Sabtu, 10 Mei 2008

Menulis dan Pengembangan Profesi Guru

Oleh AA HASAN GUNARA

Dalam dunia pendidikan, kegiatan menulis masih menjadi fenomena menarik dan merupakan beban berat bagi guru. Kesulitan itu tampak pada kerangka acuan baku yang harus dipenuhi dengan cara-cara ilmiah.

PETUNJUK pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, pada dasarnya bertujuan membawa karier kepangkatan dan profesionalisme guru. Oleh karena itu, seorang guru perlu memahami jenis-jenis kegiatan yang dapat diapresiasi, sehingga pengembangan profesi dapat dimanfaatkan sebagai suatu peluang untuk kenaikan pangkat.

Contoh pembuatan karya tulis ilmiah (KTI) populer merupakan salah satu jenis karya tulis yang akan mendapat nilai. Apabila karya ilmiah populer dipublikasikan melalui media massa, maka diperoleh angka kredit 2,0 dan jika berupa makalah yang disampaikan pada pertemuan ilmiah, maka akan dihargai dengan angka kredit 2,5.

Dalam dunia pendidikan, kegiatan menulis masih menjadi fenomena menarik dan merupakan beban berat bagi guru. Kesulitan itu tampak pada kerangka acuan baku yang harus dipenuhi dengan cara-cara ilmiah. Guru belum biasa menulis ilmiah. Padahal, bagaimanapun bentuk kreativitas guru, menulis memiliki banyak keuntungan. Di samping karya tulis akan dihargai sebagai suatu karya yang akan mendapat nilai dalam angka kredit (credit point) dan sertifikasi guru, menulis juga merupakan aktivitas yang memberi wawasan dalam menyalurkan ide-ide konstruktif dan berpikir ilmiah sistematis.

Dalam teori quantum learning, menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional ) dan belahan otak kiri (logika ). Tulisan yang baik mampu memanfaatkan kedua belahan otak tersebut secara seimbang.

Untuk mulai menulis guru perlu memerhatikan masalah. Pertama, gunakan imajinasi. Ubah kalimat-kalimat kering menjadi deskripsi menakjubkan. Ketika kita menunjukkan, maka paragraf akan terbentuk secara alamiah dan terkesan hidup.

Kedua, karya ilmiah populer menggunakan bahasa dan kerangka sajian isi yang lebih menarik dan mudah dipahami. Karya tersebut disajikan dalam bahasa dan format yang lebih "populer". Cirinya isi sajian berada pada kawasan ilmu, penulisannya cermat, tepat, dan menggunakan sistematika yang umum, jelas, serta bersifat objektif.

Ketiga, tulisan ilmiah populer tersaji dalam kerangka lebih bebas. Sajiannya tidak menggunakan urutan kerangka baku. Tujuannya agar menarik dan mudah dipahami pembaca. Walaupun demikian, dalam KTI populer kaidah etika penulisan tetap harus terjaga. Yang membedakan hanyalah kelancaran, kelincahan, keindahan bahasa, serta mudah dipahami masyarakat pembaca.***

Penulis, guru matematika SMPN 1 Kota Banjar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar