Rabu, 28 Desember 2011

Rujak Dodol, dari Hah sampai Huh Hahh

Senin, 21/11/2011 - 00:59



RIRIN NF/"PRLM"

PRLM -- Inovasi pada olahan dodol, makanan khas Garut yang legit nan manis, seolah tak pernah berhenti. Para pengrajin dodol terus menerus berkarya, demi memantapkan dodol sebagai makanan asli Kota Intan.

Rupa-rupa dodol Garut, diantaranya adalah dodol wijen, dodol nanas, dodol tomat, dodol durian, dodol coklat, dan masih banyak lagi jenis-jenisnya. Kini, dodol tak hanya hadir dalam rasa manis menggigit. Adalah PD Pusaka JS, menghadirkan rasa baru dodol, yaitu pedas.

Mulanya, Teti Maryati, pemilik usaha pembuatan dodol, menyimpan sisa buah-buahan yang sudah diolah menjadi rujak ke dalam lemari pendingin. "Sisa rujak dibikin jadi es saja enak, apalagi kalau dibuat dodol. Akhirnya, kita coba-coba untuk mengolah rujak menjadi dodol," katanya saat ditemui "PR" di Jln. Suci-Ahmad Yani No. 455 Desa Suci Kec. Karangpawitan Kab. Garut, Minggu (20/11).

Ide pembuatan dodol rasa pedas sudah ada di benak Teti sejak 2 tahun lalu. Namun, Teti baru mulai mencoba-coba sejak awal 2011 lalu.

Komposisi rujak dodol, diantaranya buah-buahan segar terdiri dari mangga kaweni, pepaya, nanas, ditambah kismis, bumbu rujak, sampai kacang oven. Adonan buah-buahan segar yang diparut halus, dimasak dalam wajan dodol sambil ditambah gula dan bumbu rujak serta potongan cabe merah. Jika sudah matang, dicampurkan kacang oven tumbuk kasar untuk menambah selera.

Sedikitnya butuh 3 kali percobaan bagi PD Pusaka JS untuk mendapatkan komposisi yang pas agar buah-buahan dalam rujak tidak jadi "mati rasa". "Tiap buah harus terasa, jangan sampai salah satunya lebih menonjol," ucap Teti.

Adonan rujak yang diolah jadi dodol dibungkus dengan plastik bening. Diakui Teti, dirinya masih mencari kemasan yang pas agar rujak dodol makin menarik. Bahkan, dia sudah mengurus hak paten produk rujak dodol agar tak dapat ditiru produsen dodol lain.

Kehadiran rujak dodol menambah varian dodol yang selalu dicari wisatawan sebagai buah tangan jika berkunjung ke Garut. Harga jual yang dipatok sekitar Rp 25.000/kg saja.

"Rasanya yang pedas dan segar dari buah-buahan menjadi pilihan dari rasa dodol yang tidak hanya manis saja, banyak yang suka," tutur Teti.

Dalam sehari, dia dapat mengolah adonan rujak dodol hingga 1 kuintal. Pemasaran dodol selain di lokal Garut, juga merambah ke sejumlah daerah seperti Bogor, Jakarta, sampai Jawa Timur. Bahkan, saat ini sedang dijajaki untuk ekspor rujak dodol ke Jepang.

Melihat antusias pembeli, rujak dodol terus diulik. Kini, rujak dodol hadir dalam 3 level rasa pedas. Yaitu level 'Hah' untuk rasa pedas biasa, level 'Seuhah' untuk pedas sedang, serta level 'Huh Hah' untuk rasa pedas tingkat tinggi.

"Rasa pedas dibuat bertingkat untuk melayani seluruh permintaan pembeli. Ada yang suka pedas banget, ada juga yang pedas biasa. Semua permintaan kami sediakan," ujarnya.

PD Pusaka JS menginduk pada PD Pusaka, perusahaan dodol yang sudah eksis di Kab. Garut sejak 1970-an. Perusahaan dodol tersebut termasuk usaha rumahan di Garut yang terbilang sukses menggarap dodol sebagai penganan utama produk mereka.

Awalnya mencari sensasi baru, kini rujak dodol menjadi salah satu ikon produk dodol Pusaka. Namun, inovasi dodol sepertinya takkan berhenti sampai 'Huh hah' saja, produsen dodol akan terus berkarya untuk mencipta dodol dengan rasa-rasa yang baru. (Ririn N.F./das/"PRLM")***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar