Kamis, 24 Juli 2008

Putu Yang Tak Lagi Bambu


Ema Nur Arifah - detikBandung




Bandung - Perhelatan Temu Taman Budaya se-Indonesia yang mengambil tema 'Serumpun Bambu Sejuta Aksi' di Taman Budaya tak hanya menghadirkan kesenian-kesenian tradisional bambu dari 24 provinsi di Indonesia tetapi juga menyuguhkan wisata kuliner yang menggiurkan.

Melihat konsep bambu, yang terbayang adalah kuliner-kuliner terkait dengan bambu yang begitu eksotis untuk dinikmati. Sebut saja rebung, lemang atau beberapa variasi makanan lain yang menggunakan buluh bambu.

Tapi begitu menginjak area kuliner, tak satupun makanan yang berkaitan dengan bambu. Kue putu yang identik dengan bambu pun, sama sekali tak tersentuh oleh bambu.

Putu pisang, demikian namanya. Memang bukan buluh bambu yang digunakan untuk mencetak putu. Sebuah alat cetak modern seperti corong yang bagian atasnya membulat.

Tepung beras dan tepung ketan dicampurkan kemudian diisi gula merah, terakhir beberapa potong pisang raja di bagian atasnya. Cetakan pun ditutupi oleh kain kasa lalu ditempatkan pada alat kukus.

Tak terdengar bunyi khas kue putu keluar dari kukusan yang mengiung seperti tangisan. Padahal yang paling membuat orang mengenal putu adalah bunyi khasnya yang terdengar meski dari kejauhan.

Putu pisang berbentuk bulat, berwarna putih tanpa campuran pandan atau suji dalam adonannya seperti ditemukan dalam putu bambu. Pandan akan membuat putu harum dan berwarna hijau. Tapi menurut sang penjual di air kukusan sudah diberikan daun pandan agar putu harum.

Kue putu mengepul dengan taburan parutan kelapa di atasnya. Ketika mencicipi, rasa kecewa tak adanya bambu seperti menguap. Lembutnya adonan tepung, manisnya gula merah yang meleleh plus penambahan pisang raja di bagian atas sukses menghasilkan komposisi putu yang lezat.

Satu porsi putu, isi enam buah Rp 10 ribu. Jika tergiur untuk menikmati, putu pisang yang pusatnya di Paskal Hyper Square ini akan berada di even Temu Taman Budaya se-Indonesia sampai 26 Juli mendatang.

Selain putu makanan kuliner lainnya seperti yoghurt Lembang, lumpia basah, tahu gejrot, es oyen yang segar juga makanan khas Sunda dari rumah makan Ponyo. Seperti bisa ditebak, semuanya tanpa bambu.(ema/ern)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar