Senin, 09 Juni 2008

ZHEJIANG-CHINA

Jaring Besar untuk Raup "Ikan" Besar


KOMPAS/PIETER P GERO / Kompas Images
Jembatan sepanjang 36 kilometer yang melintasi Teluk Hangzhou telah memperpendek jarak antara Ningbo, Provinsi Zhejiang, dan Shanghai, lebih dari 120 kilometer, menjadi 230 kilometer. Jembatan yang mulai beroperasi pada 1 Mei lalu ini telah merangsang kehadiran investasi asing ke Zhejiang.



Senin, 9 Juni 2008 | 03:00 WIB

Pieter P Gero

Wartawan senior asal Pakistan, Muhammad Saleh Zaafir Khan, sudah tiga kali ke China. Jumpa dalam Lingking Zhejiang 2008 di Hanzhou, 21-28 Mei, Zaafir Khan pun berkomentar, China segera menjadi lokomotif ekonomi dunia. Setidaknya, di Provinsi Zhejiang, sebuah jaring besar ditebar untuk meraup ”ikan” investasi besar.

Opini Zaafir Khan mewakili orang yang melihat China sedikitnya dari dua era yang kontras. Dia pertama ke Beijing, China, tahun 1979, saat orang asing, apalagi wartawan asing, tidak bisa leluasa meninggalkan hotel. Kini China malah menebar jaring untuk menarik investor, turis, dan pedagang asing datang ke negara itu. Awal dari aktivitas yang segera bermuara pada sebuah negara China sebagai raksasa utama ekonomi dunia.

Acara Lingking Zhejiang 2008 hanya memperlihatkan ”jaring” yang ditebar Provinsi Zhejiang. Belum memasukkan ”jaring” yang ditebar Shanghai, Guangzhou, ataupun Beijing. Menjajaki lewat jalan raya dan berbagai simpang susun dari Hangzhou ke Yiwu (Jinhua) ataupun Yiwu Ningbo, sudah meyakinkan bahwa China, setidaknya Provinsi Hangzhou, sudah menawarkan sebuah infrastruktur jalan raya yang luar biasa.

Melihat sejumlah pusat pengembangan dan riset teknologi, Pelabuhan Samudra Beilun, dan zona industri baru di Ningbo, kian memastikan bahwa Zhejiang berubah menjadi gula manis yang menarik banyak semut. Dan, semuanya menjadi kian hebat saat melintasi jembatan sepanjang 36 kilometer melintasi Teluk Hangzhou.

”Kehadiran jembatan ini memperpendek 120 kilometer jarak antara Ningbo dan Shanghai. Sebuah keuntungan waktu dan biaya yang luar biasa,” ujar Chen Guo Qiang, pejabat wilayah Ningbo. Ningbo dan Shanghai sebelumnya mencapai 350 kilometer. Hanya perlu 30 menit dengan kecepatan 100 kilometer per jam melintasi jembatan ini.

Jembatan terpanjang di dunia yang melintasi laut (teluk) ini mulai beroperasi 1 Mei 2008. Terus terang, sosok jembatan senilai 11,8 miliar yuan atau Rp 15, 9 triliun, dengan enam lajur dan dua gerbang untuk pelintasan kapal barang ukuran besar, ini membuat Indonesia seperti tertinggal satu dekade. Jembatan Selat Madura ataupun Selat Sunda sejauh ini masih jauh dari rampung setelah sekian tahun.

Sebagaimana konsep Jembatan Madura dan Jembatan Selat Sunda yang ingin menarik investor dari Jakarta atau Surabaya yang padat ke Lampung ataupun Madura, Jembatan Teluk Hangzhou ini terbukti segera menarik investor asing. ”Zona Baru Teluk Ningbo-Hangzhou yang dibangun seiring dengan pembangunan jembatan ini sudah dihuni lebih dari 300 proyek dari 25 negara dan kawasan, dengan total investasi 700 juta dollar AS,” ujar Chen.

Kehadiran jembatan yang seluruhnya dibangun oleh perusahaan China sejak 14 November 2003 ini serta-merta membuat jarak dari pusat industri ke pelabuhan atau bandara menjadi sangat dekat. ”Hanya berkendaraan sekitar 1,5 jam, maka zona industri ini sudah bisa mencapai tiga bandara internasional, yakni Shanghai, Hangzhou, dan Ningbo. Juga sangat cepat mencapai pelabuhan samudra Shanghai dan Ningbo,” lanjut Chen.

Pelayanan cepat
Melihat langsung prasarana dan sarana di Provinsi Zhejiang kian memperkuat apa yang dikatakan rekan senior Zaafir Khan. Jalan raya sepanjang 155 kilometer Hangzhou-Ningbo atau Yiwu-Ningbo sejauh 140 kilometer menunjukkan China setidaknya jauh lebih menarik daripada negara mana pun.

Jalan raya, terowongan, dan simpang susun praktis ditemui di setiap sudut, termasuk di wilayah pedalaman sekalipun. Tidak ada kemacetan berat sebagaimana di Jakarta atau Surabaya sekalipun sudah mendekati Pelabuhan Beilun, Ningbo. Dan, semua ini berdampak pada beban biaya yang semakin minim.

Pemerintah Zhejiang mengembangkan jalan raya, zona pengembangan teknologi tinggi, pelabuhan dengan crane-crane raksasa mutakhir, dan pusat grosir terbesar agar bisa menarik lebih banyak investor asing dibandingkan dengan provinsi China lainnya. Persaingan yang acap kali saling ”membunuh”, tetapi lebih banyak saling melengkapi.

Dan, ketika semua sarana dan prasarana relatif berimbang, persaingan dalam pelayanan yang memberikan kemudahan bagi pembeli menjadi faktor unggulan lainnya. Misalnya di pusat grosir komoditas Yiwu (Jinhua), beberapa pedagang asing merasakan pelayanan yang begitu sederhana untuk membeli dan menunggu barang sampai ke negara pembeli.

Beberapa pedagang asing yang ditemui di pusat grosir komoditas terbesar di China itu, dengan luas beberapa kali lipat dari ITC Mangga Dua, mengaku bahwa pelayanan bea dan cukai sangat muda, dengan harga yang sungguh sebuah ”surga”.

”Kualitas harus diakui terus meningkat, tetapi harga sungguh sangat menggiurkan,” ujar Nick, warga India yang sudah 20 tahun berdagang di seputar Taiwan dan China. Pria yang sudah fasih berbahasa China ini dalam beberapa tahun terakhir ini memilih tinggal di Yiwu.

Hal senada juga dikemukakan Zilahi Gabor dari Hongaria yang sudah tiga tahun ini berada di Yiwu. Pria yang juga fasih berbahasa China ini membeli barang dari Yiwu untuk dijual di Eropa dan Eropa timur. Begitu juga Michelle Mulcanay, perempuan asal Selandia Baru yang dua kali setahun datang ke Yiwu untuk membeli barang.

”Saya membeli pot dan berbagai lukisan sebanyak dua atau tiga peti kemas ukuran 40 kaki,” ujar Mulcanay yang tinggal di Timaru, Selandia Baru selatan. ”Harga sangat menarik dan semua urusan begitu mudah. Saya hanya bertemu agen perdagangan, membayar ongkosnya, dan tinggal menunggu di rumah (Selandia Baru),” ujarnya.

Sukses China yang kali ini diwakili Provinsi Zhejiang merupakan bagian dari sebuah kerja keras, disiplin, dan penerapan hukum yang tegas. Harus diakui, masalah hak asasi atau upah buruh yang murah jadi bagian lain dari harga produk China yang sangat murah dan sulit bersaing.

Namun, di sisi lain, China tidak memiliki ekonomi biaya tinggi yang kelewat akut sebagaimana di Indonesia, misalnya. Kerja yang bersinergi antara pusat pengembangan teknologi, universitas, dan perusahaan swasta demikian harmonis, sebagaimana terlihat dari pusat pengembangan teknologi yang dikunjungi di Ningbo, Jiaxing dan Hangzhou.

Harus diakui, sistem partai tunggal dengan jaringan pengawasan yang kuat membuat China praktis lebih mudah dalam mengembangkan proyek, termasuk penggusuran tanah dan rumah warga, seperti terlihat dalam pengembangan proyek Hangzhou CBD di pinggiran Sungai Qiantang.

Tak bisa disangkal, penggusuran ini bagian dari ”pengorbanan” untuk bisa melompat jauh ke depan. China memang melompat jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar