Jumat, 18 Juli 2008

Warisan Budaya

Banyak Naskah Kuno Berada di Luar Negeri


Jumat, 18 Juli 2008 | 10:59 WIB 

Bandung, Kompas - Ribuan naskah kuno Nusantara berada di luar negeri akibat tidak diperlakukan dan dirawat dengan baik. Konsekuensinya, banyak ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam naskah kuno itu dikembangkan negara penyimpan.

Menurut Pupuhu Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda Etti Rohaeti Sutisna di Bandung, Kamis (17/7), akibat minimnya perhatian pemerintah melindungi dan melestarikan naskah kuno, tanpa disadari, naskah itu berada di luar negeri.

Tidak hanya itu, manfaat yang terkandung dalam naskah pun dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari, dari pertanian, pengobatan, hingga pemerintahan. Kebanyakan naskah kuno itu berada di Belanda, Inggris, dan Australia. Naskah kuno itu biasanya dibawa kolonial Belanda atau diperjualbelikan anggota masyarakat tertentu.

"Pernah ada filolog (ahli tentang ilmu kebudayaan dan sejarah) Indonesia menemukan naskah kuno yang terbengkalai di sekitar Kabupaten Bandung. Namun, akibat tidak lantas dibeli pemerintah daerah setempat, tidak lama kemudian naskah itu sudah berpindah tangan ke orang asing," katanya.

Meski demikian, tersimpannya naskah kuno di luar negeri bagai dua mata pisau berbeda. Di satu sisi, keberadaannya menjadi ironi. Banyak rahasia kekayaan zaman dahulu yang terdata rapi, seperti kesehatan, ilmu pemerintahan, politik, dan pertanian Nusantara, justru berada di negara lain. Anugrah

Di sisi lain, naskah tersebut justru menjadi anugerah di luar negeri. Pemerintah Belanda melalui Universitas Leiden, misalnya, sangat memerhatikan penyimpanan dan perlakuan naskah itu.

"Hingga kini mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi S-2 atau S-3 tentang Indonesia tidak jarang harus pergi ke Belanda untuk sekadar membaca naskah kuno itu. Namun, karena terawat dengan baik, naskah sering kali masih bisa difotokopi dan dibaca leluasa," katanya.

Selain minim perhatian, sifat dan bentuk budaya beberapa daerah di Indonesia yang belum terbuka menyebabkan banyak isi naskah kuno belum bisa diungkapkan. Menurut Etti, masih ada masyarakat yang memilikinya menganggap tabu bila naskah itu dibaca sembarangan.

"Hal ini mendorong diselenggarakannya Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XII di Bandung, 4-7 Agustus 2008. Ada 30 filolog, 10 di antaranya filolog dari negara di Eropa dan Asia. Fokusnya memperkenalkan naskah kuno Nusantara yang tersebar di seluruh dunia," kata Etti yang dalam simposium itu bertindak sebagai ketua panita.

Menurut budayawan Herry Dim, pemerintah harus peduli terhadap naskah kuno yang masih tersisa. Naskah kuno bukan sekadar rangkaian kata-kata masa lalu, melainkan juga mengandung pesan dan manfaat kehidupan masa kini. (CHE)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar