENCE, (PRLM).- Kehidupan mungkin dimulai di Mars sebelum tiba di Bumi, demikian pernyataan seorang ilmuwan di sebuah konferensi sains.

Riset terbaru mendukung gagasan bahwa Planet Merah itu sebenarnya tempat yang lebih baik bagi makhluk biologis miliaran tahun silam dibandingkan dengan bumi saat itu.

Buktinya ada dalam pembentukan molekul kehidupan pertama. Rincian teori ini dipaparkan oleh Prof Steven Benner pada Goldschmidt Meeting di Florence, Italia.

Para ilmuan sejak lama berusaha mengetahui bagaimana atom bisa membuat tiga komponen molekul penting pertama yang dibutuhkan organisme hidup yaitu RNA, DNA dan protein.

Molekul yang membentuk materi genetik jauh lebih kompleks dibandingkan dengan kimia (karbon) organik "pra-biotik" primordial yang diduga muncul di bumi lebih dari tiga miliar tahun lalu dan RNA (ribonucleic acid) adalah yang pertama terbentuk.

Namun, RNA membutuhkan mineral tertentu yang tidak ada di bumi tapi banyak terdapat di Mars, menurut Prof Benner dari Westheimer Institute of Science and Technology di Gainesville, AS. "Hal itu bisa mengindikasikan bahwa kehidupan berawal di Planet Merah sebelum pindah ke bumi melalui meteorit," tambahnya.

Gagasan tersebut sebelumnya pernah dicetuskan ilmuwan lain tetapi mereka tidak bisa memberikan bukti dan ide Prof Benner memberikan aspek baru pada teori bahwa manusia sesungguhnya merupakan mahluk Mars.

Mars diduga dulu memiliki lingkungan yang lebih kering dan hal itu merupakan faktor penting bagi terciptanya kehidupan.

"Mars jauh lebih kering dari Bumi dan lebih teroksidasi. Semakin banyak bukti bahwa kita semua adalah mahluk Mars; bahwa kehidupan dimulai dari Mars dan datang ke Bumi melalui batu," kata dia.

"Kita sangat beruntung karena bisa berakhir di sini, jika nenek moyang hipotetis kita tetap tinggal di Mars, mungkin tidak akan pernah ada cerita untuk dikisahkan," ujarnya.(bbc/A-147)***