Kamis, 29 Mei 2008

Jadi Pebisnis Lewat Milis

Kamis, 29 Mei 2008 | 12:27 WIB


                                                                                       
KOMPAS.COM/L.K Anna
Pendiri milis NCC, Fatmah Bahalwan.




KOMPAS.COM/L.K Anna
Dua orang peserta kursus privat Cake Decorating yang diadakan oleh Fatmah di rumahnya di kawasan Matraman. Secara reguler tiap akhir pekan juga ada kursus memasak dan membuat kue.



 

Internet dengan dapur mungkin terasa bagai langit dan bumi. Tapi dua dunia yang tidak berhubungan itu dipertemukan oleh Fatmah Bahalwan lewat milis Natural Cooking Club (NCC). Dari awalnya sekadar berbagi ilmu seputar masakan, kini berkembang menjadi usaha boga yang membuat sebagian anggotanya jadi jutawan.

Perkenalan Fatmah dengan internet sebenarnya sudah terjadi cukup lama, sejak 1994. Namun, ia baru aktif memanfaatkan sarana milis sejak krisis moneter 1998. "Waktu itu gaji saya terasa sedikit, lalu terpikir untuk meningkatkan penghasilan," ujarnya. Fatmah lalu mengikuti berbagai milis untuk memasarkan kepandaiannya memasak.

Dunia maya yang tidak terbatas rupanya menjadi sarana yang ampuh untuk berjualan. Buktinya, pesanan kue-kue Fatmah naik berkali lipat, dari yang semula hanya empat loyang menjadi ratusan loyang. "Sebelum lewat internet, saya juga menawarkan kue-kue buatan sendiri pada kenalan dan teman-teman di kantor," kenangnya.

Dalam tempo singkat, usaha sampingan yang dilakukan Fatmah pun makin berkembang. Pesanan demi pesanan terus mengalir. "Sejak itulah saya mulai cari modal untuk membuka jasa katering," cetusnya.

Tahun 2004, Fatmah yang sebelumnya bekerja sebagai sekretaris di sebuah bank swasta ini, berhenti bekerja. "Penghasilan saya dari membuat masakan jauh lebih besar dari gaji di kantor," ujarnya. Untuk membantunya memenuhi pesanan, Fatmah lalu memberdayakan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. "Lumayan, para tetangga juga bisa dapat hasil," katanya.

Tak Pelit Ilmu
Kemahiran Fatmah memasak rupanya sudah dimulai sejak ia masih anak-anak. "Di rumah, saya kebagian tugas memasak untuk seluruh saudara saya yang jumlahnya 12 orang."

Fatmah kecil juga kerap mewakili ibunya menghadiri acara kursus memasak ibu-ibu PKK di kelurahan serta rewang (membantu) jika ada kerabat atau tetangga yang hajatan. "Sejak kecil saya sudah tahu bagaimana membungkus lemper yang benar atau bagaimana membentuk kroket."

Bekal ilmu yang diketahuinya sejak usia anak-anak terus dipupuknya dengan mengikuti berbagai kursus membuat kue setelah ia dewasa. Walau mahir memasak dan membuat kue, Fatmah tak pernah pelit membagi ilmunya.

"Saya pernah penasaran dengan resep chiffon cake. Berulang kali nanya teman yang jago bikin kue itu tapi enggak pernah dikasih tahu," katanya. Karena gemas, Fatmah lalu mengikuti kursus membuat cake. "Sejak itu saya langsung ingin mencari tempat untuk bercerita bahwa membuat cake itu mudah," cetusnya.

Internet adalah tempat yang paling pas untuk memenuhi keinginan Fatmah. Ketika mengikuti milis, Fatmah aktif menjawab pertanyaan tentang resep. Semua ilmu seputar dunia boga yang diketahuinya ia bagikan, bahkan ia sampai membeli berbagai buku resep untuk disebarkan lagi di milis.

"Rugi deh kalau ilmu kita dirahasiakan, saya sekarang justru dapat penghasilan dari kebiasaan saya bercerita. Kalau kepandaian kita dirahasiakan, begitu ada order banyak kita enggak akan sanggup ngerjain," paparnya.

Banyak Anggota Sukses
Tahun 2005, Fatmah dan suaminya, Wisnu Ali Martono, membuat milis NCC. Dengan keanggotaan awal hanya empat orang, kini telah mencapai 1500 orang yang tersebar di lima benua. "Lonjakan member NCC terjadi sejak dimuat di Kompas Minggu." Kini, milis yang dikomandaninya itu diurus oleh delapan moderator.

Sebagian besar anggota NCC adalah para ibu. Banyak yang awalnya sama sekali tak kenal dapur, kini malah mahir memasak bahkan berjualan kue. "Saya kini sedang berbahagia dan sering terharu membaca posting-an para member yang sukses," ujarnya.

Selain berbagi ilmu lewat milis, Fatmah membuka kursus memasak setiap akhir pekan dan kursus privat setiap jam kerja. Pesertanya pun membludak. Kini, dalam sebulan ada 10 kali kursus yang diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai daerah di luar Jawa, bahkan mancanegara. "Saya hanya mengajar di rumah lho, dan memakai peralatan memasak ala dapur rumah," katanya.

Kebanyakan anggota NCC memang hanya ingin melampiaskan hobi memasak, tetapi tak sedikit pula yang kini beralih menjadi pengusaha boga. "Bagaimana saya tidak terharu waktu menerima telepon dari salah seorang member yang mengabarkan ia mendapat pesanan risoles 600 buah setelah mencoba resep yang saya beri," kata Fatmah.

Fatmah dan para anggota NCC memang pantas berbangga hati. Memasak, yang awalnya adalah hobi dan kebutuhan, kini bisa menggerakkan ekonomi rumahtangga. "Meski ekonomi sedang tidak stabil, tapi kami, para member NCC lebih siap menghadapinya karena kami punya keterampilan lain untuk mencetak uang," kata Fatmah optimis.

Lusia Kus Anna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar