Sabtu, 26 Juli 2008

Bosscha dan Filosofi Pohon Pisang


GUNAWAN Jayadiharja memperlihatkan karyanya yang ditetapkan sebagai logo Kab. Bandung Barat. DPRD mengesahkan perda tentang logo daerah dalam rapat paripurna di Gedung LPMP Jawa Barat di Kp. Ciampel, Desa Laksanamekar, Kec. Padalarang, Jumat (25/7).* HAZMIRULLAH/"PR"


KABUPATEN Bandung Barat akhirnya memiliki logo. DPRD menggelar rapat paripurna di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Prov. Jabar di Kp. Ciampel, Desa Laksanamekar, Kec. Padalarang, Jumat (25/7) siang. Logo yang terpilih sebagai pemenang ternyata karya seorang sarjana ekonomi bernama R. Gunawan Jayadiharja, warga Kp. Ngamprah Kidul RT 1 RW 2 Desa/Kec. Ngamprah, Kab. Bandung Barat.

"Kami menetapkan satu karya terbaik dari lima nomine yang dibahas oleh pansus (panitia khusus). Selanjutnya, setelah ditetapkan melalui peraturan daerah, logo terbaik itu bisa digunakan sebagai identitas pada seragam pegawai Pemkab Bandung Barat," ungkap Ketua Pansus Asep Yusuf Bakthi, Jumat (25/7).

Ia mengatakan, dalam proses pembahasan, sebelas anggota pansus sering kali terlibat perdebatan sengit. "Terutama mengenai hal-hal yang harus tercermin dalam logo, seperti kultur, penjiwaan, potensi alam, sampai kondisi geografis," tuturnya.

Sekretaris Pansus Tri Wigatiningrum mengatakan, sebelas anggota pansus menilai, logo buatan Gunawanlah yang paling lengkap dari 164 karya yang masuk ke panitia. "Mulai dari unsur kondisi geografis, sumber daya alam, hingga kultur. Semuanya terwakili dalam karya ini," ujarnya ketika ditemui di Gedung DPRD Jln. Raya Gadobangkong, Kec. Ngamprah, Kab. Bandung Barat, Jumat (25/7).

Hal yang menarik, kata Tri, karya itu memunculkan Observatorium Bosscha sebagai ikon yang melambangkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. "Ini berbeda dengan kecenderungan karya-karya lainnya, termasuk empat karya lain yang menjadi nomine," ucapnya.

Satu hal lagi, karya tersebut memunculkan pohon pisang dengan dua pelepahnya. Gambar itu sebenarnya penanda diterbitkannya undang-undang pemekaran Kab. Bandung Barat, yakni tanggal 2 Januari 2007. "Tapi, kenapa pohon pisang yang dijadikan simbol? Inilah yang menarik," katanya.

Pohon pisang, kata Tri, menyimbolkan munculnya regenerasi yang terus-menerus. Hal itu merujuk pada kehidupan pohon pisang itu sendiri. "Coba saja perhatikan, pohon pisang tak akan mati sebelum melahirkan tunas-tunas. Begitu pula harapan kami untuk Kab. Bandung Barat ke depan," ujar Tri, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) itu.

**

SECARA terpisah, pemenang sayembara, Gunawan Jayadiharja mengaku membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikan karya tersebut. "Terlebih dahulu, saya menyurvei kondisi geografis Kab. Bandung Barat, apa saja yang layak dicantumkan dalam logo. Jiwa marketing saya muncul. Makanya, potensi ekonomi lebih banyak saya munculkan di dalam karya itu," ujarnya ketika ditemui di Ngamprah, Jumat (25/7).

Di dalam karya tersebut, ada lima simbol yang dimunculkan sebagai "kekuatan" Kab. Bandung Barat. Pertama, gambar bintang segi lima dan Observatorium Bosscha. "Bintang melambangkan kehidupan masyarakat yang agamis. Sementara, Observatorium Bosscha merupakan simbol pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus ikon Kab. Bandung Barat," ucap Gunawan.

Kedua, gambar pabrik berwarna hijau yang melambangkan wilayah Kab. Bandung Barat sebagai kawasan industri berbasis sumber daya alam. "Ini sangat potensial dan strategis untuk mendukung agroindustri yang ramah lingkungan," tuturnya.

Ketiga, pohon pisang dengan dua pelepah dan bunga melati. Pohon dan pelepah pisang menggambarkan tanggal dan bulan diterbitkannya UU No. 12/2007 tentang pemekaran Kab. Bandung Barat, tanggal 2 Januari. Selain itu, pohon pisang dan bunga melati menyimbolkan potensi Kab. Bandung Barat di bidang pertanian, perkebunan, sekaligus agrowisata.

"Keempat, bendungan bergerigi 19, 6 gelombang biru-putih, serta gunung berwarna hijau. Gambar itu sebagai simbol tanggal dan bulan diresmikannya Kab. Bandung Barat (19 Juni, -red.). Selain itu, menyimbolkan juga potensi sumber air, danau, dan bendungan yang berfungsi sebagai lahan perikanan, serta sumber pembangkit tenaga listrik. Sementara pegunungan merupakan kawasan konservasi dan wisata alam," katanya.

Kelima, cawan hitam di dasar air yang menggambarkan potensi sumber daya alam berupa bahan tambang, terutama batu gamping, andesit, marmer, dan pasir. "Saya juga melengkapi gambar dengan moto ’Wibawa Mukti Kerta Raharja’ yang bermakna suatu tatanan kehidupan yang mencerminkan tekad dan keinginan kuat dalam menata kehidupan lebih baik untuk mencapai kesejahteraan," kata Gunawan. (Hazmirullah/"PR")***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar