Sabtu, 30 Maret 2013

Jukung, Urat Nadi Orang Banjar

TANAH AIR

Rabu, 13 Maret 2013 | 15:18 WIB
  
 
KOMPAS/Defri Werdiono

Menggunakan tanggui atau caping bulat khas Banjar yang terbuat dari daun nipah, sejumlah pedagang di Pasar Apung Lokbaintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, menjajakan dagangannya, Sabtu (19/1). Jukung menjadi alat transportasi andalan pedagang di pasar tradisional tersebut yang berlangsung secara turun-temurun.
 
 
Oleh Defri Werdiono

Matahari belum bersinar terik ketika jukung yang dinaiki Munawarah (50) tiba. Dengan wajah berpoles bedak pupur basah dari bahan beras, perempuan paruh baya itu mencari tempat parkir yang luang di pinggir sungai kecil di sela-sela rumah warga.

Seperti biasanya, hari itu, Jumat (18/1), dengan perahu sampan berbahan kayu, Munawarah mengangkut sejumlah hasil bumi untuk diperdagangkan di pasar dadakan, sekitar 10 meter dari tempat menambat jukung.

Air dan jukung sejak dulu telah menjadi bagian hidup masyarakat Banjar di kawasan tenggara Kalimantan. Mengingat daerah itu dibelah sungai dan rawa, jukung menjadi alat transportasi sekaligus wahana jual beli hasil bumi dan bahan pokok. Uniknya, dalam urusan perdagangan bahan pokok sehari-hari, jukung biasa digunakan oleh laki-laki dan perempuan.

Hampir tiap jukung memuat pisang, kecapi, rambutan, daun katuk, dan nanas. Buah dan sayuran itu dibeli di pasar lama sebelum dijual lagi di daerah permukiman. ”Sekilo kecapi harganya Rp 2.500, sedangkan tiga ikat rambutan Rp 5.000,” ujar Munawarah.

Warga Banua Anyar, Banjarmasin, ini mengaku telah berjualan sejak belasan tahun silam. Selama itu pula, ia hanya ditemani jukung kesayangannya. Munawarah tak cakap mengendarai kendaraan darat, seperti sepeda atau motor. ”Keluarga kami hanya punya jukung. Ke mana-mana, ya, pakai jukung. Kalau ada keperluan lain di darat bisa naik taksi (angkutan perkotaan) atau becak,” ujarnya.

Munawarah sudah terlatih mengemudikan jukung sejak kanak-kanak. Yang dibutuhkan hanya tenaga, mengingat perahu kecil dengan panjang kurang dari 5 meter itu tidak memiliki mesin. Dayung berfungsi sebagai penggerak sekaligus kemudi.
 
Istilah jukung sendiri merujuk pada sampan kecil, tak bermesin, dan memerlukan dayung atau galah agar bisa melaju di air. Namun, menurut kalangan akademisi, istilah jukung dipakai untuk menyebut semua jenis perahu.

Orang Banjar lainnya yang tidak bisa lepas dari jukung adalah Salapudin (42). Jukung, bagi warga yang tinggal di Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, tidak hanya untuk transportasi saja, tetapi jukung buatannya juga bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan kedua anaknya.

Ditemui di bengkel kerja sederhana yang ada di depan rumahnya di tepian Sungai Martapura, pria yang akrab disapa Udin ini sedang mengerjakan pesanan jukung papan. Pesanan datang dari warga Manarap, salah satu daerah di Banjar yang memiliki rawa luas. Semua pesanan berjumlah 10 buah. Enam di antaranya sudah selesai.

Sebuah jukung papan dengan panjang hampir 4 meter berbahan kayu anglai dijual Rp 900.000. Adapun jukung yang berbahan kayu balau dan lebih kuat harganya mencapai Rp 1,4 juta. Bila menggunakan kayu ulin, harganya jauh lebih mahal lagi. Dari setiap perahu, Udin memetik keuntungan Rp 500.000.

Dalam sepekan, Udin menghasilkan rata-rata 2 buah jukung. ”Sekarang ada teknologi, seperti gergaji dan alat penghalus papan bertenaga listrik, jadi cepat,” ujar Udin, yang mendapat kecakapan membuat perahu secara turun-temurun.

Memasuki musim hujan seperti saat ini merupakan puncak pesanan. Desember hingga beberapa bulan ke depan, kondisi perairan meninggi sehingga banyak orang memerlukan jukung untuk mobilitas. Saat seperti ini juga menjadi momen yang tepat untuk maujun (memancing). Ikan merupakan lauk utama masyarakat Banjar.

Jukung papan kini paling banyak dipakai karena harganya lebih murah dari jukung lain yang menggunakan teknik tabuk (batang kayu utuh dilubangi menyerupai lesung). Hampir setiap rumah di tepian sungai dilengkapi jukung jenis ini.

Permintaan jukung papan relatif konstan, mengingat laju penduduk di Kalimantan Selatan terus bertambah meski di satu sisi kendaraan darat juga semakin banyak.


KOMPAS/Defri Werdiono
Sejak dulu kehidupan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan tidak bisa dilepaskan dari jukung, alat transportasi tradisional yang dipakai untuk menyusuri sungai dan rawa.   Salapudin (42) menyelesaikan pembuatan jukung papan di tepian Sungai Martapura, Kampung Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, Banjar, Jumat (18/1).
 
 
Erik Petersen, arsitek asal Denmark yang meneliti jukung, dalam bukunya Jukung-Boats, From the Barito Basin, Borneo— yang diringkas dan dialihbahasakan oleh MP Lambut (dicetak PT Grafika Wangi Kalimantan- Banjarmasin Post Group)—menyebut jukung sudur merupakan prototipe dari semua jukung yang ada.

Jukung ini merupakan perahu tertua dan telah ada sejak 2.500 tahun silam. Jukung paling sederhana itu dibuat dari batang kayu utuh yang dibelah menjadi dua dan dikerok menggunakan perkakas dari batu. Salah satu bukti yang mendukung anggapan ini adalah ditemukannya peti mati dari kayu yang bentuknya mirip jukung sudur di Goa Niah, Sarawak, Malaysia.

 Dosen sejarah pada Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Hairiyadi, mengatakan, keberadaan jukung tak bisa dilepaskan dari masyarakat Banjar. Kondisi wilayah yang dihiasi banyak sungai dan rawa mendorong masyarakat menciptakan sebuah alat yang bisa menjembatani keperluan sehari-hari.

Menurut Hairiyadi, ada beberapa catatan yang menyatakan, jukung tidak hanya dipakai di dalam Pulau Kalimantan. Pada abad ke-15 dan ke-16, pedagang dari Banjar ada yang menjelajah sampai ke Suriname dan Madagaskar. Banyak persamaan antara kelotok di Madagaskar dan Banjar.

Pada zaman kolonial, jukung banyak dipakai sebagai alat perjuangan melawan penjajah. Salah satu pertempuran sengit terjadi di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Pejuang berhasil membenamkan kapal Onrust di Sungai Barito.

 Editor: Desk Multimedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar