Rabu, 04 Juni 2008

Penggilingan Padi Keliling

Usaha yang Nyaris Kehabisan Napas


KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI / Kompas Images
Heri (34), pengemudi penggilingan padi (huller) keliling, bersantai menunggu petani yang memerlukan jasanya, Sabtu (31/5) di jalan Desa Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Satu bulan terakhir ini pendapatannya turun hingga 50 persen karena tidak banyak petani yang menggiling gabah. Padahal, biaya operasional terus membengkak akibat kenaikan harga BBM pada Mei 2008.



Rabu, 4 Juni 2008 | 03:00 WIB

Oleh Runik Sri Astuti

Kondisi usaha penggilingan padi (huller) keliling di Kediri ibarat perahu kecil di lautan lepas. Jangankan terus melaju, bertahan pun begitu sulit. Hantaman badai kenaikan harga bahan bakar minyak membuat usaha itu nyaris kehabisan napas.

Sejumlah huller diparkir berjajar di sebelah kanan jalan yang menghubungkan Desa Blabak, Kecamatan Pesantren, dengan Desa Joho, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (31/5).

Tepat di seberang jalan terlihat beberapa operator huller. Para pengemudi dan kernetnya duduk santai di sebuah warung. Mereka mengobrol ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok yang diisap bergiliran.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 10.00. Itu berarti baru tiga jam lalu mereka berpamitan kepada istri dan anak-anaknya untuk mencari nafkah. Semakin siang, jumlah huller yang parkir makin banyak dan warung pun kian sesak.

Operator itu berkumpul bukan untuk bermalas-malasan, tetapi memang tidak banyak yang menggunakan jasa mereka. Mereka terpaksa ”beristirahat”. ”Daripada keliling tidak dapat hasil, lebih baik diam, hemat BBM,” ujar Heru, salah satu pemilik huller.

Warga Desa Joho itu mengatakan, sejak keluar rumah pukul 07.00 dan menempuh perjalanan 20 kilometer, dia hanya berhasil mengumpulkan beras satu ember kemasan cat 10 kilogram sebagai upah menggiling gabah. Wahyu, pemilik huller lain, lebih beruntung karena berhasil mengumpulkan 12 kilogram beras. Jika diuangkan, nilainya sekitar Rp 48.000-Rp 50.000

Penggilingan keliling itu menerima upah dalam bentuk beras. Setiap menggiling gabah menjadi beras 1 kuintal, mereka mendapat upah 6 kilogram beras atau senilai Rp 30.000. Bahan bakar minyak (BBM) yang dibutuhkan untuk transpor dan giling beras sebanyak 3 liter.

Padahal, untuk transpor saja mereka sudah mengeluarkan Rp 10.000, yakni beli minyak tanah 2 liter seharga Rp 7.000 dan minyak pelumas bekas 2 liter seharga Rp 2.500. Ditambah sekitar 1 liter minyak tanah lagi untuk menggiling gabah, totalnya Rp 13.000.

Soal harga BBM itu memang menjadi problem bagi operator huller. Sejak kenaikan harga BBM tahun 2005, puluhan pemilik huller mengganti bahan bakar solar dengan minyak tanah yang dicampur minyak pelumas bekas pakai. Meskipun risikonya cukup besar karena sifat minyak tanah yang korosif sehingga mudah merusak mesin, itu terpaksa dilakukan karena beratnya menanggung biaya tinggi mengoperasikan mesin penggiling padi itu.

Bertambah berat

Kini beban mereka bertambah berat setelah pemerintah memutuskan menaikkan lagi harga BBM pada akhir Mei lalu. Tak ayal, kenaikan harga BBM itu ibarat pukulan yang datang bertubi-tubi.

Harga solar telah melejit dari Rp 1.200 per liter menjadi Rp 5.500 per liter. Harga minyak tanah menjadi Rp 2.500 atau sekitar Rp 3.500 di tingkat pengecer.

”Kalau pakai solar, ya kami harus nombok banyak. Uang apa yang dipakai, buat makan saja pas-pasan bahkan kadang ngutang dulu ke penjual beras,” ujar Yuli, pemilik huller.

Dengan menggunakan minyak tanah saja, mereka hanya punya sisa uang Rp 35.000-Rp 37.000. Itu pun masih harus disetorkan kepada pemilik huller sebesar sepertiganya. Sisanya baru dibagi dua dengan kernetnya sehingga masing-masing hanya mendapat uang Rp 10.000.

”Mau jalan sendiri, ya, kasihan kernetnya. Nanti tidak punya penghasilan. Biar penghasilan kecil tidak apa-apa, yang penting masih bisa sama-sama makan. Mereka, kan, juga punya keluarga,” tambah Yuli.

Bagi wong cilik seperti mereka, terkadang uang bukan segalanya walaupun mereka sangat membutuhkan. Di tengah belitan hidup yang berat, ternyata bagi mereka ada yang lebih pantas diperjuangkan daripada sekadar uang, yakni semangat kebersamaan dan saling menolong sesama manusia.

Pukulan terhadap usaha mikro penggilingan padi keliling ternyata tidak hanya berhenti setelah kenaikan harga BBM. Program pengalihan pemakaian minyak tanah ke elpiji rencananya diberlakukan dalam waktu dekat. Konsekuensinya, minyak tanah ditarik dan, kalaupun ada, harganya sekitar Rp 8.000 per liter.

Parahnya lagi, pemilik huller keliling juga harus bersaing ketat dengan perusahaan penggilingan padi atau selep yang menetap. Petani yang punya gabah banyak biasanya menggilingkan ke selep. Namun, jika kebutuhannya sedikit, seperti untuk makan sehari-hari, barulah mereka memanggil huller.

Penderitaan pengelola huller ternyata belum benar-benar berhenti. Aparat kepolisian dan instansi terkait, seperti dinas perhubungan dan dinas lalu lintas jalan raya, menjadi ancaman bagi mereka.

Masalahnya, keberadaan huller keliling tidak memiliki surat keterangan laik jalan selayaknya kendaraan umum. Alat itu memang didesain sebagai mesin penggilingan yang diletakkan di atas rangka (chassis) mobil yang tidak terpakai agar bisa dikemudikan. ”Sekali kena palak bisa Rp 20.000,” ujar Yuli.

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Pemilik Huller Kabupaten Kediri, jumlah huller di wilayah itu saat ini mencapai 200 unit. Di satu kecamatan di Kediri, seperti Kecamatan Wates, terdapat 40 huller.

Di tengah ancaman kenaikan harga BBM dan penertiban oleh aparat, pelaku usaha kecil ini berupaya terus agar mampu bertahan dengan semangat dan kegigihan mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar