Senin, 30 Agustus 2010

Segarnya Usaha Cincau Hitam

Industri Rumahan

BEBERAPA hari sebelum memasuki bulan Puasa, kesibukan di tempat pembuatan cincau di Gang Dahlia 1 No. 52, Jalan Ampera, Kelurahan Panglayungan, Kota Tasikmalaya, mulai meningkat. Dari pagi hingga tengah malam proses produksi cincau hampir tidak berhenti. "Pesanan cincau memasuki bulan Puasa memang mengalami peningkatan sangat tajam," kata Sopian, pemilik pabrik cincau.

Jika pada hari biasa dia membuat sepuluh blek cincau, satu blek cincau beratnya 16 kilogram, saat menjelang hingga memasuki bulan Puasa, Sopian bisa memproduksi 150 blek cincau. Bahkan memasuki hari kedua puasa, pesanan sudah melebihi 200 blek. Akan tetapi, tidak semua pesanan terpenuhi karena kapasitas produksi pabriknya maksimal sehari semalam hanya mampu membuat 180 blek cincau. Satu blek cincau dijualnya seharga Rp 25.000 kepada pedagang di pasar.

Ada beberapa pesanan yang terpaksa ditolak karena sulit untuk memenuhinya. "Saya terpaksa memohon maaf karena tidak semua pesanan yang datang bisa terlayani. Kapasitas produksi memang terbatas," ujarnya.

Cincau yang dibuat Sopian adalah jenis cincau hitam. Bahan baku utamanya adalah tanaman yang di Jawa dikenal dengan nama janggelan (Mesona palustris BL). Tanaman janggelan merupakan tanaman perdu, tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 150-1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dulu Sopian membeli tanaman itu dari daerah Bogor, tepatnya dari kawasan Gunung Halang.

"Sekarang saya beli dari Magetan, Jawa Timur. Ada juga janggelan dari Purbalingga, Jawa Tengah. Akan tetapi, secara kualitas bahan cincau dari Magetan lebih bagus dibandingkan dengan produksi petani Purbalingga. Makanya, saya memilih membeli dari Magetan," katanya.

Bagian pohon janggelan yang dijadikan bahan baku cincau adalah batang dan daun. Bahan-bahan itu kemudian dikeringkan dengan cara dijemur hingga warnanya berubah dari hijau menjadi cokelat tua.

Bahan baku yang telah dikeringkan itu kemudian direbus selama dua jam, kemudian diperas. Bagian batang dan daunnya dibuang. Larutan yang sudah bersih dari campuran batang dan daun itu kemudian diberi campuran tepung dan direbus lagi selama satu jam. "Setelah mendidih, air cincau itu dituangkan dalam cetakan, yaitu blek. Kemudian, adonan didinginkan sampai akhirnya menjadi gel. Kalau cincau sudah dingin, baru dibawa ke pasar," kata Ipin, salah seorang pegawai di pabrik cincau.

Cincau yang sudah jadi bisa bertahan tiga hari. Lebih dari tiga hari, gel akan kembali mencair. Untuk menjaga kualitas produk, air yang digunakan dalam proses produksi harus bersih. Wadah untuk merebus pun harus higienis.

**

Di Tasikmalaya ada dua pabrik cincau hitam. Sopian dan Asep Wahyu adalah pemilik pabrik tersebut. Sopian memasarkan produksinya ke pasar-pasar di kawasan Tasikmalaya, seperti Pasar Pancasila, Pasar Indihiang, Pasar Cikurubuk, semuanya di Kota Tasikmalaya. Ia juga memasarkan ke pasar di Kab. Tasikmalaya seperti Pasar Cisayong, Pasar Singaparna, dan Pasar Manonjaya.

Sementara pabrik cincau milik Asep Wahyu di Jalan Ampera, memasok ke Kota Ciamis, Kota Banjar, sampai ke Kuningan. Proses produksi di pabrik Asep Wahyu yang lokasinya juga di Jln. Ampera, juga meningkat tajam pada bulan Puasa ini, dibandingkan dengan hari biasanya.

Asep bahkan memasok cincau ke daerah Purwokerto dan Cilacap, Jawa Tengah. "Memang permintaan cincau cukup tinggi selama bulan Puasa. Ini berkah Puasa," kata Asep Wahyu.

Proses penjualan dilakukan dua cara. Pertama, pemilik pabrik mengirim ke pasar atau daerah yang selama ini menjadi sasaran pemasaran. Cara kedua, pedagang datang sendiri ke pabrik untuk membawa cincaunya. Biasanya mereka yang datang langsung ke pabrik dengan harapan bisa mendapatkan cincau sesuai kebutuhan.

Eman, pedagang cincau di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, setiap harinya menjual empat puluh blek cincau. Dari satu blek tersebut, Eman memotong-motongnya menjadi dua puluh bagian. Setiap potongan dijual Rp 2.000. Biasanya, cincau ini digunakan untuk tambahan dalam es campur atau es sirup. Selain itu, ada juga yang membeli cincau untuk dipasarkan lagi di supermarket. Dia bersyukur selama puasa ini bisa merasakan berkah penjualan cincau yang cukup tinggi.

Penjual cincau lainnya, Oni, asal Singaparna Kab. Tasikmalaya, setiap hari menjual 20 sampai 40 blek cincau. Cincau sebanyak itu dia bagi dengan pedagang eceran lainnya. Oni juga merasakan penjualan cincau selama puasa cukup menjanjikan karena tingginya permintaan.

Mengonsumsi cincau bukan sekadar menghilangkan dahaga selepas berpuasa seharian. Berdasarkan penelusuran data, cincau sangat kaya mineral, terutama kalsium dan fosfor. Cincau juga baik dikonsumsi bagi orang yang sedang menjalani diet karena rendah kalori, tetapi tinggi serat. Cincau dipercaya mampu meredakan panas dalam, sembelit, perut kembung, demam, dan diare. Sementara serat bermanfat untuk membersihkan organ pencernaan dari zat karsinogen penyebab kanker.

Saat ini manfaat cincau terhadap kanker sedang menjadi perhatian para peneliti. Cincau hijau dipastikan mengandung klorofil, zat yang memberi warna hijau pada daun. Banyak literatur menyebutkan klorofil sebagai zat antioksidan, antiperadangan, dan antikanker. Masih banyak penelitian dilakukan atas khasiat cincau ini, baik cincau hitam maupun hijau. (Undang Sudrajat/"PR")***


Warisan Abah Enjum

Cincau adalah salah satu sajian yang banyak dihidangkan untuk berbuka puasa. Sajian cincau sungguh menyegarkan, apalagi kalau ditambahkan es campur atau dilengkapi dengan buah-buahan.

Kata cincau berasal dari dialek Hokkian sienchau (xiancao) yang lazim dilafalkan di kalangan Tionghoa di Asia Tenggara. Dalam bahasa asalnya, cincau sebenarnya adalah nama tumbuhan yang menjadi bahan pembuatan gel ini.

Di tengah masyarakat kita, ada dua jenis cincau. Pertama, cincau warna hitam atau janggelan. Kedua cincau berwarna hijau yang banyak diproduksi oleh penjual es cincau keliling.

Di Tasikmalaya, orang yang pertama merintis untuk membuat cincau hitam adalah almarhum Enjum. Abah Enjum, begitu ia biasa dipanggil, membuat cincau sejak 1969. Awalnya, dia bekerja sebagai pembuat cincau di Kota Bandung. Setelah lama bekerja sebagai tukang, lalu kembali ke kampung halamannya di Tasikmalaya.

Di Tasikmalaya, dia mulai mencoba membuat cincau sendiri. Cincau hasil uji cobanya itu diberikan gratis kepada para penjual sirop, yang ada di Kota Tasikmalaya. "Waktu itu, seingat saya tiga kali Abah memberikan cincau gratis kepada penjual cincau, sekalian perkenalan. Setelah mendapatkan respons yang bagus, cincau itu dijual Abah kepada penjual sirop," ujar Asep Wahyu, cucu almarhum.

Memasuki 1970, Abah Enjum mulai memproduksi cincau dalam jumlah banyak karena akan ada yang menjualnya di pasar tradisional. Di antara pedagang pertama yang menjajaki penjualan cincau di pasar yaitu Hj. Iyay Carmini.

"Pada waktu itu, Bu Hajah Iyay masih gadis. Dia meminta cincau buatan abah untuk dijual di pasar. Abah mengabulkan permintaan itu, sehingga produksi pun bertambah karena tidak hanya dijual kepada penjual sirop," katanya.

Hj. Iyay membenarkan, dia adalah pedagang pertama yang berjualan cincau di pasar. Pada waktu itu, orang masih bertanya-tanya apa itu cincau hitam. Setelah pembeli tahu soal cincau hitam, cincau yang terjual bertambah banyak.

Beberapa tahun kemudian, kata Asep, pedagang yang menjual cincau di pasar bertambah banyak. Termasuk, Ny. Yayah, ibunya Asep Wahyu, yang berjualan di Pasar Kidul, Kota Tasikmalaya.

Dari Abah Enjum, usaha itu kemudian diturunkan kepada putrinya Ny. Yayah. Setelah itu, usaha dilanjutkan oleh cucunya Asep Wahyu. Dengan demikian, Asep merupakan generasi ke tiga pembuat cincau hitam di Tasikmalaya. Pemasarannya kini selain di Tasikmalaya juga ke Ciamis, Banjar, hingga Kuningan.

"Saya ikut membuat cincau sejak 1971, ketika masih sekolah. Saya bersyukur usaha ini masih bertahan sampai sekarang. Apalagi, saat puasa sekarang pesanan bertambah banyak," ujarnya.

**

Adapun Sopian melanjutkan usaha mertuanya H. Muslimin Komar. Muslimin merintis usaha pembuatan cincau tahun 1972. Pada awalnya, Muslimin belajar dari warga Bogor. Dia butuh beberapa kali uji coba untuk bisa menjual cincau. "Saya beberapa kali gagal membuat cincau. Waktu itu, satu drum air cincau dibuang, karena gagal terus," katanya.

Memasuki 1976, usahanya mulai menampakkan hasil. Dari beberapa kali uji coba itu, ia berhasil membuat cincau dengan kualitas yang bagus. Sejak itu, Muslimin ikut memasok cincau ke beberapa pasar.

Pada 1999, usahanya diteruskan oleh Sopian. Bahan baku yang digunakan waktu itu berasal dari Bogor. Belakangan Sopian mencari bahan baku ke daerah Magetan, Jawa Timur. Pada waktu itu, harga satu kilogram bahan cincau atau janggelan, Rp 3.000/kg.

Sopian tinggal menelefon bandar cincau di Jawa Timur, untuk memesan janggelan guna dikirimkan ke Tasikmalaya. Pernah juga Sopian dan Muslimin membeli langsung bahan itu ke Magetan, lalu barangnya dibawa dengan menggunakan kereta. Namun, cara itu kurang praktis.

Pada 2006, harga bahan cincau ini pernah melonjak sangat tinggi, dari Rp 3.000 menjadi Rp 15.000. Bahkan, sudah mahal bahan bakunya sulit diperoleh.

Langkanya janggelan, kata Sopian, ternyata karena bahan itu diekspor ke Jepang, Korea, dan Taiwan. Di negera-negara itu, cincau diproduksi menjadi ekstrak bubuk siap pakai, untuk membuat jeli cincau sendiri di rumah. Namun, ada pula yang dikemas dalam kaleng, siap ditambahkan dalam minuman untuk menjadi dessert segar.

"Karena kekurangan bahan baku, Jepang dan Taiwan mengimpornya dari Magetan. Akibatnya, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri, seperti kami di Tasikmalaya kekurangan," ujarnya.

Sopian juga pernah mengambil janggelan dari Purbalingga, Jawa Tengah. Pada waktu itu, harganya Rp 8.000/kg. Namun, setelah dicoba ternyata kualitasnya rendah, sehingga gagal ketika diolah. Makanya, Sopian berusaha mencari barang tersebut ke daerah Jatim hingga ke Ponorogo.

Kini, pasokan sudah kembali normal. Hanya saja harganya masih tetap tinggi, terutama menjelang puasa. Bahkan, untuk kualitas super harganya menembus Rp 22.000/kg. (Undang Sudrajat/"PR")***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar