Rabu, 23 Juli 2008

Anak Jalanan

Akarnya adalah Kemiskinan

Rabu, 23 Juli 2008 | 12:05 WIB 


Selasa (22/7) siang terasa panas. Namun, itu tidak mematahkan semangat Andri (13) dan Asep (12) menyusuri Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Setiap hari, dua anak jalanan ini menyusuri jalan-jalan Kota Kembang untuk bertahan hidup.

Caranya? Mereka mengemis di jalan raya dan angkutan kota. Sesekali perjalanan itu diisi dengan canda tawa untuk menghibur diri. Namun, mata mereka tak lepas memandang para pejalan kaki untuk dipilih mana yang dirasa pantas dijadikan dermawan.

Sepi dermawan kadang memaksa mereka meminta makanan kepada pedagang di sekitar jalan yang mereka lalui. Siang itu mereka menghampiri pedagang lontong kari yang sedang mangkal di tepi selatan Lapangan Gasibu. Beruntung, penjualnya bermurah hati memberikan sepiring lontong kari plus kerupuk, yang langsung mereka santap dengan lahap.

Begitulah kehidupan yang dijalani Asep dan Andri. Jalanan menjadi "rumah" mereka selama dua tahun terakhir ini. Saat ini mereka tinggal bersama sejumlah anak jalanan lain di Pasar Kosambi, Bandung.

Saat ditanya mengapa harus menjalani hidup seperti ini, mereka menjawab bahwa keputusan lari dari rumah itu disebabkan masalah keluarga. "Aku tidak tahan sama ibu tiri yang galak," ucap Andri. Ia kabur dari rumahnya di Kota Tasikmalaya ke Bandung dengan menumpang bus sebagai pengemis. Saat itu, ia memanfaatkan waktu pulang sekolahnya untuk kabur dari rumah. "Saya ingin bebas dari masalah. Saya selalu disalahkan kalau di rumah sama ibu tiri," ujarnya dengan pandangan kosong.

Sementara Asep yang mengaku dari Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, mengaku pergi dari rumah karena orangtuanya bercerai dan ibunya pergi ke Subang. "Tapi, saya tidak tahu pasti ibu pergi ke Subang sebelah mana," katanya.

Lain lagi cerita Alek (17). Alek yang lahir di Padang ini nyaris tak pernah melewatkan masa remaja dengan kebebasan bermain. Sekolah pun harus putus ketika SMP. "Bapak tak punya uang," kata Alek, yang bersama orangtuanya mengontrak rumah petak di kawasan Cicaheum.

Andri, Asep, dan Alek hanyalah potongan kecil dari masalah besar anak-anak Indonesia. Anak jalan dan pekerja anak adalah fenomena yang lazim kita temui di sekeliling. Nyaris tak ada persimpangan jalan besar di Kota Bandung yang tanpa anak jalanan. Ironisnya, dalam "beroperasi" mereka justru didampingi orangtua mereka.

Harus berkesinambungan
Sosiolog Budi Rajab melihat, akar masalah utama dari banyaknya anak jalanan adalah kemiskinan. "Selama angka kemiskinan masih tinggi, anak-anak jalanan dan pekerja anak akan tetap banyak," kata Budi. Ia tak menyangkal, fenomena anak jalanan memang terjadi di berbagai belahan bumi. Akan tetapi, di negara maju, masalah keluarga lebih menjadi alasan. Orangtua mungkin juga tak tahu bahwa anaknya lari ke jalan. Di Indonesia, anak-anak memang sengaja dipekerjakan oleh orangtua mereka.

Penanganan anak jalanan dan pekerja anak semestinya merupakan program yang berkesinambungan. Selain itu, penanganan tak melulu ditimpakan pada dinas sosial. "Menilik akar masalah utamanya, program-program pengentasan kemiskinanlah yang harus ditingkatkan," ujar Budi.

Ketua KPAID Kota Bandung Rudiyanto mengungkapkan, permasalahan juga dipengaruhi kepadatan penduduk. Semakin banyak jumlah penduduk memengaruhi jiwa sosial anak. Mereka menjadi mudah terpengaruh, termasuk turun ke jalan.

Data tahun 2005 menyebutkan, jumlah penduduk Kota Bandung ialah 2.619.240 orang dengan kepadatan 151 orang per kilometer persegi. Setahun kemudian, jumlah itu meningkat menjadi 2.861.779 orang dengan kepadatan 171 orang per kilometer persegi. (Rony Ariyanto Nugroho/Lis Dhaniati/Cornelius Helmy) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar