Sabtu, 19 Juli 2008

Penduduk Asli Jepang

Ainu, Suku Asli Jepang yang Terpinggirkan... 


KOMPAS/RAKARYAN SUKARJAPUTRA / Kompas Images 
Suku asli Jepang bagian utara, suku Ainu, dalam beberapa hal punya kemiripan dengan suku Dayak di Kalimantan, khususnya dalam corak pakaian dan gerakan tari-tarian dan nyanyian tradisionalnya.
 

Oleh Rakaryan Sukarjaputra


Sabtu, 19 Juli 2008 | 03:00 WIB 
Perjuangan berpuluh-puluh tahun warga suku Ainu akhirnya membuahkan hasil pada pertengahan tahun ini. Suku asli yang menghuni sebagian besar wilayah utara Jepang itu kini telah diakui sebagai suku asli yang harus dilindungi keberadaannya serta kelestarian berbagai kekayaan budayanya.

Ainu (baca Ain) sendiri berarti ”manusia”, sebagai kebalikan dari segala sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan mereka yang oleh mereka disebut sebagai kamuy atau tuhan-tuhan. Tuhan-tuhan ini mencakup tuhan-tuhan ”alam” seperti angin, air, api, dan petir; tuhan-tuhan binatang seperti beruang, rubah, dan burung hantu; atau tuhan-tuhan benda seperti perahu dan rumah.

”Posisi Tuhan dan manusia dalam kepercayaan Ainu adalah sejajar,” ujar Muraki, Ketua Kurator Museum Ainu di kota kecil Shiraoi, Hokkaido, atau sekitar 45 kilometer dari kota utama Sapporo.

Para ilmuwan mengemukakan berbagai teori mengenai asal-muasal suku Ainu. Tetapi, kebanyakan ilmuwan lebih condong kepada hipotesis yang didasarkan atas teori Mongoloid. Menurut teori Mongoloid itu, orang-orang Mongoloid semula dibagi menjadi dua, yaitu Mongoloid Utara dan Mongoloid Selatan. Sebelum periode Jomon (10.000 SM-300 SM), Mongoloid Selatan mulai bergeser ke utara dan kemudian menetap di pulau-pulau yang kini dikenal sebagai wilayah negara Jepang.

Mongoloid Selatan berperan utama pada kebudayaan Jomon di seluruh Jepang. Mereka kemudian menyebar menjadi etnik-etnik Jepang yang dikenal saat ini, yaitu Ainu di sekitar Pulau Hokkaido dan wilayah Tohokuserta orang-orang Ryukyu di wilayah Okinawa.

Pada periode Yayoi dan Tumulus (300 SM sampai 300 M), Mongoloid Utara kemudian masuk ke Jepang dalam jumlah sangat besar. Mereka itulah yang kemudian disebut sebagai orang-orang Jepang, dengan tempat hunian utama di Pulau Honsu dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Pada pertengahan 1400-an, orang-orang Jepang memperluas pengaruh mereka ke selatan Hokkaido, khususnya Esashi dan Matsumae, dan kemudian menjajah orang-orang Ainu.

Untuk mempertahankan diri, orang-orang Ainu pun berperang melawan orang-orang Jepang sehingga pecahlah pertempuran Koshamain pada 1457, pertempuran Sakshain pada 1669, dan pertempuran Kunashiri-Menashi pada 1789. Pada ketiga perang itu, Ainu mengalami kekalahan sehingga suku ini kemudian sepenuhnya berada di bawah jajahan Jepang hingga era Meiji (1867-1912).

Politik asimilasi
Keberadaan suku Ainu nyaris punah pada era Meiji dengan diberlakukannya politik asimilasi yang memaksa orang-orang Ainu tidak bisa lagi mengikuti budaya dan tradisinya. Sebaliknya, orang-orang Ainu dipaksa mengikuti kebiasaan orang-orang Jepang dan menikah dengan orang-orang Jepang.

Menurut pencatatan yang dilakukan orang-orang Jepang pada era 1800-an, jumlah warga suku Ainu terus mengalami penurunan akibat penjajahan Jepang. Pada tahun 1807 tercatat 26.256 orang, tahun 1822 menjadi 23.563, pada tahun 1854 menjadi 17.810, dan pada tahun 1931 menjadi 15.969 orang.

Pada akhir era Meiji, dengan semakin banyaknya orang Jepang dari Honsu yang masuk dan tinggal di Hokkaido, penekanan dan eksploitasi terhadap orang-orang Ainu digantikan dengan diskriminasi terhadap mereka. Diskriminasi terhadap Ainu tetap berlangsung hingga hari ini, tetapi perlakuan yang kemudian menjadi lebih baik membantu meningkatkan kembali populasi warga Ainu.

Berdasarkan sensus yang dilakukan pemerintah Hokkaido pada 1993, populasi warga Ainu di Hokkaido sebesar 23.830 orang dan kini jumlah tersebut diyakini telah bertambah besar lagi.

”Masalahnya, banyak orang Ainu yang tidak mau mengakui Ainu atau ada juga yang tidak tahu lagi bahwa mereka mempunyai darah Ainu,” jelas Muraki.

Museum Ainu baru dibuka pada tahun 1984 dan merupakan museum pertama suku Ainu. Muraki menjelaskan, museum itu dioperasikan sepenuhnya oleh orang-orang Ainu dan 90 persen dibiayai dari pendapatan tiket masuk wisatawan.

Ketika berkunjung ke museum itu, pekan ketiga Juni 2008, Kompas pun disuguhi pertunjukan tari dan musik tradisional. Sepintas tari dan lagu yang dinyanyikan secara berkelompok oleh warga Ainu itu banyak kemiripannya dengan tari dan lagu suku-suku asli lainnya di Amerika Serikat (Indian) dan juga suku Dayak di Indonesia. Bedanya, gerak tari suku Ainu jauh lebih tenang.

Pertahankan kelestarian
Sebagaimana nasib suku-suku asli lainnya di berbagai tempat, suku Ainu pun kini berjuang keras untuk mempertahankan kelestariannya. Muraki mengungkapkan, banyak warga Ainu kini tidak bisa lagi berbahasa Ainu akibat politik asimilasi pada masa lalu. Juga sedikit orang Ainu yang mengerti budaya Ainu.

”Melalui museum inilah kami ingin menyebarkan kembali pengetahuan mengenai suku Ainu kepada orang-orang Ainu sendiri dan orang luar,” papar Muraki.

Di dalam museum itu, para pengunjung bisa melihat berbagai peralatan yang digunakan warga Ainu untuk berburu dan bertanam jagung, yang merupakan mata pencarian utama warga suku ini. Suku Ainu pun sudah lama mengenal dagang, dengan menjual sebagian hasil buruan mereka untuk ditukarkan dengan barang kebutuhan sehari-hari lainnya dari orang-orang Jepang.

Warga suku ini, yang tampak lebih gempal dibandingkan dengan umumnya orang Jepang, sangat mahir berburu beruang yang besarnya dua sampai tiga kali tubuh mereka. Beruang coklat yang hingga kini masih banyak terdapat di Hokkaido dan dilindungi kelestariannya memang menjadi buruan paling berharga buat mereka. Dengan panah beracun yang berasal dari tanaman torikabuto, beruang coklat seberat 300 kg pun bisa langsung mati dalam beberapa menit.

Kini, berbagai kekayaan budaya dan keterampilan orang Ainu coba ditularkan kembali kepada warga muda Ainu. Akan tetapi, menanamkan kembali nilai-nilai tradisi lama itu tentu saja tidak mudah di tengah derap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat di Jepang.

1 komentar:

  1. ada bahan lain tentang suku ainu tidak, misal tentang kebijakan pemerintah

    BalasHapus