Senin, 09 Juni 2008

Unjuk Gigi Lewat Pin

Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung - Pakar aliran Humanisme, Abraham Maslow menyatakan bahwa kebutuhan aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan hirarki tingkat tinggi dalam diri manusia dari lima kebutuhan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan itu, manusia senantiasa mencoba mengaktualisasikan diri dengan berbagai cara, berbagai media. Entah itu dengan organisasi, komunitas, sebuah karya atau media hasil trend peradaban, misalnya dunia fashion dengan segala pernik yang ada di dalamnya.

Jika industri clothing mengkomunikasikan identitas melalui t'shirt dan segala bentuk produk fashion lainnya, maka Pinholic mencoba mengkomunikasikannya dengan benda bulat pipih kecil bernama pin. Meskipun pin kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari industri clothing atau distro. Trend pin memang begitu menjamur saat ini. Tulisan-tulisan atau desain di dalamnya bisa berupa ungkapan identitas atau hanya sekedar pelengkap fashion untuk sekadar terlihat lebih bergaya.

Peluang itu dimanfaatkan Ivan Sitorus, pemilik industri kreatif bernama Pinholic. "Setiap orang butuh komunikasi, setiap orang dilahirkan untuk berkomunikasi . Pinholic menjembatani komunikasi itu dengan pin. Pin bukan hanya sebagai merchandise atau gimmick tetapi sesuatu agar komunikasi bisa lebih efektif," ungkap Ivan.

Katakan tanpa suara, begitu kata Ivan. Ia mendirikan Pinholic pada tahun 2003. Menurut Ivan, Pinholic yang pertama kalinya menggunakan bahan dasar pin dengan laminasi dove. Laminasi dove memiliki permukaan yang lebih tebal dibandingkan laminasi lainnya. Ada dua macam laminasi pin lainnya yang biasa dipakai yaitu glossy atau glitter.

Menurut Ivan, kualitas pin bisa dilihat dari unsur ketebalan laminasi, peniti berkualitas yang tebal dan tidak mudah berkarat serta finishing yang rapih.

Media komunikasi pin tak hanya dimanfaatkan oleh perusahaan untuk branding merek, juga bagi pribadi, corporate, termasuk pelajar dan mahasiswa. "Pelajar itu lebih cerewet lagi dalam berkomunikasi," tutur Ivan.

Tulisan-tulisan seperti 'High School Babe' dibuat oleh para pelajar yang ingin menunjukan diri. Begitu pula dengan kampanye-kampanye sosial seperti AIDS dan Global Warming. Ivan mencontohkan mahasiwa fakultas psikologi yang membuat pin 'Curhat Bayar'.

Pinholic store bisa ditemukan di Trunojoyo 23. Sederetan pin bisa menjadi pilihan untuk mengekspresikan diri. Kalau belum merasa terekspresikan dengan pin yang ada, tinggal pesan saja ke pinholic. Meski harganya terbilang cukup mahal, pinholic memiliki kualitas.

"Kami yang termahal tapi yang terbaik," tutur Ivan.

Untuk harga satuan bisa Rp 7.000 per pieces, jika membeli banyak diskon 20-30 persen dengan minimum pembelian 100 pieces. Jika ingin memesan desain sendiri harganya berkisar Rp 1500-5.000 dengan minimum pemesanan 25 pieces. Siap tunjukan diri?

( ema / ern )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar