Sabtu, 27 November 2010

Mempertanyakan "Petatah-petitih Cerbon"


LAWANG kejaksan di lingkungan Keraton Kanoman Kota Cirebon. Bagian-bagian bangunan keraton, persenjataan, dan simbol-simbol lainnya yang merupakan simbol-simbol bangunan kuno (artefak) kadang dilengkapi juga dengan "petatah-petitih" yang biasa diucapkan kalangan tua.* NURDIN M. NOER


Sun titip tajug lan fakir miskin.

HAMPIR semua wong Cerbon meyakini jika petitih di atas merupakan ucapan dan pesan Sunan Gunung Jati. Apalagi, kalimat itu sering kali dikutip kalangan Raja Cirebon, para kiai, guru, birokrat, bahkan kalangan agamawan non-Islam, termasuk di dalamnya kalangan Tionghoa. Namun, apakah benar petitih itu di-ucapkan oleh Sunan Gunung Jati?

Kalimat seorang sunan merupakan sesuatu yang harus dilakoni para kawula dan rakyatnya. Ia merupakan sabdoning pandito ratu (sabda raja yang harus dipatuhi) sekaligus khalifatullah filardli (wakil Allah di muka bumi). Oleh karena itu, apa pun yang telah diucapkan seorang raja, pantang dijilat kembali dan harus dilakukan oleh rakyat dan kawulanya secara mutlak.

Sejarawan Universitas Pa-djadjaran Ahmad Mansur Suryanegara pun seakan meyakini bahwa kalimat itu berasal dari Sunan Gunung Jati. Hal itu diungkapkannya dalam seminar sejarah di Cirebon, akhir Oktober lalu. "Banyak naskah peninggalan para wali dituliskan dengan bahasa tersirat dan simbolistik," katanya. "Tentu tidak bisa diinterpretasikan sesederhana bahasa tersuratnya. Harus dengan pemahaman yang bertolak dari pesan tersiratnya bila ingin diterapkan untuk menjawab problema pemba-ngunan masa kini."

Budayawan Keraton Kacirebonan drh. R. Bambang Iriyanto pun tampaknya me-ngalami kesulitan dalam mencari sumber petitih itu. Bersama penulis dan beberapa peneliti dari Bagian Penelitian dan Pengembangan Departemen (sekarang Kementerian-pen.) Agama, Bambang pernah menelusuri artefak dan manuskrip peninggalan keraton masa lalu. Namun, sumber petitih itu tak jua ditemukan. "Padahal, hampir semua artefak dan manuskrip kami udal-udal," katanya.

Ragu-ragu
Penata lakon sandiwara rakyat Cirebon, H. Sulama --yang biasa membolak-balik manuskrip untuk kepentingan gelar lakonnya-- pun merasa ragu-ragu akan asal-usul petitih itu. Bahkan, ia dengan berani menyatakan bahwa kalimat semacam itu diduga dimunculkan setelah masa kemerdekaan. Ia beralasan, pesan-pesan yang diumumkan pada abad ke-14, lazimnya, berbahasa Sansekerta. "Coba periksa bahasanya, seperti bahasa masyarakat sekarang," katanya. 

Pendapat serupa dinyatakan Kartani, budayawan yang dikenal sebagai pendokumentasi manuskrip dari daun lontar. Ia menyatakan, tak ditemui petitih semacam itu di daun lontar. "Terutama kalimat sun titip tajug lan fakir miskin," ungkapnya. Kendati demikian, ia mengakui bahwa petitih itu memiliki nilai berharga untuk pendidikan. 

Sangat sulit memang untuk mencari asal-usul petitih itu. Hal itu karena tak adanya catatan yang dilakukan oleh orang yang se zaman dan sulitnya mendapatkan refe-rensi yang berkaitan dengan hal itu. Selama ini, referensi yang dianggap paling tua di-tulis pada tahun 1689 oleh Pangeran Wangsakerta meski banyak sejarawan yang me-ragukan tentang manuskrip tersebut.

Hasan Effendi dalam Petatah-Petitih Sunan Gunung Jati (1994) memberikan gambaran bahwa petatah-petitih itu secara historis diciptakan Sunan Gunung Jati (sebagai seorang ayah) bagi anaknya dan sebagai pucuk leluhur bagi trah atau keturunan keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan maupun Keprabonan. Sebagai seorang ayah, ia berharap agar anak dan keturunanannya kelak menjadi manusia yang mampu menjunjung tinggi hukum-hukum Allah. Selain itu, ia berharap agar mereka dapat melanjutkan perjuangan menauhidkan atau menyiarkan ajaran agama Islam.

Menurut Hasan, ada lima macam petatah-petitih yang mengandung nilai kesopanan, baik secara tersurat maupun tersirat. Petitih itu adalah den hormat ing wong tuwa (harus hormat kepada kedua orang tua), den hormat ing leluhur (menghormati leluhur), hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (hormati, sayangi, dan muliakan warisan leluhur), den welas asih ing sepapada (berbelas kasih terhadap sesama), danmulyaaken ing tetamu (memuliakan tamu).

Ada ucapan yang selalu dihadirkan pada saat pelal mulud oleh Sultan Sepuh Maulana Pakuningrat (almarhum) tentang "jimat". Simbol "jimat" di sini dimaknai sebagai siji kang dirawat, yakni dua kalimat syahadat. Demikian pula simbol-simbol yang ada di lingkungan Keraton Cirebon, seperti Panca Niti, bermakna lima titian, yang tak lain adalah Rukun Islam yang lima. 

Selain itu, masyarakat Cirebon juga memiliki petitih, seperti yen sembahyang kungsi pucuke panah (jika salat harus khusyuk), yen puasa den kungsi totaling gundewa (jika puasa harus mampu menahan segala kesabaran), ibadah kang tetep (kuat dalam beribadah), lurus den syukur ing Allah (pasrah dan selalu bersyukur kepada Allah), aja nyindra janji (ja-ngan cidera janji), pemboraban kang ora patut anulungi (yang salah tak perlu ditolong), dan aja ngaji kejayaan ala rautah (jangan belajar untuk kepentingan yang tidak benar).

Di samping secara lisan di-ucapkan kalangan tetua, petitih juga dibangun pada simbol-simbol bangunan kuno (artefak), seperti bagian-bagian bangunan keraton, persenjataan, dan simbol-simbol lain. Kini, muncul pula petitih dalam masyarakat yang juga sering diucapkan, yakni yen pareng kudu kiyeng, yen bodoh kudu weruh lan yen pinter aja keblinger. 

Simbol-simbol semacam itu hingga kini masih ada dan melekat sebagai filosofi masyarakat Cirebon. Namun, Hasan Efendi sendiri justru tidak memberikan jawaban secara pasti atas pertanyaan kapan petitih itu diucapkan? Siapa yang mengucapkan ? Dan sampai kapan ungkapan-ungkapan itu berlaku? "Semua itu belum terjawab," katanya. "Namun, keberadaannya akan terus menggema, sepanjang masyarakat masih mengindahkan nilai budaya warisan leluhurnya." (Nurdin M. Noer)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165602

Tak Perlu "Mouse", Cukup Lambaian Tangan

Vaio Y Series
 Sabtu, 27 November 2010 | 10:08 WIB

  SONY
Sony Vaio Y 
 
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Melihat ratusan foto yang tersimpan di laptop, pekerjaan yang kelihatan menyenangkan tetapi sebenarnya cukup melelahkan. Bagaimana tidak, tangan harus berpegal-pegal ria mengklik berkali-kali atau menempel di laptop.

Kini, Sony menawarkan solusinya. Sony meluncurkan produk terbarunya, Vaio Y Series, komputer jinjing yang menawarkan tampilan luar yang menarik sekaligus performa yang baik. Peluncuran dilakukan di Atrium Mal Kelapa Gading 3, Jumat (26/11/2010). Dengan komputer ini, melihat ratusan gambar menjadi lebih mudah.

"Kami cukup lambaikan tangan saja untuk melihat gambar berikutnya atau sebelumnya," kata Wilsam Tanto, VAIO Evangelist Product Marketing Department.

Jadi, dengan komputer jinjing ini, untuk melihat gambar Anda cukup membuka media gallery yang sejak dahulu menjadi fitur VAIO. Setelah membuka gambar pertama, untuk melihat gambar selanjutnya Anda cukup melambaikan tangan ke kanan, sementara untuk melihat gambar sebelumnya cukup melambaikan tangan ke arah sebaliknya.

"Itu mampu dilakukan sebab VAIO Y Series memiliki teknologi yang disebut Casual Gesture Control," kata Wilsam.

Teknologi tersebut mampu mendeteksi perintah berupa bahasa tubuh pengguna lewat webcam yang terintegrasi dengan komputer jinjing ini.

Dikatakan Wilsam, teknologi tersebut juga bisa digunakan untuk membuka data musik dan video. Untuk membuka data musik, misalnya, lambaian tangan ke kanan dan ke kiri bisa digunakan untuk membuka data selanjutnya dan sebelumnya.

Untuk perintah pause tinggal menampakkan tangan ke webcam, persis seperti ketika mengucapkan selamat tinggal pada seseorang. Untuk perintah play cukup ulang bahasa tubuh yang digunakan untuk pause.

VAIO Y Series memiliki ukuran layar lebar 11,6 inci dengan resolusi 1366 x 768. CPU yang digunakan adalah Intel Core i3-380UM prosesor 1,33 GHz. Komputer jinjing ini memiliki berat 1,46 kilogram. Untuk mendukung kebutuhan gaya, komputer ini tersedia dalam dua warna yang elegan, yakni hitam dan merah marun.
 

WWF Jelajahi Karst Citatah dan Sungai Citarum




ILHAM PRATAMA/"PRLM"
SEBANYAK 35 anggota Supporter World Wildlife Fund (WWF) Gathering Indonesia yang ada di Bandung, menggelar kegiatan di Karst Citatah, Sabtu (27/11).*
 
 
NGAMPRAH, (PRLM).-Sebanyak 35 anggota Supporter World Wildlife Fund (WWF) Gathering Indonesia yang ada di Bandung, melakukan kegiatan penelusuran Karst Citatah dan Sungai Citarum, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (27/11). Menurut mereka, kegiatan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap alam sebelum melangkah untuk melestarikan alam itu sendiri.

"Kita hidup di alam, sudah sepatutnya mengenal dan melestarikannya," kata Maitra Widiantini, Senior Fundraising Manager WWF.

Dalam kegiatan bertajuk Ngariung di Alam Bandung, mereka menjelajahi stone garden, dan Gua Pawon. Juga penjelajahan Sungai Citarum ke Gua Sangyang Poek. (A-195/kur)***

Ini Lho Cara Menghindari Obat Palsu

Rabu, 24 November 2010, 03:58 WIB


Amin Madani/Republika
Obat-obatan, ilustrasi


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Mengamati pemberitaan tentang obat tak ada habisnya. Walau selalu ada obat baru ditemukan, ada saja kasus-kasus obat palsu yang muncul. Itu yang mengemuka. Berapa banyak kasus yang tak muncul karena tak terendus oleh media bisa jadi tak terbilang jumlahnya.

“Obat palsu ada di mana-mana,” tandas konsultan dan pemerhati penegakan hukum di bidang obat dan makanan, Weddy Mallyan, pada Sanofi-Aventis Media Forum, di Jakarta beberapa waktu lalu. Sementara obat-obat ilegal dengan mudah ditemukan di pojok-pojok jalan atau kawasan. Biasanya, lanjut Kepala Seksi Pengawasan Pelayanan Obat, Ditjen POM Depkes Rim pada 1988-1997 itu, yang menjual adalah orang yang mempunyai kuasa di sekitar kawasan itu.

Disebut obat palsu karena ada obat aslinya. Sementara obat disebut ilegal karena tak memenuhi persyaratan dan tak terdaftar. Menurut Weddy, obat palsu termasuk obat ilegal. Sebenarnya, lanjut mantan PNS Badan POM RI ini, obat yang diedarkan di Indonesia haruslah memenuhi unsur aman, berkhasiat, dan bermutu. Dari ketiga unsur itu, yang paling utama adalah aman.

“Meskipun berkhasiat dan dibuat dengan bermutu, kalau tidak aman ya tidak ada gunanya,” tutur Weddy. Disebut aman karena risikonya lebih kecil dari manfaat yang dihasilkan. Atau, dengan kata lain, manfaatnya lebih besar dari risiko yang mungkin ada.

Kenyataan di pasaran, obat-obat palsu masih tersedia. Berdasarkan UU RI no 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, obat adalah bahan atau gabungan bahan termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penepatan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.

“Selama membicarakan manusia maka semua harus dikesampingkan karena tujuan akhir adalah nyawa atau jiwa manusia,” tegas Weddy. Kenapa terus ada kasus-kasus pemalsuan? Karena high profit tapi low risk dalam hal penegakan hukum. Kasus-kasus obat palsu tak hanya di Indonesia. Di negara semaju AS pun banyak ditemukan kasus-kasus seperti itu.

Bedanya, di sana penegakan hukum dilaksanakan dengan baik. Juga di negaranegara maju lainnya, pendekatan hukum sudah dilaksanakan dengan baik. Weddy memberi istilah “mulut dan hati sama.” Sayangnya, tidak ada satu negara pun di dunia yang punya data akurat tentang obat palsu karena masalahnya memang kompleks. "Pemerintah Indonesia pun belum pernah merilis angka-angka obat palsu," ungkap Weddy.

Secanggih apa pun dibuat, obat mana pun bisa dipalsukan. Di Indonesia belum dapat diketahui siapa pembuat obat-obat palsu. Namun, kata Weddy, bukan rumahan karena ada kaitan dengan investasi besar untuk alat-alat canggih. Yang jelas, tempat produksi berpindah-pindah untuk menghindari penggerebekan.

Data WHO menyebutkan, estimasi prevalensi obat palsu di negara maju sebesar satu persen, sementara negara berkembang 10 persen. "Tidak usah menunggu 10 persen. Satu persen pun kalau menyangkut nyawa manusia harus diselesaikan dan ditindaklanjuti," tegas Weddy.

Untuk menjamin keamanan obat ada regulasi yang mengatur mulai pembuatan sampai distribusi. Dengan demikian, meski pabrik farmasi kalau memproduksi obat tidak ada dokumen maka obat yang dihasilkan bisa dikategorikan obat ilegal.

Weddy mengungkapkan, sebenarnya gampang untuk menyebutkan obat itu legal atau ilegal. Karena semua obat ada dokumennya. "Maka, kalau obat tidak didukung dokumen, maka obat itu harus dimusnahkan."

Yang dipalsu Obat yang mana yang banyak dipalsukan? Menurut Weddy, semua obat berpeluang sama. Yang paling banyak adalah obat keras, yang dalam kemasan ditandai dengan lingkaran merah, karena faktor supply and demand. Masyarakat senang membeli sendiri karena jikalau datang ke dokter harganya mahal.

Yang lain adalah obat-obat fast moving, yakni obat yang cepat laku dan diiklankan seperti antibiotika, antiparasit, analgesik, antipirektik, antihipertensi, dan antidiabet.
Juga obat-obat lifestyle seperti untuk disfungsi ereksi, antikolesterol, dan obat pelangsing. Serta obat-obatan mahal.

Ciri obat palsu adalah harganya dekat dengan harga aslinya. Kenapa produsen tidak menuntut? Pemalsu tahu benar kalau pemilik obat asli tidak akan memasalahkan karena terkait reputasi. Obat palsu membahayakan semua pihak. Weddy memaparkan, obat palsu meruntuhkan kredibilitas. Kalau tidak kunjung sembuh dokternya terkena reputasi.

Lebih berat lagi investasi di Indonesia akan hilang. Weddy mengatakan BPOM adalah penyidik PNS. Tugasnya lebih pada menyelidiki mana yang tidak memenuhi syarat mutu. Kalau sudah terkait dengan istilah palsu, maka kasus itu masuk ke polisi. Jadi sebaiknya kepada siapa masyarakat seharusnya melapor jika menemukan obat palsu? Weddy menjawab, ke dua-duanya, baik ke BPOM maupun polisi.

Untuk menghindari obat palsu dia mengajak masyarakat melakukan langkah kecil bermanfaat. “Jangan membuang sembarangan karton pembungkus obat. Kalau membuang sobek atau hancurkan dulu,” lanjutnya. Itu untuk menghindari penyalahgunaan karton kemasan untuk diisi obat palsu. Karena, ada pihak-pihak yang menawarkan untuk membeli dos bekas dengan harga mahal. Pada apotek yang benar karton-karton itu akan disobek dahulu sebelum dibuang.

Menurut staf pengajar pada Fakultas MIPA Jurusan Farmasi, ISTN, ini tren obat palsu ke depan naik. Untuk itu LSM harus berteriak, dan harus ada pressure group yang menekan semua pihak. Selain itu, harus ada asosiasi yang menjadi tempat pasien mengadu. Produsen harus mau melihat ke lapangan.

Sementara konsumen atau masyarakat harus membeli obat di sumber-sumber resmi seperti apotek. Apotek yang ideal adalah apotek yang mencantumkan nama, nama apoteker, dan ada izin praktik.

Yang juga penting, pesan Weddy, jangan sampai memberikan resep dokter ke toko obat sebab toko obat berizin pun tidak menerima resep dokter. Selain itu, obat dengan logo merah pada kemasan hanya dijual di apotek. Sementara toko obat hanya boleh menjual obat dengan logo biru dan hijau.
Red: irf
Rep: Christina Purwatiningsih

Tiga Remaja 50 Hari Terapung di Laut

PASIFIK SELATAN
 Sabtu, 27 November 2010 | 11:23 WIB

 fijihoneymoon.com


SUVA, KOMPAS.com - Tiga remaja putra, yang selama 50 hari terapung-apung dalam sebuah perahu kecil di Pasifik Selatan, hari Jumat (26/11) berjalan di darat dengan kaki gemetar setelah mereka diselamatkan.

Ketiga remaja itu—Samuel Pelesa dan Filo-Filo, keduanya 15 tahun, serta Edward Nasau (14)— mengatakan kepada para penyelamat bahwa mereka bertahan hidup dengan air hujan yang mereka tampung, sejumlah kelapa, ikan mentah, dan seekor burung camar yang mendarat di perahu aluminium mereka yang panjangnya 3,5 meter.

Ketiganya berangkat tanggal 5 Oktober dari pulau asal mereka menuju ke sebuah pulau tetangga. Tidak diketahui bagaimana mereka menghilang, tetapi diduga mesin perahu mereka mengalami kerusakan di laut.

Para anggota keluarga yang khawatir melaporkan mereka hilang dan AU Selandia Baru melancarkan sebuah pencarian laut. Tidak ada tanda-tanda perahu kecil itu ditemukan dan desa berpenduduk 500 orang itu mengadakan upacara peringatan, tidak pernah berharap akan melihat anak-anak itu lagi.

Mereka diambil hari Rabu oleh sebuah kapal pukat ikan, kurang gizi, dehidrasi berat, dan terbakar matahari parah, tetapi selain itu baik-baik saja. Kelasi kelas satu kapal itu mengatakan, daerah mereka berada jauh dari rute pelayaran komersial normal.

Mereka hanyut 1.300 km dari tempat mereka berangkat—Tokelau, sekelompok atol karang sebelah utara Samoa yang merupakan wilayah Selandia Baru.

Sebuah kapal patroli AL Fiji bertemu dengan kapal pukat ikan itu hari Jumat dan mengawalnya memasuki pelabuhan ibu kotanya, Suva. Ketiganya ditemui oleh pejabat konsuler Selandia Baru dan dibawa ke sebuah rumah sakit untuk diperiksa.

Tai Fredricsen, kelasi kelas satu kapal itu, mengatakan, para awak melihat sebuah perahu kecil terombang-ambing di laut terbuka sebelah barat laut Fiji hari Rabu. Saat kapal mendekat untuk memeriksa, mereka melihat tiga orang melambai-lambaikan tangan dengan panik. ”Yang bisa mereka katakan adalah ’terima kasih karena mau berhenti’,” kata Fredricsen.

Ketiga remaja itu menceritakan hanya membawa dua kelapa saat berangkat. Selama terkatung-katung, mereka minum air hujan yang mereka tampung di perahu dan makan ikan yang mereka tangkap. Sekali, mereka menangkap seekor camar yang mendarat di perahu dan memakannya. (AP/DI)

Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Egidius Patnistik

Masyarakat Baduy bukan Pelarian


WARGA suku Baduy luar mengangkut kebutuhan sehari-hari melintasi rumah adat di Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Banten, Rabu (8/4/2009). Masyarakat Baduy berpendapat, mereka merupakan keturunan pertama yang langsung diciptakan Tuhan di muka bumi bernama Adam Tunggal.* USEP USMAN NASRULLOH/"PR"


Suku Baduy tinggal di sekitar pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang merupakan tanah ulayat sesuai dengan Perda Kabupaten Lebak No. 32 /2001 tentang Perlindungan Atas Hak Tanah Ulayat Masyarakat Baduy. Luas total wilayahnya mencapai 5.136, 58 hektare.

Selama ini, sebagaimana suku lainnya, suku Baduy disebut suku terasing atau masyarakat pedalaman. Namun, istilah tersebut kini tidak relevan lagi karena dikonotasikan negatif sebagai masyarakat tertinggal, masyarakat terbelakang. Untuk menyebut komunitas semacam Baduy sekarang menggunakan istilah "masyarakat adat terpencil". Dengan demikian, walau menempati daerah pedalaman yang terpencil, tak mengurangi jati diri dan martabat mereka sebagai manusia.

Kendati dari segi istilah mengalami perubahan, suku Baduy masih menyisakan beberapa perbedaan persepsi, misalnya tentang asal-asul dan prinsip masyarakat Baduy. Persepsi yang beredar di kalangan masyarakat luar yang bukan Baduy berbeda dengan persepsi masyarakat Baduy sendiri.

Ada pendapat mengatakan, asal-usul masyarakat Baduy sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran. Masyarakat Banten yang dipimpin Raja Saka Domas (Pucuk Umun) sebagai pemeluk animisme. Tahun 1525, Maulana Hasanuddin mengislamkan Banten Utara secara berangsur-angsur, yang tidak masuk Islam mengungsi ke Parahiyangan atau Cibeo, Kanekes, Banten ( Rafiudin dalam Iskandar dkk, 2001). Masih ada beberapa versi lain tentang asal-usul masyarakat Baduy yang hampir sama.

Hal ini berbeda dengan pengakuan pemangku adat Baduy. Mereka berpendapat bahwa masyarakat Baduy merupakan keturunan langsung manusia pertama yang diciptakan Tuhan di muka bumi, bernama Adam Tunggal. Mereka meyakini suku-suku bangsa lain di dunia bagian atau keturunan lanjutan dari masa lalu mereka dengan tugas berbeda-beda. Tanah ulayat mereka diyakini pula sebagai inti jagat (Dr. Ahmad Sihabudin M.Si. dan Asep Kurnia, 2010). Keyakinan masyarakat Baduy tersebut persis seperti keyakinan masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Seperti di desa Mbah Maridjan yang meyakini tanah mereka merupakan pusat kekuasaan di tanah Jawa.

Prinsip hidup
Asal-usul yang diyakini menjadi prinsip hidup masyarakat Baduy yang berlaku hingga kini. Di antara prinsip yang diyakini adalah carek-lisan-khabar (perintah, ucapan, dan berita) yang merupakan tugas kesukuan mereka (wiwitan). Sementara lawan dari ketiga kata itu adalah coret-tulisan-gambar yang merupakan tugas manusia modern di luar suku Baduy.

Sebagai implementasi carek-lisan-khabar, masyarakat Baduy tetap teguh menggunakan tradisi lisan atau bahasa tutur. Lebih jauh, masyarakat Baduy tak mau belajar di sekolah formal dengan alasan bisa merusak tatanan budaya mereka. Akan tetapi, terutama Baduy luar (penamping), banyak yang pandai baca-tulis.

Uniknya, seperti pengamatan penulis dan wawancara dengan beberapa penduduk di sana, cara mereka belajar, yaitu ketika misalnya membeli sabun atau rokok dihafal mereknya dan di rumah tulisan pada bungkusnya dipakai untuk belajar. (Penduduk Baduy luar hampir mirip masyarakat bukan Baduy, mandi dengan sabun, gosok gigi dengan pasta gigi, dan merokok). Atau, mereka belajar baca-tulis dengan membentuk kelompok belajar di rumah yang dipandu para sukarelawan.

Budaya masyarakat Baduy yang nonliterat dinilai sebagian kalangan sebagai bentuk strategi mereka dalam melestarikan prinsip hidup dan adat istiadat secara turun-menurun. Apa yang disampaikan oleh sesepuh berupa carek (perintah), lisan (ucapan), dan khabar (berita). Dengan demikian, asal-usul mereka pun sangat sulit dilacak, kemungkinan untuk menghindari kaji ulang atau dikritisi.

Masyarakat Baduy juga tidak mengikuti gaya hidup modern. Masyarakat Baduy luar sekalipun tak mau menggunakan listrik untuk penerangan. Mereka kukuh menggunakan lampu tempel. Di Kampung Ciboleger, perbatasan antara perkampungan Baduy dan perkampungan bukan Baduy, hanya dibedakan oleh bentuk rumah. Rumah baduy berdinding bilik bambu dan beratap rumbia, sedangkan yang lain berdinding tembok dan beratap genteng. Ketika malam tiba, perbedaan kian kontras karena soal listrik tadi.

Lawan carek, lisan, dan khabar adalah coret, tulisan, dan gambar. Tiga kata terakhir merupakan tugas kelompok manusia lain yang modern, yaitu meramaikan dunia. Yang pada perkembangan mutakhir, adanya berbagai alat elektronik dan komputerisasi. Ketiganya terpadu atau biasa disebut multimedia. Namun, kemajuan yang terus bergerak bukan tanpa risiko. Berbagai persoalan terus terjadi dan tak jarang menelan korban, termasuk manusia sendiri yang menjadi korbannya.

Bukan pelarian
Banyak literatur tentang asal-usul masyarakat adat terpencil. Seperti halnya Suku Tengger dan suku asing di sekitar pegunungan Bromo dan Pegunungan Ijen di Jawa Timur. Mereka diam di daerah pegunungan karena terdesak seiring runtuhnya Majapahit dan Blambangan.

Demikian halnya suku Baduy. Beberapa sejarah mengidentifikasi mereka ke daerah pegunungan Kendeng karena terdesak seiring runtuhnya Pajajaran setelah masuknya Islam di Banten. Namun, seperti diungkapkan di atas, suku Baduy menolak disebut pelarian setelah terdesak dari proses islamisasi di Banten Utara.

Terlepas pengakuan mana yang benar, terpenting adalah keberadaan masyarakat adat terpencil tidak selayaknya diusik. Keberadaannya sangat berarti bagi kelangsungan kosmologi. Diketahui, topografi Provinsi Banten terdiri atas empat kota dan empat kabupaten. Kota Serang, Tangerang, Tangerang Selatan, Cilegon, Kabupaten Serang, Tangerang, Lebak, dan Pandeglang. 

Dari wilayah tersebut, sebagian besar telah padat, berupa kawasan industri ataupun perumahan yang ekologinya sudah terganggu akibat pesatnya proses pembangunan. Tinggal dua daerah, Lebak dan Pandeglang yang relatif masih memiliki kawasan alami. Di Lebak, ada kawasan tanah ulayat masyarakat Baduy. Sementara di Pandeglang, ada kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon.

Sangat naif jika Baduy, komunitas masyarakat adat terpencil yang menjaga keseimbangan alam dan keharmonisan sosial terus diusik dan dipolitisasi. Jika terus diusik, akan berakibat pada rusaknya lingkungan dan lunturnya keyakinan serta adat istiadat mereka sebagai bentuk kearifan lokal. Biarlah mereka bertahan bersama budaya tradisi carek, lisan, dan khabar. (Sumarno, pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Tangerang, Banten)*** 

 http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165655

Menikmati Situ Kala Senja

Situ Wanayasa

 

 SITU Wanayasa yang berhawa sejuk, banyak dikunjungi pelancong dari berbagai daerah.* AAN MERDEKA PERMANA


BILA Anda melakukan perjalanan antara Purwakarta dan Subang, sebelum masuk ke Kota Kecamatan Wanayasa, akan melewati satu danau yang cukup luas. Danau itu dikenal dengan sebutan Situ Wanayasa.

Tempat ini semakin hari kian semakin banyak dikunjungi, baik oleh mereka yang sengaja melakukan kunjungan wisata, maupun yang secara kebetulan melakukan perjalanan Purwakarta-Subang. Danau asri ini memang tepat berada di sisi jalan provinsi sehingga siapa pun yang lewat pasti akan tergerak hatinya untuk sekadar beristirahat sejenak.

"Kan di sana banyak rumah makan yang menyediakan sajian khas seperti sate maranggi atau manisan pala," kata Mansyur (45) penduduk Karawang, yang sedang dalam perjalanan menuju Subang. Kedua jenis makanan ini memang khas terdapat di sepanjang jalan dari Purwakarta hingga Wanayasa. "Bahkan, manisan pala yang diramu seperti ini hanya ada di Wanayasa," tutur Mansyur. Memang, ada banyak jenis manisan pala, seperti yang ada di Bogor, Sukabumi atau Cianjur. Akan tetapi, manisan pala produksi Wanayasa rasanya sungguh amat manis sebab takaran gula putihnya cukup banyak sehingga terlihat kental, lalu cairan gula ini akan meresap ke dalam pori-pori buah pala.

Sate maranggi juga merupakan sajian khas wilayah Purwakarta dan Wanayasa. Bila pagi hari, di salah satu pasar tradisional di Wanayasa akan berderet jongko-jongko pedagang sate maranggi. Mereka melayani sesama pedagang di pasar yang sejak subuh sudah berkumpul di sana atau juga melayani para pengunjung pasar. 

Mulai subuh hingga pukul 8.00 WIB, suasana pasar akan dipenuhi "kabut asap sate" sebab di pagi hari banyak orang gemar sarapan sate maranggi. Karena sate maranggi sudah jadi ikon daerah Wanayasa maka tak aneh di setiap kelokan jalan di Wanayasa akan mudah didapat penjaja sate maranggi. 

Sebetulnya sate merupakan makanan yang tak asing, apakah itu dibuat dari daging sapi atau kambing. Hanya bedanya, sate maranggi sebelum dibakar sudah dilumuri bumbu-bumbu. "Dengan demikian, bila sudah masak, sebetulnya sudah tak perlu bumbu kacang atau kecap lagi sebab sudah terasa enak beraroma," tutur Totong, pedagang cuka tradisional. Sate maranggi bisa dimakan bersama nasi ketan, tetapi nasi timbel pun sudah disiapkan bila konsumen memerlukan.

Indahnya saat berkabut
Hari itu kala senja, serombongan pelaku perjalanan turun dari kendaraan jenis niaga, belasan jumlahnya. Mereka memasuki salah satu rumah makan sate maranggi dan memesan sate banyak-banyak. Mereka makan sate sambil menghadap ke hamparan Situ Wanayasa yang sedang berkabut tebal. Mungkin mereka juga ikut menyaksikan sepasang muda-mudi yang asyik masyuk di bawah pepohonan yang diselimuti kabut, walau tentu lebih berselera menekuni sajian sate maranggi di piring dengan asap tipis mengepul. Sate itu ditemani oleh sejumput sambal goang di piring kecil dan satu mangkuk kecap tradisional (bukan di botol) yang bercampur tomat hijau. Cara makannya pun unik, sate maranggi dicelupkan ke dalam kecap di mangkuk, lalu langsung masuk mulut. Sementara nasi timbel dimakan sesudah dicocolkan ke sambal goang. Mungkin akan terasa pedas, tetapi teh panas satu gelas sudah siap menolong menguasai keadaan.

Itulah sepenggal atraksi wisata kuliner di Situ Wanayasa, saat senja hari yang penuh kabut. Tidak selamanya senja di Wanayasa adalah senja berkabut. Namun, bila Anda datang senja hari saat Situ Wanayasa berkabut maka inilah panorama paling indah di objek wisata lokal ini.

Mari kita pesiar ke Situ Wanayasa di saat kabut membayang. (Aan Merdeka Permana)***

 

Wow.. Ada UN untuk Pemerintah?

Laporan wartawan Kompas.com M.Latief
Sabtu, 27 November 2010 | 08:02 WIB
 
 
 
KOMPAS/ALIF ICHWAN
 
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Penyelenggaraan ujian nasional  harus mempertimbangkan rasa keadilan bagi peserta didik. UN bukan hanya persoalan siswa lulus atau tidak.

"Saya bukan anti-UN, tetapi kualitas pendidikan harus tetap ditingkatkan, standardisasi minimal juga harus diupayakan," ungkap sosiolog Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo, di Jakarta, Sabtu (27/11/2010).

Kamis lalu, ketika ditemui di sela-sela acara XL Indonesia Berprestasi Award 2010 di Jakarta, Imam mengatakan, masih banyak sekolah yang berada di bawah standar, terutama sarana dan prasarana pendidikan serta sumber daya pendidik atau guru.

"Masih bisa kita lihat banyak sekolah punya masalah kekurangan papan tulis, bangku yang rusak, atau kekurangan guru," kata Imam.

Dia menambahkan, jika siswa atau guru diharapkan mampu mengejar standar, alangkah baiknya pemerintah menyamakan standar kewajibannya, seperti memperbaiki fasilitas-fasilitas sekolah tersebut. Untuk itu, lanjut dia, seharusnya Komisi X DPR  bisa mendorong Kementerian Pendidikan Nasional untuk melakukan standardisasi terhadap sekolah-sekolah tersebut sebelum menggelar UN.

"Atau, buat saja misalnya UN untuk pemerintah, seperti ujian evaluasi infrastruktur nasional. Jika pemerintah tidak lulus, maka jangan terlalu ambisius menentukan standardisasi kelulusan siswa," tegas Imam.

Imam menambahkan, jika fasilitas minimal belum terpenuhi, pemerintah harusnya sadar untuk tidak menuntut standardisasi kelulusan terhadap siswa. Jika demikian yang terjadi, rasa keadilan akan tercipta. "Problemnya adalah banyak sekolah yang fasilitasnya tidak memenuhi standar. Itu saja," pungkas Imam.

Editor: Marcus Suprihadi