Minggu, 31 Maret 2013

Kawah Putih



Salah satu daya tarik di wilayah Bandung Selatan adalah objek wisata pegunungan yang berhawa sejuk dan memiliki pemandangan indah. Primadona tempat wisata yang terletak di daerah tersebut adalah Kawah Putih. Satu dari dua kawah yang terdapat di Gunung Patuha memiliki ketinggian 2.434 mdpl. Objek wisata tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan karena keunikannya. Kawah putih tak hanya terkenal di kalangan wisatawan lokal, tetapi juga menyedot banyak perhatian wisatawan mancanegara.

Kombinasi danau kawah dibingkai dengan bebatuan dan pasir yang berwarna putih menjadi pesona alam unik yang diandalkan. Air danau kawah dapat berubah-ubah warna biru, hijau, atau coklat. Perubahan tersebut bergantung pada konsentrasi sulfur, suhu, atau tingkat oksidasi di dalam air danau. Selain itu, reaksi dengan air danau kawah yang asam (memiliki pH 0,5-1.3) juga mengakibatkan pasir dan bebatuan di sekitar danau berwarna putih. Daerah menuju ke Kawah Putih dikelilingi hutan belantara. Bau belerang sangat menyengat di sekitar kawah karena gas belerang masih keluar dari dalam danau kawah.

Karena pesona alam Kawah Putih, aktivitas berfoto hampir tidak pernah dilewatkan oleh sebagian besar wisatawan. Tak untuk sekadar mengabadikan momen berwisata, tetapi banyak juga yang menjadikan Kawah Putih sebagai lokasi pemotretan prapernikahan. Bahkan, Kawah Putih juga tak jarang menjadi latar di layar lebar yang romantis. Sebut saja film layar lebar Indonesia berjudul “Heart” (2006) yang mengambil lokasi shooting film di sana.

Kawah putih yang terbentuk akibat letusan yang terjadi sekitar abad X dan XII, pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan dari Jerman, Franz Wilhelm Junghun. Sebelum di teliti, masyarakat setempat menganggap Gunung Patuha menyimpan kekuatan gaib yang angker sehingga tidak ada yang berani melintasi daerah tersebut. Anggapan tersebut bukan tanpa alasan karena tidak ada burung yang berani terbang melintasi daerah Kawah Putih. Franz Wilhelm Junghun tidak begitu saja percaya, ia kemudian melakukan penelitian pada 1837 dan menemukan bahwa burung menghindari Kawah Putih karena tingginya kandungan sulfur saat itu.

Setelah adanya penelitian yang dilakukan Junghun, pemerintah Hindia-Belanda kemudian membangun pabrik belerang di dekat Kawah Putih. Pabrik tersebut kemudian terus beroperasi, bahkan berlanjut sampai Jepang menguasai Indonesia. Setelah itu barulah pada 1987, Kawah Putih dijadikan tempat wisata yang terbuka untuk umum. Kini lubang-lubang yang dahulu digunakan sebagai pintu masuk  terowongan untuk menambang belerang menjadi saksi bisu aktivitas penambangan yang dahulu pernah berlangsung.

Terlepas dari semua itu, pemandangan dan hawa khas pegunungan yang sejuklah menjadikan Kawah Putih objek wisata alam yang berharga untuk dikunjungi. (Garry Gumelar Pratama/Periset “PR”, berbagai sumber) PR, Minggu 3 Maret 2013.


Fachri Fauzi/"PR"


Lokasi          :  Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (sekitar 40 km dari pintu tol Kopo).
Fasilitas         :  Tempat parkir, mushola, transportasi, pusat informasi, dan tempat penjualan makanan.
Jam Buka      :  Setiap hari, pukul 07.00-17.00 WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar