Rabu, 14 Mei 2008

100 Tahun Nasionalisme Bangsa


SEORANG guru memperbaiki posisi menghormat muridnya saat melatih upacara bendera di Sekolah Kuntum Cemerlang, Jln. Cipaku Bandung, Jumat (9/5). Melatih anak-anak agar bersikap khidmat saat upacara bendera merupakan salah satu usaha untuk membangkitkan nasionalisme mereka.* HARRY SURJANA/"PR"

Istilah ‘kebangkitan nasional’ dipopulerkan Perdana Menteri Hatta 1948. Saat itu, negeri Indonesia masih diwarnai perang kemerdekaan, ketika situasi politik bergejolak hebat.

Melihat kondisi tersebut, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantoro) dan Dr. Rajiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamijoyo untuk memperingati kebangunan nasional melalui berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo. Perkumpulan yang didirikan 20 Mei 1908 tersebut, dianggap bisa mengingatkan semua orang bahwa persatuan bangsa Indonesia sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama. Usulan tersebut kemudian disetujui pemerintah Republik Indonesia dengan melaksanakan Peringatan Kebangunan Nasional yang ke-40 di Yogyakarta.

Namun, diperingatinya pendirian perkumpulan Boedi Oetomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional sempat menjadi perdebatan tokoh-tokoh nasionl saat itu. Menurut Guru besar sejarah Unpad Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., Boedi Oetomo saat itu dianggap sebagai organisasi yang hanya bertujuan untuk memajukan budaya Jawa.

Meskipun demikian, menurut Nina, Boedi Oetomo memiliki tujuan dan program yang jelas untuk memajukan bangsa pribumi. "Bisa dikatakan bahwa ini merupakan embrio dari paham nasionalisme," ujarnya.

Perkumpulan Boedi Oetomo sendiri lahir dari peran Dr. wahidin Sudirohusodo, Lulusan Sekolah dokter Jawa. Ia menyadari perlu ditanamkan kesadaran nasional agar kaum pribumi bisa menjadi bangsa yang terhormat. Ia menganggap, perlu diterapkan pendidikan pada kaum pribumi untuk mendapatkan kesadaran nasional tersebut.

Untuk mencapai tujuannya, Dr. Wahidin kerap melakukan ceramah tentang kesadaran nasional ke seluruh wilayah di Pulau Jawa. Salah satu dari rangkaian perjalanannya tersebut yaitu di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah pendidikan untuk dokter pribumi, akhir 1907. Pada akhir ceramah itu, ia berbincang-bincang lebih lanjut dengan salah seorang pelajar STOVIA, Soetomo.

Pemuda Soetomo kemudian mengapresiasikan cita-cita Dr. Wahidin dengan mengadakan pertemuan bersama beberapa pelajar STOVIA. Ia menjelaskan idenya pada pertemuan tersebut dan langsung disambut baik rekan-rekannya. Maka didirikanlah perkumpulan Boedi Oetomo pada hari itu, yang diketuai Soetomo. Menurut Nina, nama Boedi Oetomo sendiri berasal dari bahasa Jawa. Ia mengatakan dari asal usul katanya, Boedi Oetomo bisa diartikan generasi muda yang diharapkan bisa mencapai satu tingkatan budi yang baik (oetomo).

Boedi Oetomo mendapatkan respons luar biasa, baik dari luar STOVIA maupun Jakarta. Dalam beberapa minggu, Boedi Oetomo sudah memiliki 1.200 anggota.

Nina mengatakan, Boedi Oetomo memang tidak menunjukkan secara jelas tujuan mencapai kemerdekaan. "Namun, secara implisit tujuannya sudah mengarah ke sana," ujarnya. Tujuan Boedi Oetomo sendiri yaitu memajukan pengajaran di kalangan rakyat Indonesia, kemajuan dalam bidang ekonomi (pertanian dan peternakan), teknik dan industri, kebudayaan, mempertinggi cita-cita kemanusiaan, serta menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat. "Dari tujuan tersebut, Boedi Oetomo jelas betujuan untuk memajukan pribumi dalam bidang sosekbud dan juga politik," ujarnya.

Selain itu, menurut Nina, Boedi oetomo merupakan pembuka jalan bagi organisasi yang bertujuan untuk memajukan kaum pribumi. "Setelah berdiri Boedi Oetomo, organisasi lain mulai bermunculan di berbagai wilayah termasuk luar pulau Jawa," ujarnya.

**

Dalam perjalanannya, nasionalisme bangsa Indonesia mengalami ujian di tengah berbagai gejolak politik. Setelah pengakuan kedaulatan 1949, bangsa Indonesia dihadapkan pada gerakan separatis di berbagai tanah air hingga akhirnya memuncak dengan terjadinya tragedi nasional 30 September 1965.

Pada masa Orde Baru, terjadilah apa yang disebut greedy state, yaitu peristiwa di mana negara betul-betul menguasai rakyat. "Dalam situasi ini, nasionalisme seakan ditekan ke bawah karpet atas nama stabilitas politik dan ekonomi," ujar Nina.

Tahun 1998, terjadi reformasi yang memorak-porandakan stabilitas semu Orde Baru. Namun, masa ini kemudian diikuti krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Menurut Nina, nasionalisme bangsa Indonesia yang dicita-citakan Wahidin, memang sempat terwujudkan sampai mencapai titik balik saat sudah mengalami kemerdekaan. Kalau dulu sejak Boedi Oetomo berdiri nasionalisme bangsa Indonesia makin meningkat, karena jelas tujuannya yaitu ingin mengusir penjajah. Setelah merdeka, menurut Nina, bangsa Indonesia tidak memiliki musuh bersama lagi sehingga menyebabkan memudarnya nasionalisme.

Rasa nasionalisme memang sempat bangkit pada beberapa kasus tertentu, seperti Ambalat dan klaim negeri Malaysia terhadap lagu Rasa Sayange serta Reog Ponorogo. Namun, paham itu hanya muncul sesaat, ketika peristiwa itu terjadi kemudian memudar kembali.

Ia mengatakan, bangsa Indonesia seperti terlena dengan adanya kemerdekaan sehingga melunturkan rasa nasionalisme dalam diri sendiri. padahal, menurut dia, saat ini bangsa Indonesia masih memiliki musuh bersama. "Saat ini, bangsa Indonesia harus menyadari bahwa musuh bersama itu ada seperti kemiskinan, korupsi, dan ketidakadilan. Sekarang, nasionalisme itu seolah dihancurkan sendiri oleh bangsa Indonesia dengan adanya korupsi," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Nina, bangsa Indonesia harus diingatkan dari musuh bersama tersebut. "Misalnya coba kalau koruptor yang berat itu dihukum mati," ujanya.

Nasionalisme bangsa Indonesia juga harus dimulai dari diri sendiri. "Salah satunya dengan belajar tidak korupsi mulai dari kecil-kecilan dan memerangi informasi yang jelek di televisi," ujarnya. Ia mengatakan, bangsa Indonesia harus merevitalisasi kembali bagaimana caranya agar kita memiliki kesadaran nasional.

Namun, juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng, mengatakan bahwa kebangkitan nasional bangsa Indonesia sampai saat ini terus mengalami kemajuan. Menurut Andi, 100 tahun lalu Indonesia masih hanya bisa membuat satu organisasi pergerakan Boedi Oetomo yang bersifat kesukuan Jawa. Begitu juga saat Indonesia merdeka, Indonesia masih belum memilik apa-apa. Saat ini, ia berpendapat bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak potensi alam dan manusia. Kedudukan negara Indonesia tersebut juga diakui bangsa lain.

"Memang selalu ada tantangan (seperti) harga pangan dan minyak dunia naik, tetapi justru kita kembali menegaskan lagi kebulatan tekad sebagai suatu bangsa untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan nasional," ujarnya. Ia mengatakan, krisis minyak dan pangan yang terjadi saat ini, tidak akan menahan bangsa Indonesia untuk bangkit.

Menurut dia, bangsa Indonesia harus menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dengan sikap optimistis. "Barangkali momentum 100 tahun ini merupakan salah satu kesempatan, untuk memikirkan apa peran kita agar bangsa Indonesia bisa bangkit. Bangkit di sini, berarti bangkit lebih tinggi lagi bukan selama ini kita tidur, tidak, kita sudah bangkit tetapi harus ada akselerasi lebih tinggi lagi dalam konteks kemajuan bangsa".

Ia optimistis dengan adanya semangat tersebut, bangsa ini masih terus berjaya di masa depan. "Rasanya Indonesia akan terus eksis untuk menjadi bangsa yang besar di dunia ini untuk seratus tahun ke depan," ujarnya. (Tia Komalasari) ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar