Sabtu, 20 September 2008

Keluarga Presiden

Tujuh Yudhoyono di Istana




RUMAH TANGGA KEPRESIDENAN/ABROR RIZKI / Kompas Images
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Ani Yudhoyono, Agus Harimurti, Anissa Larasati, dan Edhie Baskoro ditambah Almira Tunggadewi Yudhoyono di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, 18 Agustus 2008.


Sabtu, 20 September 2008 | 03:00 WIB


Ini kisah tentang regenerasi yang sedang bertumbuh dan berkembang secara alamiah menurut garis darah.

Kisah pun diawali dari kelahiran cucu pertama Presiden Susilo Bambang Yudoyono, pada 17 Agustus 2008 lalu. Ia bernama Almira Tunggadewi Yudhoyono, anak pertama pasangan Kapten (Inf) Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Larasati.

Almira yang dilahirkan melalui operasi caesar tepat pada peringatan Hari Ulang Tahun Ke-63 Kemerdekaan Republik Indonesia itu, merupakan orang terbaru atau keenam dalam keluarga besar yang menyandang nama Yudhoyono di akhir tiap nama.

Meskipun nama keluarga tidak dikenal dalam budaya Jawa, sebutan Yudhoyono lalu menjadi seperti nama keluarga, karena selalu melekat dibagian akhir nama anggota keluarga.

Bersama Almira yang sudah 40 hari setelah lahir tinggal di Istana Negara, Jakarta, terdapat enam Yudhoyono ”pendahulu”.

Mereka berturut-turut Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, Ny Kristiani Herawati Yudhoyono, kemudian kedua putranya, masing-masing Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. ”Penyandang” dua nama Yudhoyono terakhir adalah Annisa Larasati Agus Yudhoyono dan putrinya, Almira Tunggadewi Yudhoyono.

Namun, di luar hubungan keluarga besar dan garis keturunan biologis, ”yudhoyono-yudhoyono” lain mulai bermunculan. Hubungan keluarga dan biologis tak lagi jadi patokan. Ini masalah ideologis yang memang mulai melahirkan generasinya. Sebuah fenomena wajar yang kerap muncul dari tokoh mana pun yang dinilai memancarkan pesona dan kekaguman.

Di dalam lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta, ”yudhoyono” ideologis itu telah lahir setidaknya sejak empat tahun terakhir. Mudah mengenali mereka para yudhoyonois itu. Seperti para pengagum dan loyalis tokoh-tokoh lain, para yudhoyonois akan menjadi seperti ”pemain bertahan” dalam sepak bola ketika ada serangan dari siapa pun kepada orang yang dikaguminya itu.

Namun, yudhoyonois pun tampaknya ada tingkatannya. Ada yang loyalis sejati dan telah terbukti karena tempaan waktu. Ada yang mendadak menjadi loyalis karena sebuah keharusan atau setidaknya kepatutan. Alasan pragmatis biasanya menghinggapi yudhoyonois dadakan ini yang akan bisa berubah loyal kepada tokoh lain jika kepentingan pragmatisnya lebih terakomodasi.

Pemenang setiap perang

Yudhoyono adalah nama yang diberikan Soekotjo ketika mendapati anak laki-lakinya lahir di lingkungan Pondok Pesantren Tremas, 15 kilometer dari pusat Kabupaten Pacitan, 9 September 1949. Menurut tentara yang berpangkat pembantu letnan satu (peltu) ini, Yudhoyono yang lahir selepas ashar mengandung arti pemenang setiap perang.

Nama adalah doa pemberi nama. Secara utuh, Susilo Bambang Yudhoyono didoakan Soekotjo yang menikah dengan Habibah agar menjadi orang yang santun, berjiwa ksatria, dan memenangi setiap peperangan. Jalan hidupnya, setidaknya seperti dituliskan secara serbasempurna di sejumlah buku, memang seperti memenuhi doa-doa itu.

Menang perang memang tidak selalu harus dalam posisi melihat pihak lain kalah. Dalam kekalahan, kemenangan juga bisa tetap diraih. Itu sebabnya, kenapa Yudhoyono kerap memberi nasihat kepada mereka yang kalah dalam pemilihan umum. Kekalahan adalah kemenangan tertunda. Semangat ini membuat Yudhoyono tidak pernah akan merasa kalah, meskipun faktanya memang kalah.

Nasihat itu didasarkan pada pengalaman pribadinya saat dikalahkan Hamzah Haz saat bersaing menjadi wakil presidennya Megawati Soekarnoputri memperebutkan suara anggota MPR dalam Sidang Istimewa MPR tahun 2001.

Kekalahan itu menumbuhkan kesadaran dalam dirinya untuk mendirikan partai politik sebagai kendaraan politik untuk meraih kekuasaan. Partai Demokrat dimatangkan ketika jabatan sebagai pembantu Presiden Megawati masih disandang. Tiga tahun kemudian, dalam Pemilu 2004, bukan hanya Hamzah, bahkan Megawati pun dikalahkan.

Sikap Yudhoyono ini dipahami betul oleh lima ”yudhoyono” lain dalam lingkungan keluarga besarnya. Karena itu, nama akhir Yudhoyono selalu disandang di akhir setiap nama sebagai pengingat dan doa sekaligus.

Enam Yudhoyono

Ani Yudhoyono terlahir dengan nama Kristiani Herawati dari keluarga tentara seperti Yudhoyono. Berbeda dengan Yudhoyono, Ani adalah anak ketiga Sarwo Edhie Wibowo, seorang tentara yang terpandang karena kiprah dan jasanya. Sarwo Edhie Wibowo diabadikan menjadi nama gedung di Kompleks Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Cijantung, Jakarta Timur.

Ani menambahkan nama Yudhoyono di belakang namanya setelah menikah dengan Yudhoyono pada 30 Juli 1976. Konsekuensi pernikahan itu membuatnya tidak bisa menamatkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang telah dijalaninya sampai tahun ketiga. Gelar sarjana ilmu politik dirintis dan kemudian diraih tahun 1998 dari Universitas Merdeka.

Kegemaran Ani pada dunia politik diwadahi dengan posisinya sebagai Wakil Ketua Umum Partai Demokrat yang didirikan Yudhoyono. Posisi ini didudukinya dan dilepas saat Yudhoyono kemudian terpilih sebagai Presiden dalam Pemilu 2009.

Sebagai istri presiden yang hampir selalu mendampingi Presiden dalam berkegiatan, Ani lebih banyak mengurusi bidang sosial yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. Untuk mewadahi kegiatan dan perkumpulan istri para menteri, Ani membentuk Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (Sikib) yang kemudian diketuainya.

Sikib telah banyak berkiprah. Mobil pintar, motor pintar, rumah pintar, dan kapal pintar yang ditujukan untuk menjangkau kerinduan rakyat terpencil akan ilmu telah menjadi bukti. Selain itu, Ny Ani juga memiliki program kerja yang terus dikembangkan, yaitu Indonesia Sehat, Indonesia Sejahtera, dan Indonesia Kreatif. Yudhoyono kerap dilibatkan untuk kegiatan-kegiatan ini.

Masa depan militer

Dari pernikahan Yudhoyono dan Ani, dilahirkan dua putra, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (10 Agustus 1978) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (24 November 1980). Dua putra ini adalah pewaris pertama Yudhoyono.

Agus menyongsong masa depannya dengan mengikuti jejak langkah ayahnya lewat jalur ketentaraan. Pendidikan sekolah menengah atas diselesaikannya di SMA Taruna Nusantara tahun 1997 dan dilanjutkan ke Akademi Militer. Seperti ayahnya, Agus meraih Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik tahun 2000.

Agus pernah bertugas di Aceh pada awal-awal dinas ketentaraannya. Pengalamannya menemukan dan membongkar kejahatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Menggamat, Tapak Tuan, Aceh Selatan, dituliskannya dalam buku Menguak Tragedi Manggamat: Sebuah Kesaksian Sejarah Kekejaman dan Kekerasan GAM.

Setelah menikah dengan Annisa Larasati, 9 Juli 2005, Agus menyelesaikan gelar master di bidang Strategic Studies di Institute of Defence and Strategic Studies, Nanyang Technological University (NTU), Singapura, tahun 2006.

Agus juga tergabung dalam anggota Pasukan Garuda XXIII/A, bagian dari Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) 2006-2007, sebagai salah satu perwira operasi. Mengedarkan buku dari mobil pintar Sikib untuk anak-anak di Lebanon menjadi salah satu kegiatannya.

Pangkat Agus saat ini adalah kapten (inf) dengan tugas di Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak, Kostrad. Di tempat ini, Yudhoyono juga pernah bertugas tahun 1976-1977.

Annisa adalah putri Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Tantowi Pohan. Sebelum menikah dengan Agus, Annisa dikenal publik saat menang kontes gadis sampul, 1997. Setelah itu, seperti pemenang kontes lainnya, Annisa merambah dunia hiburan dengan menjadi bintang iklan dan presenter olahraga.

Dari pernikahan Agus dan Annisa, lahir Almira Tunggadewi Yudhoyono. ”Almira dalam bahasa Arab artinya putri yang mulia, putri yang kuat. Tunggadewi adalah nama Ratu Majapahit abad ke-14. Yudhoyono adalah nama keluarga saya,” ujar Yudhoyono saat jumpa pers sehari setelah mendapat cucu pertama.

Di luar garis ayah dan ibunya, Edhie Baskoro atau biasa dipanggil Ibas memilih jalur sipil untuk menyongsong masa depannya. Setelah menamatkan sekolah menengah atas di SMA Negeri 39, Jakarta, Ibas melanjutkan kuliah di Curtin University of Technology, Pert, Australia. Dua gelar sarjana, yaitu Commerce Finance dan Electric Commerce, diraihnya tahun 2005.

Belum sempat terdengar mengaplikasikan dua gelar kesarjanaannya itu di bidang profesional, Ibas melanjutkan studi strata dua bersama Agus di NTU Singapura untuk program International Political Economy. Gelar MSc diraih tahun 2007 setelah menjalani pendidikan 1,5 tahun.

Sejak meraih gelar-gelar itu, Ibas aktif di Partai Demokrat yang didirikan ayahnya. Di partai tempat pamannya, Hadi Utomo, menjadi ketua umum itu, Ibas menjabat sebagai Ketua Departemen Kaderisasi. Untuk Pemilu 2009, Ibas yang menjadi Koordinator Wilayah DKI Jakarta memilih mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari kampung halaman ayahnya, Pacitan, Jawa Timur.

Ibas berada di nomor urut satu untuk daerah pemilihan (dapil) Jatim VII yang meliputi Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi. Meskipun Partai Demokrat menetapkan sistem suara terbanyak, Ibas tetap ditempatkan di nomor urut pertama karena kontribusinya kepada partai dinilai paling besar dari semua calon yang mendaftar di dapil Jatim VII.

Karena lebih banyak memiliki waktu dan tidak banyak terikat dibandingkan dengan Agus, Ibas lebih kerap menyertai kegiatan kunjungan kerja Presiden ke berbagai tempat. Terakhir, saat Presiden melakukan safari Ramadhan ke sejumlah wilayah di Jatim, Ibas ikut serta. Daerah yang dikunjungi Presiden adalah Ponorogo, Madiun, Jombang, Gresik, dan Surabaya.

Yudhoyono ketujuh

Di samping Yudhoyono, Ani, Agus, Ibas, Annisa, dan terakhir Almira, dalam empat tahun terakhir ini lahir ”yudhoyono-yudhoyono” ideologis di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta. Kebanyakan dari mereka memilih menyamarkan kekagumannya karena berbagai alasan.

Di antara para pengagum itu adalah Cho Yong-joon (66). Sampai tahun 2000, Cho masih berkewarganegaraan Korea Selatan. Cho bertugas sebagai wartawan The Hankook Ilbo (The Korea Times). Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, adalah salah satu tempat tugasnya.

Perkenalannya dengan Yudhoyono jauh terjadi sejak dirinya dekat dengan Sarwo Edhie Wibowo. Ketika perayaan pernikahan Yudhoyono dengan Ani (dan dua anak Sarwo Edhie lainnya) dilakukan di Jalan Flamboyan, Cijantung, Jakarta Timur, tahun 1976, Cho hadir sebagai undangan. ”Waktu itu Pak Sarwo Edhie berbicara dan menyampaikan doa serta keinginannya agar salah satu dari menantunya menjadi Presiden,” ujar Cho.

Cho mengaku ikut berdoa. Setelah 28 tahun, doa dan keinginan Sarwo Edhie terkabul karena Yudhoyono terpilih sebagai presiden dalam Pemilu 2004. Merasa doanya terkabul karena Yudhoyono menjadi Presiden, Cho yang tiga tahun sebelumnya telah berpindah kewarganegaraan memproses pergantian nama ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Pria kelahiran Seoul, 31 Juli 1942, ini berganti nama menjadi Djoko Yudhoyono. ”Saya cinta negeri ini dan saya cinta Yudhoyono. Cinta dan dukungan saya akan tetap meskipun Yudhoyono jatuh sekali pun,” ujar Djoko.

Saat ini, seluruh kartu identitas Cho, termasuk Kartu Pers Istana Kepresidenan, telah menggunakan nama Djoko Yudhoyono. Pin biru berlambang Partai Demokrat juga kerap dikenakannya di kerah.

Djoko sejak empat tahun terakhir juga bergabung dengan partai yang didirikan Yudhoyono, Partai Demokrat. Malahduduk di kepengurusan, menjadi Ketua Daerah Pemilihan Luar Negeri (DPLN) Partai Demokrat Korea.

Seperti terhadap Yudhoyono, Djoko juga mengenal Hadi Utomo, Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Djoko juga merasa menjadi bagian anggota keluarga besar Sarwo Edhie Wibowo.

Selain sebagai wartawan dan politisi, Djoko juga pengusaha. Sejak setahun terakhir, usaha perkebunan jarak dikembangkan bersama ribuan petani di lahan seluas sekitar 7.500 hektar di Pandeglang, Banten. Semua petani dipinjaminya modal dan diberi benih jarak untuk ditanam. Lima kawasan sedang direncanakan untuk pengembangan tanaman jarak.

Pengilangan minyak jarak dengan investasi 20 juta dollar AS sedang dalam tahap penyelesaian di Pandeglang. ”Saya ingin bikin Indonesia maju seperti Korea. Saya mulai dari memajukan desa. Desa maju dan sejahtera, negara akan maju dan sejahtera,” ujarnya.

Tujuh Yudhoyono telah lahir dan berkiprah diikuti ”yudhoyono-yudhoyono” lain yang juga aktif bergerak menyongsong Pemilu 2009. (INU)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar