Rabu, 25 Juni 2008

Jadri, Seniman Topeng Wayang Banjar




Oleh M Syaifullah

Diiringi tetabuhan gamelan Banjar, seorang lelaki berperut buncit, badan agak bungkuk, dan rambut beruban, layaknya sosok seorang kakek tua, terlihat lincah melakoni gerak dan perilaku Semar, tokoh punakawan dari para ksatria dalam dunia pewayangan. Uniknya, Semar yang ini mengisap rokok dari pipa. Ia juga tak muncul bersama Bagong, Petruk, dan Gareng.

Tokoh Semar ini muncul sendirian. Pada kalung di dadanya tertulis ”Samar”, untuk menyebut tokoh Semar dalam bahasa Banjar. Ia menjadi salah satu pusat perhatian di Kampung Banjar pada Festival Budaya Pasar Terapung 2008 di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Banjarmasin, Sabtu (21/6).

Sebagian orang menduga, tampilnya Semar adalah bagian dari suguhan kesenian asal Jawa yang ikut berpartisipasi pada festival itu. Padahal, suku Banjar di Kalsel pun telah lama mengenal kesenian wayang.

Wayang Banjar sudah menjadi bagian seni daerah setempat yang dibawakan dalam bahasa Banjar. Maka, dalam berbagai acara seremonial dan pesta perkawinan, kesenian, seperti wayang kulit Banjar, wayang gong Banjar, kuda gepang (kuda lumping), tarian topeng Banjar kerap ditampilkan.

Tokoh wayang Banjar itu dimainkan seorang dalang bernama Jadri. Dialah pedalang dari Kampung Matang Asam, Desa Tambarangan, Kecamatan Taping Selatan, Kabupaten Tapin, Kalsel. ”Saya bukan penari topeng Banjar, tetapi memainkan wayang Banjar memakai topeng,” katanya merendah.

Padahal, Jadri patut disebut sebagai seniman seni tradisional wayang Banjar. Dia salah satu dari sedikit dalang wayang Banjar yang masih bertahan di Kabupaten Tapin. Kalau pedalang lain memainkan wayang kulit Banjar, ia justru tak melakukannya. Selain bermain topeng wayang Banjar, ia juga membuat sendiri topeng dan perangkat gamelannya.

Langsung mencontoh

Di Kabupaten Tapin, yang terletak sekitar 113 kilometer utara Banjarmasin itu, lelaki ini dikenal sebagai tokoh topeng wayang Banjar dari Tambarangan. Kepandaian itu didapatkan bukan dari belajar pada para dalang senior, tetapi karena ia senang menonton wayang Banjar.

Ketertarikan itu terus diperdalam Jadri setelah ia bisa membuat sendiri topeng wayang Banjar secara otodidak. Dia menjadi dalang sekaligus perajin topeng wayang yang andal dari Kabupaten Tapin.

Topeng yang dibuatnya bukan dengan menggambar pada bagian kayu yang akan dipahat, atau mencontoh gambar topeng wayang yang ada. Topeng buatan Jadri seperti ”hidup” karena ia langsung mencontoh pada para tokoh wayang kulit Banjar.

Ketekunannya membuat topeng dimulai sejak tahun 1995. Sekitar 20 tokoh wayang sudah dibuat topengnya. Ia tak menjual topeng tersebut. Topeng itu dipakai sendiri atau dipinjamkan kepada dalang lain. Di sini ada kepercayaan, tak sembarang orang bisa memakainya. Biasanya topeng hanya dipakai para dalang dan keturunannya.

”Saya juga menerima pesanan topeng, tetapi bukan topeng wayang,” kata Jadri tentang topeng pesanan yang dijual seharga Rp 25.000-Rp 100.000 per buah itu.

Berbeda dengan topeng untuk tarian topeng Banjar atau papantulan yang hanya menutup wajah, topeng karya Jadri yang terbuat dari kayu pelantan ini dibuat utuh berbentuk satu kepala. Itulah yang membuat topengnya terasa ”hidup” saat dimainkan. Pada bagian mulut misalnya, bisa digerakkan hingga berkesan topeng itu berbicara.

”Kalau saya mengerjakannya setiap hari, satu topeng bisa selesai dalam tiga hari,” kata Jadri yang memperkirakan bakat berkeseniannya berasal dari sang ayah, Sadri, seorang dalang.

Menggendong pengantin

Jadri, yang sehari-hari menjadi petani, mulai serius menekuni topeng wayang Banjar pada tahun 2004. Ketika itu, ceritanya, mulai ada lagi permintaan untuk tampil di kampung-kampung di Kabupaten Tapin. Kebanyakan permintaan itu berasal dari keluarga yang mengadakan pesta perkawinan.

Kesenian topeng wayang Banjar tak hanya menampilkan Jadri sebagai pemain. Dalam setiap pergelaran terlibat pula 40 orang lain. Mereka terdiri dari pemain topeng wayang dan para penabuh gamelan Banjar.

”Kalau tidak semua pemain bisa berkumpul, setidaknya harus ada 25 orang,” katanya.

Topeng wayang Banjar biasanya membawakan cerita Ramayana, seperti penculikan ”Dewi Sinta” dan episode lainnya. Puncak dari aruh bakawinan (pesta perkawinan) itulah yang biasanya ditunggu-tunggu penonton, yakni kehadiran tokoh Samar sambil menggendong pengantin putri untuk diantar ke pelaminan.

”Pada sebagian kampung di Kabupaten Tapin, pengusung pengantin putri yang dilakukan oleh Samar seperti suatu keharusan. Sebab, kalau tidak dilakukan, kadang-kadang ada saja pengantin yang bisa kesurupan,” kata Jadri.

Padahal, ujar Jadri, dia tidak memainkan topeng wayang Banjar seperti dalam proses ritual yang sakral. Hal yang dia maksudkan adalah keharusan menyediakan sejumlah piduduk (sesajen), sebelum topeng wayang Banjar dimainkan.

”Saya hanya percaya kesenian ini bagian dari perangkat ritual kerajaan masa lalu di daerah kami. Tentu saja ada sebagian dari warga yang menikah itu adalah keturunan mereka. Kemungkinan, hubungan inilah yang membuat topeng wayang Banjar sampai sekarang ada saja yang meminta untuk dimainkan,” katanya.

Di Kabupaten Tapin dan beberapa kabupaten di Kalsel, tradisi mengusung pengantin (penganten bausung) menjadi bagian prosesi perkawinan yang masih bertahan. Selain dilakukan pemain topeng wayang Banjar, bisa juga dilakukan warga setempat dengan iringan penari Kuda Gipang menuju pelaminan.

Selain itu, dalam tradisi baayun (tradisi mengayun anak), ditampilkan pula ritual wayang atau topeng seperti baayun wayang, yakni anak yang diayun oleh dalang sambil memegang wayang. Hal yang sama juga dilakukan pada anak yang melakukan baayun topeng. Sebagian masyarakat Banjar tetap mempertahankan ritual baayun wayang atau baayun topeng tersebut.

Dalam sebulan, ungkap Jadri, rata-rata ia memainkan kesenian ini 10 kali, terutama untuk pengantin bausung. ”Kalau wayang kulit Banjar dimainkan semalam suntuk, kami memainkannya justru pada siang hari,” ujarnya.

Jadri berusaha mempertahankan kesenian ini karena sebagian dari pedalang wayang Banjar di Kabupaten Tapin sudah berumur lanjut.

”Kami (para pedalang yang berusia lebih muda) saling bekerja sama. Ini tidak hanya dalam berkesenian, tetapi juga untuk pinjam-meminjam perangkat wayang. Misalnya, wayang kulit atau topeng wayang milik saya bisa dipinjam dalang yang lain. Dalam waktu yang berbeda, saya yang meminjam perangkat tetabuhan milik dalang lain,” kata Jadri.

Cara tersebut terbukti ampuh. Selain bisa melestarikan kesenian tradisional, mereka pun bisa mengatasi masalah keterbatasan perangkat kesenian yang dimiliki para pelakunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar