Minggu, 24 Maret 2013

"Out of Africa" Terjadi 62.000 Tahun yang Lalu

Hasil Terbaru Analisis DNA


BBC/"PRLM"

AWAL migrasi nenek moyang kita dari Afrika yang dikenal sebagai "Out of Africa" kini masih menjadi perdebatan.*  


TUBINGEN, (PRLM).- Nenek moyang kita bermigrasi keluar dari Afrika lebih baru daripada yang dipikirkan, meninggalkan tempat kelahiran manusia 62.000 tahun yang lalu, menurut penelitian terbaru.
Temuan terbaru dari analisis genetik kerangka fosil ini bertentangan dengan studi gen sebelumnya yang mencatat jejak pertama manusia kuno keluar dari Afrika terjadi 90.000 hingga 120.000 tahun yang lalu.

Itu adalah penanggalan yang cukup bermasalah bagi para peneliti karena tampaknya bertentangan dengan bukti-bukti yang diberikan oleh catatan arkeologi. Meskipun migrasi massal adalah salah satu peristiwa yang paling penting dalam evolusi manusia, tepatnya ketika dimulai telah menjadi subyek perdebatan ilmiah yang sengit.

Satu tim merevisi tanggal migrasi keluar dari Afrika kurang dari 80.000 tahun yang lalu (berdasarkan bukti arkeologis) hingga setidaknya 90.000 - 130.000 tahun yang lalu. Studi lain menempatkan tanggal sejauh 200.000 tahun yang lalu.

Namun, pakar evolusi genetika Johannes Krause dari Universitas Tübingen, Jerman, meragukan bahwa tingkat mutasi dikalibrasi dari manusia hidup dapat diterapkan kembali dalam sejarah spesies kita.

Untuk menguji gagasan tersebut, ia dan rekan-rekannya merangkai DNA mitokondria yang ditemukan pada 10 kerangka fosil manusia yang usianya sudah dikenal andal dari metode penanggalan radiokarbon.

Ketika para peneliti menerapkan tingkat mutasi DNA kuno pada migrasi "Out of Africa", mereka mendapat perkiraan baru yaitu 62.000 sampai 95.000 tahun yang lalu saat dimulainya migrasi, hampir setengah umur yang diberikan oleh metode lain. "Yang menyenangkan tentang ini adalah itu mirip dengan bukti arkeologi," kata Dr Krause kepada ScienceNOW.

Tentu saja, variasi yang lebar yang ditemukan dari penelitian ini masih menyisakan banyak pertanyaan yang harus dijawab. Ahli genetika kuantitatif Peter Visscher, dari Universitas Queensland, yang tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada LiveScience bahwa itu belum jelas metode mana yang paling dapat diandalkan. "Perdebatan ini akan terus sedikit lebih lama, tapi tak lama kemudian ada kemungkinan untuk menjadi konsensus, karena ada begitu banyak sekuensing yang dilakukan di seluruh dunia," katanya. (Aya/A-147)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar