Senin, 09 Juni 2008

Kosambi, Pohon Multiguna Bernilai Ekonomis

Masyarakat menjadikan pucuk daun pohon kosambi sebagai lalap mentah atau matang dan buahnya dirujak. Biji yang kering ditumbuk atau ditusuk langsung beberapa biji untuk penerangan

Di Kota Bandung, nama pohon kosambi (Schleichera oleosa, MERR) ini hanya tinggal nama. Namanya abadi menjadi nama geografi dan menjadi sangat terkenal karena di kawasan itu berdiri pasar yang telah banyak memberikan kehidupan dan penghidupan. Kawasan ini berada di luar batas kota lama yang hanya sampai kacakaca wetan di sekitar Simpang Lima (Jln. Asia Afrika, Jln. Sunda, Jln. Jend. Gatot Subroto, dan Jln. Jend. Ahmad Yani).

Dalam ilmu geologi, nama geografi kosambi menjadi naik ke permukaan setelah Prof. Dr. R.P. Koesoemadina/Geologi ITB mengusulkan menjadi nama Formasi Kosambi untuk pemerian batuan pasir tufan.

Tentang pohon kosambi, tinggi pohon ini bisa mencapai 15 hingga 40 meter dengan diameter batang antara 60-175 cm. Tumbuhan ini tersebar di seluruh Asia Tenggara dan di Indonesia dapat ditemukan pada ketinggian 0-1.200 meter dpl. Kosambi termasuk salah satu tumbuhan hutan yang beradaptasi lokal, bermanfaat serbaguna, bernilai ekonomi tinggi, dan sangat potensial. Buah pohon kosambi digemari oleh manusia, binatang, burung, dan merupakan sumber energi. Oleh karena itu, pohon kosambi dapat menjadi alternatif tanaman unggulan di dalam dan di luar kawasan hutan.

Ada di mana?
Bukan hanya di Bandung ada nama geografi kosambi, namun ada juga di Cirebon dan Subang. Bedanya, di Cirebon masih terdapat pohonnya, bahkan dalam ukuran raksasa yang tumbuh di Pemakaman Ki Nataguna, Trusmi. Sementara di Subang, pohon ini tumbuh di pemakaman Desa Pamanukan.

Di luar Jawa Barat, pohon kosambi merupakan pohon yang sengaja ditanam, seperti halnya menanam jati. Dalam sekar sinom "Serat Rerengan" dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat disebutkan bahwa saat Sri Sultan Hamengku Buwono II membangun Rejawinangun dan Reja Kusuma, juga menanami kota dengan pohon gaharu, cendana, kosambi, dan jati.

Pohon kosambi terdapat di Suaka Margasatwa Pulau Rambut di Taman Nasional Baluran di Cagar Alam Pulau Sangiang di Kabupaten Bima Provinsi NTB, juga di Taman Nasional Bali Barat.

Di daerah lain, pohon kosambi menjadi pohon penghijauan, seperti di perbukitan Prataan, Tuban. Juga penghijauan di Desa Karanganyar, Purwodadi, Grobogan yang ditanam di sepanjang bahu jalan. Balai Pengelolaan DAS Pemali Jatrum menanam pohon kosambi di 13 desa di Kab. Pemalang. Bahkan, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur menghijaukan daerah tujuan wisata Sendangbiru dengan menanam pohon kosambi. Juga di tempat wisata Benteng Portugis di tepi pantai Desa Ujungwatu, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Dan, di selatan Yogyakarta terdapat pohon kosambi yang banyak ungkrung, kepompong ulat yang biasa digoreng dan disantap dengan nasi thiwul.

Di Sulawesi Selatan, manfaat pohon kosambi mempunyai kaitan dengan sejarah pada masa kerajaan Sultan Hasanuddin sehingga mengembangkannya, selain serbaguna, juga mempunyai nilai sejarah.

Pohon kosambi banyak terdapat di Kabupaten Alor dan Rote-ndao yang sudah lebih dahulu mengekspor seedlak ke Jepang. Seedlak dihasilkan dari kutu lak yang memiliki habitat di pohon kosambi.

Di Pulau Timor, kosambi juga tumbuh merata, namun kurang menghasilkan kutu lak (Leccifer lacca, KERR) dalam jumlah banyak. Di Desa Lenggalero, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT, dikembangkan usaha produktif dengan menanam pohon kosambi untuk mengembangkan kutu lak. Di Kabupaten Flores Timur pohon kosambi sangat bernilai ekonomis bagi masyarakatnya. Di Banten, konon pohon ini akan dikembangkan sebagai hutan produksi untuk menghasilkan seedlak.

Manfaat kosambi
Dalam naskah lontar Bali dituliskan bahwa pohon kosambi dapat dijadikan bedak tubuh yang dicampur dengan daun dan kulit pohon lainnya.

Para nelayan menggunakan kayu yang sangat berat ini sebagai jangkar kapal. Oleh para pembuat gula tebu zaman dulu, kayunya dijadikan penggilingan yang handal. Dahannya baik dijadikan alu karena hulu tumbuknya tidak menyerpih.

Masyarakat menjadikan pucuk daunnya sebagai lalap mentah atau matang dan buahnya dirujak. Biji yang kering ditumbuk atau ditusuk langsung beberapa biji untuk penerangan. Namun, yang paling penting sejak lama adalah minyak dari biji kosambi yang berkhasiat dalam pengobatan, salep, dan bahan lilin. Pascakemerdekaan, pohon kosambi yang serbaguna ini kurang mendapatkan perhatian.

Pada saat sumber energi fosil semakin terbatas, energi baru dan terbarukan, seperti bahan bakar nabati mendapat perhatian kembali. Saat ini penyebaran tenaga listrik baru mencapai 54% kawasan Indonesia dan terpusat di Pulau Jawa dan Bali. Listrik tenaga nabati, bahan bakarnya dapat dipenuhi oleh masyarakat melalui penanaman pohon kosambi, kaliki, jarak atau yang lainnya. Desa-desa di Indonesia bisa menjadi desa mandiri energi. Masyarakat menanam pohon kosambi dan jarak untuk dijadikan minyak untuk keperluannya sendiri dan dijual bila berlebih.

Sesungguhnya, bila mau, pohon ini dapat menjadi salah satu unggulan bahan bakar nabati, seperti negara lain yang telah mengembangkan bahan baku biofuel dari kedelai, seperti AS dan Brasil, biji bunga matahari (Italia dan Prancis), zaitun (Spanyol), atau jarak pagar (Nikaragua).

Sebagian besar warga Desa Nemberala di pesisir Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, NTT, sudah lama memanfaatkan biji kosambi. Bijinya ditumbuk, dipakai untuk menyalakan cempor dan kompor, atau menusuk bijinya lalu dibakar untuk penerangan.

Perlu gerakan masyarakat untuk menghutankan lahan kritis, di antaranya dengan menanam pohon kosambi, mengingat manfaat ekonominya bagi warga sangat tinggi. Sebagai contoh, bagi warga Dusun Laindeha, Desa Waimbidi, Kupang, dan warga di Kabupaten Sumba Timur, pohon kosambi mempunyai arti penting karena bernilai ekonomis. Pohon ini digunakan sebagai media dalam budi daya kutu lak. Pohon yang paling cocok sebagai tempat hidupnya hanya pohon kosambi.

Bila dikelola dengan baik, kutu lak dapat menjadi sumber pendapatan negara. Kebutuhan lak dunia mencapai 9.000 ton lebih dan India memasok 50%. Di Indonesia komoditas lak belum diproduksi secara maksimal padahal sangat potensial sekaligus menjaga lingkungan dan memberdayakan masyarakat.

Hasil budi daya kutu lak dapat diperoleh seedlak yang berguna untuk pembuatan vernis, industri listrik, perekat, plitur, dan kabel. Seedlak juga dipergunakan untuk bahan pewarna (edible dye), pewarna minuman ringan dan makanan. Dapat juga dipergunakan sebagai bahan campuran untuk lapisan luar pada cokelat. Air limbah dari pengolahan lak yang banyak mengandung asam lakaik, berguna untuk proses penyamakan wol, sutra, dan kulit, serta dapat digunakan untuk menetralisir air kolam pada budi daya ikan lele.

Kulit kosambi dapat digunakan sebagai pengawet nira. Bila dimasukkan 5-7,5 gram kulit kosambi pada saat penyadapan, nira tetap segar serta hasilnya menunjukkan kecenderungan kadar sukrosa dan gulanya meningkat dengan makin tingginya konsentrasi pemberian kulit kosambi.

Di Jawa Barat, juga di Cekungan Bandung, tak akan kekurangan lahan kritis. Di sepanjang pantai, di perbukitan, di bahu jalan, banyak lahan dibiarkan gersang dipanggang matahari. Bila ditanami kosambi, buahnya dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat untuk keperluan memasak dan penerangan, juga minyaknya untuk energi kendaraan, serta pohonnya dapat menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengembangbiakkan kutu lak!

Saatnya mengembalikan kekuatan masyarakat agar tidak banyak bergantung pada pihak lain.***

T. Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

2 komentar:

  1. Pak Bachtiar, saya sangat tertarik dengan makalah tulisan anda. Dapatkah bapak membantu saya memberitahu dimana daerah penghasil Seedlak di Indonesia? Jika saya dapat membeli rencananya Seedlak tsb akan kami gunakan sebagai bahan uji coba home industri kecil2an dirumah kami. Atas kebaikan hati dan bantuannya dihaturkan benyak terima kasih.

    Salam,
    alfidhrofie
    08161111595-02170034500
    alfidhrofie@yahoo.com

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaat, saya jd tau penyebaran dan manfaat dr pohon kosambi. Trima kasih artikelnya

    BalasHapus