Sabtu, 20 April 2013

Lidi Asal Parigi Tembus Mancanegara





PANGANDARAN,(PRLM).-Banyak masyarakat yang belum menetahui manfaat lidi yang diperoleh dari pohon kelapa, kecuali hanya sebatas djadikan sebagai sapu.

Padahal dengan sedikit sentuhan yang artistik, lidi dapat diolah menjadi bahan baku kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Tidak hanya itu saja, dengan sedikit ketrampilan tangan ditambah kreatifitas seni yang tinggi, anyaman lidi bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat alas piring, alas gelas, tirai dan lainnya. Lidi yang semula hanya sebagai alat untuk meyaopu sampah, naik kelas diletakkan di atas meja makan.

Hanya saja potensi yang besar tersebut belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh warga daerah otonom baru (DOB) Kabupaten Pangandaran.

Sebagai wilayah yang berada di pesisir pantai dengan ratusan ribu pohon kelapa, ternyata potensi lidi tersebut tidak dimanfaatkan optimal. Warga masih memandang sebelah mata, nilai ekonomis lidi sehingga begitu saja menjualnya.

besarnya potensi lidi di wilayah yang baru dimekarkan dari Kabupaten Ciamis itu dapat dilihat di terminal Agrobisnis Kecamatan Parigi, Pangandaran.

Hampir setiap hari ratusan bahkan ribuan ikat sapu lidi masuk ke tempat tersebut. Sapu lidi yang dikirim oleh warga kemudian kembali diurai.

Selanjutnya lidi yang terurai tersebut dicampur dengan lainnya. Berikutnya batang-batang lidi kembali diikat menjadi sapu yang berisi antara 260 -280 batang lidi, kemudian dikirim ke pemesan yang umumnya berasal dari wilayah Solo, Yogyakarta, bahkan Bekasi.

"Sebenarnya potensi lidi sangat besar. Hanya saja kami tidak bisa memastikan waktu pengirman, sebab pasokan dari warga juga kadang tidak stabil. Selama ini memisahkan lidi dari daunnya hanya pekerjaan sampingan, di kala menunggu musim panen atau pekerjaan utama lain," ungkap Ny. Aan (44) salah seorang pengusaha sapu lidi di Terminal Agrobisnis Parigi, Jumat (19/4).

Dia mengungkapkan bahwa sampai saat ini tidak ada warga di wilayah tersebut yang memanfaatkan lidi menjadi bahan baku kerajinan tangan.

Dengan demikian lidi lebih banyak dijual dalam bentuk sapu lidi yang dijual Rp 950 per ikat, sedangkan lidi yang berwarna kuning harganya lebih mahal Rp 1.250 per ikat.

"Berdasar info dari pemesan yang umumnya menjadi perajin lidi, hasil kerajinannya untuk memenuhi permintaan ekspor ke Jepang, Hongkong maupun Singapura. Kalau sudah menjadi aneka kerajinan tangan, harganya jauh lebih mahal," tambahnya.

Aan yang bersuamikan Aep (46) mengatakan ada beberapa pengepul sapu lidi yang ada di terminal Agrobisnis Parigi. Selain dirinya, pengusaha sapu lidi lainnya adalah Hj. Isoh, dan Erwin.

Umumnya mereka menggeluti bidang tersebut sudah lebih dari lima tahun. Hanya saja di antara mereka belum nampak upaya untuk meningkatkan nilai lidi yang dijualnya.

"Selama ini saya hanya menjadi pengepul yang mendapat kiriman barang dari para ranting. Hanya saja pasokan kadang tidak rutin, sehingga tidak bisa memenuhi seluruh pesanan. Misalnya enam bulan lalu, praktis tidak ada ranting yang menyerahkan sapu lidi.
Kalau sekarang sudah mulai kembali lancar, paling tidak seminggu satu kali mengirim satu truk sapu lidi ke Solo," katanya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa lidi yang didatangkan dari Kecamatan Parigi kualitasnya lebih baik dibandingkan dari daerah lain.

Sebelum dijadikan bahan baku kerajinan tangan, lidi dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki, selanjutnya dibikin bermacam bentuk atau model kerajinan tangan dari lidi.
Sebagian besar hasil kerajinan pemesan, hasil kerajinan lidi lebih banyak yang diekspor.

"Berdasarkan keterangan dari perajin, saya juga berangan-angan kapan warga Pangandaran atau Parigi bisa membuat kerajinan dari lidi. Dengan nilai jual yang mahal, tentunya dapat menambah penghasilan keluarga," ujarnya. (A-101/A-89)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar