Minggu, 01 Juli 2012

"Mapag Hujan", Ungkapan Rasa Syukur Kemurahan Alam



RETNO HY/"PRLM"
NGEYONG pare untuk bibit sebagai bentuk suka cita akan datangnya musim tanam karena hujan masih turun pada tradisi Ketuk Tilu Mapag Hujan di Kamp. Tanjung, Ds. Sirap, Kec. Tanjungsian, Kab. Subang.*
 
 
SUBANG, (PRLM).- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) melaksanakan Program Pewarisan Seni Tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan. Kesenian tradisional yang hanya ada dan dilaksanakan masyarakat Desa Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang memiliki nilai filosofi kehidupan hubungan antara manusia dan alam.

“Di sejumlah daerah memang ada tradisi menyambut musim hujan sebagai ungkapan rasa syukur turunnya hujan pertanda musim tanam padi dimulai. Nilai filosofi yang terkandung lainnya adalah bahwa hujan memberikan penghidupan bukan hanya pada manusia di muka bumi ini tetapi juga pada tumbuh-tumbuhan,” ujar Kepala Seksi Pengembangan Seni BPTB Jabar, Dra. Siti Hapiatun, mewakili Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., disela-sela pelaksanaan Program Pewarisan Seni Tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan di Kamp. Tanjung, Ds. Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang, Sabtu (30/6/12).

Pelaksanaan Program Pewarisan Seni Tradisional Ketuk Tilu Mapag Hujan sudah dilaksanakan sejak akhir awal bulan Mei lalu dan rencananya pada Selasa (3/7/12) akan dipegelarkan di Kamp. Tanjung, Ds. Sirap, Kec. Tanjungsiang, Kab. Subang dan pada Sabtu (7/7/12) dipegelarkan di Taman Budaya.

“Sebenarnya tradisi Ketuk Tilu Mapag Hujan dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember atau setiap musim hujan, tapi sekarang ini musim sulit diprediksi dan hingga saat ini dibeberapa tempat masih turun dan di sambut dengan suka cita petani,” ujar Siti Hapiatun. (A-87/A-88)***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar