Kamis, 11 April 2013

Pengembangan Usaha Gula Kelapa di Pangandaran Masih Terbuka Luas



SEORANG perajin gula kelapa di Desa Cikembulan, Sidamulihtengah, wilayah daerah otonom baru (DOB) Kabupaten Pangandaran, tengah menunggu nira yang baru disadapnya, Rabu (10/4).*



PANGANDARAN,(PRLM).-Pengembangan usaha gula kelapa di wilayah daerah otonom baru (DOB) Kabupaten Pangandaran masih terbuka luas. Salah satu wilayah yang terus menggali potensi gula kelapa atau gula merah di antaranya Kecamtan Padaherang, Kalipucang, Cimerak dan termasuk kecamatan Sidamulih.

Berkembangnya industri rumah tangga pembuat gula kelapa tersebut, telah memberikan nilai positif bagi warga yang tinggal di wilayah tersebut. Tidak hanya sekadar mampu menyerap banyak tenaga kerja, akan tetapi juga meningkatkan kesejahteran perajin kelapa atau gula merah.

Hanya saja potensi besar gula kelapa masih belum digali secara maksimal. Setidaknya saat ini baru sekitar dua puluh persen dari seluruh pohon kelapa yang diambil niranya untuk gula kepala.

"Sebenarnya potensi gula keapa masih sangat terbuka, saat ini saja baru sekitar dua puluh persen pohon kelapa yang diambil niranya. Apabila persentasi yang disadap niranya ditingkatkan, maka tingkat kesejahteraan petani gula kelapa juga bakal semakin meningkat, " tutur Ketua Asosisasi Gula Kelapa Priangan (AGKP) H .Yos Rosbi, yang didampingi Wakil Sekrtaris Abdul Aziz, Rabu (10/4).

Dia mengungkapkan bahwa seperti halnya daerah lain, potensi industri atau perajin gula kelapa di wilayah kecamatan Sidamulih masih sangat terbuka luas.

Hal itu selain karena kondisi lingkungan alam yang cocok untuk pertumbuhan pohon kelapa, juga masih tebuka lahan untuk ditanami tersebut.

Hanya saja, saat ini masih sangat banyak pohon yang belum disadap atau diambil niranya. Jumlah pohon juga berkurang seiring dengan adanya kebutuhan akan batang pohon kelapa untuk kepentingan lain, dengan demikian, Yos menambahkan perlu ada peremajaan pohon kelapa.

"Tidak hanya pohon banyak saja, akan tetapi ketrampilan perajin gula kelapa juga perlu ditingkatkan. Selain itu juga harus ada kepedulian pedagang serta pengusaha gula kelapa terhadap nasib perajin gula kelapa, karena mereka sangat rentan dan berisiko tinggi terhadap kecelakaan kerja," katanya.

Bentuk kepedulian tersebut diwujudkan dalam Asosiasi Gula Kelapa Priangan (AGKP) yang meliputi wilayah Ciamis, Tasikmalaya dan Sumedang.

Anggotanya tidak hanya petani kelapa, akan tetapi juga pemilik kebun, petani penderes atau penyadap, termasuk cendekiawan yang peduli terhadap nasib petani penderes gula kelapa.

Aziz menambahkan banyak penderes yang mengalami kecelakaan ketika sedang melaksanakan perkerjaannya, tidak hanya jatuh dari pohon, akan tetapi juga risiko lain seperti tersiram nira panas.

Untuk membantu meringankan perajin, AGKP juga memberikan bantuan atau santunan kepada petani penderes. Anggaran yang digunakan untuk memberikan santunan berasal dari hasil menyisihkan dana asosiasi.

"Kami memberikan santnan kepada anggota AGKP yang mendapatkan musibah tanpa sedikitpun membebani petani penderes. Misalnya anggota meninggal mendapat santunan Rp 1 juta, selain itu jika kecelakaan sampai cacat juga mendapat santunan, termasuk yang tersiram nira panas," kata Aziz.

Pada bagian lain dia menambahkan bahwa produksi kerajinan rumah tangga gula kelapa di wilayah Priangan timur mencapai 450.000 kilogram per hari atau 12.500 ton per bulan.
kegiatan produksi gula kelapa tersebut melibatkan sedikitnya 37.500 petani penderes.

"Untuk industri rumahan tersebut tentu melibatkan tenaga kerja lain, tidak hanya suami akan tetapi juga istri maupun anak. yang pasti kerajinan home indutri gula kelapa mampu menyerap tenaga kerja yang sangat banyak, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran," tuturnya.

Aziz juga menjhelasan bahwa usaha gula kepala lebih menguntungkan apabila dibandingkan dengan menjual kelapa butiran. Misalnya dari 40 ohon kelapa, penderes atau perjain gula kepala mendapatkan gula rata-rata 16 kilogram per hari, sedangkan apabila diambol kelapa hanya mendapat 400 butir kelapa.

"Keuntungan lain usaha gula kelapa juga menciptakan pemerataan penghasilan bagi pemilik pohon kelapa. Tidak semua perajin memiliki pohon kelapa, sehingga menyewa kepada pemilik pohon untuk diambil niranya," jelasnya.

Selain memberikan santunan, ia mengungkapkan sejumlah pengusaha juga memberkan bantuan langsung keopada penderes. Bantuan tersebut misalnya berupa tempat pembuatan gula kelapa, menyediakan pohon yang hendak disadap.

"Dengan demikian perajin hanya menyada nira dan hasilnya dijual kepada pengusaha tersebut," tambah Aziz.

Terpisah salah seorang perajin gula kelapa di Desa Cikembulan, Riwan dan Sahidi mengungkapkan mendapat bantuan berupa bangunan untuk prodksi gula kepala dari H. Yos Rosbi. untuk menjalankan usahanya tersebut, keduanya mendapatkan 30 pohon kelapa yang setiap hari mampu menghasilkan rata-ata 13 - 13 kilogram gula kelapa per hari.

"Istilahnya saya hanya menyediakan tenaga saja. Tempat pembuatan gula sudah disediakan, demikian pula dengan pohonnya. Hasilnya juga siap ditampung dengan harga relatif bagus. Terus terang saya sangat terbantu dengan usaha gula kepala ini," tuturnya disela merebus nira yang baru disadapnya.

Saat ini harga gula kelapa Rp 7.800 per kilogram. Harga tersebut lebih murah dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp 8.000 per kilogram.

Riwan mengungkapkan harga tertinggi gula kelapa yang dialaminya mencapai Rp 12.000 per kilorgam, sedangkan paling rendah Rp 7.000.

"Harga gula memang fluktuatif, kadang tinggi, tetapi sebaliknya juga turun. bagi saya yang hanya lulusan SD kerja sebagai perajin gula kelapa sudah sangat beruntung," tuturnya,(A-101/A-89)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar