Kamis, 31 Juli 2008

Menjerat Si Hama Jambu Biji


KEPOPULERAN jambu biji (Psidium guajava) menanjak di tahun-tahun terakhir, karena maraknya wabah demam berdarah sehingga ikut mengangkat buah yang awalnya tidak dipentingkan ini. Adanya hasil penelitian yang menyatakan kandungan gizi jambu biji dapat menyembuhkan demam berdarah, mendapat antusias tinggi masyarakat. Walau sebenarnya, peran si buah berbiji merah ini bukan untuk menyembuhkan demam berdarah melainkan memperlambat perkembangbiakkan vektor penyakitnya. Kandungan vitamin C yang tinggi, mencapai sekitar 100 mg/100 gram, mampu meningkatkan kekebalan tubuh sehingga dengan sendirinya vektor nyamuk Aedes aegypti tidak lagi dapat bertahan dalam tubuh penderita.


Fakta tersebut meningkatkan prospek pemasarannya di Indonesia. Kesempatan ini dengan cepat dilirik oleh banyak kalangan masyarakat terutama petani. Produksi jambu biji kini menjadi komoditi prioritas, terutama di sentra perkebunan jambu biji seperti Garut dan sekitarnya. Sayangnya, produksi jambu biji terhambat oleh adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yaitu hama Bactrocera dorsalis atau biasa disebut lalat buah.

Lalat buah ini menyebabkan buah yang hampir matang rontok dan menimbulkan bercak, busuk, berlubang pada buah, bahkan terdapat belatung. Hal ini dikarenakan lalat buah betina senang menyimpan telurnya di dalam buah. Buah yang setengah matang memiliki tekstur lebih lunak dan mempermudah lalat menancapkan ovipositornya (organ penyimpan telur dari lalat buah betina). Tujuannya agar jika telur sudah menetas menjadi larva mereka dapat dengan mudah mendapat asupan nutrisi bagi tubuhnya. Nutrisi-nutrisi tersebut di antaranya protein atau selulosa yang terkandung dalam buah.

Kerugian sekitar Rp 22 miliar per tahun harus diderita petani hortikultura terutama buah-buahan jika tanamannya terserang hama ini. Imbasnya meluas pada penurunan produksi serta penolakan ekspor buah-buahan yang cacat secara kualitas. Menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, di tahun 2007 populasi lalat buah sudah termasuk tinggi dan intensitas serangannya dapat mencapai 100 persen.

Untuk mengatasi permasalahan hama lalat buah, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. Pertama, dengan melakukan pembungkusan buah agar tidak diincar lalat buah betina. Hanya saja, upaya ini akan menyita lebih banyak waktu dan tenaga pada pertanaman yang luas. Kedua, dengan menggunakan insektisida sintetis. Sayangnya, penggunaan insektisida selain mahal juga rentan dengan residu (racun) yang ditinggalkannya pada tanaman.

Pemecahan terbaru yang dikemukakan oleh dua mahasiswa Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unpad mungkin bisa dijadikan solusi cerdas. Ide inovatif dari Yudi Sudrajat beserta rekannya Khairunnisa Qisti rupanya telah terbukti dapat mengurangi jumlah hama sekaligus ramah lingkungan. Suatu alat perangkap lalat buah yang dikembangkan dari berbagai penelitian sebelumnya, berhasil membawa mereka menjadi pemenang Lomba Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia 2008 yang diadakan LIPI Juni lalu.

Pada dasarnya, kerangka ide perangkap yang belum memiliki nama atau sebutan resmi ini bergantung pada tiga komponen yaitu atraktan, perekat, serta bentuknya. Menurut Yudi, ketertarikan lalat buah pada buah-buahan selain untuk menyimpan telur, juga karena terangsang oleh senyawa aromatik yang dihasilkan buah tersebut dan biasa disebut atraktan. Berbagai jenis atraktan alami bisa diperoleh dari tanaman daun wangi (Melalueca bracteaca) maupu biji pala (Mrystica fragrans). Hasil sulingan campuran keduanya dapat menghasilkan sebuah atraktan yang disebut metil eugenol yang disukai lalat buah. Perekat yang digunakan Yudi untuk alat ini terbuat dari gondorukem atau getah pohon pinus (Pinus merkusii) dan juga lateks atau bahan ekstraktif yang dihasilkan pohon karet (Hevea brasiliensis). Keduanya merupakan perekat alami yang tidak menimbulkan residu sebagai efek samping.

"Perangkap ini kami modifikasi dari model sebelumnya yaitu perangkap silinder dan limas berperekat karya Sugiarti (2006) dan Handayani (2007). Berdasarkan hasil riset, kedua jenis perangkap ini memiliki tangkapan lalat buah yang paling banyak dibanding model lainnya," ujar Yudi. Modifikasi yang dilakukannya yaitu dengan mengubah bentuk perangkap menjadi bulat dan dicat hijau sehingga menyerupai buah.

Bentuk perangkap ciptaan Yudi berupa seutas kawat yang bagian pangkalnya dipasang sebuah tutup menyerupai corong. Fungsinya untuk menangkal air misalnya air hujan. Di bagian ujung bawah kawat diselimuti gumpalan kapas yang akan disemprot atraktan. Untuk menarik perhatian lalat buah betina, di sekitar luar kapas dipasang perangkap lalat buah berbentuk bulat yang kedua bagian dalam dan luarnya diberi perekat. Dalam kasus jambu biji, Yudi membuat perangkap dengan bentuk bulat hijau yang diberi lubang horizontal sejajar di kedua sisinya. "Pembuatan lubang seperti ini terbukti paling efektif untuk menjerat lalat," katanya.

Untuk menggunakannya, perangkap digantung pada dahan pohon. Cara kerja perangkap diawali ketika atraktan disemprotkan pada kapas. Aroma metil eugenol akan menarik perhatian lalat jantan untuk masuk ke dalam lubang perangkap dan bentuk perangkap yang bulat hijau akan menarik perhatian lalat betina. Ketika lalat betina mendekati perangkap, ia akan terjerat oleh perekat di luar perangkap, dan lalat jantan akan terjerat dalam perekat yang terdapat di dalam perangkap.

Hasil karyanya ini diakui Yudi diujicobakan di sebuah sentra jambu biji di wilayah Garut. "Meski hanya dua hari, penelitian kami mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat. Banyak dari mereka yang tertarik untuk membuat alat ini sendiri," katanya seraya menjelaskan hingga saat ini belum ada permintaan kepadanya untuk membuat perangkap ini secara massal.

Disebutkan Yudi, ketertarikan masyarakat lebih dikarenakan murahnya biaya produksi untuk membuat perangkap jenis ini yaitu sekitar Rp 10.755,00 untuk satu perangkap. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat perangkap termasuk mudah didapat. Di antaranya plastik bekas air minum dalam kemasan, kawat, kapas, bola plastik, serta tanaman gondorukem dan lateks. Sedangkan bahan untuk membuat atraktan metil eugenol terdiri dari daun wangi dan biji pala yang membutuhkan biata sekitar Rp 19.500,00 untuk setiap volume 3 kilogram.

"Mungkin yang termasuk mahal adalah biaya penyulingan atraktan yang mencapai Rp 350.000,00/liter. Namun, jumlah sebesar itu untuk membuat 100 perangkap dengan empat kali penggantian. Perhitungan tersebut bisa dikatakan murah, bandingkan saja jika membeli metil eugenol sintetis, sedikitnya Rp 1,2 juta harus dikeluarkan untuk setiap liternya. Dan juga jangan khawatir jika hendak menyuling sendiri, karena tanaman daun wangi dan biji pala termasuk yang mudah disuling sehingga tingkat keberhasilan penyulingan mendekati 100 persen," kata Yudi.

Meski Yudi mengakui alat temuannya ini belum diuji coba keefektifannya, namun ia optimistis alat ini dapat membantu petani jambu biji mengendalikan hama (lalat buah). Alat ini dapat menangkap 20-30 lalat dalam 10 menit pertama pemasangan. Yang juga harus diperhatikan adalah pemasangan antarperangkap diberi jarak 500 meter. Karena berdasarkan penelitian, jarak yang lebih jauh dari 500 meter tidak efektif untuk menjerat lalat. Selain itu, satu perangkap dapat dipasang untuk area seluas 42 meter persegi. Pemeliharaan perangkap cukup mudah. Atraktan hanya perlu disemprot pada kapas setiap tujuh hari sekali. Dan perekat harus diganti setiap 10 hari sekali agar daya rekatnya efektif. (Eva Fahas)***

1 komentar:

  1. info yg sangat menarik, tolong dijelaskan step by step cara pembuatannya dan mungkin disertai gmbar. Thanks

    BalasHapus