Jumat, 27 Agustus 2010

Kisah "Peujeum Bol" dan Po An Tui

SEJARAH kemerdekaan Indonesia khususnya yang terjadi di Bandung, boleh dibilang belum banyak menguak momen-momen perjuangan penting lain. Seperti kisah "Peujeum Bol" (peuyeum bol) dan Po An Tui, tampaknya belum banyak diketahui oleh publik.

Julukan"Peujeum Bol" yang ditujukan bagi pemuda Bandung muncul setelah peristiwa perampasan senjata di Heetjansweg oleh tentara Jepang. Julukan yang bernada mengejek karena menyiratkan pemuda Bandung berjiwa lembek seperti peuyeum ini dikumandangkan melalui "Radio Pemberontak Surabaya". Radio tersebut sangat identik dengan keberadaan Bung Tomo sehingga pejuang Bandung menduga sebutan itu dinyatakan Bung Tomo.

Namun, setelah masa perjuangan memperebutkan kemerdekaan usai, Amir Machmud yang merupakan pejuang dari Bandung dan kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri RI, menanyakan dugaan tersebut kepada Bung Tomo. Rupanya, pembakar semangat arek-arek Surabaya itu membantah tegas.

Menurut Bung Tomo, pada saat itu ada pemuda Bandung yang kesal mendengar pemuda Bandung yang belum menyerbu sekutu. Lambatnya gerakan pejuang Bandung menyerbu tentara Inggris dibandingkan dengan pemuda Surabaya membuat kesal pejuang Bandung yang saat itu tinggal di Surabaya.

Pemuda tersebut lantas meminta izin kepada Bung Tomo untuk berbicara di corong radio. Dengan menggunakan bahasa Sunda, pemuda tersebut memberi semangat kepada pemuda Bandung dengan menyebutkan "Peujeum Bol". Orang-orang yang bekerja di stasiun radio tertawa mendengar kata-kata pemuda Bandung tersebut karena tidak mengerti dengan istilah-istilah yang digunakan pemuda itu.

Kisah Po An Tui

Kisah ini bisa dibilang merupakan akar kebencian etnis Cina dan pribumi di Indonesia yang sampai dengan saat ini sepertinya masih menyisakan sentimen-sentimen negatif antarkeduanya. Sebenarnya, kebencian itu merupakan hasil politik "devide et impera" Belanda yang diterapkan terhadap Indonesia pascakemerdekaan.

Belanda menggunakan strategi merangkul kelompok-kelompok yang cukup potensial untuk dijadikan antek-anteknya. Beberapa kelompok etnik, baik pribumi, Cina dan Timur asing lainnya dibujuk untuk bergabung dengan Belanda.

Sebagian masyarakat Cina yang loyal kepada Belanda dipersenjatai dan bergabung ke dalam pasukan Po An Tui. Belanda meneror pribumi dengan menggunakan pasukan Po An Tui, sehingga para pejuang membenci etnis Cina dan etnis Cina pun antipati terhadap para pejuang.

Po An Tui dimanfaatkan Belanda sebagai mata-mata untuk mengamati kegiatan para pejuang. Akibatnya gerak-gerik dan markas pejuang dapat diketahui. Setelah markas para pejuang diketahui, Belanda melakukan serangan gabungan dengan Inggris terhadap markas para pejuang.

Aksi Po An Tui itu tergolong kejam. Mereka aktif membantu NICA (Nederland Indische Civil Administration) menebar teror terhadap para pejuang, seperti pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan penjarahan. Teror itu bertujuan agar pribumi segera pindah ke Bandung Selatan dan tidak mendukung RI. Namun, sejarah rupanya berkata lain. (Amaliya/Sampaguita S./"PR")***

2 komentar:

  1. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/17770

    BalasHapus
  2. Pao An Tui & fragmen sejarah

    BalasHapus