Senin, 30 Agustus 2010

Segarnya Usaha Cincau Hitam

Industri Rumahan

BEBERAPA hari sebelum memasuki bulan Puasa, kesibukan di tempat pembuatan cincau di Gang Dahlia 1 No. 52, Jalan Ampera, Kelurahan Panglayungan, Kota Tasikmalaya, mulai meningkat. Dari pagi hingga tengah malam proses produksi cincau hampir tidak berhenti. "Pesanan cincau memasuki bulan Puasa memang mengalami peningkatan sangat tajam," kata Sopian, pemilik pabrik cincau.

Jika pada hari biasa dia membuat sepuluh blek cincau, satu blek cincau beratnya 16 kilogram, saat menjelang hingga memasuki bulan Puasa, Sopian bisa memproduksi 150 blek cincau. Bahkan memasuki hari kedua puasa, pesanan sudah melebihi 200 blek. Akan tetapi, tidak semua pesanan terpenuhi karena kapasitas produksi pabriknya maksimal sehari semalam hanya mampu membuat 180 blek cincau. Satu blek cincau dijualnya seharga Rp 25.000 kepada pedagang di pasar.

Ada beberapa pesanan yang terpaksa ditolak karena sulit untuk memenuhinya. "Saya terpaksa memohon maaf karena tidak semua pesanan yang datang bisa terlayani. Kapasitas produksi memang terbatas," ujarnya.

Cincau yang dibuat Sopian adalah jenis cincau hitam. Bahan baku utamanya adalah tanaman yang di Jawa dikenal dengan nama janggelan (Mesona palustris BL). Tanaman janggelan merupakan tanaman perdu, tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 150-1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dulu Sopian membeli tanaman itu dari daerah Bogor, tepatnya dari kawasan Gunung Halang.

"Sekarang saya beli dari Magetan, Jawa Timur. Ada juga janggelan dari Purbalingga, Jawa Tengah. Akan tetapi, secara kualitas bahan cincau dari Magetan lebih bagus dibandingkan dengan produksi petani Purbalingga. Makanya, saya memilih membeli dari Magetan," katanya.

Bagian pohon janggelan yang dijadikan bahan baku cincau adalah batang dan daun. Bahan-bahan itu kemudian dikeringkan dengan cara dijemur hingga warnanya berubah dari hijau menjadi cokelat tua.

Bahan baku yang telah dikeringkan itu kemudian direbus selama dua jam, kemudian diperas. Bagian batang dan daunnya dibuang. Larutan yang sudah bersih dari campuran batang dan daun itu kemudian diberi campuran tepung dan direbus lagi selama satu jam. "Setelah mendidih, air cincau itu dituangkan dalam cetakan, yaitu blek. Kemudian, adonan didinginkan sampai akhirnya menjadi gel. Kalau cincau sudah dingin, baru dibawa ke pasar," kata Ipin, salah seorang pegawai di pabrik cincau.

Cincau yang sudah jadi bisa bertahan tiga hari. Lebih dari tiga hari, gel akan kembali mencair. Untuk menjaga kualitas produk, air yang digunakan dalam proses produksi harus bersih. Wadah untuk merebus pun harus higienis.

**

Di Tasikmalaya ada dua pabrik cincau hitam. Sopian dan Asep Wahyu adalah pemilik pabrik tersebut. Sopian memasarkan produksinya ke pasar-pasar di kawasan Tasikmalaya, seperti Pasar Pancasila, Pasar Indihiang, Pasar Cikurubuk, semuanya di Kota Tasikmalaya. Ia juga memasarkan ke pasar di Kab. Tasikmalaya seperti Pasar Cisayong, Pasar Singaparna, dan Pasar Manonjaya.

Sementara pabrik cincau milik Asep Wahyu di Jalan Ampera, memasok ke Kota Ciamis, Kota Banjar, sampai ke Kuningan. Proses produksi di pabrik Asep Wahyu yang lokasinya juga di Jln. Ampera, juga meningkat tajam pada bulan Puasa ini, dibandingkan dengan hari biasanya.

Asep bahkan memasok cincau ke daerah Purwokerto dan Cilacap, Jawa Tengah. "Memang permintaan cincau cukup tinggi selama bulan Puasa. Ini berkah Puasa," kata Asep Wahyu.

Proses penjualan dilakukan dua cara. Pertama, pemilik pabrik mengirim ke pasar atau daerah yang selama ini menjadi sasaran pemasaran. Cara kedua, pedagang datang sendiri ke pabrik untuk membawa cincaunya. Biasanya mereka yang datang langsung ke pabrik dengan harapan bisa mendapatkan cincau sesuai kebutuhan.

Eman, pedagang cincau di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, setiap harinya menjual empat puluh blek cincau. Dari satu blek tersebut, Eman memotong-motongnya menjadi dua puluh bagian. Setiap potongan dijual Rp 2.000. Biasanya, cincau ini digunakan untuk tambahan dalam es campur atau es sirup. Selain itu, ada juga yang membeli cincau untuk dipasarkan lagi di supermarket. Dia bersyukur selama puasa ini bisa merasakan berkah penjualan cincau yang cukup tinggi.

Penjual cincau lainnya, Oni, asal Singaparna Kab. Tasikmalaya, setiap hari menjual 20 sampai 40 blek cincau. Cincau sebanyak itu dia bagi dengan pedagang eceran lainnya. Oni juga merasakan penjualan cincau selama puasa cukup menjanjikan karena tingginya permintaan.

Mengonsumsi cincau bukan sekadar menghilangkan dahaga selepas berpuasa seharian. Berdasarkan penelusuran data, cincau sangat kaya mineral, terutama kalsium dan fosfor. Cincau juga baik dikonsumsi bagi orang yang sedang menjalani diet karena rendah kalori, tetapi tinggi serat. Cincau dipercaya mampu meredakan panas dalam, sembelit, perut kembung, demam, dan diare. Sementara serat bermanfat untuk membersihkan organ pencernaan dari zat karsinogen penyebab kanker.

Saat ini manfaat cincau terhadap kanker sedang menjadi perhatian para peneliti. Cincau hijau dipastikan mengandung klorofil, zat yang memberi warna hijau pada daun. Banyak literatur menyebutkan klorofil sebagai zat antioksidan, antiperadangan, dan antikanker. Masih banyak penelitian dilakukan atas khasiat cincau ini, baik cincau hitam maupun hijau. (Undang Sudrajat/"PR")***


Warisan Abah Enjum

Cincau adalah salah satu sajian yang banyak dihidangkan untuk berbuka puasa. Sajian cincau sungguh menyegarkan, apalagi kalau ditambahkan es campur atau dilengkapi dengan buah-buahan.

Kata cincau berasal dari dialek Hokkian sienchau (xiancao) yang lazim dilafalkan di kalangan Tionghoa di Asia Tenggara. Dalam bahasa asalnya, cincau sebenarnya adalah nama tumbuhan yang menjadi bahan pembuatan gel ini.

Di tengah masyarakat kita, ada dua jenis cincau. Pertama, cincau warna hitam atau janggelan. Kedua cincau berwarna hijau yang banyak diproduksi oleh penjual es cincau keliling.

Di Tasikmalaya, orang yang pertama merintis untuk membuat cincau hitam adalah almarhum Enjum. Abah Enjum, begitu ia biasa dipanggil, membuat cincau sejak 1969. Awalnya, dia bekerja sebagai pembuat cincau di Kota Bandung. Setelah lama bekerja sebagai tukang, lalu kembali ke kampung halamannya di Tasikmalaya.

Di Tasikmalaya, dia mulai mencoba membuat cincau sendiri. Cincau hasil uji cobanya itu diberikan gratis kepada para penjual sirop, yang ada di Kota Tasikmalaya. "Waktu itu, seingat saya tiga kali Abah memberikan cincau gratis kepada penjual cincau, sekalian perkenalan. Setelah mendapatkan respons yang bagus, cincau itu dijual Abah kepada penjual sirop," ujar Asep Wahyu, cucu almarhum.

Memasuki 1970, Abah Enjum mulai memproduksi cincau dalam jumlah banyak karena akan ada yang menjualnya di pasar tradisional. Di antara pedagang pertama yang menjajaki penjualan cincau di pasar yaitu Hj. Iyay Carmini.

"Pada waktu itu, Bu Hajah Iyay masih gadis. Dia meminta cincau buatan abah untuk dijual di pasar. Abah mengabulkan permintaan itu, sehingga produksi pun bertambah karena tidak hanya dijual kepada penjual sirop," katanya.

Hj. Iyay membenarkan, dia adalah pedagang pertama yang berjualan cincau di pasar. Pada waktu itu, orang masih bertanya-tanya apa itu cincau hitam. Setelah pembeli tahu soal cincau hitam, cincau yang terjual bertambah banyak.

Beberapa tahun kemudian, kata Asep, pedagang yang menjual cincau di pasar bertambah banyak. Termasuk, Ny. Yayah, ibunya Asep Wahyu, yang berjualan di Pasar Kidul, Kota Tasikmalaya.

Dari Abah Enjum, usaha itu kemudian diturunkan kepada putrinya Ny. Yayah. Setelah itu, usaha dilanjutkan oleh cucunya Asep Wahyu. Dengan demikian, Asep merupakan generasi ke tiga pembuat cincau hitam di Tasikmalaya. Pemasarannya kini selain di Tasikmalaya juga ke Ciamis, Banjar, hingga Kuningan.

"Saya ikut membuat cincau sejak 1971, ketika masih sekolah. Saya bersyukur usaha ini masih bertahan sampai sekarang. Apalagi, saat puasa sekarang pesanan bertambah banyak," ujarnya.

**

Adapun Sopian melanjutkan usaha mertuanya H. Muslimin Komar. Muslimin merintis usaha pembuatan cincau tahun 1972. Pada awalnya, Muslimin belajar dari warga Bogor. Dia butuh beberapa kali uji coba untuk bisa menjual cincau. "Saya beberapa kali gagal membuat cincau. Waktu itu, satu drum air cincau dibuang, karena gagal terus," katanya.

Memasuki 1976, usahanya mulai menampakkan hasil. Dari beberapa kali uji coba itu, ia berhasil membuat cincau dengan kualitas yang bagus. Sejak itu, Muslimin ikut memasok cincau ke beberapa pasar.

Pada 1999, usahanya diteruskan oleh Sopian. Bahan baku yang digunakan waktu itu berasal dari Bogor. Belakangan Sopian mencari bahan baku ke daerah Magetan, Jawa Timur. Pada waktu itu, harga satu kilogram bahan cincau atau janggelan, Rp 3.000/kg.

Sopian tinggal menelefon bandar cincau di Jawa Timur, untuk memesan janggelan guna dikirimkan ke Tasikmalaya. Pernah juga Sopian dan Muslimin membeli langsung bahan itu ke Magetan, lalu barangnya dibawa dengan menggunakan kereta. Namun, cara itu kurang praktis.

Pada 2006, harga bahan cincau ini pernah melonjak sangat tinggi, dari Rp 3.000 menjadi Rp 15.000. Bahkan, sudah mahal bahan bakunya sulit diperoleh.

Langkanya janggelan, kata Sopian, ternyata karena bahan itu diekspor ke Jepang, Korea, dan Taiwan. Di negera-negara itu, cincau diproduksi menjadi ekstrak bubuk siap pakai, untuk membuat jeli cincau sendiri di rumah. Namun, ada pula yang dikemas dalam kaleng, siap ditambahkan dalam minuman untuk menjadi dessert segar.

"Karena kekurangan bahan baku, Jepang dan Taiwan mengimpornya dari Magetan. Akibatnya, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri, seperti kami di Tasikmalaya kekurangan," ujarnya.

Sopian juga pernah mengambil janggelan dari Purbalingga, Jawa Tengah. Pada waktu itu, harganya Rp 8.000/kg. Namun, setelah dicoba ternyata kualitasnya rendah, sehingga gagal ketika diolah. Makanya, Sopian berusaha mencari barang tersebut ke daerah Jatim hingga ke Ponorogo.

Kini, pasokan sudah kembali normal. Hanya saja harganya masih tetap tinggi, terutama menjelang puasa. Bahkan, untuk kualitas super harganya menembus Rp 22.000/kg. (Undang Sudrajat/"PR")***

Mau Tahu Kisah Anggota Marinir AS dalam Menjalankan Ramadhan?

Ahad, 29 Agustus 2010, 07:58 WIB

AP

Anggota militer AS yang beragama Islam tetap beraktifitas seperti biasa pada saat bulan Ramadhan.


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Islam adalah agama yang paling pesat pertumbuhannya di Amerika Serikat (AS). CAIR atau Dewan Hubungan Islam-Amerika, organisasi Islam paling besar yang mengakomodasi kepentingan Muslim di AS mengeluarkan data terbaru pada tahun ini, yang menyebutkan jumlah penduduk Muslim di AS diperkirakan sekitar tujuh juta orang.

Departemen Pertahanan AS memperkirakan, sekitar 0,3 persen di antaranya menjadi anggota aktif militer AS. Keharusan menjaga kesehatan yang prima membuat anggota militer memiliki jadwal aktivitas fisik.

Ingin tahu seperti apa aktivitas fisik itu? Seorang anggota militer AS, Muhammad Eko Sukarno, mencoba mengemukakan latihan fisik yang biasa dijalaninya sewaktu menjadi anggota Marinir AS.

“Di Marine, kami ada latihan fisik tiga kali seminggu. Senin, Rabu, Jumat. Kalau yang hari Jumat itu, batalion, seluruhnya lari bareng, sekitar 3-5 mil (4,8-8 kilometer). Setiap enam bulan sekali ada physical test, jadi kalau tidak latihan, rugi sendiri, nanti tidak lulus,” jelas Eko.

Karena itulah, biasanya anggota militer tidak menghadapi masalah saat menjalani puasa Ramadhan. Mereka melanjutkan latihan fisik mereka seperti biasanya. Eko, yang kini menjadi anggota California Air National Guard, memiliki kiat mempersiapkan fisiknya menghadapi Ramadhan. Sebulan sebelum Ramadhan, ia sudah mulai berpuasa Senin-Kamis sambil ikut menjalani latihan fisik bersama para anggota lain.

Meski demikian, pada musim panas, terutama sewaktu suhu panas menyengat, anggota Muslim bisa meminta dispensasi dari atasannya agar dapat mengurangi sedikit kegiatan fisiknya atau membatasi waktu kegiatan di luar ruangan.

Terik matahari dan latihan fisik merupakan tantangan rutin yang harus dihadapi anggota militer, sehingga bukan halangan bagi anggota militer Muslim untuk tetap berpuasa.

''Kebanyakan yang mengerti Islam, biasanya mengadakan latihan fisiknya sore-sore, biasanya kan lari pagi. Kalau kita minta dispensasi untuk lari sore, biasanya dikasih, sebelum buka,'' ungkap Eko.

Eko mengakui bahwa belum banyak anggota militer non-Muslim yang mengetahui soal puasa. Tetapi, mereka yang sudah mengetahui akan menghargai anggota Muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan, antara lain dengan tidak makan di depan anggota yang berpuasa.

Secara umum, pengetahuan mengenai agama Islam dan ibadah yang dikerjakan umatnya belum terlalu banyak diketahui.

Meski Departemen Pertahanan pernah mengeluarkan angka resmi mengenai Muslim yang berdinas militer aktif, banyak kalangan memperkirakan jumlahnya jauh lebih banyak, hingga tiga kali lipat dari jumlah tersebut. Ini ditengarai antara lain karena masih ada anggota yang belum bersikap terbuka mengenai agama yang dianutnya.

''Tergantung individunya. Terbuka atau tidak. Kalau saya kan terbuka sekali pada mereka, jadi saya tidak pernah menutupi kalau saya Islam. Misalnya waktu shalat,'' kata Eko. ''Saya pergi dan bilang akan shalat dulu. Jadi mereka tahu kegiatan saya sehari-hari. Nanti mau dekat-dekat puasa saya bilang saya mau puasa bulan ini. Jadi mereka tahu.''

Seperti umat Islam lainnya, anggota militer yang berpuasa juga meningkatkan ibadah semasa Ramadhan. Waktu rehat makan siang selama satu jam misalnya, dimanfaatkan untuk shalat, dilanjutkan dengan mengaji dan berdzikir. Pada akhir Ramadhan, mereka akan bersama-sama merayakannya dengan shalat Idul Fitri dan silaturahmi, baik dengan sesama anggota militer maupun masyarakat setempat di manapun mereka ditugaskan.

Red: Endro Yuwanto
Sumber: voanews.com

Ada Pintu Neraka di Uzbekistan

IST
Lubang api raksasa di Usbekistan yang biasa disebut "pintu neraka" sudah ada sejak 1975


Sabtu, 28 Agustus 2010 | 05:51 WIB

DAVAZ, KOMPAS.com — Pintu neraka sering dilukiskan dengan suasana api menyala yang sangat mengerikan panasnya. Kondisi seperti itulah yang terdapat di sebuah lubang api menganga di daratan Uzbekistan, Asia Tengah. Maka, lubang api itu pun disebut sebagai "pintu neraka".

Lubang api itu berukuran sekitar dua kali lapangan bola dengan kedalaman lebih dari 30 meter. Semula ukurannya tidak sebesar itu sejak pertama kali "pintu neraka" itu dijumpai manusia pada tahun 1975.

Awalnya ahli geologi menggali dengan alat berat untuk pengeboran gas alam. Anehnya, di lokasi itu ditemukan jurang besar di bawah tanah. Saking besarnya, semua peralatan untuk penggalian itu terperosok ke dalam.

Jurang itu dipenuhi dengan gas bumi yang beracun. Belum ada keterangan resmi Uni Soviet kala itu terkait berapa jumlah korban tewas akibat terkena gas beracun. Namun, para ahli segera menyingkir dan semua peralatan yang terperosok itu ditinggal pergi.

Untuk menghindari gas beracun yang telanjur terbuka ke langit bumi itu menyebar, para ahli memutuskan untuk membakarnya. Posisinya berada di dekat kota kecil bernama Davaz.

Praktis sejak 1975 lubang raksasa itu menyemburkan api seperti gunung berapi dan masih tetap menyala hingga kini walau sudah 35 tahun berlalu. Masyarakat sekitar tak ada yang berani mendekat karena pengaruh medan panas hingga beberapa ratus meter sehingga dinamakan "pintu neraka".

Sampai sekarang belum ada penjelasan apakah "pintu neraka" itu ukurannya melebar atau stabil karena gas yang keluar dari perut bumi itu langsung terbakar. Walau terkena hujan pun, apinya tidak mati.

Lubang api raksasa itu kelihatan dari kejauhan karena berada di daratan tandus yang luas. Bila malam, tampak semakin jelas dengan sorotan cahaya kekuningan yang bersumber dari "pintu neraka" itu.

Mirip dengan lumpur Lapindo, yang terus mengeluarkan lumpur panas gara-gara pengeboran yang dinilai gagal sehingga menyembur ke permukaan bumi. Hingga kini juga belum ada ahli geologi yang mampu menghentikan semburan lumpur panas Lapindo. Yang bisa dilakukan hanya membatasi agar area efek lumpur panas itu tidak terus melebar.

Editor: Egidius Patnistik | Sumber : Tribunnews.com

Sabtu, 28 Agustus 2010

Pantai Tanjung Pakis

Padukan Wisata Alam dan Kuliner

DERETAN pohon cemara menghiasi Pantai Tanjung Pakis di Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Tanjung Jaya, Kabupaten Karawang. Pantai Tanjung Pakis tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi kulinernya pun cukup "kajojo" di mata para wisatawan.* SYAMSUL BACHRI/"PR"



Langit pagi Pantai Tanjung Pakis begitu cerah. Biru dihiasi awan putih berarak. Burung-burung laut pun dengan anggunnya melayang-layang di angkasa biru, seperti sedang menikmati hangatnya belaian sang mentari.

Bak lukisan alam, pagi itu pesisir Pantai Tanjung Pakis begitu indah dan hangat. Pohon-pohon cemara yang berderet rapih di sepanjang pesisir pantai, tampak hijau dan asri. Sesekali, seperti seorang penari, cemara-cemara itu bergoyang-goyang diterpa embusan angin laut.

Jalur pendestrian sepanjang pesisir pantai, yang diapit deretan warung makanan dan pohon-pohon cemara, begitu tertata apik. Pasir pantai yang terhampar luas dan lumayan bersih, sesekali diterjang gulungan ombak yang saling berkejaran. Begitu indah dan damai.

Sentuhan profesional

Pantai Indah Tanjung Pakis ini, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi daerah tujuan wisata yang bisa diandalkan. Betapa tidak, potensi alamnya layak jual, akses jalan dari kota terdekat Karawang sudah terhubung, dan faktor pendukung lainnya sudah ada. Tinggal menunggu apa lagi?

Kalau tidak secepatnya melakukan perubahan dan terobosan baru, Pantai Tanjung Pakis selamanya tak akan menjadi daerah tujuan wisata. Selamanya akan diam statis. Ngeuyembeu, kata orang Sunda.

Akses jalan menuju pantai harus segera diperbaiki. Ini sangat penting, sebab mana ada wisatawan yang mau tersiksa di perjalanan. Jangan sampai ada pengunjung yang mengurungkan niatnya berwisata karena jalan jelek. Atau, kapok datang lagi.

Fasilitas parkir pun harus diperhitungkan, baik itu untuk kendaraan roda dua maupun empat. Apalagi, jika ada pengunjung yang menggunakan bus besar atau truk. Jika tak diantisipasi dengan baik, permasalahan parkir bisa menjadi bumerang bagi Pantai Tanjung Pakis sendiri.

Dan, karena Tanjung Pakis merupakan wisata pantai, maka tempat mandi dan bilas harus benar-benar diperhatikan.

Sarana pendukung lainnya relatif cukup. Menurut Emi Tarman, istri pengelola objek wisata Pantai Tanjung Pakis, sudah ada 4 penginapan dan sekitar 170 warung makanan dan minuman yang beroperasi di Pantai Tanjung Pakis. "Warung-warung ini sudah tertata rapi dan bersih. Dan, keindahan pemandangan pantai tidak terganggu," katanya.

Selain penginapan dan warung makanan, di Pantai Tanjung Pakis pun Anda bisa menikmati aneka permainan, seperti speed boat, ATV, voli pantai, sepak bola pantai, berenang, panggung hiburan, dan kawasan agrowisata.

Penghijauan sepanjang pesisir pantai harus terus digalakan. Selain untuk lebih memperindah pantai, juga sebagai sarana untuk berteduh para pengunjung dan benteng penahan abrasi laut.

Jika pembenahan di berbagai sektor terus dilakukan, insya Allah Pantai Tanjung Pakis akan menjadi objek wisata pantai kebanggaan Kabupaten Karawang khususnya, dan Jawa Barat umumnya.

Pantai Tanjung Pakis ini berada di Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Tanjung Jaya, Kabupaten Karawang. Lokasinya lumayan jauh dari Kota Karawang, sekitar 80 km. Dari Kecamatan Rengasdengklok sekitar 50 km. Dari kompleks candi purbakala (Candi Jiwa, Candi Blandongan, Candi Serut, Candi Sumur, dan 20 candi lainnya), masih harus menempuh perjalanan sekitar 30 km. Kondisi jalan lumayan beraspal, sebagian lagi berupa jalan beton.

Bandeng bakar

Ternyata, Pantai Tanjung Pakis tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, kulinernya pun cukup kajojo di mata para wisatawan. Bandeng Bakar bumbu sambel kecap, yang khas dari Pantai Tanjung Pakis. Menu khas andalan objek wisata Pantai Tanjung Pakis ini, menurut Heri, pemilik warung sekaligus penjual bandeng bakar, harganya relatif terjangkau. Hanya Rp 25.000 per ekor ukuran besar. "Seharga itu, sudah siap santap plus dengan sajian nasi putihnya," katanya.

Bandeng bakar ini banyak sekali penikmatnya. Apalagi pas liburan atau Lebaran, pengunjung dari luar Karawang, banyak yang berburu kuliner khas Tanjung Pakis ini. "Kalau pas liburan atau Lebaran, kami selalu kewalahan melayani para penikmat Bandeng Bakar ini," katanya.

Berkah dari menu Bandeng Bakar ini membawa keberuntungan sendiri bagi Heri dan keluarganya. Jika libur Lebaran tiba, rata-rata per hari, Heri mampu meraup omzet sekitar Rp 500.000. "Lumayan Pak, mungkin berkah Lebaran," katanya. (Syamsul Bachri-PDR/"Pikiran Rakyat" )***


Melon Asin dari Tanjung Pakis

Anda pernah merasakan melon rasa asin manis? Jika belum, tengoklah kawasan agrowisata melon dan semangka yang lokasinya tak jauh dari Pantai Tanjung Pakis, Karawang. Sekitar 200 meteran dari bibir pantai.

Kawasan agrowisata ini memang agak unik. Lokasinya saja di bibir pantai. Yang ditanamnya melon yang dagingnya berwarna oranye dan semangka merah tanpa biji. Luas kawasan agrowisatanya lumayan luas, sekitar 2 hektare, tetapi yang sudah diberdayakan baru sekitar setengah hektare.

Selain itu, konsep penjualannya mirip-mirip dengan sistem penjualan stroberi di Ciwidey dan Lembang, yaitu petik sendiri. Bayangkan memetik melon dan semangka sendiri. Besar-besar dan lumayan berat lagi buahnya.

Nah, yang agak unik dari agrowisata Tanjung Pakis ini, melon oranyenya memiliki rasa yang agak unik, manis tetapi rasa asinnya cukup dominan. Padahal, menurut Suyitno (42), pengelola agrowisata Tanjung Pakis, tanaman buah melon oranye ini selalu disiram memakai air tawar, yang sengaja diambil dari luar desa. "Karena rasa melonnya yang agak unik ini, agrowisatanya ini banyak dikunjungi para wisatawan yang sedang berlibur di Pantai Tanjung Pakis. Mereka memetik sendiri melonnya. Ada yang memetik melon untuk dimakan di tempat, dan tidak sedikit pula yang membawanya pulang sebagai oleh-oleh," tutur Suyitno.

Masalah harga relatif terjangkau. Untuk melon oranye dipatok seharga Rp 8.000/kg dan semangka merah tanpa biji Rp 4.000/kg. "Berat buahnya bervariasi, paling besar mencapai 4 kg/buah dan paling kecil 1,7 kg/buah," katanya.

Berminat mencicipi sensasi melon rasa asin? Kalau ada waktu, cobalah berwisata ke Pantai Tanjung Pakis. Wisata alam dan kuliner ini bisa memberi sensasi tersendiri. (Syamsul Bachri-PDR/"Pikiran Rakyat")***

Kertas Koran Elektronik LG Mulai Diproduksi Massal

Jumat, 27 Agustus 2010 | 21:47 WIB

AVING NEWS NETWORK

JAKARTA, KOMPAS.com — Bentuknya layaknya lembaran kertas koran. Namun, tulisan dan gambar yang ditampilkannya bukan cetakan statis. Tulisan dan gambar di lembaran tersebut bisa berubah-ubah layaknya layar ponsel atau komputer.

Inilah salah satu teknologi yang mungkin menjadi masa depan koran di era digital saat ini. Dengan format lembaran yang fleksibel, pembaca tetap dapat menikmati kebiasaan membaca koran yang santai, tetapi dalam format digital yang sesuai tuntutan zaman.

Prototipe lembaran kertas koran elektronik rancangan perusahaan elektronika raksasa Korea Selatan, LG Electronics, kini sudah mulai diproduksi. Kabar terakhir yang dilansir PC World, Kamis (26/8/2010), menyebutkan bahwa LG berencana memproduksi secara massal kertas elektronik berwarna berukuran 9,7 inci dan 19 inci.

Seperti dilansir blog teknologi Engadget, pada Januari lalu, LG pernah memamerkan prototipe kertas elektronik buatannya, tetapi baru menampilkan tulisan dan gambar hitam dan putih saja. Bisa jadi, barang yang akan diproduksi massal adalah pengembangan dari prototipe tersebut.

Namun, tak disebutkan apakah kertas elektronik tersebut akan diproduksi untuk kebutuhan perangkat seperti apa. Selain untuk koran gaya baru dengan tombol navigasi, kertas elektronik juga potensial digunakan sebagai layar sentuh fleksibel untuk papan informasi umum atau kebutuhan lainnya.


Editor: Tri Wahono | Sumber : PCWorld

Prasasti Geger Hanjuang

MASJID Agung Manonjaya di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, didirikan tahun 1837. Masjid itu merupakan salah satu saksi terbentuknya Kabupaten Tasikmalaya dan perpindahan Ibu Kota Kab. Sukapura ke Manonjaya.* DOK./"PR"


Sumber informasi budaya yang sangat penting dalam rangka perwujudan kesatuan budaya nasional di Jawa Barat adalah naskah dan prasasti. Naskah Sunda dan prasasti yang mengungkap keterangan tentang adanya kabuyutan yang berkaitan dengan keberadaan Galunggung yang identik dengan Kabupaten Tasikmalaya masa kini adalah Naskah Amanat Galunggung dan Carita Parahiyangan, serta Prasasti Geger Hanjuang.

Esensi Naskah Amanat Galunggung berisi tentang ajaran hidup yang diwujudkan dalam bentuk nasihat yang dituturkan oleh Rakeyan Darmasiksa kepada putranya, Sang Lumahing Taman, beserta cucu, cicit, dan keturunannya yang umumnya bagi masyarakat luas. Menurut salah satu karya Pangeran Wangsakerta, Rakeyan Darmasiksa adalah Raja Sunda yang memerintah 1175-1297 Masehi, mula-mula berkedudukan di Saunggalah yang lokasinya termasuk daerah Galunggung, kemudian pindah ke Pakuan. Berdasarkan hal ini pula, Danasasmita memberi judul Amanat Galunggung.

Naskah Amanat Galunggung berkelindan erat dengan Prasasti Geger Hanjuang karena isinya ada kesesuaian berkenaan dengan pembuatan parit (pertahanan) Rumantak pada masa pemerintahan Batari Hyang yang bertakhta di Galunggung. Terjemahan teksnya, "Semoga selamat. Inilah permulaan tanda peringatan Rahiyang Banga, ketika Ia membuat parit (pertahanan) Pakuan, bernama Rahiyangta Wuwus, maka ia berputra Maharaja Dewata, Maharaja Dewata berputra Baduga Sanghiyang, Baduga Sanghiyang berputra Prabu Sanghiyang, Prabu Sanghiyang berputra Sang Lumahing Rana, Sang Lumahing Rana berputra..."

Prasasti Geger Hanjuang kini tersimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor koleksi D-26, berukuran tinggi 80 sentimeter dan lebarnya 60 sentimeter.

Prasasti Geger Hanjuang isinya ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda buhun (Bandingkan Sunardjo, dkk., 1978) yang cukup terang untuk dibaca, terdiri atas tiga baris yang bacaannya sebagai berikut:

tra ba i gunna apuy na-

sta gomati sakakala rumata-

k disusu (k) ku batari hyang pun

Tafsirannya, pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (selesai) disusuk oleh Batari Hyang.

Edisi lain:
Bah o gunna,
apuy le,
Dya wwang a bu ti saka kala ru? Mata
k di yu yu ku batari hyang pun.

Pada baris pertama, Bah mungkin singkatan dari Brahma. O mengingatkan kepada ong (om); guna (guna) berarti tiga (3), apuy 3 mungkin berhubungan dengan ajaran Ketuhanan Hindu (Triguna). Dijelaskan, nilai guna dalam candrasangkala bukanlah pengganti untuk bilangan 3. Maka dalam guna 3 apuy 3, dibaca 1 maka menjadi 1333. Holle yang pertama membaca prasasti itu tidak menjelaskan perkataan mana dalam prasasti itu yang dimaksudkannya sebagai angka 1 dan angka 3 sebuah lagi. Adapun mengenai baris kedua, beliau menyebutkan, baris tersebut "kurang jelas".

Perhitungan pemilihan momen sejarah yang dijadikan sebagai pangkal tolak Hari Jadi Tasikmalaya, juga ditempuh melalui beberapa proses berdasarkan penilaian objektif dan kenyataan sejarah. Enam faktor penting momen tersebut adalah Galunggung menurut prasasti Geger Hanjuang, periode pemerintahan di Sukakerta, berdirinya Sukapura beserta perkembangannya, perpindahan Ibu Kota Kab. Sukapura ke Manonjaya; perpindahan Ibu Kota Kab. Sukapura dari Manonjaya ke Tasikmalaya, yang diikuti perubahan nama Kab. Sukapura menjadi Kab. Tasikmalaya, serta Tasikmalaya dalam tatanan Republik Indonesia. Prasasti beserta beraneka ragam patilasan berupa lingga dan benda purbakala lain di Tasikmalaya, bisa dijadikan pendukung kuatnya kedudukan Kabuyutan Galunggung dalam penentuan Hari Jadi Tasikmalaya.

Momen pertama yang merunut serta dikuatkan berdasarkan isi teks Prasasti Geger Hanjuang di Linggawangi sebagai pernyataan adanya pemerintahan Galunggung pada tanggal 13 bulan Bhadrapada tahun 1033 Saka. Jika dihitung berdasarkan sistem Tarikh Hijriah, tanggal 1 bulan Bhadrapada tahun 1033 Saka jatuh pada 1 Safar 505 Hijriah, bertepatan dengan 9 Agustus 1111 Masehi. Dengan demikian, tanggal 13 Bhadrapada sama dengan 13 Safar tahun 505 Hijriah atau bertepatan dengan 21 Agustus 1111 Masehi.

Berdasarkan itu, ternyata Prasasti Geger Hanjuang menempati kedudukan tertinggi dari momen lainnya. Dengan demikian, momen pertama itulah yang paling tepat dan dijadikan sebagai tonggak penetapan Hari Jadi Tasikmalaya. Pada periode tersebut, di Tasikmalaya telah berdiri pusat pemerintahan.

Konstelasi dari tonggak penetapan Hari Jadi Tasikmalaya adalah Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat pada 21 Agustus 1111 Masehi, sebagai tanda upacara pentasbihan Batari Hyang sebagai penguasa dan bertakhta di Galunggung. Prasasti Geger Hanjuang membuktikan, cerita rakyat/sastra lisan yang tersebar di sekitar Galunggung yang hampir punah, benar-benar terbukti dan ada. Kerajaan Galunggung yang semula berbentuk kebataraan diperintah wanita berjiwa prajurit yang cerdas, tangkas, cekatan, dan "nyantri". Ia sebanding dengan Prabu Wastu Kancana di Galuh dan Prabu Sri Baduga Maharaja di Raja di Pakuan Pajajaran. Tidak berlebihan jika ia layak digelari Siliwangi (ratu yang harum namanya) seperti raja-raja lain yang mampu "menyejahterakan rakyat banyak" yang bergelar Prabu Siliwangi.

Jika kita telisik lebih jauh, perpindahan pemerintahan Kab. Tasikmalaya pada Sabtu, 7 Agustus 2010 dari pusat Kota Tasikmalaya ke daerah Singaparna (dekat patilasan K.H. Zaenal Mustopa) dapat dianggap sebagai kepulangan kembali pemerintahan Kab. Tasikmalaya ke daerah Galunggung. Semoga perpindahan ini membawa berkah, keselamatan, kemakmuran, serta kesejahteraan bagi masyarakat Tasikmalaya. Sebagai pituin Tasikmalaya, tidak lupa penulis mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-899 Tasikmalaya pada 21 Agustus 2010. Semoga masyarakat Tasikmalaya yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, répéh rapih tata tengtrem kerta raharja segera terwujud. Amin. (Elis Suryani N.S., dosen dan peneliti Unpad)***

***

Menghitung Hari Jadi Tasikmalaya

Penetapan Hari Jadi Tasikmalaya, tepatnya tanggal 21 Agustus 1111 Masehi, bukan tanpa alasan dan serta merta diterima secara otomatis. Namun, hal ini atas dasar peninjauan, penilaian, dan pertimbangan, baik dari segi psikologis maupun segi historis dan ilmiah yang melibatkan beragam data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya secara autentik. Hal itu diperkuat melalui naskah Amanat Galunggung, Carita Parahiyangan, dan Prasasti Geger Hanjuang yang menyatakan adanya pemerintahan Galunggung pada tanggal 13 bulan Bhadrapada tahun 1033 Saka. Pertanyaan yang mungkin muncul bagi kita sebagai orang awam, bagaimana caranya para ahli menghitung dan menetapkannya?

Ilmu perhitungan waktu sebagai ilmu bantu sejarah merupakan hal yang sangat penting bagi sejarah. Ilmu perhitungan waktu (kronologi) terbagi tiga: ilmu perhitungan waktu sejarah yang bertujuan mendapatkan bahan-bahan tentang waktu kejadian sejarah (kronografi), matematis menjabarkan kaidah-kaidah ilmu perhitungan waktu teknik menjadi rumusan-rumusan ilmu pasti, dan teknik membicarakan teori-teori kalender. Melalui perhitungan waktu sejarah, diusahakan untuk memberikan tulang punggung pada sejarah dengan menentukan hubungan kejadian-kejadian berdasarkan waktu (Gazalba, 1966: 103).

Kita mengenal tiga perhitungan waktu, yaitu Masehi, Hijriah, dan Hindu (Saka). Tahun Masehi menamakan tahun tertentu dari hitungan waktu Roma sebagai tahun 532 hitungan Masehi. Tahun Hijriah dimulai tatkala Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, dan menurut tahun Masehi tahun 622. Perhitungan tahun Saka mulai digunakan sejak tahun 78 Masehi.

Berkaitan dengan penetapan Hari Jadi Tasikmalaya, Danasasmita (1973) menjelaskan hitungan waktu sejarah berdasarkan sistem tarikh Saka, Masehi, dan Hijriah. Tarikh Saka berdasarkan atas matahari. Awal perhitungannya sejalan dengan sistem tarikh di belahan bumi utara dengan pembagian empat musim. Awal tahun dihitung pada kedudukan matahari di khatulistiwa yang bertepatan dengan musim semi di bagian bumi sebelah utara. Jadi, mengambil awal perhitungan tanggal 23 Maret karena perhitungan tanggal berdasarkan atas sistem bulan tarikh Saka menjadi sistem kombinasi "matahari-bulan", seperti halnya sistem "Imlek" dalam tarikh Tionghoa.

Secara garis besar, perhitungan penanggalan terbagi dua bagian, yakni waktu bulan terang (suklapaksa) sejak awal bulan terbit waktu matahari terbenam hingga bulan purnama; dan bagian bulan gelap (kresnapaksa) dari bulan purnama hingga bulan tenggelam (tidak muncul waktu malam).

Berkenaan dengan penanggalan Prasasti Geger Hanjuang sebagaimana dikemukakan sebelumnya adalah Trayodasi Bhadrapada 1033 Saka. Andai dikombinasikan, dapat kita sebut tanggal 13 Bhadrapada pada tahun 1111 Masehi. Agar memudahkan perhitungan, dicari penyesuaian antara tanggal 1 Januari 1111 Masehi dan penanggalan Hijriah. Artinya, dihitung jumlah hari sejak 16 Juli 622 M (= 1 Muharam 1 H) hingga tanggal 30 Desember 1110 M.

Secara ringkas dapat dikemukakan, pada tanggal 31 Desember 1110 M tahun Hijriah 504 telah berjalan 165 hari yang meliputi: Muharam (30 hari); Safar (29 hari); Rabiul Awal (30 hari); Rabiul Akhir (29 hari); Jumadil Awal (30 hari); Jumadil Akhir (17 hari), jadi jumlah keseluruhannya meliputi 165 hari. Kesimpulan dari semua perhitungan itu adalah bahwa tanggal 31 Desember 1110 M =17 Jumadil Akhir 504 H. Jadi, 1 Januari 1111 M =18 Jumadil Akhir 504 H.

Penyelesaian selanjutnya diperoleh bahwa 18 Jumadil Akhir 504 H = 1 Januari 1111 M; 1 Rajab 504 H = 13 Januari 1111 M; 1 Saban 504 H = 12 Februari 1111 M.; 1 Ramadan 504 H = 13 Maret 1111 M = Caitra (1033 Saka); 1 Syawal 504 H = 12 April 1111 M Waisaka; 1 Zulqaidah 504 H = 11 Mei 1111 M Jyesta; 1 Zulhijah 504 H = 10 Juni 1111 M Asadha (kabisat); 1 Muharam 505 H = 10 Juli 1111 M Srawana; 1 Safar 505 H = 9 Agustus 1111 M Bhadrapada; dan 13 Safar 505 H = 21 Agustus 1111 M. Maka dari itu, tanggal 1 bulan Bhadrapada tahun 1033 Saka jatuh pada tanggal 1 Safar 505 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 1111 Masehi. Dengan demikian, tanggal 13 Bhadrapada = 13 Safar tahun 505 Hijriah bertepatan dengan tanggal 21 Agustus 1111 Masehi yang digunakan sebagai Hari Jadi Tasikmalaya, sesuai dengan teks yang tertulis dalam Prasasti Geger Hanjuang. (Elis Suryani, dosen, penulis, dan peneliti Unpad)***


Jumat, 27 Agustus 2010

Kongres Itu Bermula di Bandung

TAK banyak buku sejarah mengulas Kongres Pemuda Seluruh Jawa di Bandung pada pertengahan Mei 1945. Sudah pasti peristiwa ini kalah gaungnya dibandingkan dengan Sumpah Pemuda 17 tahun sebelumnya, dan kalah seru dibandingkan dengan penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus oleh pemuda, meski sama-sama terjadi dalam kerangka tuntutn pemuda atas percepatan Proklamasi Kemerdekaan. Meski demikian, tetaplah menarik menelusuri peristiwa tiga hari sejak 16 Mei tersebut.

Kongres di Bandung diprakarsai oleh Angkatan Moeda Indonesia (AMI). Organisasi ini bentukan Jepang pada pertengahan 1944, sebagai bagian dari upaya penjajah mengambil hati rakyat Indonesia. Namun, dalam perkembangannya, ideologi perjuangan AMI membelot, menginginkan kemerdekaan Indonesia. Kongres dihadiri tak kurang dari seratus utusan pemuda, pelajar, dan mahasiswa dari seluruh Jawa. Beberapa nama yang tercatat hadir di antaranya Djamal Ali, Chairul Saleh, Anwar Tjokroaminoto, dan Harsono Tjokroaminoto.

Tujuan kongres adalah mempersiapkan diri memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang bukan merupakan hadiah dari Jepang. Pada hari ketiga, diperoleh dua resolusi. Pertama, semua golongan Indonesia, terutama golongan pemuda, harus dipersatukan dan dibulatkan di bawah satu pimpinan nasional. Kedua, mendorong dipercepatnya pelaksanaan pernyataan kemerdekaan Indonesia.

Sejarawan Sobana Hardjasaputra mengaku tak heran bahwa kongres pemuda tersebut dilakukan di Bandung. Sejak lama, Bandung sudah kental dengan aroma perjuangan menuju kemerdekaan. Soekarno sendiri memulai karier politiknya semasa menjadi mahasiswa di Bandung dengan mendirikan partai dan menerbitkan surat kabar. Gelar `Singa Panggung`, karena kepiawaiannya berpidato, diperolehnya di kota kembang ini.

Meski kedua revolusi Kongres Bandung terkesan revolusioner, pada praktiknya semua berjalan lembek. Kongres tak bisa menolak sama sekali kerja sama erat dengan Jepang dalam mencapai kemerdekaan. Hal ini yang membuat sebagian pemuda kecewa. Di antara mereka ada utusan-utusan dari Jakarta yang dipimpin Sukarni, Harsono Tjokroaminoto, dan Chairul Saleh. Mereka menginginkan gerakan yang lebih radikal.

Satu pertemuan rahasia pun dilangsungkan di Jakarta pada 3 Juni 1945. Ketika itu, terbentuklah panitia khusus yang diketuai oleh B.M. Diah, dengan anggotanya Sukarni, Sudiro, Sjarif Thajeb, Harsono Tjokroaminoto, Wikana, Chairul Saleh, P. Gultom, Supeno, dan Asmara Hadi. Pertemuan serupa diadakan pada 15 Juni 1945 dan menyepakati pembentukan Gerakan Angkatan Baroe Indonesia (GABI). Tujuan dari gerakan itu menunjukkan sifatnya yang lebih radikal. Empat resolusi GABI adalah pencapaian persatuan di antara seluruh golongan masyarakat Indonesia, penanaman semangat revolusioner massa atas dasar kesadaran sebagai rakyat yang berdaulat, pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mempersatukan Indonesia bahu-membahu dengan Jepang. Akan tetapi jika perlu, gerakan itu mesti mencapai kemerdekaan dengan kekuatannya sendiri.

Sobana menilai, berbagai kegiatan yang dilakukan pemuda menunjukkan sifat khas pemuda dalam masa perjuangan kemerdekaan, yakni serba tergesa. Hal ini lantas memuncak pada penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. "Pemuda amat yakin dengan kekuatan bangsa untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Sebaliknya golongan tua, diwakili Soekarno, sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dia tidak mau jatuh korban yang besar di tengah rakyat kalau sampai terjadi perang fisik," ujarnya. (Ag. Tri Joko Her Riadi/"PR")***

Kisah "Peujeum Bol" dan Po An Tui

SEJARAH kemerdekaan Indonesia khususnya yang terjadi di Bandung, boleh dibilang belum banyak menguak momen-momen perjuangan penting lain. Seperti kisah "Peujeum Bol" (peuyeum bol) dan Po An Tui, tampaknya belum banyak diketahui oleh publik.

Julukan"Peujeum Bol" yang ditujukan bagi pemuda Bandung muncul setelah peristiwa perampasan senjata di Heetjansweg oleh tentara Jepang. Julukan yang bernada mengejek karena menyiratkan pemuda Bandung berjiwa lembek seperti peuyeum ini dikumandangkan melalui "Radio Pemberontak Surabaya". Radio tersebut sangat identik dengan keberadaan Bung Tomo sehingga pejuang Bandung menduga sebutan itu dinyatakan Bung Tomo.

Namun, setelah masa perjuangan memperebutkan kemerdekaan usai, Amir Machmud yang merupakan pejuang dari Bandung dan kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri RI, menanyakan dugaan tersebut kepada Bung Tomo. Rupanya, pembakar semangat arek-arek Surabaya itu membantah tegas.

Menurut Bung Tomo, pada saat itu ada pemuda Bandung yang kesal mendengar pemuda Bandung yang belum menyerbu sekutu. Lambatnya gerakan pejuang Bandung menyerbu tentara Inggris dibandingkan dengan pemuda Surabaya membuat kesal pejuang Bandung yang saat itu tinggal di Surabaya.

Pemuda tersebut lantas meminta izin kepada Bung Tomo untuk berbicara di corong radio. Dengan menggunakan bahasa Sunda, pemuda tersebut memberi semangat kepada pemuda Bandung dengan menyebutkan "Peujeum Bol". Orang-orang yang bekerja di stasiun radio tertawa mendengar kata-kata pemuda Bandung tersebut karena tidak mengerti dengan istilah-istilah yang digunakan pemuda itu.

Kisah Po An Tui

Kisah ini bisa dibilang merupakan akar kebencian etnis Cina dan pribumi di Indonesia yang sampai dengan saat ini sepertinya masih menyisakan sentimen-sentimen negatif antarkeduanya. Sebenarnya, kebencian itu merupakan hasil politik "devide et impera" Belanda yang diterapkan terhadap Indonesia pascakemerdekaan.

Belanda menggunakan strategi merangkul kelompok-kelompok yang cukup potensial untuk dijadikan antek-anteknya. Beberapa kelompok etnik, baik pribumi, Cina dan Timur asing lainnya dibujuk untuk bergabung dengan Belanda.

Sebagian masyarakat Cina yang loyal kepada Belanda dipersenjatai dan bergabung ke dalam pasukan Po An Tui. Belanda meneror pribumi dengan menggunakan pasukan Po An Tui, sehingga para pejuang membenci etnis Cina dan etnis Cina pun antipati terhadap para pejuang.

Po An Tui dimanfaatkan Belanda sebagai mata-mata untuk mengamati kegiatan para pejuang. Akibatnya gerak-gerik dan markas pejuang dapat diketahui. Setelah markas para pejuang diketahui, Belanda melakukan serangan gabungan dengan Inggris terhadap markas para pejuang.

Aksi Po An Tui itu tergolong kejam. Mereka aktif membantu NICA (Nederland Indische Civil Administration) menebar teror terhadap para pejuang, seperti pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan penjarahan. Teror itu bertujuan agar pribumi segera pindah ke Bandung Selatan dan tidak mendukung RI. Namun, sejarah rupanya berkata lain. (Amaliya/Sampaguita S./"PR")***