Sabtu, 21 Juni 2008

Owa Kalimantan

Hidup "Si Penyanyi Hutan" Makin Tertekan



KOMPAS/CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO / Kompas Images
Kelestarian owa (Hylobates agilis albibarbis dan Hylobates mullery) di Kalimantan terancam akibat berkurangnya hutan alam yang banyak dikonversi untuk perkebunan sawit. Owa yang ditampung Yayasan Kalaweit di Pulau Hampapak, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, misalnya, saat ini kesulitan mendapatkan hutan alam untuk tempat pelepasliaran, Kamis (12/6).



Sabtu, 21 Juni 2008 | 03:00 WIB

Uhu… uhu… uhu… uhu….” Pekik nyaring ini langsung terdengar ketika speedboat yang kami tumpangi merapat di Pulau Hampapak, Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (12/6). Jangan salah kira, itu bukan suara orangutan atau sejenis burung.

Suara mengalun berintonasi tinggi itu pekikan kawanan owa kalimantan yang ditampung oleh Yayasan Kalaweit—organisasi penyelamat owa—di pulau yang terletak di Sungai Rungai, anak Sungai Kahayan. Pulau seluas 25 hektar itu terletak sekitar 50 kilometer dari Kota Palangkaraya atau perlu satu jam untuk mencapainya dengan memakai speedboat.

Owa bertabiat pendiam. Kalau wilayah teritorial keluarganya tidak diganggu, owa akan mencari makan buah-buahan, pucuk daun, dan serangga dengan tenang, tanpa menimbulkan suara.

”Tapi, sekali ada gangguan mendekat, hewan yang di alam liar umurnya bisa mencapai 30 tahun ini akan memekik-mekik nyaring,” kata Andre, paramedis Yayasan Kalaweit.

Di Kalimantan ada dua jenis owa, yaitu Hylobates agilis albibarbis dan Hylobates mullery. Warna bulu owa jenis kedua lebih gelap daripada yang pertama. Di Kalimantan, primata ini punya banyak nama, di antaranya kalaweit (Dayak Ngaju) dan klampiau (Dayak di Kalbar).

Sesekali kalau sedang tak digendong atau disusui induk betina, anak owa dapat bernyaman-nyaman dalam gendongan induk jantan. Sepanjang hidupnya, owa hanya berpasangan dengan satu ekor lawan jenisnya. Ketika pasangannya mati, owa akan depresi dan tak jarang segera menyusul mati.

Alih-alih dari bertampang lucu menggemaskan seperti orangutan (Pongo pygmaeus), owa bermuka murung dan terkesan galak. Tetapi, owa memiliki pekikan yang mengalun sehingga banyak orang meminatinya sebagai piaraan, seperti halnya burung kicau.

”Owa tak ubahnya penyanyi andal di alam Kalimantan,” kata Hamdani, Manajer Program Yayasan Kalaweit untuk Wilayah Kalimantan.

Selain sebagai ”penyanyi hutan”, owa juga diburu karena kelincahannya dalam bergelantungan seperti pemain sirkus dari pohon ke pohon karena memiliki tangan yang panjang, bahkan hampir sama dengan tinggi tubuhnya.

Dua hal itulah yang menyebabkan masyarakat ingin memilikinya. Perburuan dan perdagangan satwa yang dilindungi itu pun semakin marak. Di sisi lain, kehidupan owa pun semakin terancam dan tertekan.

Bagaimana tidak terancam, kata Direktur Eksekutif Save Our Borneo, Nordin, di Palangkaraya, hutan di Kalimantan yang menjadi tempat hidupnya sampai akhir tahun 2007 tinggal sekitar 44,3 juta hektar. Dari luas itu, yang benar-benar masih terjaga berkisar 25 hingga 30 persen, yakni di kawasan pegunungan. Laju deforestasi atau kerusakan hutan sekitar 864.000 hektar per tahun.

Yayasan Kalaweit, yang berdiri sejak 1999, saat ini menampung 141 owa di Pulau Hampapak. Hamdani menuturkan, problem besar dalam penyelamatan owa adalah sulitnya mencari tempat pelepasliaran di hutan alam karena sulitnya mencari hutan lestari. Jadi, pantas saja jika hidup ”si penyanyi hutan” ini makin tertekan.(CAS/FUL/AIK)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar