Selasa, 02 April 2013

Sejumlah Guru Pentaskan Drama "Cucunguk"

 

KELOMPOK Kelas Karyawan Prodi Bahasa Indonesia FKIP Uninus saat mementaskan lakon "Cucunguk" karya Yoseph Iskandar pada acara Pertunjukkan Sanggar Sastra di GK Rumentang Siang, Jln. Baranang Siang, Bandung.*


BANDUNG, (PRLM).- Kalau pembaca menyaksikan pentas "Cucunguk" karya Yoseph Iskandar di GK. Rumentang Siang, akhir pekan lalu, tidak akan pernah menyangka kalau para pemain dalam pentas itu ada guru-guru dan calon guru.

Mereka bermain peran dengan penghayatan luar biasa. Ekspresinya tercapai, gestur tubuhnya mendukung, artikulasi pengucapan juga sangat jelas, dibarengi intonasi logat Sunda yang kental. Sebab pementasan ini memakai naskah berbahasa Sunda.

Menyuguhkan sebuah produksi pementasan menjadi bagian dari mata kuliah Sanggar Sastra yang diberikan di Prodi Bahasa Indonesia FKIP Uninus. Kegiatan ini menjadi syarat kelulusan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah Sanggar Sastra.

Menurut Ketua Program Bahasa Indonesia FKIP Uninus Drs. H. Deden Fathudin, M.Pd tujuan mata kuliah Sanggar Sastra agar mahasiswa memperoleh bekal kemampuan, sikap, dan pengetahuan yang optimal serta memiliki kecakapan sebagai bekal dalam mengimplementasikan segala kompetensi di lapangan. Sebab dalam proses pembelajarannya nanti, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori tetapi juga praktik dari teori-teori tersebut.

"Kalau menjadi pelaku langsung sebagai pemain teater atau drama, maka mereka sudah mempunyai bekal dan pengalaman saat mengajar di kelas dan tidak terbatas pada teori," demikian Deden.

Banyak faktor yang mendukung keberhasilan sebuah pentas, antara lain pemeranan atau penghayatan, pengucapan atau penyampaian dialog, meramu konflik, tata pentas yang meliputi tata kostum, tata lampu, dan artistik panggung. Namun, bagi guru-guru yang tidak mengkaji tata pentas (panggung) seperti halnya mahasiswa STSI, penampilan "Cucunguk" dapat dibilang berhasil.

Mereka mengadaptasikan pentas ke dalam longser sehingga terjadi komunikasi intensif antara pemain dengan pengiring dan antara pemain dengan penonton. Tidak kaku dan terkesan ringan dalam menyampaikan pesan-pesan naskah tetapi pesan itu sampai dan dapat dicerna oleh penonton.

Padahal, para pemain "Cucunguk" sebagian besar karyawan yang berprofesi guru. Hal itu diketahui karena ternyata para pemain ini termasuk ke dalam mahasiswa kelas karyawan. "Ini tidak mudah, tapi kami mencoba semaksimal mungkin agar setiap pementasan berhasil menjadi tontonan menarik," demikian kata Ketua Panitia Yessi Hermawati.

Pertunjukkan Sanggar Sastra menyuguhkan tiga pentas sekaligus. Pentas pertama mengetengahkan lakon "Sisit Kadal" naskah karya Arthur S Nalan (kelas Cicalengka), pentas kedua menampilkan "Cucunguk" karya Yoseph Iskandar (kelas karyawan), dan pentas ketiga menyuguhkan "Republik Reptil" naskah karya Radhar Panca Dahana (kelas reguler).

Bila dibandingkan antara pementasan yang satu dengan lainnya, tentu mempunyai pesan pentas yang berbeda. Namun yang harus digarisbawahi adalah upaya dan kerja keras pada pelaku pentas ini dalam menyuguhkannya kepada penonton. Padahal, pengetahuan tata pentas panggung tidak menjadi bagian dari mata kuliah yang mereka peroleh.

Demikian pula untuk sistem produksi. Tata manajemen pementasan menyangkut banyak jal, mulai dari pembiayaan sampai mencakup sistem kerja manajemen. Namun dengan segala keterbatasannya, ketiga kelompok tersebut telah mencoba bermain pentas selayaknya bermain pentas teater pada umumnya. Menata panggung, membangun pemeranan, dan memenej (mengelola) produksi pementasan.

Sebuah upaya yang tentu saja harus dihargai. Terlebih bagi para pengeloal program B. Indonesia FKIP Uninus karena mencantumkan mata kuliah Sanggar Sastra merupakan kebijakan lokal (setempat) lembaga ini. Sebuah dukungan dalam membentuk calon-calon pendidik yang "ngeuh" dan menjiwai tentang sastra dan seni. Selamat! (A-148/A-147)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar