Selasa, 02 April 2013

Memikirkan Indonesia Punya Kereta Peluru Supercepat

KAI Studi Banding ke China (Bagian 2)

 
Penulis : Fikria Hidayat | Selasa, 2 April 2013 | 10:34 WIB
  
 
KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT
Karyawan PT KAI melihat China Railway High-Speed atau Bullet Train (Kereta Peluru) di Stasiun Tianjin di Distrik Hedong, Hebei, China, Senin (25/3/2013). Sejak 2008, stasiun ditempati kereta berkecepatan 300 km per jam yang mampu menempuh jarak 1.500 kilometer dari Beijing ke Shanghai dalam tempo lima jam. 


Pada 23-27 Maret 2013, PT KAI mengirim 105 karyawan berprestasi untuk mengikuti studi banding ke Beijing dan Shanghai, China. Karyawan yang dikirim mulai dari pemeriksa rantai gerbong, pemeriksa rel, masinis, mekanik, pegawai tiket, satpam, supervisor, hingga manajer. Berikut catatan Kompas.com yang mengikuti perjalanan studi mereka.

(Bagian 2)

BEIJING, KOMPAS.com — Pukul 09.30, pramugari mengumumkan kereta peluru supercepat atau China Railway High-Speed siap berangkat dari Beijing South Railway Station. Pintu otomatis menutup, disusul suara kereta yang mendengung memulai perjalanan menuju Stasiun Tianjin, di Distrik Hedong, Hebei, China.

Di antara ratusan penumpang kereta, terdapat rombongan karyawan PT KAI yang tengah mengikuti studi banding perkeretaapian. Sejak awal, mereka sudah dibuat kagum ketika mendekati kereta hingga menginjakkan kaki langsung di dalam gerbong kereta.

Saat kereta mulai melaju, dari tengah gerbong terdengar komentar, "Luar biasa, akselerasinya sangat cepat," kata seorang karyawan KAI disambut oleh yang lainnya sambil melihat papan digital yang menginformasikan kecepatan kereta.

Kereta listrik asli bikinan bangsa China ini meluncur dengan kecepatan 300 kilometer per jam. Beijing-Tianjin yang berjarak sekitar 120 kilometer hanya ditempuh dengan waktu 30 menit, pas sangat tepat waktu. Harga tiket yang harus dibeli ialah 54.50 yuan atau sekitar Rp 85.000 per penumpang.

Tour leader, Rivan, mengatakan bahwa kecepatan maksimal kereta sebenarnya bisa mencapai 350 kilometer per jam. Berdasarkan catatan Kompas, kereta yang dikelola China South Locomotive and Rolling Stock Corporation Limited (CSR) pernah membukukan kecepatan 486 kilometer per jam saat uji coba pada 2011.

Namun, buntut dari peristiwa tabrakan Juli 2011 yang menewaskan 39 penumpang dan 200 penumpang luka-luka, kereta tidak boleh dioperasikan dengan kecepatan maksimal 300-350 kilometer per jam. Pemerintah China membatasi kecepatannya harus di bawah 300 kilometer per jam.

Biarpun kecepatan yang dirasakan rombongan studi hanya maksimal 300 kilometer per jam, mereka menilainya sudah sangat cepat jika dibandingkan dengan kereta api di Indonesia yang hanya bisa mencapai 70-100 kilometer per jam.

Rombongan tak hentinya berdiri memelototi dan memotret papan digital di pojok gerbong yang terus menginformasikan perubahan kecepatan kereta. Ulah mereka tentu menarik perhatian penumpang lokal lainnya. Maklum, karyawan KAI sendiri baru kali ini merasakan kereta peluru supercepat.

Interior gerbong didesain modern dengan konstruksi material plastik dan fiber karbon sehingga suara bising dari luar tidak terdengar.

Tempat duduk nyaman layaknya dalam kabin pesawat. Penumpang yang ingin minum bisa mendapatkan layanan air gratis yang bisa diambil sendiri di mesin penyaji yang ada di tiap gerbong. Seorang petugas wanita dengan sigap menginformasikan fasilitas tersebut.


KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT
Pramugari China Railway High-Speed atau Bullet Train (Kereta Peluru) Beijing-Tian Jin berada di depan pintu gerbong, Senin (25/3/2013). Kereta berkecepatan 300 km per jam mampu menempuh jarak 1.500 kilometer dari Beijing ke Shanghai dalam tempo lima jam. 


Masih rencana

Hari berikutnya, rombongan PT KAI menjajal kereta peluru supercepat rute Beijing-Shanghai sejauh 1.318 kilometer. Rute yang sebanding dengan jarak Jakarta-Lombok itu hanya ditempuh dalam tempo lima jam. Setiap penumpang dikenai tiket seharga 553 yuan atau sekitar Rp 867.000.

Kereta hanya berhenti sebentar di dua stasiun. Sepanjang perjalanan kereta meluncur menggunakan jalur khusus kereta listrik cepat di jalan layang bebas hambatan. Di area rawan dan terbuka, jalur diberi pagar sehingga kereta aman dari pengendara lain bahkan hewan yang melintas.

Pemerintah dan pengelola kereta serius memperhatikan sistem pengamanan jalur dan aset yang ada di sepanjang rel. Di Indonesia, meskipun sistem pengamanan sudah ada, keamanannya masih saja terusik.

Keamanan jalur terjamin sehingga perjalanan pun mulus. Pergerakan kereta halus tidak berasa, nyaris sunyi. "Sepertinya sambungan rel sangat bagus sehingga sama sekali tidak terdengar suara ketika dilindas kereta," kata Farial, petugas yang biasa memeriksa rel dari Divre II Sumbar.

Sepanjang perjalanan, anggota rombongan studi selalu saja berkomentar membandingkan dengan suasana perkeretaapian di Indonesia. Iksan Abidin dari Daop III Cirebon menyadari ketertinggalan Indonesia di bidang perkeretaapian. Gerbong dan lokomotif banyak yang berusia uzur.

Membandingkannya dengan Indonesia tentu sangat kontras, apalagi di tengah ramainya perdebatan tentang pro dan kontra penghapusan KRL Ekonomi Jabodetabek.


KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT
Pramugari China Railway High-Speed atau Bullet Train (Kereta Peluru) Beijing-Shanghai, Selasa (26/3/2013). Kereta berkecepatan 300 km per jam mampu menempuh jarak 1.500 kilometer dari Beijing ke Shanghai dalam tempo lima jam. 




Lantas masih bisakah menghadirkan kereta supercepat seperti ini di Indonesia? Sejak tahun lalu rencana itu sudah ada. Kementerian Perhubungan telah membocorkan kereta cepat itu bernama Argo Cahaya yang akan melayani rute Jakarta-Surabaya dengan waktu tempuh 3 jam.

Untuk merealisasikannya, pemerintah menyatakan membutuhkan dana mencapai Rp 180 triliun. Tentu dana yang tidak sedikit. (Bersambung)



Editor : Fikria Hidayat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar