Senin, 26 Mei 2008

Menampung Prestasi Para Rekoris

Kekecewaan itu bisa melahirkan energi yang luar biasa, bisa berakibat baik bisa pula buruk. Contoh orang yang kecewa lalu "marah" tetapi baik, adalah Jaya Suprana. "Pedagang" jamu yang ahli kelirumologi ini kecewa berat karena sejumlah usulannya ke Guinness World of Record (GWR) ditampik. Jaya penasaran mengapa usulan rekor yang diajukannya belum mendapat jawaban. Secara khusus ia datang ke kantor pusat GWR di London. Ternyata kantor itu hanya sebuah ruangan kecil, padahal namanya begitu terkenal dan menjadi idaman banyak orang di dunia agar namanya tercatat dalam GWR.

Jaya lalu menjelaskan bahwa ia datang jauh-jauh dari Indonesia. Ia menanyakan sejumlah berkas yang pernah dikirimnya selama ini. Alih-alih diterima, pengelola GWR malah bertanya menyakitkan, "Indonesia itu di mana?"

Pertanyaan itu membuat Jaya kecewa. Namun, ia juga merenung, mungkin yang salah bangsa Indonesia sendiri yang selalu mengukur prestasi berdasarkan penilaian "orang Barat". Ya, itu adalah dampak lain penjajahan Belanda. Jaya tidak ingin berlama-lama memendam kekecewaannya. Pada 27 Januari 1990, ia mendirikan Museum Rekor Indonesia (Muri). Suatu upaya pengakuan rekor dengan standar Indonesia. Sebagai petinggi Jamu Jago, ia menggunakan fasilitas perusahaan untuk menampung ide nyentrik ini. Prinsipnya, kalau "orang Barat" bisa menetapkan rekor bangsa lain, mengapa kita tidak bisa menentukan rekor sendiri? Maka sejak hari itu, lahirlah rekor dunia ala Indonesia. Para pemegang rekornya disebut "rekoris".

Rekor pertama yang dicatat Muri adalah Pejabat Menteri Terlama atas nama Drs. Radius Prawiro, menjabat sejak tahun 1965-1993. Kemudian melalui kerja sama yang baik dengan media massa, perlahan tapi pasti Muri menjadi semacam cikal bakal "Indonesian Dream". Suatu impian bersama yang ingin diraih semua orang. Kini, banyak orang di Indonesia yang merasa kurang afdal jika nama atau kegiatannya belum tercatat dalam Muri. Semua itu memang perlu biaya, untuk mengumpulkan orang dalam jumlah tertentu, membuat makanan atau kerajinan dalam ukuran tertentu, dan lain-lain. Namun, dana itu untuk kegiatan yang digagas masing-masing calon rekoris. Memang, sebuah pengakuan publik itu membutuhkan pengorbanan. Sementara proses administrasi dari Muri, sama sekali tanpa biaya. Sejak 2005 singkatan Muri diubah menjadi Museum Rekor Dunia Indonesia.

Sumber inspirasi
Kalau Anda lelah dengan segala berita "keburukan" Indonesia, datanglah ke Muri di kawasan industri Jamu Jago, Srondol, Semarang. Tiga ribu lebih beragam capaian rekor telah ditorehkan masyarakat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Di sinilah kreativitas dan daya juang anak-anak bangsa ini didokumentasikan dan diabadikan. Semua rekor yang terus bertambah itu mewakili keragaman suku, bahasa, agama, jabatan, kelas ekonomi, dan jenis kelamin. Dari ketua RT terlama hingga presiden perempuan pertama. Dari pengumpulan buku terbanyak dalam sehari hingga baca koran 10 ribu orang bersama-sama, dari kain songket terpanjang hingga skripsi terbesar. Dokumentasi itu membuka inspirasi para pengunjung bahwa bangsa kita Indonesia ini sangat berharga, kaya, dan kreatif.

Di ruangan seluas 600 m2, koleksi rekor Muri berbagi ruang dengan balai pertemuan dan Museum Jamu Jago.

Muri juga tak berhenti pada pencatatan rekor. Sejumlah rekoris dikumpulkan sesuai kelompoknya dan dipertemukan dengan menteri terkait. Rekoris perempuan dipertemukan dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan. Rekoris teknologi beramah tamah dengan Menteri Riset dan Teknologi. Begitu seterusnya. Popularitas Jaya Suprana tentu sangat membantu untuk mencairkan birokrasi para menteri itu. Untuk apa semua itu? Kata Paulus Pangka, "Kami ingin ikut merawat dan membangun bangsa ini."

Pengelompokan rekor itu juga menunjukkan kepada masyarakat bahwa semua rekor itu tidak sama "derajatnya". Rekor nasi tumpeng tertinggi berbeda dengan rekor penemuan benih padi unggulan. Rekor SPBU dengan toilet terbanyak tidak sama dengan rekor festival drama paling lama. Jadi, publik yang punya karya dan ide kreatif bersifat ilmiah, tidak perlu khawatir akan disamakan dengan rekor yang sifatnya superlatif. "Kami sempat khawatir, rekor untuk TSK itu sama saja dengan rekor kue cokelat terpanjang," ujar Ketua Teater Sunda Kiwari (TSK) Dadi P. Danusubrata yang datang ke Semarang akhir April lalu. "Setelah mendengar penjelasan pihak Muri, ternyata berbeda. Kami bangga dengan pengakuan ini," lanjutnya.

Lembaga nirlaba
Muri adalah lembaga nirlaba. LSM di lingkungan PT Jamu Jago ini dipimpin oleh Jaya Suprana sebagai ketua umum dan Aylawati Sarwono sebagai direktur. Sementara manajer dipegang oleh Paulus Pangka. Sehari-hari Pangka dibantu oleh sepuluh staf. Mereka digaji oleh manajemen Jamu Jago. Selain Jaya Suprana, nama Pangka sangat dikenal di antara para rekoris. Itu karena Pangka, perantau asal Manggarai Flores, sering mewakili Jaya turun ke lapangan untuk meyerahkan piagam Muri.

Pengajuan sebuah rekor Muri itu sebenarnya sangat sederhana. Proses pengajuannya tidak dikenakan biaya serupiah pun. Siapa pun bisa mengajukan sebuah rekor melalui surat atau email. Staf Muri kemudian akan memberitahukan hasil penilaiannya, diterima atau ditolak. Jika ada persyaratan yang kurang, pihak yang mengajukan akan diminta untuk melengkapinya. Kegiatan yang diajukan disyaratkan untuk dikuatkan dengan keterangan notaris. Hal ini untuk menghindari adanya gugatan dari pihak lain dan menguatkan capaian kegiatan dimaksud secara hukum. Notaris bisa disediakan oleh pengusul bisa pula dari Muri.

Jika semua beres, piagam akan dikirimkan melalui pos. Pemegang rekor bisa pula mengambilnya ke Kantor Muri di Semarang, seperti yang dilakukan oleh TSK. TSK mendapat rekor ke 3.070 sebagai pemarakarsa dan pelaksana Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) terlama selama dua puluh hari berturut-turut, 11 Februari-1 Maret 2008, dalam FDBS X.

Namun, penyelenggara kegiatan biasanya ingin menerima piagam Muri itu dalam sebuah upacara khusus, atau bersamaan dengan sebuah acara resmi. Misalnya, ulang tahun sebuah kota atau kabupaten. Pengiriman via pos dianggap kurang meyakinkan dan tanpa publikasi. "Karena Muri adalah lembaga nirlaba, penyelenggara disyaratkan menanggung seluruh biaya kedatangan tim Muri dari Semarang ke lokasi. Apalagi jika kegiatan dimaksud harus ditunggui oleh tim dari mulai hingga akhir, seperti dalam pemecahan sebuah rekor," tambah Pangka.

Untuk wilayah Jawa Barat dan Banten, dana yang dibutuhkan untuk mendatangkan tim Muri berkisar pada angka Rp 10 juta . Dana sebesar itu untuk trasportasi, akomodasi, dan biaya notaris. Jadi, soal biaya itu kembali kepada pemrakarsa dan pengusul. Mau gratisan bisa, mau mengundang tim Muri dan siap keluar biaya juga bisa. (Iip D. Yahya)

                                                                                       ***

Wawancara Paulus Pangka (Manajer Muri)
Merawat RI dengan Rekor

Ingin terkenal dalam waktu singkat? Buatlah rekor baru, apa saja, dan daftarkanlah ke Muri. Museum ini mewadahi semua ide kreatif yang belum pernah dikerjakan orang. Setelah mendapat rekor, Anda akan disebut rekoris. Dengan menjadi rekoris Muri, berarti Anda telah ikut merawat dan membangun bangsa ini. Benarkah? Berikut petikan wawancara dengan Manajer Muri Paulus Pangka.

Apa sebenarnya gagasan awal pendirian Muri?
Selama ini belum ada wadah yang menampung data prestasi orang Indonesia. Prestasi yang memenuhi kriteria paling, pertama, unik, dan langka. Agar prestasi itu diketahui masyarakat luas, maka perlu publikasi yang bekerja sama dengan media massa. Dengan publikasi itu diharapkan agar masyarakat mau menghargai dan mencintai hasil karya atau ide sesama anak bangsa. Itulah yang dikerjakan oleh Muri.

Apakah Muri merasa ide awal itu sudah tercapai?
Secara kuantitas, ya. Kami sudah punya lebih dari tiga ribu rekor. Soal kualitas, kami ingin terus meningkatkan. Dengan mencatat beragam rekor itu kami telah dan akan terus ikut merawat dan membangun bangsa Indonesia tercinta ini.

Maksudnya?
Selama ini rekor terbanyak masih didominasi yang sifatnya superlatif. Kami berusaha mendorong agar lebih banyak lagi rekor yang sifatnya penemuan, discovery. Seperti yang dilakukan Probosutedjo, itu sangat menarik. Sekalipun di dalam penjara, ia terpacu untuk menemukan benih padi yang unggul. Kreativitas itu harus kita hargai. Ke depan kami ingin mencatatkan rekor-rekor hasil karya warga Indonesia yang akan mendorong kemajuan teknologi bangsa ini.

Apa yang dilakukan Muri selain rutinitas mencatat rekor?
Kami akan mengumpulkan para rekoris perempuan dan mempertemukannya dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan Muetia Hatta. Kami juga telah mengumpulkan para rekoris yang berkaitan dengan teknologi dan dipertemukan dengan Menristek Kusmayanto Kadiman.

Mengapa Muri mau berlelah-lelah melakukan itu?
Karena kami tak sekadar pencatat rekor. Kami ingin ikut membangun Indonesia. Kami ingin agar para rekoris itu menjadi inspirasi bagi warga bangsa lain. Juga mendorong pemerintah agar membuka lebih lebar ruang kreatif anak bangsa ini.

Apakah Muri punya pesaing?
Ada, namanya Indonesian Book of Record (IBOR).

Sejak kapan kepanjangan Muri ditambah kata dunia?
Sejak 2005 kepanjangannya menjadi Museum Rekor Dunia Indonesia, tetapi singkatannya tetap Muri. Hal itu karena banyak rekor yang dicatat oleh Muri berkelas dunia. Seperti rekor ke 3.070 untuk Teater Sunda Kiwari, adalah rekor kelas dunia, karena festival drama dalam bahasa lokal itu sangat langka di belahan dunia mana pun. Dengan demikian, secara psikologis, Muri itu sejajar dengan Guiness World of Record. (Iip) ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar