Minggu, 31 Maret 2013

“Ear Candling”, Amankah?


WEBWISHPERING.NET





Oleh:  dr. Agung D. Permana, M.Kes., THT-KL
Staf pengajar departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung


Ear candling atau biasa disebut juga terapi lilin akhir-akhir ini sangat banyak kita temukan di salon-salon kecantikan. Jenis terapi ini dianggap dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, mulai dari infeksi di telinga, memperbaiki pendengaran, menghilangkan vertigo, membersihkan pikiran, sampai dapat menyembuhkan sinusitis. Apakah hal tersebut memang benar?

Ear candling adalah teknik terapi yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Suku Hopi yang berasal dari pedalaman Amerika dianggap sebagai penemu terapi ini, tetapi sebenarnya asal muasal dari mana terapi ini masih belum jelas. Karena ternyata banyak suku kuno di dunia yang juga menggunakan teknik tersebut untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Bahan yang digunakan untuk membuat lilin biasanya adalah cotton yang dilapisi dengan lilin kemudian digulung sehingga menyerupai gulungan kertas dengan rongga di tengahnya. Kemudian salah satu ujung gulungan lilin tersebut diletakkan di depan liang telinga untuk kemudian pada salah satu ujungnya dibakar. Pembakaran tersebut akan menghasilkan panas dan asap yang akan masuk kedalam liang telinga. Pasien akan merasakan rasa hangat dan suara berdesis di telinga akibat adanya proses pembakaran. Proses ini diklaim akan menyebabkan adanya tekanan negatif yang akan mengakibatkan kotoran telinga terhisap keluar.

Setelah lilin selesai dibakar di dalam gulungan lapisan lilin tersebut akan tampak kotoran berwarna kuning kecoklatan yang diklaim sebagai kotoran telinga yang terhisap akibat proses pembakaran. Apakah betul proses pembakaran lilin tersebut akan menghisap dan membersihkan telinga?

Jangan mengorek telinga
Telinga manusia secara anatomis terdiri atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Batas telinga luar dan telinga tengah adalah gendang telinga (membran timpani), sedangkan telinga tengah dan telinga dalam dibatasi oleh tingkap oval (foramen ovale). Secara fisiologis liang telinga akan menghasilkan kotoran telinga (serumen) yang berfungsi untuk melindungi telinga dari kotoran yang masuk dann dapat membunuh bakteri yang merugikan. Secara alami kotoran tersebut akan didorong keluar dari liang telinga saat kita melakukan gerakan mengunyah makanan. Bila produksi kotoran telinga berlebih maka diperlukan bantuan dokter spesialis THT  untuk membersihkannya. Dokter THT akan menggunakan teknik dan alat yang terstandar untuk membersihkan telinga dengan aman.

Tidak diimbau bagi orang awam untuk membersihkan telinga dengan cara mengorek liang telinga dengan menggunakan korek kuping karena hal tersebut akan menyebabkan kotoran terdorong lebih dalam lagi dan berisiko mencederai gendang telinga.

Terapi lilin diklaim dapat membersihkan kotoran telinga dan menyembuhkan berbagai macam keluhan pasien. Hal ini tentu saja tidak benar, karena sudah dibuktikan dengan dilakukannya penelitian terhadap proses tersebut. Yang pertama, ternyata proses pembakaran lilin tidak menghasilkan tekanan negatif di telinga, apalagi menghisap kotoran telinga hingga bersih. Kotoran yang muncul dan menempel pada lilin ternyata adalah hasil pembarakan dari lilin bukan kotoran telinga (serumen) yang terhisap oleh proses pembakaran.

Anggapan bahwa ear candling atau terapi lilin dapat menyembuhkan penyakit infeksi telinga, membersihkan pikiran, menyembuhkan sinusitis, dan penyakit lainnya belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Bahkan banyak dilaporkan pasien yang datang ke dokter spesialis THT akibat komplikasi akibat ear candling. Beberapa pasien dilaporkan menderita luka bakar di telinga akibat panas yang dihasilkan dari pembakaran lilin. Ada juga ynag mengalami perforasi gendang telinga,  dan iritasi akibat ada bagian lilin yang menetes ke dalam liang telinga.

Dengan demikian, penggunaan terapi lilin sangat tidak dianjurkan mengingat risiko dan komplikasi yang bisa terjadi. Berbagai klaim tentang manfaatnya juga tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka sebaiknya departemen terkait membuat aturan yang lebih ketat mengenai terapi alternatif yang berisiko merugikan konsumen guna melindungi masyarakat.
 

Wikimedia.org
Konsumen juga diimbau agar lebih cermat dalam memilih terapi mana yang bermanfaat dan mana yang dapat merugikannya.


Sumber: PR Minggu, 3 Maret 2013
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar