Senin, 09 Juni 2008

Mengapa Hillary Clinton Kalah?

Oleh DEDDY MULYANA

Kalah. Itulah kenyataan yang dihadapi Hillary Clinton melawan Barack Obama untuk menjadi capres dari Partai Demokrat. Obama telah memenangi pemilihan pendahuluan di AS. Ia resmi menjadi calon presiden dari Partai Demokrat. Peristiwa itu menunjukkan bahwa Amerika memang tidak sedemokratis dan seegaliter yang digembar-gemborkan. Khusus untuk jabatan penting, perempuan Amerika sulit bersaing dengan laki-laki.

Dalam bidang bisnis, median gaji mingguan perempuan di AS hanya 80,8% dari median gaji mingguan pria AS (tahun 2006). Median gaji tahunan perempuan dengan gelar sarjana muda, master dan doktor adalah 31% (15.911 dollar AS), 32% (21.374 dollar AS), dan 29% (22.824 dollar AS) lebih sedikit daripada median gaji tahunan pria dengan gelar dan kecakapan yang sama (tahun 2005).

Lebih buruk lagi nasib mereka dalam politik. Dalam sejarah Amerika yang sudah 200 tahun lebih, belum pernah ada presiden AS berkelamin perempuan. Selama itu tampaknya sebagian besar warga AS enggan memilih perempuan sebagai pemimpin negara mereka. Tahun 1984, ada Geraldine Ferraro sebagai cawapres yang mendampingi Walter Mondale sebagai capres dari Partai Demokrat. Namun, pasangan itu lebih banyak diperolok-olok khalayak Amerika daripada sungguh-sungguh dipertimbangkan sebagai calon orang nomor 1 dan 2 di AS.

Hillary Clinton sesungguhnya jauh lebih cerdas dan lebih karismatik daripada Geraldine Ferraro. Ia pun sejauh ini dianggap hebat karena dialah satu-satunya perempuan Amerika yang berhasil menjadi calon Presiden Amerika. Meski demikian, Hillary menuai banyak resistensi dari warga AS, termasuk dari warga kulit putih.

Menjadi istri Bill Clinton menguntungkan bagi Hillary, karena Clinton sukses sebagai presiden AS. Namun hal itu juga merugikan, karena popularitas Clinton mulai usang. Dengan kata lain, secara tidak langsung warga AS mengidentifikasikan Hillary dengan suaminya, sehingga mereka khawatir bahwa memilih Hillary sama dengan memilih suaminya. Artinya, konsekuensi dari keputusan pilihan mereka adalah kebosanan dipimpin oleh pasangan yang sama. Setidaknya warga berpikir, jika Hillary menghuni Gedung Putih, gaya kepresidenannya akan sedikit banyak dipengaruhi gaya kepresidenan Bill Clinton. Karena itu bagi mereka, enough is enough. Gender Hillary sebagai perempuan menjadi kendala bagi pemilih pria, namun sekaligus faktor pendukung bagi pemilih perempuan yang berkilah, "Sudah saatnya Amerika dipimpin oleh jenis kami".

Jika dianalisis, banyak faktor yang membuat Hillary menjadi underdog dalam persaingannya dengan Barack Obama. Satu kendala yang luput dari perhatian pengamat adalah bahwa sejak Amerika berdiri, wilayah politik tingkat tinggi di negara itu adalah wilayah lelaki. Tak percaya? Kenyataannya, metafor yang sering digunakan pers Amerika dalam peliputan kampanye kepresidenan sarat dengan maskulinitas.

Selama beberapa dekade terakhir, pers Amerika sering melukiskan persaingan untuk memperebutkan jabatan presiden AS sebagai perang (war), pertempuran (battle), pertarungan (fight), perjuangan (struggle), pertandingan (game), balapan (race), kontes (contest), gulat (wrestling), atau tinju (boxing). Bukankah istilah-istilah itu khas buat kaum lelaki?

Tim sukses atau tim relawan seorang kandidat sering disebut pasukan (troops). Persaingan antarkandidat sebagai pertarungan David vs Goliath atau Cain vs Abel, yang legendaris dalam Alkitab. Pers AS juga sering melukiskan kampanye utama sebagai medan perang, strategi kampanye sebagai proses memetakan pilihan. Hasil kampanye disebut Armageddon atau Waterloo. Taktik kampanye mencakup sokongan, penarikan, atau pukulan pertama. Hasilnya berupa kemenangan, kekalahan, atau "lari tunggang langgang". Kandidat dapat menandatangani gencatan senjata, perjanjian damai, mengumumkan perang atau melanjutkan permusuhan (Jamieson dan Campbell, 1992).

Lebih spesifik Karin Wahl-Jorgensen (2000) menunjukkan bagaimana liputan Times dan Newsweek tentang kampanye politik Bill Clinton (dengan cawapres Al Gore) dan George W. Bush (dengan cawapres Dan Quayle) tahun 1992 penuh dengan jargon, citra, ekspresi, dan gambar maskulinitas. Metafor olah raga dan militer begitu kental dalam liputan kedua majalah AS terkemuka tersebut. Kandidat politik sebagai "atlet", yang digambarkan lewat kegiatan olah raga (tenis, bola basket, baseball, golf, jogging, dan memancing) serta pemakaian busananya oleh para kandidat politik, meneguhkan stereotip bahwa presiden Amerika harus laki-laki, bak atlet laki-laki yang jantan dan perkasa, yang bertarung untuk menguji dan membuktikan maskulinitas mereka.

Gambaran ini meneguhkan patriarki yang harus lestari dalam jabatan puncak Amerika. Metafor militer dan perang lebih kuat lagi melukiskan citra laki-laki dalam jabatan politik itu, seperti ditunjukkan Bush yang mengenakan topi militer yang sedang duduk di tengah sekelompok serdadu Perang Teluk, yang kesemuanya laki-laki dan berseragam militer. Ia berbicara kepada para serdadu dan menatap mereka dengan penuh perhatian.

Melihat semesta simbolik persaingan politik di AS selama ini, seperti yang dikonstruksi pers AS, agaknya saat ini masih sulit bagi kandidat politik perempuan, termasuk Hillary Clinton, untuk menembus medan lelaki tersebut. Agar kandidat perempuan dapat mengalahkan kandidat lelaki, pers AS harus mengubah gaya jurnalistik mereka dalam melaporkan persaingan antarkadidat politik, sehingga pelaporan mereka lebih netral, lebih androginus, kalau tidak lebih feminin.

Maka Barack Obama yang mengalahkan Hillary Clinton dalam persaingan menjadi capres dari Partai Demokrat, untuk melawan capres dari Partai Republik dalam pemilihan Presiden AS November 2008, selain karena karimastik, boleh jadi karena Obama seorang lelaki. Wallahu a’lam.***

Penulis, Guru Besar Fikom dan Program Pascasarjana Unpad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar